Hindari Tempat Indoor, Pilih Main-Main di Alam

Anak-anak memang makhluk paling kreatif. Sebagai orang tua, seringkali kita dibikin  kewalahan menghadapi mereka. Termasuk juga saya dengan tiga anak yang sangat aktif.

Untuk menyalurkan keaktifan anak-anak, saya memilih mengajak mereka bermain. Mengapa bermain? Menurut para ilmuwan, bermain adalah bagian integral untuk mengembangkan otak dan tubuh yang sehat.

Satu studi pada 2011 dari sepasang psikolog Norwegia menyimpulkan bahwa mengambil risiko (dan mengatasinya) saat bermain merupakan bagian penting dari perkembangan anak. Dengan demikian, taman bermain di mana anak-anak bisa memanjat tinggi, berputar cepat, dan berpotensi si anak terluka karena jatuh, membuat perkembangan masa kanak-kanak mereka lebih baik. Beragam aktivitas bermain juga penting untuk menjaga anak tetap aktif, yang meningkatkan keterampilan motorik dan memerangi obesitas masa kecil.

Karena itu, saya sangat detail dalam memilih mainan maupun tempat bemain untuk anak-anak.

Untuk mainan, saya lebih memilih yang tanpa baterai. Kenapa? Lebih hemat. Haha… Selain itu, mainan dengan baterai tuh manjain anak-anak. Effort-nya minim banget. Jadilah, saya pilih mainan seperti puzzle, board games, main tali, boneka, masak-masak, dakon, drum-drum-an, pokoknya yang serbamanual gitu deh. Malah, kalau perlu, bikin mainan sendiri.

Yup, kadang, saya dan anak-anak bikin mainan sendiri, sih. Misalnya, pesawat dari kardus bekas, sudoku dari karton, gitar dari kardus sepatu. (tutorialnya diceritain kapan-kapan ya).

Agak ribet sih. Tapi dengan gitu, energi mereka sedikit tersalurkan.

Kalau untuk tempat bermain, saya lebih suka yang outdoor dibandingkan indoor, apa lagi mal. Sebisa mungkin saya menghindarkan anak-anak bermain di mal. Kenapa? Mmm…wahana permainan di mal kesannya kok cemen banget ya? Kurang greget, kurang menstimulasi anak jadi lebih kreatif, gitu. Belum lagi, lingkungan di mal yang menurut saya kurang sehat. Bayangin, di dalam ruangan dengan berjuta orang yang bisa jadi membawa virus entah apa namanya itu. (Ya…mungkin saya aja yang sih lebhay).

Karena itu, kalau di Surabaya, saya suka bingung dengan arena permainan buat anak. Mau nggak mau saya ajak mereka ke taman kota. Oia, Surabaya punya banyak taman kota. Proud of Wali Kota Surabaya…

Ada beberapa taman kota di Surabaya yang sudah pernah kami jelajahi. Yaitu, Taman Jangkar di Jambangan, Taman Bungkul di Raya Darmo, dan Taman Persahabatan di daerah Gubeng. Murah meriah. Mareka pun merasakan keseruan tersendiri dalam bermain.

Taman Persahabatan, Gubeng Surabaya

Oia, ada lagi, saya pernah juga ajak mereka main di Kebun Binatang. Sejumlah permainan ada di KBS. Enak nih di KBS. Suasananya lumayan adem dengan pepohonan yang cukup rimbun untuk ukuran Surabaya.

Kebun Binatang Surabaya, salah satu spot yang adem di tengah Kota Surabaya

Satu lagi, mereka paling suka berenang. Cuma, sayangnya di Surabaya belum nemu kolam renang yang airnya seger dan bebas kaporit. Alhasil, setelah berenang, anak-anak pada bersin-bersin dan mata pedih. Duh.

Kalau udah bosen dan nggak ada pilihan tempat bermain di Surabaya, saya pun mengajak mereka main ke luar kota. Favorit anak-anak ya ke Batu. Hihi…

Di Batu, bisa puas deh mereka bermain di alam terbuka. Paling sering ya ke Selecta. Permainannya komplet banget di sana. Ada flying fox, taman bunga, waterpark, becak air, kora-kora, ayunan, sepeda udara, berkuda. Asik kan.

Puas mainan di Selecta, anak-anak langsung minta istirahat di hotel. Pilihannya kali itu ke DeView Hotel. Lokasinya di Jl Raya Selecta No 157. Kalau dari tempat wisata Selecta ke arah Kota Batu, sekitar lima menit di sisi kanan jalan.

Kami sudah pernah dua kali bermalam di sana. View nya cakep. Cuma kolam renangnya kecil, sih. Tapi ya namanya anak-anak, tetap aja heboh kalau nemu hotel yang ada kolam renangnya. Hehe…

Waktu itu, kami pernah booking tipe family room yang terdiri atas 1 kamar single dan 1 kamar twin lengkap dengan dua kamar mandi. Ada juga fasilitas mini kitchen dan living room yang luas. Pas buat saya-suami dengan tiga anak dan satu keponakan plus opa-oma.

Untuk master room, kamar mandinya dilengkapi juga dengan bathtub. Jadi, bisa melepas penat sambil berendam air hangat di situ. Nyeess…

Pagi-pagi dari kamar, langsung disuguhi view pegunungan yang cantik, siapa yang nolak, coba? Ditambah lagi dengan menikmati secangkir kopi hitam di balkon. Itu tuh, kayak opa dan Gita. Santaaiii…

bangun pagi disuguhi view macam gini, siapa yang nolak?

Balkon

Cuma sayang, menu breakfast-nya kurang nendang. Tapi, paling suka sama atraksi bikin omelet-nya yang pakai semburan api gitu. (Udah diubek-ubek file-nya, tapi fotonya nggak nemu. Hiks). Asiknya lagi, lokasi resto yang bersebelahan dengan playground yang asri, lengkap dengan ayunan serta kolam ikan. Kita bisa loh ngasih makan ke ikan-ikan itu. Ini nih yang termasuk salah satu favorit anak-anak kalau ke DeView. Yang pasti, untuk istirahat bareng keluarga, DeView Hotel, sangat recommended.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Flashpacker Bareng Anak? Kenapa Nggak?

Postingan ini intinya curhatan hati seorang ibu yang suka iri ketika long weekend tiba. Ketika teman-teman lain heboh nyari hotel atau tiket kereta untuk liburan, saya cuma bisa galau. Pengen ikutan, tapi, iya kalau bisa libur. Lha kalau tetiba ada tugas mendadak dari kantor? Anak-anak bisa ter-PHP dong.

Makanya, nggak jarang saya memutuskan liburan di injury time atau biasa disebut flashpacker. Padahal, saya bawa kru yang lumayan bikin mmm…pusing, tiga anak dan biasanya tambah satu ponakan yang ikutan. Eh tapi justru di situlah keseruan dimulai.

Horeee bisa libur. Yuk kid’s kita cussss…Wah, krucils pun langsung sibuk cari tas, nyiapin baju, en de brey en de breey…Kecuali si bungsu yang baru dua tahun.

Awal-awal sih mungkin ribet, tapi, setelah dijalani beberapa kali, ternyata tetap aman terkendali. Biasanya sih:

  1. Tujuannya nggak jauh dari kota tempat kita tinggal. Paling nggak, 2-3 jam perjalanan sudah nyampe. Dengan gitu, waktu nggak terbuang untuk perjalanan.
  2. Cari hotel yang ramah anak. Karena waktu yang singkat, pasti nggak sempat jalan-jalan ke obyek-obyek wisata lain. Jadi, mendingan menikmati fasilitas hotel. Kalau saya biasanya cari yang ada kolam renangnya dan taman luas.
  3. Selalu menyediakan satu tas buat bepergian yang berisi satu stel baju anak-anak.  Jadi, kalau sewaktu-waktu pergi, nggak kelamaan nyiapin. Karena paling nggak sudah ada satu stel di tas.
  4. Siapkan bujet lebih. Flashpacker biasanya nggak siap bekal makanan dan karena persiapan dadakan, sering ada yang ketinggalan. Paling gampang ya beli kekurangannya di perjalanan. Untuk bujet ini, saya sudah punya tabungan khusus untuk bepergian yang sifatnya tak terduga. Jadi, ya bisa langsung bobol tabungan kalau butuh.
  5. Naik kendaraan sendiri. Atau kalau memang terpaksa naik kendaraan umum, pilih bus yang bisa sewaktu-waktu berangkat. Kalau pesawat atau kereta, hmmm…kalau saya sih ogah ya. Pasti mahal.

Terakhir ber-flashpacker bareng krucil, sekitar April 2017. Pilihan destinasinya ke Trawas, Mojokerto. Perjalanannya cuma memakan waktu 2 jam atau paling lama kalau kena macet, ya 2,5 jam lah. Pilih-pilih hotel, banding-bandingin harga dan lokasi serta fasilitas, akhirnya, kami memutuskan bermalam di Vanda Hotel.

Hotel didesain klasik ala ala Eropa

Tiba di hotel sudah sore, sekitar pukul 5 sore. Biarpun sudah jelang malam, anak-anak masih nekat buat nyebur di kolam renang yang  ademnya amit amit…Kolamnya cukup luas cuma agak kotor. Mungkin karena hotel itu sedang renovasi, jadi serpihan bahan-bahan bangunannya masuk ke kolam. Ya sudahlah, toh setelah berenang, anak-anak langsung sekalian mandi sore di kamar mandi yang dilengkapi dengan bathup.

Kami memesan room untuk empat orang terdiri atas dua bed tipe kingsize. Lumayan luas sih. Cukup untuk empat krucil dan dua dewasa. Hehe…Cuma, kita nggak dapat view bagus karena berhadap-hadapan dengan kamar lain. #Salahsendiripesandadakan.

Malamnya, kami makan di Vanda foodcourt yang letaknya di depan gate hotel. Menunya standar sih, masakan Indonesia, seperti nasi goreng, gado-gado, siomay, soto ayam, rawon, bakso. Dan yang bikin anak-anak happy, ada ayunan dan perosotannya. Mainan teruuusss…

Beda dengan Batu, kalau malam masih banyak hiburan. Di Trawas beda. Pukul 8 malam, udah sepiiiii…nyari jagung bakar pun udah nggak ada yang buka. Kawasan ini memang sangat pas untuk istirahat karena tenang banget.

Malamnya pada bobok pules, pagi-pagi buta udah pada ngeributin mau renang lagi. Astagaaaah…Padahal, emaknya udah pengin segera sarapan. Maklum, udara adem bikin perut cepet laper.

Dari kamar menuju ke resto buat sarapan, lumayan juga sih jalannya. Nggak jauh, tapi kan jalannya naik turun gituuu…bikin gempor kaki. Haha…Lumayan sih buat olahraga pagi hari.

jalan naik turun, anggap aja olahraga

 

Menunya nggak banyak, kurang dari 10 menu, tapi rasanya pas di lidah. Anak-anak juga doyan sama makanannya. Apalagi bubur sumsum kesukaan Edo. Dia habis 3 mangkok, sodara. Nasi goreng, kakap asam manis, tumis kacang panjang, telur dadar, roti selai, enak kok. Apalagi, dari resto, view nya cakep, terlihat Gunung Penanggungan dan Welirang.

Kelar makan, kita udah ditungguin para joki kuda. Haha…bukan bukan buat balap kuda, kok. Cuma nunggangin kuda keliling kompleks hotel yang luas dengan jalan berbukit. Mita dan Descha udah nggak sabar buat naik kuda. Lha saya terpaksa ngikut naik bareng si bungsu. Haduuh…maluunyaa…

Hotel yang didesain klasik ala bangunan Eropa ini juga menyediakan tipe kamar cottage dan villa. Jadi, buat keluarga besar, lebih hemat menyewa cottage atau villa-nya. Oia, waktu saya ke sana, waterpark-nya sedang on progress, dalam proses pembangunan. Semoga dalam waktu dekat segera kelar, biar lebih seru kalau nginep di sana. Overall, puas dengan pelayanan stafnya dan fasilitasnya.

Oia,Vanda Hotel dekat beberapa tempat wisata, kayak Air Terjun Dlundung dan Tretes Treetop. Jangan lupa juga, kalau pulang bawa oleh-oleh pisang ambon tretes yang terkenal manis dan dagingnya tebal.

 

Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda

Kids Activity

 

 

 

 

 

 

Hobi Bangun Pagi

’’Bu, obatnya batuk tuh jahe sama mengkudu,” ujar Edo tiba-tiba padaku yang sudah beberapa hari mengalami batuk.
’’Tahu dari mana, bang?” tanyaku.
’’Ya dari majalah,” ujar Edo.
Hmmm…Edo suka sekali baca buku-buku berbau pengetahuan. Tak heran kalau celetukannya kadang bikin saya sebagai ibunya cuma bengong karena nggak ngeh.
Itu artinya, sebagai orang tua kita dituntut untuk terus up date pengetahuan, ya.

Kadang, saya juga merasa harus berlomba dengan kesenangan Edo melahap majalah-majalah science seperti Kuark. Ditambah, keinginannya untuk melakukan eksperimen-eksperimen. #emaknya sudah lelah.
Ada satu hal lagi yang bikin saya malu sama Edo adalah kebiasaan bangun pagi. Saya orangnya susah bangun pagi. Jam ngantor siang-malam jadi alasan kenapa saya nggak bisa bangun pagi. Untunglah, Edo nggak meniru kebiasaan buruk itu.
Maksimal pukul 05.00 pagi, Edo sudah bangun, jalan-jalan, mandi, sarapan roti-susu, dan kalau sudah siap berangkat, baru deh bangunin emaknya untuk minta anter ke sekolah. ’’Ibu…ibuuuk…ayo banguuun….,” teriak Edo sambil gelitikin kaki emaknya yang masih ngorok. Mmm…maapin ibuk ya nak. Huehue…

 

dsc00126

 

Ketika Kesayangan Ngeyel, Bikin Keseeeel…

Edo, anakku yang sulung hampir berumur 9 tahun. Kadang, suka kezzzzeel (sengaja pake z) sama tingkahnya. Malah, kalau udah senewen, saya sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi ke dia. Ada aja jawabannya kalau dimarahin. Suka ngeyel. Eh, tau ngeyel kan? Nggak mau kalah kalo ngomong itu loh.
Pernah nih, saya negur dia. Karena apa ya waktu itu…lupa. Dan, terjadilah adu argumen antara saya dengan Edo.
Yang bikin saya makin geram, Edo nggak nurut dengan kata-kata saya.
Tahu nggak dia bilang apa?
”Kenapa sih kalau orang tua marah ke anak, dibilang menasehati. Tapi, kalau anak ngasih tahu orang tua, dibilang marah-marah?”
Kata-kata itu spontan terucap dari bibir Edo. Sesaat saya pun merenungi ”tamparan” itu. Ah, masa sih saya seegois itu? #barunyadar.

Ada lagi sebuah kejadian yang bikin saya marah ke Edo. Dia berebut mainan dengan sang adik. Saking kesalnya, saya spontan bilang ke Edo, ”Sudah, sini barangnya ibu ambil. Ibu kembalikan aja ke tokonya. Daripada bikin ribut.”
Komentar Edo? Dia bilang, ”Nggak mungkin, wong tadi Edo lihat di tokonya ada tulisan, barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi, kok.”
Dengar jawaban itu, saya langsung balik badan, ngeloyor ke kamar mandi. Pura-pura pipis sambil mikir ngebales jawab apa ya ke Edo?

Dari situ saya jadi mikir dua kali kalau mau marah ke Edo. Ya, dalam kondisi marah, ucapan yang keluar jadi nggak terkontrol, nggak bijak. Buang energi, buang waktu. Wooow…banyak juga energi negatif yang kita lepaskan tatkala kehilangan kesabaran. Tapiii…Susyaaaah…
Pernah nih kepala sudah ngepulin asap dan mungkin gigi taring sudah nyembul…Tapi dalam hati berusaha sabaaar…
Ambil napas panjaaaang….lepaskan. Trus, beres-beres rumah, nyapu, ngepel. Lha kok Edo malah ikut bantu-bantu. Asyiiikk…rumah jadi kinclong, aman terkendali, dan Edo juga belajar bersih-bersih rumah.

Jalan-Jalan ke Jogja tiga tahun lalu

Jalan-Jalan ke Jogja tiga tahun lalu

Belajar-Bermain di Kampoeng Kidz, Batu

Main yuk main…ke mana? Kali ini, EdoMitaGita pengen cerita serunya main di Kampoeng Kidz, Batu Malang di awal Januari lalu.

Apa sih Kampoeng Kidz itu? Kalau warga Surabaya dan sekitarnya pasti udah tahu kan ya. Intip di SINI aja tentang Kampoeng Kidz.
Sebelumnya, pada 2014, Edo udah pernah ke Kampoeng Kidz untuk ikutan Jambore Kids. Dia menginap di sana semalam. Ceritanya sila tengok di SINI

edo revisi

Balik lagi ke aktivitasEdoMita di Kampoeng Kidz, ya.

Kami sudah tiba di Kampoeng Kidz sekitar pukul 09.00. Kami disambut oleh tim Kampoeng Kidz yang semuanya adalah pelajar SMA Selamat Pagi Indonesia. Oia, udah tahu kan sekolah itu? Yap. SMA Selamat Pagi Indonesia, sekolah gratis untuk siswa tak mampu dari seluruh Indonesia yang digagas oleh Yulianto Eka Putra.
Selain mendampingi anak-anak yang beraktivitas di Kampoeng Kidz, para siswa itu juga diserahi tanggung jawab untuk mengelola lini bisnis yang ada, seperti kantin dan suvenir. Kemampuan para siswa itu tak perlu diragukan lagi. Mereka sangat luwes dalam berinteraksi dengan pengunjung. Apalagi, ketika mendampingi anak-anak yang beraktivitas di Kampoeng Kidz, bener-bener mirip mentor, deh. Bahkan, mereka kerap melakukan beberapa atraksi hiburan untuk para pengunjung.

photoAksi siswa SMA Selamat Pagi Indonesia saat Jambore Kids di Kampoeng Kidz, Batu, Malang pada 2014 silam.

DSC00065

DSC00067

Ada beberapa paket aktivitas yang bisa dilakukan oleh anak-anak usia 5-12 tahun. Sebenarnya, anak-anak pengen nyoba yang paket adventure, tapi mulainya pukul 13.00. Sedangkan untuk paket entrepreneurship dimulai pukul 10.00. Ya sudah, akhirnya anak-anak ambil paket entrepreneurship. Di paket itu, anak-anak diberi gambaran gimana sih menjadi seorang pengusaha cilik.

DSC00059

Ternyata, paketnya nggak seserius namanya. Aktivitasnya fun banget.
Sebelum mulai ’’perjalanan’’, anak-anak dikumpulkan di lapangan lebih dulu. Mereka diajak menyanyi dan menari sambil berkenalan dengan teman sekelompok dan kakak pendamping.

DSC00070

Tujuan pertama, anak-anak yang ikut paket entrepreneurship diajak ke wahana pengusaha peternakan. Mereka memberikan makan kambing dan kelinci di kandangnya. Juga, ngasih makan ke kolam ikan. Anak-anak dijelaskan mengenai produk-produk apa saja yang bisa diperoleh dari hewan itu dan gimana cara memeliharanya.

 

DSC00080

DSC00085

 

Lanjut ke wahana pengusaha pertanian dengan mengunjungi kebun jagung. Waaah…metik jagung segala. Masing-masing anak dapat enam jagung. Haha… buat bakar-bakar ya, nak. Apa lagi, jagung di ladang Kampoeng Kidz itu ditanam secara organik. Jadi, lebih fresh and healthy.

DSC00167

DSC00152

Setelah jadi ’’petani’’ anak-anak diajak makan siang di resto Kampoeng Kidz. Oia, paketnya itu udah termasuk makan siang. Resto di Kampoeng Kidz dikelola juga oleh siswa SMA Selamat Pagi. Tuh kan, mereka bener-bener learning by doing.

DSC00140

Kelar makan siang, langsung cuuus ke kolam ikan. Waktunya mancing. Aktivitas di kolam ikan nggak cuma mancing, tapi juga ngasih makan ikan pakai dot.

DSC00091

DSC00120

Lanjut, mereka masuk ke wahana pertambangan, seperti di dalam gua. Ngapain aja di sana? Mereka diberi ”bongkahan batu”. Pura-puranya nih, bongkahan batu itu dibelah dan dipotong-potong. Kemudian, dipoles dan dihaluskan. Jadi seperti akik gitu deh. Hehe..

DSC00130

Terakhir, anak-anak diajak menjadi pengusaha kuliner. Mereka diajak bikin pancake. Walah, pada berebut ngasih topping kesukaan dan langsung nyaaammm…Makan lagi.

DSC00173

DSC00192

Udah ah, capek. Tapi, para bocil masih seger buger. Nggak ada raut wajah kelelahan. Padahal, sudah pukul 14.00. Mereka malah pengin ikut yang paket adventure. Jiyaaah…lain kali aja ya kids.

Memang sih, saya aja yang orang tua betah banget di Kampoeng Kidz, apalagi anak-anak. Eh, mereka bawa banyak buah tangan, ada history book dan foto-foto selama beraktivitas. Seruuuu….

 

Pacu Adrenalin di Tretes Treetop

Tau Ninja Warrior? Itu loh, kompetisi ketangkasan dari Jepang yang pake acara panjat-panjat dinding, ngelompat lompatin kolam, merangkak di jaring. Nah, Edo nih lagi keranjingan acara itu. Dia sampai ngebayangin jadi salah seorang peserta Ninja Warrior. Di antara ruang tamu dan ruang keluarga kan ada lorong pendek. Nah, Edo suka banget lari dari kejauhan dan haaap…Kedua kakinya terbuka dan menapak di sisi dinding. Dengan bantuan kedua tangan yang juga menempel di dinding, dia merangkak naik sampai hampir mencapai atap. Katanya, lagi latihan spider wall, sebuah tantangan di Ninja Warrior. Hadeeeehhh…
ninja

Lha ketimbang naik turun tembok, ngelompatin kasur, kursi, meja nggak jelas, aku pun mengajak Edo main ke Tretes Treetop pada Oktober lalu. Di Tretes Treetop kita bisa nyobain rintangan-rintangan yang dipasang dari satu pohon ke pohon lain. Macem-macem rintangannya. Ada yang harus naik jaring-jaring sampai ke atas pohon, ada yang menyeberang pohon dengan pijakan bambu dan pegangan seutas tali, ada juga yang harus masuk di terowongan kayu. Semua aktivitas itu dilakukan di ketinggian, loh. Seru ya. Trus, ujung-ujungnya, meluncur dengan flying fox. Hauwoooo….

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo


Ada tujuh sirkuit yang bisa dicoba oleh pengunjung. Sirkuit ini sebutan untuk satu putaran rintangan yang harus dilalui. Jadi, dalam satu sirkuit, ada beberapa rintangan yang harus dilalui.
Tapi, buat Edo (8 tahun) dan Desca (9 tahun)-sepupu Edo-cuma boleh mencoba di sirkuit berwarna Yellow dan Green. Kalau Mita (5 tahun) baru boleh di sirkuit Yellow. Jadi, sebelum mencoba sirkuit, lihat dulu di papan petunjuknya, gambaran sirkuit yang akan dilalui seperti apa. Trus, harus disesuaikan juga dengan usia dan tinggi badan. Ada kok ketentuannya di papan. (kemaren sempet motret, tapi keselip entah di mana).

Sirkuit Yellow

Sirkuit Yellow

Sebelum memulai tantangan, peserta di-briefing dulu oleh pemandunya atau patrol guide. Karena tahun lalu pernah ke Tretes Treetop juga, Edo dan Desca sudah paham ketika si om menjelaskan. Mereka juga dilengkapi dengan peralatan, kayak carabiner dan tali temali entah apa namanya, yang melekat pada tubuh.

menyimak

menyimak

Yak, perjalanan pun dimulai.
Berbeda dengan yang dulu, kali ini, Edo keliatan lebih pede saat menjelajah rintangan demi rintangan. Dulu, Edo sempat menangis ketika harus melewati rintangan sebaris bambu dan hanya berpegangan pada seutas tali. Haha…
Lha kalau kemarin, dia berhasil melewatinya. Nggak pake nangis atau teriak-teriak. Gaya bener deh si abang.

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang...

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang…

Dulu, aku dan suami juga pernah mencoba main di Tretes Treetop bareng anak-anak. Tapi, sekarang, kami cuma jadi penonton. Lha wong aku mesti ngegendong si baby G. Sedangkan si bapak, ikut ngawasi Mita yang seharusnya belum boleh main lantaran tinggi badannya masih kurang.Lho?
Iya, Mita mupeng banget ngeliat si abang Edo dan Mbak Desca bergelantungan di pohon. Mita merengek minta ikutan. Ya sudahlah, sama om om patrol guiede diperbolehkan tapi cuma beberapa rintangan untuk anak-anak. Woow…Mita hebat. Dia berani melewati tantangan demi tantangan meski dengan usaha ekstra dengan badannya yang mungil itu.

Aku berani, loh

Aku berani, loh

Main di Tretes Treetop bisa untuk alternatif liburan keluarga. Mulai usia 8 tahun sampai dewasa, bisa nyoba tantangannya. Serunya, semua aktivitasnya ada di ketinggian 2-20 meter. wedeeww…
Eits. tapi nggak usah takut. Kita udah dilengkapi dengan alat pengaman yang berstandar internasional. Patrol guide nya juga udah berpengalaman. Belum lagi, setiap hari, sebelum dibuka, tim dari Tretes Treetop selalu melakukan pengecekan pada semua media yang dipakai untuk main. Misalnya, tali dan kayunya.

Puas deh main panjat-panjatan dan gelantungan di pohon. Kalau nggak dipanggil oleh operatornya, anak-anak terus aja main sampai malam. Jadi, kita dikasih waktu sekitar 2 jam 30 menit untuk nyobain semua sirkuitnya. Setelah itu, kita di-halo halo pake mikrofon gitu kalau waktu kita sudah hampir habis. Biasanya sih, diingetin 15 menit sebelumnya. Lumayan lama loh dua jam lebih. Tapi, namanya anak-anak, mana pernah cukup. Hehe….

Sebenernya, aku masih penasaran dengan flying fox yang panjangnya 1 kilo. Ada tuh di Tretes Treetop. Kita dianter ke sebuah bukit. Trus, dari bukit itu, meluncurlah dengan flying fox hingga finish di area Tretes Treetop itu. Tapi, mesti mengumpulkan nyali dulu. Soalnya, flying fox yang diklaim terpanjang di Asia Tenggara itu melintasi sungai, jurang, sawah. Huaaah…

Penasaran kaaaannn…? Beneran asyik main di Tretes Treetop. Lokasinya gampang dijangkau, di Jl Raya Trawas. Paling cuma satu jam dari Surabaya. Sekalian ngadem lah. Surabaya panasnya minta ampyuuun. Kalau di Tretes kan sejuuuuk…Apalagi di bawah pepohonan rindang kayak di Tretes Treetop ini.
Oia, untuk biayanya:
Anak-anak: Rp 110.000
Dewasa: Rp 150.000
Paket family (2 dewasa, 2 anak) Rp 410.000
Parkir mobil: Rp 5.000
Tiket masuk: Rp 10.000 per orang

Permintaan Sederhana si Sulung

Sekitar dua minggu lalu terjadi percakapan antara saya dan si abang

’’Abang, sebentar lagi ulang tahun loh. Pengen dirayain?” tanya saya pada Edo.
’’Nggak. Nggak usah dirayain. NGGAK MAU,” tolaknya tegas.
’’Nggak mau dirayain di panti asuhan kayak dulu tuh?” ujar saya.
’’NGGAK,” tegasnya lagi.
’’Loh, itu kan namanya berbagi kebahagiaan, bang,” cerocos saya.
’’Ya kan kita bisa kunjungan ke sana sambil kasih sumbangan, bu. Nggak usah pake acara rame-rame, gitu,” katanya.
’’Kalau gitu, mau dirayakan di sekolah?” kejarku lagi.
’’NGGAK. Nggak usah lah bu. Abang tuh malu kalau ulang tahun pake acara-acara gitu. Abang tuh lebih suka dirayakan bareng keluarga aja. Bapak pulang pas abang ulang tahun aja, abang udah seneng, kok,” jelasnya panjang lebar.
Owh…(saya langsung mingkem dan me-retweet ucapan abang ke bapaknya yang dinas di luar kota).
Dan, si bapak langsung terbang dari Jakarta ke Surabaya. Demi memenuhi permintaan si sulung yang sangat sederhana itu.

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang...

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang…

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo