Paket Komplet yang Menguras Emosi

Lama nggak update blog, sekalinya update, kok curhat.
Ini cerita saat April lalu yang benar-benar menguras emosi jiwa. Hiiih…lebay ya.

Pertama, Mita. Anak nomor duaku ini tetiba badannya panas, 39 derajat. Padahal, dua minggu sebelumnya, dia juga panas. Tapi, saya kasih jamu kunyit madu, sekitar dua hari, badannya berangsur sembuh dan normal. Panas kedua ini, jamu kunyit madu ternyata masih nggak mempan. Suhu tubuhnya masih berkisar 37,5-38 selama dua hari. Akhirnya, saya bawa ke dokter.
Selama Mita sakit, saya harus berbagi perhatian ekstra dengan baby Gita yang masih ASI. Pengennya misahin mereka supaya nggak tertular, tapi syusyaaah. Mita dan Gita sama-sama pengen bareng emaknya. Oh nooo…

Belum juga Mita sembuh, lhadalah, abang Edo ikutan panas. Omaigat. Nggak mau ambil pusing, saya langsung cuss ke dokter. Sekalian bawa Mita untuk konsultasi karena dia masih lemes meski sudah empat hari mengonsumsi obat.
Bisa jadi karena kekhawatiran, akhirnya beneran kejadian. Baby Gita sakit. Badannya panas. Dan malah sempat kejang. Ya ampyuuun…saya pun langsung pulang kantor lebih awal begitu tahu Gita sampai kejang. Akhirnya, ke dokter juga deh si dedek.
Lengkaplah sudah EdoMitaGita berobat ke dokter dalam seminggu.

Ternyata, paket itu makin komplet lagi ketika saya pun ikut tepar. Panas tinggi, tenggorokan sakit, hidung mampet, kepala pening, tapi masih harus gendong dan menyusui baby Gita. Jadilah, saya kadang tidur sambil gendong baby G yang masih rewel karena badannya belum pulih. Tambah pas lagi, kerjaan di kantor nggak bisa ditinggal.

Saya termasuk orang yang jarang berobat ke dokter. Tapi, kali ini, saya pengen cepet cepet sembuh karena ada tiga krucil yang butuh pengawasan ekstra ples kerjaan yang nggak bisa ditinggal leyeh-leyeh. Akhirnya, saya pun ke dokter, tepatnya ke puskesmas pakai fasilitas BPJS. Lumayan kan free. Eh tapiiii…saya tetep aja ogah kalau disuruh sakit.

Kalau udah sakit gini ini ya, barulah ngerasain betapa sehat itu sangat berharga. Baru ngerasain kalau istirahat dan menjaga makanan sehat, wajib hukumnya.

Iklan

Sujud Syukur, Suami Tak Seperti Rob Hall

’’Bu, aku dapat tugas liputan ekspedisi ke Kilimanjaro dan Elbrus. Berangkat bulan depan dengan waktu pendakian sekitar satu bulan,” cetus suami sepulang kerja.
’’Hah? Gimana?” tanyaku nggak percaya. Suamiku mengulang ucapannnya lagi.
Ya Tuhan… naik gunung lagi. Aku mbatin. Itu hal yang paling membuatku khawatir pada suami. Apalagi, ini pendakian di gunung es.
’’Nggak ada orang lain?” tanyaku.
’’Bukannya nggak ada, tapi kantor menugaskan aku yang liputan,” ujar suami.
Saya tahu, suami memang hobi mendaki gunung. Tapi, sejak menikah, dia sudah nggak pernah lagi naik gunung karena memang aku nggak ngebolehin. Saat itu, saya nggak bisa mencegahnya karena sudah urusan pekerjaan.
Saya juga tahu, suami masih terobsesi dengan 7 summits (mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia). Ya, paling nggak, bisa mendaki beberapa puncak di antaranya. Dan ini kesempatannya.
Hari yang dinantikan tiba. Tim ekspedisi berangkat dengan tujuan pertama ke Kilimanjaro (5.892 mdpl) di Tanzania. Persiapan pendakian menuju puncak Kilimanjaro memakan waktu sekitar lima hari, mulai aklimatasisasi sampai pendakian yang sebenarnya. Kemudian, untuk turunnya, sekitar dua hari.
Saya terus memantau kondisi tim itu melalui internet. Untuk komunikasi kami jarang menggunakan telepon. Selain mahal, juga sulit. Paling, ketika sampai basecamp, dia menelepon sebentar untuk mengabarkan kondisinya.
’’Halo ibu, kami sudah turun dari Kilimanjaro. Puji Tuhan berhasil. Gimana kabar abang dan dedek di perut?
’’Baik. Kemarin USG ternyata cewek,” ujarku. Terdengar ucapan syukur terlontar dari suami.
’’Pendakian ini aku persembahkan buat abang dan dedek di perut, bu,” kata suami.
’’Ya pak. Semoga lancar,” ucapku menahan haru.
Setelah itu, suami dan tim ekspedisi bertolak menuju ke Rusia untuk persiapan pendakian ke Elbrus (5.642 mdpl). Elbrus barat diusahakan dicapai tepat saat peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010, untuk pengibaran Sang Merah Putih.
Saat persiapan pendakian, mereka melalui aklimatisasi yang berlangsung tanpa masalah. Sayang, rencana mencapai puncak pada 17 Agustus 2010 gagal karena terkena badai salju. Beritanya ada di sini.

Membaca berita online itu, saya coba kontak dengan suami tapi tak bisa. Lewat email juga tak terjawab. Ya sudah, saya cuma bisa pasrah dan berdoa tak henti-henti.
Kemudian, dapat kabar bahwa tim utama ekspedisi berhasil mencapai puncak. Lalu, gimana dengan tim media peliput? Rasanya sudah seperti di awang-awang menunggu kabar itu.

Ya Tuhan. Suamiku cedera. Saya pun mencari tahu dengan kontak ke kantor suami. Menurut berita yang disampaikan oleh ketua tim ekspedisi, suamiku terserang hipotermia (penyakit dingin). Rasa cemas terus menghantui. Apalagi tidak ada yang bisa dihubungi.
Akhirnya, sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Dari suami. Dia bilang kalau gagal mencapai puncak Elbrus karena terserang hipotermia dan bla bla… saya nggak meneruskan membaca SMS itu tapi langsung sujud syukur karena suami masih selamat.

Gegara peristiwa itu, begitu film Everest muncul di bioskop, saya langsung nonton. Film besutan Baltasar Kormakur itu mengingatkan saya pada peristiwa yang menimpa suami sekitar lima tahun yang lalu.
Film itu mengangkat kisah nyata tentang tewasnya para pendaki gunung pada 1996. Pendakian itu menelan korban yang cukup banyak karena adanya bencana terhebat dalam sejarah Everest tahun 1996.
Sepanjang film, penonton disuguhi panorama pegunungan Everest yang diselimuti salju. Bahkan setelah para pendaki mencapai sisi dan puncak gunung, saya seakan terbawa oleh suasana filmnya dan ikut merasakan dinginnya badai gunung Everest kala itu. Selama nonton, pikiran saya pun menerawang ke pendakian yang dilakukan oleh suami saya dan timnya dengan medan serupa di Elbrus.
Perjalanan ekspedisi Everest yang dipimpin oleh Rob Hall (Jason Clarke) selaku pemilik Adventure Consultants Guided Expedition betul-betul menegangkan. Bersama dengan rekan satu timnya, Mike Groom (Thomas M. Wright) dan Andy Harris (Martin Henderson) yang membawa klien mereka, Beck Weathers (Josh Brolin), Lou Kasischke (Mark Derwin), Frank Fischbeck (Todd Boyce), Jon Krakauer (Michael Kelly), Yasuko Namba (Naoko Mori), John Taske (Tim Dantay), dan Stuart Hutchison (Demetri Goritsas) mendaki gunung Everest pada 1996.

Menegangkan

Menegangkan


Beberapa pendaki yang ikut dalam timnya berasal dari berbagai kalangan di berbagai negara yang terobsesi untuk menjejakkan kaki di titik tertinggi di dunia itu. Bahkan, mereka tak segan-segan merogoh kantong dan mengeluarkan uang sebesar USD 65.000 (setara dengan Rp 910 juta saat ini) demi memenuhi obsesi mereka. Ada pendaki profesional yang ikut serta, seperti, Yasuko Namba (Naoko Mori), tapi ada juga yang bukan, seperti, Doug Hansen (John Hawkes), Beck Weathers (Josh Brolin), dan Jon Krakauer (Michael Kelly) sebagai freelancer writer.
Ambisi mereka untuk bisa mencapai puncak The Most Dangerous Place in the World itu sangatlah besar meski beberapa terkendala masalah kesehatan atau dimakan usia. Ini terlihat salah satunya pada Doug Hansen. Ketika para pendaki sudah mencapai puncak dan akan turun, Dough masih tertinggal di belakang.
Sesuai jadwal, para pendaki harus segera turun karena diperkirakan akan terjadi badai. Namun, Dough bersikeras. Dengan berat hati, Rob kembali mengantarkan Dough demi memenuhi keinginannya mencapai puncak.
Benar saja, badai menerjang para pendaki tersebut. Bahkan, Dough yang mengalami hiportemia akhirnya tewas. Demikian juga dengan Rob, Yasuko Namba, John Taske, dan Stuart Hutchison.
Beberapa sisi human touch ditonjolkan. Salah satu adegan yang sangat menyentuh adalah ketika Rob Hall berbicara dengan istrinya di telepon di detik-detik akhir sebelum meninggal. Melihat adegan itu, tak terasa air mata saya menetes. Sangat menyedihkan, apalagi, sang istri saat itu tengah hamil. Saya kembali membayangkan ketika suami di Elbrus, saya pun sedang hamil.
Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Ditambah lagi, adegan saat Dr.Seaborn Beck Weathers berjuang untuk bangkit dari ketidaksadaran karena ’’melihat’’ anak dan istrinya memanggil-manggil.
Ya, Everest memang sangat menarik bagi siapapun yang pernah dan masih berkutat di dunia pendakian gunung. Namun, banyak faktor yang berperan untuk menggapainya, faktor alam, fisik, skill, dan tentunya keberuntungan.

Setelah nonton Everest

’’Bu, aku boleh ajak anak-anak naik gunung?” tanya suami.
’’Nggaaaakkkkk…” teriakku.

Tulisan ini diikutkan dalam:
Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?

Cinta Keluarga Bermula di CitraRaya Tangerang

Bagi sebagian orang yang berduit, beli sebuah hunian tak perlu mempertimbangkan banyak hal. Tapi, bagi saya yang punya gaji pas pas-an, mengeluarkan uang buat sebuah rumah harus berpikir ribuan kali. Hal utama yang jadi pertimbangan bagi saya sebelum membeli hunian yaitu harga. Memang, kita bisa utang ke bank dengan KPR/KPA, tapi harus disesuaikan dengan pendapatan juga, kan.
Faktor lainnya? Lokasi. Betapa banyak waktu yang terbuang, semangat yang tergerus, dan tenaga yang terkuras saat kita harus berlama-lama di perjalanan dari rumah ke lokasi beraktivitas. Selain itu, waktu bersama keluarga pun akan berkurang. Padahal, Cinta bermula dari rumah (Bunda Teresa).
Pertimbangan berikutnya, adalah fasilitas yang dibangun di dalam kawasan hunian. Maklum, BBM mahal. Kalau di kompleks perumahan sudah tersedia pasar, supermarket, sekolah, tempat hiburan buat keluarga, tak perlu ke luar kompleks. Hemat ongkos bensin.
Selain itu, track record pengembangnya harus dicek secara detail. Pengembang memegang peran utama dalam mengelola hunian yang bakal kita tempati. Dengan track record baik, akan tercipta kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya.
Salah satu pengembang yang sangat saya kagumi adalah Ciputra Group. Bersama Dr Ir Ciputra sebagai presiden komisaris Ciputra Group, semua proyek hunian yang dibangun menuai kesuksesan. Ada wisdom, integrity, dan innovation yang merupakan rahasia di balik majunya properti di bawah bendera Ciputra Group.
ciputra-01
Hunian yang ditawarkan oleh Ciputra Group senantiasa memperhatikan lokasi yang strategis serta lingkungan yang nyaman untuk penghuni. Kita lihat salah satunya di Tangerang dengan CitraRaya sebagai masterpiece-nya. Satu-satunya perumahan di Tangerang yang berkonsep kota mandiri ini memiliki luas pengembangan sebesar 2.760 ha. Karena pertumbuhannya yang pesat membuat CitraRaya sebagai satu regional and business center kuat di Cikupa, Tangerang. Ditambah lagi dengan multiakses terutama ke tol Jakarta-Tangerang.
Dalam pembangunannya yang luar biasa itu, Ciputra Group tetap memperhatikan aspek green living. Namun, embel-embel properti hijau itu tak sekadar klaim. Mereka benar-benar ingin mewujudkannya di perumahan CitraRaya Tangerang.

Kota Mandiri

Kota Mandiri

Pengembangan tersebut meliputi aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Ketiganya itu yang menjadi inti pengembangan di CitraRaya Tangerang dan kemudian dikemas secara utuh dalam konsep eco culture.
Eco culture ini menjadi basis utama bagi pengembang untuk mengajak warganya mengubah gaya hidup sehari-hari, didukung oleh ketersediaan berbagai fasilitas.

Membangun Jalur Sepeda
Kualitas udara di perkotaan, seperti Tangerang, sangat dipengaruhi oleh emisi gas pencemar dari kendaraan bermotor. Salah satu solusinya adalah dengan bersepeda. Sebagai bentuk dukungan bagi para cyclist, dibangun jalur sepeda.

Bersepeda dengan aman

Bersepeda dengan aman

Pengelolaan Sampah yang Tepat
Jika tidak pintar mengelolanya, sampah bisa jadi beban bagi sebuah hunian. Dampaknya, penghuni merasa tak nyaman, demikian juga masyarakat sekitar bisa terdampak. Namun, CitraRaya Tangerang mengelola sampah dengan tepat. Mereka melakukan pemilahan sampai organik dan anorganik hingga pengolahan sampah kembali dengan dijadikan kompos dan biogas.
Citra Raya memiliki fasilitas instalasi daur ulang untuk mengelola sampah. Kompos untuk pemupukan jalur hijau dan sebagian dijual. Sementara biogas menjadi keperluan sumber energi mesin kompos.
Sesuai dengan semangat untuk menularkan gaya hidup yang ramah lingkungan, pengembang juga mengedukasi siswa dari sekolah sekitar kawasan hunian untuk melakukan daur ulang. Hal itu bisa membiasakan siswa memiliki wawasan ramah lingkungan sejak dini.

Ajarkan Wawasan Lingkungan Sejak Dini

Ajarkan Wawasan Lingkungan Sejak Dini

Implementasi pada Desain Rumah
Dari sisi desain rumah, dilihat berdasarkan analisis ekologis untuk mengoptimalkan rumah ramah lingkungan. Wujudnya antara lain, mendesain rumah sesuai dengan orientasinya, serta menentukan ukuran jendela yang tepat agar dapat mengoptimalkan ventilasi udara dan menghemat energi.
Pendekatan desain selalu memberi ventilasi alam di seluruh ruangan. Orientasi rumah diperhatikan agartidak boros AC, tidak ada exposure berlebihan dari matahari. CitraRaya menyesuaikan desain hunian berdasarkan kebutuhan, bukan dengan satu desain saja. Tak hanya itu, material yang digunakan untuk membangun hunian dibuat ramah lingkungan.

Lagoon Ville, salah satu tipe rumah di CitraRaya

Lagoon Ville, salah satu tipe rumah di CitraRaya

Didukung Teknologi untuk Hemat Energi
CitraRaya juga sangat concern dalam menata lingkungan. Misalnya, lampu jalan menggunakan lampu LED yang lebih hemat energi. Untuk mendukung pengelolaan lingkungan, digunakan teknologi khusus. Misalnya, untuk penghematan air, memakai sanitary ware tipe eco-friendly serta bio treated septic tank supaya air yang keluar dari septic tank tidak mencemari lingkungan.
Untuk konservasi air, CitraRaya memiliki water treatment plant. Jadi, kawasan ini memiliki persediaan air mandiri, tidak mengandalkan PAM. Air dimanfaatkan dari lingkungan yang didukung oleh lima danau buatan besar sebagai sumber air, sekaligus pengendalian banjir.

Lampu LED lebih hemat

Lampu LED lebih hemat

Fasilitas Lengkap
Konsep properti hijau pun bisa dirasakan secara menyeluruh pada proyek-proyek fasilitas yang dibangun oleh CitraRaya. Mulai rumah sakit sampai theme park ada.

Ciputra Hospital adalah rumah sakit umum swasta pertama dari Grup Ciputra. Rumah sakit dengan konsep modern, bersih dan hijau ini hadir untuk semua kebutuhan kesehatan.

Didukung dengan tenaga profesional dan teknologi terbaru

Didukung dengan tenaga profesional dan teknologi terbaru

World of Wonders merupakan Theme Park pertama di Tangerang yang didirikan pada 2012, penggabungan antara aktivitas edukasi dan rekreasi ini pastinya merupakan tempat bermain dan belajar yang sempurna bagi anak dan keluarga Anda.

Theme Park

Theme Park

Water World CitraRaya menjadi tujuan wisata air yang sempurna untuk dikunjungi oleh Anda dan keluarga. Dengan banyak wahana air seru yang menyenangkan.
Water-Worldv2

Armada bus Trans CitraRaya hadir untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan transportasi bagi penghuni dengan banyak rute, mulai Jakarta, Tangerang, Bandung, dan masih banyak lagi.

Transportasi Mudah dan Hemat

Transportasi Mudah dan Hemat

Kini, di CitraRaya Tangerang telah berdiri lebih dari 42 cluster perumahan dan 1.800 unit komersial, dengan jumlah penduduk yang melebihi 60.000 kepala keluarga. Bagaimana dengan Anda? Jadilah bagian dari CitraRaya Tangerang sekarang juga.

Foto-foto: CitraRaya

Badge Writing Competition CitraRaya

Meski Non Muslim, Lebih Nyaman Ikut Tabungan Syariah

Saya baru mengenal produk tabungan syariah sekitar satu tahun lalu. Waktu itu, saya mencari tabungan yang tidak ada biaya administrasinya. Jujur saja, saya suka kesel kalau ngelihat di buku tabungan bank konvensional, setiap bulan biaya administrasinya bisa sampai 15 ribu rupiah. Lha coba kalau dikali satu tahun.
Sampai suatu ketika saya buka tabungan untuk di sulung, sekalian deh saya konsultasi dengan customer service di bank yang bersangkutan itu. Saya disarankan untuk membuka tabungan syariah. Kenapa? Karena tidak ada biaya administrasi. Nah, tabungan inilah yang saya cari. *simpel banget ya*

Pada prinsipnya, saya memang cuma mau menyisihkan uang untuk tabungan. Tanpa bunga pun nggak masalah. Toh, duit itu nantinya hanya untuk memenuhi kebutuhan yang mendadak atau mendesak.

Eh, tapi kan saya non Muslim. Apa bisa saya buka Tabungan Syariah?
Selama ini, saya pikir, menabung di Bank Syariah hanya untuk umat Muslim. Ternyata dugaan saya keliru. Ya, tabungan syariah terbuka untuk semua kalangan.
Akhirnya, saya buka tabungan syariah di CIMB Niaga. Prosedurnya mudah. Selain itu, fitur-fiturnya sama kok dengan tabungan konvensional lain, seperti, pemakaian ATM, transfer antar bank maupun lain bank, bahkan. Setelah hampir setengah tahun menabung di bank syariah, saya mulai merasakan manfaatnya. Saya merasa lebih aman menabung tanpa dikenakan biaya administrasi.

Ini nih tabungan syariahku

Ini nih tabungan syariahku

Karena jumlahnya sudah lebih dari 10 juta, saya ditawarkan untuk membuka deposito berjangka. Tentunya juga berprinsip syariah.

Melalui Deposito Syariah yang saya ikuti di CIMB Clicks, berdasarkan prinsip Mudharabah Muthlaqah. Jadi, kita mempercayakan CIMB Niaga Syariah (mudharib) untuk mengelola dana tersebut. Keuntungan untuk nasabah? Kita bisa menikmati nisbah atau bagi hasil dengan jumlah yang menarik. Minimal pembukaan mulai Rp 8 juta. Lumayan ringan kan.
Kita juga bisa memilih jangka waktu yang fleksibel, 1, 3, 6, dan 12 bulan.

Puji Tuhan, setelah menabung lebih dari satu tahun di tabungan syariah, saldo terus meningkat. Nah, saya aja yang non Muslim, lebih nyaman ikut Tabungan Syariah. Bagaimana dengan kamu?

Horeee...saldonya hmmm...

Horeee…saldonya hmmm…

Saya juga makin paham mengenai keuangan syariah setelah November 2014 lalu, meliput acara Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF). (dimuat di Jawa Pos 7 November 2014)

Tambah Ilmu

Tambah Ilmu

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo yang hadir di acara tersebut sangat mengapresiasi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. ”Pertumbuhannya sangat bagus meskipun memang hingga kini share di dalam negeri baru 5 persen. Itu adalah tantangan bagi kami semua bagaimana caranya agar bisa meningkat,” katanya.
Agus menambahkan, kerja sama dengan lembaga pendidikan, seperti, pesantren diharapkan dapat meningkatkan pengembangan ekonomi syariah. Namun, selama ini belum banyak yang berfokus pada pembentukan institusi yang mandiri secara ekonomi untuk mampu mengembangkan keuangan syariah. ’’Karena itu, kami akan mulai memberikan edukasi tentang pengembangan ekonomi syariah,’’ tuturnya.

Masih dalam rangkaian ISEF, diadakan juga seminar nasional bertema Indonesia: Kiblat Baru Keuangan Syariah Dunia. Salah seorang narasumbernya yaitu pakar ekonomi syariah Dr M Syafii Antonio MEc mengungkapkan bahwa krisis ekonomi dunia yang terjadi beberapa kali selama abad 21, memperlihatkan pada seluruh umat manusia bahwa ada kekeliruan pada sistem ekonomi konvensional. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan prinsip syariah.

Beliau juga menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi syariah di Indonesia cukup pesat. Untuk lebih meningkatkan lagi, perkembangan industri keuangan syariah harus dibarengi dengan adanya sosialisasi yang berkesinambungan. ’’Bagaimana dari pemerintah dan lembaga keuangan bisa melakukan promosi yang efektif dan tidak terlalu mahal untuk menyampaikan edukasi pada masyarakat mengenai ekonomi syariah ini,” kata Ketua STEI Tazkia ini.

Dengan segala keunggulan dari perekonomian syariah, mari kita ikut mendukungnya.

<a href=”http://

iB Blogger Competition

“>Aku

Ada Cinta dalam Sekotak Cokelat Jamu

Rasa pahit jadi salah satu alasan banyak orang, terutama anak-anak dan orang muda kurang suka minum jamu. Sayang ya. Padahal, jamu punya banyak khasiat. Ada yang bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh sampai membantu menyembuhkan penyakit. Info lengkapnya bisa diintip di mari.

Belum lagi stigma jamu yang nggak gaul, bikin banyak remaja mundur teratur kalau disuruh minum jamu. Kurang nge-hits (katanya) kalau dibandingkan dengan makanan dan minuman kemasan.

Melihat jamu yang kurang akrab di kalangan anak muda, Fajria Darell Sofiana tak tinggal diam. Dia mulai mencari cara supaya jamu bisa akrab di lidah masyarakat, terutama kaum muda. ”Jamu adalah warisan budaya bangsa. Kalau bukan kita-kita anak muda yang meneruskan, siapa lagi?” kata perempuan berusia 20 tahun ini.

Karena kesukaannya minum jamu dan memasak kue, dia mencoba memadukan bahan-bahan jamu dengan cokelat. Loh, kenapa memilih cokelat?

Menurut cewek Semarang ini, cokelat adalah salah satu makanan favorit mulai anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan, banyak yang addict sama makanan berbahan cokelat. Setelah melalui sekitar dua kali proses utak atik resep, akhirnya, terciptalah ChocoHerbs, cokelat citarasa jamu tradisional.

Di luar ekspektasinya, ChocoHerbs mampu merebut hati teman-temannya. Banyak teman yang memesan. Harganya lumayan terjangkau sih. Sekotaknya cuma Rp 15 ribu. Itu sudah berisi 16 cokelat. Ditambah dengan kemasannya yang cantik, membuat cokelat jamu buatan Fajria ini cocok juga untuk oleh-oleh atau kado buat someone special.

Kemasan Unik

Kemasan Unik

Berkat inovasinya ini, Fajria pernah menang dalam kompetisi bussiness plan mengenai diversifikasi pangan berbahan baku lokal. Sejak menang lomba, Fajria mulai serius menekuni bisnis cokelat jamu itu. Dari pemilihan bahan baku, pembuatan, sampai pemasarannya, dilakukan sendiri. Karena masih kuliah, untuk sementara ini penjualan hanya made by order dan saat ada event seperti Festival Jamu Internasional, pameran, dan bazar.

Oia, varian dari produk ChocoHerbs ada beberapa rasa kunyit, kencur, jahe, dan temulawak. Supaya konsumen paham khasiat dari jamu yang terdapat dalam cokelat itu, di kemasan, Fajria juga menuliskan manfaatnya apa saja bagi tubuh. ”Biar jamu tetap eksis dan lebih banyak peminatnya,” kata perempuan berjilbab ini.

Rasa Jamu Tradisional

Rasa Jamu Tradisional

Jamu-Jamu Favorit

Kalau saya paling demen sama ChocoHerbs rasa temulawak. Bisa jadi karena rasa temulawak yang sudah akrab di lidah saya. Ya, saya sekeluarga memang rutin mengonsumsi ramuan temulawak. Bikin sendiri, lho. Caranya, temulawak diiris tipis, direbus, dan dicampur dengan gula aren. Segaaar…

Manfaatnya terasa. Nafsu makan anak-anak saya terdongkrak semenjak rutin minum sari temulawak itu. Daya tahan tubuh pun lebih bagus. Bagi saya yang baru melahirkan, sari temulawak ini membantu mengembalikan kekejangan otot setelah persalinan. Orang tua saya juga merasakan khasiat sari temulawak ini untuk mengatasi gangguan ginjal dan hati serta mengobati maag.

Selain temulawak, saya suka yang rasa kunyit. Ya, saya sudah lama ”bersahabat” dengan kunyit, terutama saat haid. Setelah punya anak, kunyit pernah jadi ”penyelamat” saat anak saya demam. Kunyit diparut kemudian diperas untuk diambil airnya. Supaya rasanya lebih enak, perasan kunyit itu saya tambah sedikit madu. Sekarang, sebagai ibu menyusui, untuk memperlancar ASI, saya rajin minum air perasan kunyit. Hasilnya, tokcer. ASI saya lancar dan bisa kasih ASI full untuk si dedek.

ChocoHerbs adalah salah satu wujud cinta pada warisan negeri sendiri. Ayo, dukung jamu Indonesia supaya makin maju dan berkembang.

Sumber:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

Foto-foto: ChocoHerbs

Interview Fajria Darell Sofiana

Hai Ibu-Ibu Hamil, Ayo Traveling

Positif. Saya hamil anak ketiga. Harusnya, disambut dengan suka cita, ya. Tapi, saya malah uring-uringan nggak jelas. Masih shock karena di luar perkiraan. Yah, kebablasan ceritanya.
”Kasihan si dedek loh, kalau ibunya galau bin mellow terus,” kata pak suami.
Hmmm…iya juga.
Ibu hamil yang bahagia akan melahirkan bayi yang sehat. Bahkan, dapat mengurangi rasa sakit ketika proses melahirkan, dan menurunkan risiko terjadinya tindakan medis lanjutan, seperti operasi caesar atau induksi. (kompas.com).

Dan, bahagia itu adalah traveling. Yipiii…

Beruntung, kondisi kandungan saya yang ketiga ini sehat dan kuat, baik janin maupun emaknya. So, mau pergi ke mana aja, ayo.

Surabaya-Jakarta-Bogor

Belum genap tiga bulan usia kehamilan, si dedek dalam perut udah digembol dari Surabaya ke Jakarta plus Bogor. Pergi rame-rame bareng keluarga, seruuu…
Di Jakarta, tujuannya ke Kidzania. Si abang Edo dan kakak Mita asyik mencoba banyak permainan peran yang ada di Kidzania.

Edo kerja dulu ya. Jadi pilot di Kidzania

Edo jadi pilot di Kidzania

Mita bikin pizza

Mita bikin pizza di Kidzania

Utak atik mobil dapet duit ya Edo

Utak atik mobil dapet duit ya Edo

Dari Kidzania, anak-anak digiring ke Jungleland Adventure Theme Park JungleLand, Sentul City, Bogor. Wedeeew, view-nya keren dengan latar Gunung Pancar.
Puluhan permainan seru siap dieksplor sampai pukul 10 malam, mulai wahana anak-anak yang fun hingga wahana yang menantang nyali. Sayang, nggak semua permainan bisa saya coba. Kapan-kapan ke sana lagi, ah.

Nekad nyobain naik roller coaster

Nekad nyobain naik roller coaster

Viewnya keren

Viewnya keren

Dari atas bianglala, terlihat kerlip lampu Kota Bogor

Dari atas bianglala, terlihat kerlip lampu Kota Bogor

Terbang ke Bali

Menginjak usia kehamilan bulan keempat, saya tergoda untuk liburan ke Bali. Mumpung saya dan suami dapat cuti dari kantor, bisa rombongan bareng keluarga besar, pula.
Destinasi yang kami tuju antara lain Uluwatu untuk nonton tari kecak, ke Batubulan untuk nonton tari barong, ke Pantai Lovina untuk hunting lumba-lumba, Bali Zoo, Tanjung Benoa, dan Pantai Pandawa.
Bali memang tujuan wisata yang komplet. Kita bisa menikmati alamnya yang penuh pesona dipadu dengan keindahan budayanya.

Hunting lumba-lumba di Lovina

Hunting lumba-lumba di Lovina

Full. Saat nonton tari kecak di Uluwatu

Full. Saat nonton tari kecak di Uluwatu

Bedugul

Bedugul

Tahun Baru Plus Ziarah ke Kediri

Sepulang dari Bali, saya masih mupeng untuk merayakan pergantian tahun 2014 di gereja Puhsarang, Kediri. Gereja yang dibangun pada 1936 ini sangat unik. Atapnya berbentuk seperti kubah dengan salib di atasnya. Altar yang ada dalam gereja dibuat dari batu massif, kemudian dipahat. Di atas altar terdapat relief dari batu bata merah yang disusun tanpa semen, tapi menggunakan campuran air, kapur dan gula. Relief tersebut menggambarkan ajaran kitab suci.
Bangunan gereja pun secara unik dikelilingi oleh benteng yang terbuat dari batu-batu. Tampak sangat kokoh. Sampai sekarang, misa di gereja tersebut diadakan dalam bahasa Jawa diiring gending serta gamelan. Umat pun mengikutinya dengan lesehan (duduk di lantai). Sangat syahdu.

Pada kompleks gereja tersebut terdapat miniatur gua Maria yang juga dari batu. Namun, karena bentuknya terlalu kecil, pada 1998 mulai pembangunan gua Maria Lourdes yang merupakan replika Gua Maria Lourdes di Perancis. Lokasinya hanya beberapa meter dari kompleks gereja. Di kawasan gua Maria Lourdes tersebut kerap diadakan misa besar yang diikuti oleh umat Katolik dari daerah lain.

Para pemuda gereja Pusahsarang sedang latihan koor di dalam gereja

Para pemuda gereja Pusahsarang sedang latihan koor di dalam gereja

Tampak kubah gereja

Tampak kubah gereja

Batu Jadi Favorit

Tapi, selama hamil, saya paling suka ke Kota Batu. Udaranya seger dan kulinernya yahud. Hehe…Selain itu, banyak tempat wisata asyik di Batu. Antara lain, Jatim Park 1,2, Eco Green Park, Batu Night Spektakuler, Museum Satwa, Museum Angkut, Songgoriti, dan Selecta.

Anak-anak saya demen banget kalau diajak ke Selecta. Ada playground, kolam renang, waterpark, taman bunga, becak air, flying fox, dan berkuda.  Belum lagi, ada pasar buah dan sayur segar di kompleks Selecta.

menikmati udara segar Kota Batu

Taman Bunga Selecta

Syuuut...adek meluncur di atas taman bunga

Syuuut…adek meluncur di atas taman bunga

Jalan-Jalan di Dalam Kota Surabaya

Nggak cuma ke luar kota, anak-anak sering nodong saya untuk jalan-jalan di dalam Kota Surabaya. Salah satunya mengunjungi Pantai Kenjeran. Selain menawarkan pantai, di kawasan itu terdapat patung Buddha empat wajah yang diresmikan pada 2004. Bangunan utama dari patung ini berukuran 9 × 9 meter dan termasuk kubah yang mencapai 36 meter.

Maaf, foto patung Budha-nya kurang jelas.

Tampak megah

Meski perut sudah terlihat membuncit, saya tak ketinggalan nonton pertunjukan musik jazz. Sekalian ajak si sulung yang juga demen ngejazz.

Si sulung juga demen jazz

Si sulung juga demen jazz

Efek traveling yang membawa kebahagiaan itu rupanya benar-benar mujarab membantu kelancaran persalinan saya yang berlangsung secara alami. Setelah melalui kontraksi sekitar 1 jam, akhirnya lahir anak ketiga saya. Puji Tuhan.

Sebelum Traveling, Pastikan Tubuh Fit

Sebelum traveling, saya memastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit. Tak hanya itu, kendaraan yang akan membawa saya ke tempat-tempat wisata itu pun harus nyaman dan aman. Salah satu mobil yang masuk dalam daftar itu adalah Toyota Agya.

Tampil elegan

Tampil elegan

Beberapa fitur keamanan dibenamkan dalam mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) ini. Di antaranya, kantung udara ganda di depan, sabuk pengaman pre tensioner & force limiter, dan body reinforcement serta SRS airbag. Dilengkapi juga dengan ISOFIX untuk mengikat baby car seat.

Utamakan kenyaman dan keamanan

Utamakan kenyaman dan keamanan

Jenis City Car, Tenaga Besar, Interior Longgar

Toyota Agya juga sangat memperhatikan kenyamanan penumpang dengan menghadirkan air freshener lever. Fitur ini untuk mengganti udara kabin yang diputar AC dengan udara luar yang lebih segar. Mobil berkapasitas empat penumpang ini mengusung desain dinamis, efisien, sekaligus modern. Ada tiga tipe Agya yang bisa dipilih, varian Medium Grade (E), High Grade (G), dan TRD Sport. Semua tipe menawarkan transmisi manual dan matik.

Mesin 1 KR DOHC 998 cc pada Agya dilengkapi dengan 3 cylinder in line 12 valves. Daya maksimal mencapai 65,3 ps/6.000 RPM. Sangat handal melahap rute tanjakan maupun menempuh perjalanan jauh. Sedangkan torsi maksimal adalah 8,8 Kgm pada 6.000 RPM. Saat diujicoba di laboratorium, Agya hanya memerlukan 1 liter bensin per 21 km. Sangat irit.

Speedometer

Speedometer yang dilengkapi dengan fitur MID

Untuk tipe High Grade dan TRD Sport, dashboard-nya tampil mewah dengan fitur Chrome A/C Register, Chrome list combination meter, dan 2 Din Integrated Audio dengan CD, MP3, radio, USB, dan aux serta chrome parking brake knob. Ditambah fitur multi information display (MID) yang menampilkan indikator bensin digital, jam, dan lampu eco. Kedua varian itu juga dilengkapi dengan electric outer mirror, 6 spoke alloy wheel 175/65 R14, headlamp, serta foglamp dengan aksesori krom.

mewah

dok: toyotaastra.co.id

Kesan sporty nan dinamis ditampilkan pada tipe TRD Sport dengan adanya aerokit di bagian depan, samping, dan belakang. Sementara itu, di tipe medium grade, Agya dilengkapi fitur speedometer dan 1 Din Audio CD/MP3/USB/Aux.

Meski bertipe city car hatchback mobil dengan panjang sekitar 3,6 meter ini terasa lega dan lapang, begitu pun untuk bagasinya. Bahkan, penumpang di bagian belakang banyak mendapat ruang longgar seperti pada mobil jenis MPV. Mobil ini pun sudah dilengkapi power window, power lock, hingga pengatur spion otomatis kecuali pada tipe medium grade. Asyiknya lagi, nuansa Indonesia tercermin dari logo Garuda pada bagian depan mobil Toyota Agya. Jadi, mengendarai Toyota Agya sama dengan cinta Indonesia.

Lapang

Lapang

Nah, ayo ibu-ibu yang lagi hamil, tak perlu ragu beraktivitas bareng Toyota Agya. Lebih aman, nyaman, dan keren.

My Agya, My Style!

Sumber foto Toyota Agya: Toyota Astra

Sumber foto traveling: Pribadi

Keluarga Sehat Berawal dari Masakan Rumah

  
  Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, stroke, dan diabetes melitus meningkat. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Ekowati Rahajeng, mengatakan, penyakit tidak menular sangat berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat. (Kompas, 26 Mei 2015). Salah satu syarat utama untuk hidup sehat adalah mengonsumsi makanan yang cukup, bermutu, dan aman.
  Prinsip makan sehat sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana kita mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan, menjaga komposisi zat gizi, mengolahnya secara sehat, dan mematuhi waktu makan. Mudah? Ya. Tapi, ternyata sulit diaplikasikan. Salah satu faktornya adalah gaya hidup yang menuntut semua serba terburu-buru dan instan.
  Apalagi, fasilitas delivery order. Ketika lapar melanda, tinggal angkat telepon, pesan makanan, dan menu pilihan pun segera tiba di depan mata. Praktis. Tapi, bagaimana dengan kualitas makanannya?
  Saya sendiri suka jajan di warung atau restoran. Apalagi kalau ada yang mentraktir. Hehe…Selain itu, kalau makan di restoran yang tergolong wah dan sedang ngetren, rasanya ada kebanggaan tersendiri. Bisa pamer fotonya ke teman-teman melalui sosial media.
  Namun, seiring dengan pemberitaan di media mengenai pemakaian bahan-bahan pangan yang tidak aman, membuat saya ngeri dan berpikir dua kali untuk jajan di luar. Mau beli nasi pecel, misalnya. Memang bergizi karena terdiri atas sayuran. Namun, apakah penjualnya sudah mencuci bersih sayurannya sehingga bebas dari pestisida dan bakteri. Belum lagi rempeyeknya, apakah digoreng menggunakan minyak baru, bukan yang sudah berkali-kali dipakai? Bagaimana dengan higienitas piring dan sendok-garpunya?
 Daripada terus dihantui ketakutan-ketakutan itu, saya lebih memilih makan di rumah dan membawa bekal untuk ke kantor. Memang sedikit repot dan butuh waktu karena harus belanja dan mengolahnya. Tapi, kita bisa memilih sendiri bahan makanan yang tentu baik. Misalnya, pakai sayuran dan buah organik, ikan segar, bumbu alami tanpa penyedap (MSG), atau gula rendah kalori.
  Menanamkan budaya makan masakan dari rumah juga saya terapkan pada anak-anak. Saat sekolah, mereka saya beri bekal.

Makan di rumah, jangan lupa susu Hi-Lo School nya yaaa...

Makan di rumah, jangan lupa susu Hi-Lo School nya yaaa…


Ternyata, selain sehat, memasak makanan sendiri lebih hemat daripada beli di warung atau restoran. Kita bisa jadi #HealthAgent bagi keluarga.

Konsisten tanpa Daging
  Oia, saya juga memilih untuk tidak makan daging sejak tiga tahun lalu. Awalnya memang sulit. Apalagi, sebelumnya, saya termasuk ”pemakan” segalanya. Tapi, saya tahu diri. Usia sudah kepala tiga, kerap merasa capek, tulang punggung sering sakit, kulit kusam, dan naik turun tangga ngos-ngosan. Pertanda harus waspada. Selain rutin olahraga, saya pun berkomitmen untuk mengucapkan selamat tinggal pada makanan berdaging.
  Anak-anak pun sudah mulai mengerti untuk lebih memilih makan sayur ketimbang daging. Mereka sedikit demi sedikit menolak makan daging.
  Banyak teman bertanya, bagaimana rasanya tidak makan daging? Apa tidak lemas? Ternyata, setelah tidak makan daging, badan terasa lebih ringan dalam bergerak. Tidak gampang capek. Bahkan, saat hamil anak ketiga, saya tetap menerapkan pola makan tanpa daging dan hasilnya, tubuh bugar hingga melahirkan.

bugar

bugar

  Pola makan ini ternyata menguntungkan untuk saya yang sedang menyusui. ASI jadi melimpah. Tak hanya itu, pengeluaran untuk makan jadi makin hemat. Belanja sayur kan lebih murah ketimbang daging.
  Tapi, apa enaknya makan dengan menu hanya sayuran? Beberapa menu favorit saya, nasi pecel dengan lauk tempe mendoan, sayur bayam plus lauk bakwan jagung, cah brokoli jamur, terong krispi, pepes tahu, gado-gado. Silakan dicoba.
  

Diikutkan dalam
HealthAgent Sharing Inspiration blog contest

blog.nutrifood.co.id

blog.nutrifood.co.id