Dingin-Dingin di Dubai (Part 2)

(part 1)

Keluar dari Dubai Mall, kami masuk ke Mall of Emirates. Shopping lagi? Ow, tidak. Kali ini kami mau main salju di Dubai Ski yang ada di dalam mal itu.

Di area seluas 22.500 m2 itu, area untuk ski ditutupi dengan salju asli. Untuk menjaga salju itu, suhu di Ski Dubai dibuat mencapai minus 2 derajat celsius. Ski Dubai juga dilengkapi fasilitas chairlift atau lift kursi yang biasa digunakan oleh pemain ski untuk menuju area yang tinggi.

es3

Untuk pengunjung yang tidak memiliki perlengkapan ski, bisa pinjam perlengkapan ski seperti jaket anti basah, celana anti basah, sepatu ski, ski poles atau tongkat ski. Buat anak-anak akan disediakan helm. Semua perlengkapan sudah tersedia di sana. Tinggal sesuaikan aja dengan ukuran tubuh kita.

Kalau nggak pengin main ski (kayak saya), bisa juga cuma main salju di Snowpark-nya. Selain nyobain chairlift, giant ball, twin track bobsled runs, dan tobogganing hills (perosotan salju).

es2

Oia, kita juga bisa main sama penguin. Waktu itu, saya dan rombongan dapat kesempatan untuk bisa berfoto dan memegang penguin. Duh, rasanya pengen bawa pulang satu ekor, deh. Abis, gemesiin banget penguinnya.

Penguin-penguin itu memang dikondisikan seperti habitat aslinya. Eh, saat main bareng penguin, kita nggak boleh berisik, ya. Karena bisa bikin si cute itu stres. Beberapa menit setelah berinteraksi dengan penguin, si penguin sempat ngerasa boring. Tapi, lagi-lagi, nggak boleh dipaksa. Oleh sang pelatih, dia dibiarin jalan-jalan dulu dan makan ikan. Sampai dia mau kembali difoto.

Oia, saat memegang penguin, nggak sembarangan juga loh. Yang dibolehin yaitu sisi samping dan bagian kepala dan punggung. Tuh kan bener-bener imut kan? *Eh jangan gagal fokus loh* si penguin maksudnya, bukan sayaaahh…

es1

Cerita Dubai yang lain? Tunggu di postingan berikutnya.

Iklan

Terpukau Hotel Bintang Tujuh (Dubai Part 1)

Awal 2016 lalu, saya sempat ngetrip ke Dubai. Tapi sayang nggak bawa anak-anak. Padahal, kalau bawa anak-anak, seru loh. Banyak destinasi keren yang bisa dimasukkan dalam daftar must visited buat anak-anak usia SD ke atas. Mumpung mau liburan akhir tahun nih, kenapa nggak cuss ke Dubai.

 

Perjalanan selama sekitar 8 jam dari Jakarta-Singapura-Dubai, cukup melelahkan. Tapi, langsung segar kembali ketika disambut dengan udara malam yang sejuk menyentuh kulit tubuh. Sebenarnya, perut belum lapar sangat. Namun, staf dari Dubai Tourism Board yang mengundang saya dan rombongan media Indonesia tetap mengajak kami makan malam di sebuah resto India. Beruntung, hidangan yang disajikan rasanya pas di lidah.

mydubai1

Setelah itu, kami pun diantar untuk beristirahat di Hotel JW Marriott Marquis yang ditetapkan dalam Guinness Book of World Records sebagai hotel tertinggi di dunia. Soal kenyamananya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Paling bingung kalau pas sarapan. Menu makanannya bervariasi, mulai masakan Italian, Japanese, Chinese, Indian, dan Arabian, vegetarian, non vegetarian, semua ada.

Hari pertama trip di Dubai, kami diajak ke Burj Al Arab. Bentuk struktur bangunan ini dirancang menyerupai bentuk kapal berlayar. Hotel ini sering disebut-sebut sebagai hotel bintang tujuh karena layanan dan fasilitas yang diberikan sangat mewwwaaaaaahhh.

mydubai3

mydubai4

mydubai5

mydubai10

Semua kamar di hotel itu terdiri atas dua lantai. Di lantai satu ada ruang tamu, ruang makan, dan ruang kerja. Sedangkan lantai atas ditempati ruang tidur dan kamar mandi. Bahkan, Royal Suite seluas 780 m2 yang harganya puluhan juta rupiah per malam ini dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan pribadi, bioskop pribadi, hingga lift pribadi.

Soal view nya, nggak usah ditanya deh. Seluruh ruangan hotel bakal mendapatkan sea view Teluk Persia yang cantik.

OK1

Puas berkeliling di Burj Al Arab, kami menuju ke Dubai Mall. Dengan luas area 1.124.000 meter persegi, Dubai Mall dinobatkan sebagai pusat perbelanjaan terbesar di dunia. Surganya para shopaholic. Ribuan produk branded bisa didapatkan di mal ini. Apalagi ketika kami dibawa ke Level Shoe District. Ada lebih dari 40 butik sepatu. Koleksinya juga bervariasi, mulai high heels sampai sepatu sport.

mydubai6

mydubai8

Di dalam Level Shoe juga tersedia resto, personal shoe styling, feet therapy, shoe maker, dan shoe repair. Khusus di shoe repair, tersedia berbagai aksesori, warna, dan model untuk menjadikan sepatu bekasmu kelihatan ’’new.”

Keluar dari Dubai Mall, kami masuk ke Mall of Emirates. Shopping lagi? Ow, tidak. Kali ini kami mau main salju di Dubai Ski yang ada di dalam mal itu.

Tunggu ya di postingan berikutnya…

Paket Komplet yang Menguras Emosi

Lama nggak update blog, sekalinya update, kok curhat.
Ini cerita saat April lalu yang benar-benar menguras emosi jiwa. Hiiih…lebay ya.

Pertama, Mita. Anak nomor duaku ini tetiba badannya panas, 39 derajat. Padahal, dua minggu sebelumnya, dia juga panas. Tapi, saya kasih jamu kunyit madu, sekitar dua hari, badannya berangsur sembuh dan normal. Panas kedua ini, jamu kunyit madu ternyata masih nggak mempan. Suhu tubuhnya masih berkisar 37,5-38 selama dua hari. Akhirnya, saya bawa ke dokter.
Selama Mita sakit, saya harus berbagi perhatian ekstra dengan baby Gita yang masih ASI. Pengennya misahin mereka supaya nggak tertular, tapi syusyaaah. Mita dan Gita sama-sama pengen bareng emaknya. Oh nooo…

Belum juga Mita sembuh, lhadalah, abang Edo ikutan panas. Omaigat. Nggak mau ambil pusing, saya langsung cuss ke dokter. Sekalian bawa Mita untuk konsultasi karena dia masih lemes meski sudah empat hari mengonsumsi obat.
Bisa jadi karena kekhawatiran, akhirnya beneran kejadian. Baby Gita sakit. Badannya panas. Dan malah sempat kejang. Ya ampyuuun…saya pun langsung pulang kantor lebih awal begitu tahu Gita sampai kejang. Akhirnya, ke dokter juga deh si dedek.
Lengkaplah sudah EdoMitaGita berobat ke dokter dalam seminggu.

Ternyata, paket itu makin komplet lagi ketika saya pun ikut tepar. Panas tinggi, tenggorokan sakit, hidung mampet, kepala pening, tapi masih harus gendong dan menyusui baby Gita. Jadilah, saya kadang tidur sambil gendong baby G yang masih rewel karena badannya belum pulih. Tambah pas lagi, kerjaan di kantor nggak bisa ditinggal.

Saya termasuk orang yang jarang berobat ke dokter. Tapi, kali ini, saya pengen cepet cepet sembuh karena ada tiga krucil yang butuh pengawasan ekstra ples kerjaan yang nggak bisa ditinggal leyeh-leyeh. Akhirnya, saya pun ke dokter, tepatnya ke puskesmas pakai fasilitas BPJS. Lumayan kan free. Eh tapiiii…saya tetep aja ogah kalau disuruh sakit.

Kalau udah sakit gini ini ya, barulah ngerasain betapa sehat itu sangat berharga. Baru ngerasain kalau istirahat dan menjaga makanan sehat, wajib hukumnya.

Sujud Syukur, Suami Tak Seperti Rob Hall

’’Bu, aku dapat tugas liputan ekspedisi ke Kilimanjaro dan Elbrus. Berangkat bulan depan dengan waktu pendakian sekitar satu bulan,” cetus suami sepulang kerja.
’’Hah? Gimana?” tanyaku nggak percaya. Suamiku mengulang ucapannnya lagi.
Ya Tuhan… naik gunung lagi. Aku mbatin. Itu hal yang paling membuatku khawatir pada suami. Apalagi, ini pendakian di gunung es.
’’Nggak ada orang lain?” tanyaku.
’’Bukannya nggak ada, tapi kantor menugaskan aku yang liputan,” ujar suami.
Saya tahu, suami memang hobi mendaki gunung. Tapi, sejak menikah, dia sudah nggak pernah lagi naik gunung karena memang aku nggak ngebolehin. Saat itu, saya nggak bisa mencegahnya karena sudah urusan pekerjaan.
Saya juga tahu, suami masih terobsesi dengan 7 summits (mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia). Ya, paling nggak, bisa mendaki beberapa puncak di antaranya. Dan ini kesempatannya.
Hari yang dinantikan tiba. Tim ekspedisi berangkat dengan tujuan pertama ke Kilimanjaro (5.892 mdpl) di Tanzania. Persiapan pendakian menuju puncak Kilimanjaro memakan waktu sekitar lima hari, mulai aklimatasisasi sampai pendakian yang sebenarnya. Kemudian, untuk turunnya, sekitar dua hari.
Saya terus memantau kondisi tim itu melalui internet. Untuk komunikasi kami jarang menggunakan telepon. Selain mahal, juga sulit. Paling, ketika sampai basecamp, dia menelepon sebentar untuk mengabarkan kondisinya.
’’Halo ibu, kami sudah turun dari Kilimanjaro. Puji Tuhan berhasil. Gimana kabar abang dan dedek di perut?
’’Baik. Kemarin USG ternyata cewek,” ujarku. Terdengar ucapan syukur terlontar dari suami.
’’Pendakian ini aku persembahkan buat abang dan dedek di perut, bu,” kata suami.
’’Ya pak. Semoga lancar,” ucapku menahan haru.
Setelah itu, suami dan tim ekspedisi bertolak menuju ke Rusia untuk persiapan pendakian ke Elbrus (5.642 mdpl). Elbrus barat diusahakan dicapai tepat saat peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010, untuk pengibaran Sang Merah Putih.
Saat persiapan pendakian, mereka melalui aklimatisasi yang berlangsung tanpa masalah. Sayang, rencana mencapai puncak pada 17 Agustus 2010 gagal karena terkena badai salju. Beritanya ada di sini.

Membaca berita online itu, saya coba kontak dengan suami tapi tak bisa. Lewat email juga tak terjawab. Ya sudah, saya cuma bisa pasrah dan berdoa tak henti-henti.
Kemudian, dapat kabar bahwa tim utama ekspedisi berhasil mencapai puncak. Lalu, gimana dengan tim media peliput? Rasanya sudah seperti di awang-awang menunggu kabar itu.

Ya Tuhan. Suamiku cedera. Saya pun mencari tahu dengan kontak ke kantor suami. Menurut berita yang disampaikan oleh ketua tim ekspedisi, suamiku terserang hipotermia (penyakit dingin). Rasa cemas terus menghantui. Apalagi tidak ada yang bisa dihubungi.
Akhirnya, sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Dari suami. Dia bilang kalau gagal mencapai puncak Elbrus karena terserang hipotermia dan bla bla… saya nggak meneruskan membaca SMS itu tapi langsung sujud syukur karena suami masih selamat.

Gegara peristiwa itu, begitu film Everest muncul di bioskop, saya langsung nonton. Film besutan Baltasar Kormakur itu mengingatkan saya pada peristiwa yang menimpa suami sekitar lima tahun yang lalu.
Film itu mengangkat kisah nyata tentang tewasnya para pendaki gunung pada 1996. Pendakian itu menelan korban yang cukup banyak karena adanya bencana terhebat dalam sejarah Everest tahun 1996.
Sepanjang film, penonton disuguhi panorama pegunungan Everest yang diselimuti salju. Bahkan setelah para pendaki mencapai sisi dan puncak gunung, saya seakan terbawa oleh suasana filmnya dan ikut merasakan dinginnya badai gunung Everest kala itu. Selama nonton, pikiran saya pun menerawang ke pendakian yang dilakukan oleh suami saya dan timnya dengan medan serupa di Elbrus.
Perjalanan ekspedisi Everest yang dipimpin oleh Rob Hall (Jason Clarke) selaku pemilik Adventure Consultants Guided Expedition betul-betul menegangkan. Bersama dengan rekan satu timnya, Mike Groom (Thomas M. Wright) dan Andy Harris (Martin Henderson) yang membawa klien mereka, Beck Weathers (Josh Brolin), Lou Kasischke (Mark Derwin), Frank Fischbeck (Todd Boyce), Jon Krakauer (Michael Kelly), Yasuko Namba (Naoko Mori), John Taske (Tim Dantay), dan Stuart Hutchison (Demetri Goritsas) mendaki gunung Everest pada 1996.

Menegangkan

Menegangkan


Beberapa pendaki yang ikut dalam timnya berasal dari berbagai kalangan di berbagai negara yang terobsesi untuk menjejakkan kaki di titik tertinggi di dunia itu. Bahkan, mereka tak segan-segan merogoh kantong dan mengeluarkan uang sebesar USD 65.000 (setara dengan Rp 910 juta saat ini) demi memenuhi obsesi mereka. Ada pendaki profesional yang ikut serta, seperti, Yasuko Namba (Naoko Mori), tapi ada juga yang bukan, seperti, Doug Hansen (John Hawkes), Beck Weathers (Josh Brolin), dan Jon Krakauer (Michael Kelly) sebagai freelancer writer.
Ambisi mereka untuk bisa mencapai puncak The Most Dangerous Place in the World itu sangatlah besar meski beberapa terkendala masalah kesehatan atau dimakan usia. Ini terlihat salah satunya pada Doug Hansen. Ketika para pendaki sudah mencapai puncak dan akan turun, Dough masih tertinggal di belakang.
Sesuai jadwal, para pendaki harus segera turun karena diperkirakan akan terjadi badai. Namun, Dough bersikeras. Dengan berat hati, Rob kembali mengantarkan Dough demi memenuhi keinginannya mencapai puncak.
Benar saja, badai menerjang para pendaki tersebut. Bahkan, Dough yang mengalami hiportemia akhirnya tewas. Demikian juga dengan Rob, Yasuko Namba, John Taske, dan Stuart Hutchison.
Beberapa sisi human touch ditonjolkan. Salah satu adegan yang sangat menyentuh adalah ketika Rob Hall berbicara dengan istrinya di telepon di detik-detik akhir sebelum meninggal. Melihat adegan itu, tak terasa air mata saya menetes. Sangat menyedihkan, apalagi, sang istri saat itu tengah hamil. Saya kembali membayangkan ketika suami di Elbrus, saya pun sedang hamil.
Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Ditambah lagi, adegan saat Dr.Seaborn Beck Weathers berjuang untuk bangkit dari ketidaksadaran karena ’’melihat’’ anak dan istrinya memanggil-manggil.
Ya, Everest memang sangat menarik bagi siapapun yang pernah dan masih berkutat di dunia pendakian gunung. Namun, banyak faktor yang berperan untuk menggapainya, faktor alam, fisik, skill, dan tentunya keberuntungan.

Setelah nonton Everest

’’Bu, aku boleh ajak anak-anak naik gunung?” tanya suami.
’’Nggaaaakkkkk…” teriakku.

Tulisan ini diikutkan dalam:
Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?

Cinta Keluarga Bermula di CitraRaya Tangerang

Bagi sebagian orang yang berduit, beli sebuah hunian tak perlu mempertimbangkan banyak hal. Tapi, bagi saya yang punya gaji pas pas-an, mengeluarkan uang buat sebuah rumah harus berpikir ribuan kali. Hal utama yang jadi pertimbangan bagi saya sebelum membeli hunian yaitu harga. Memang, kita bisa utang ke bank dengan KPR/KPA, tapi harus disesuaikan dengan pendapatan juga, kan.
Faktor lainnya? Lokasi. Betapa banyak waktu yang terbuang, semangat yang tergerus, dan tenaga yang terkuras saat kita harus berlama-lama di perjalanan dari rumah ke lokasi beraktivitas. Selain itu, waktu bersama keluarga pun akan berkurang. Padahal, Cinta bermula dari rumah (Bunda Teresa).
Pertimbangan berikutnya, adalah fasilitas yang dibangun di dalam kawasan hunian. Maklum, BBM mahal. Kalau di kompleks perumahan sudah tersedia pasar, supermarket, sekolah, tempat hiburan buat keluarga, tak perlu ke luar kompleks. Hemat ongkos bensin.
Selain itu, track record pengembangnya harus dicek secara detail. Pengembang memegang peran utama dalam mengelola hunian yang bakal kita tempati. Dengan track record baik, akan tercipta kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya.
Salah satu pengembang yang sangat saya kagumi adalah Ciputra Group. Bersama Dr Ir Ciputra sebagai presiden komisaris Ciputra Group, semua proyek hunian yang dibangun menuai kesuksesan. Ada wisdom, integrity, dan innovation yang merupakan rahasia di balik majunya properti di bawah bendera Ciputra Group.
ciputra-01
Hunian yang ditawarkan oleh Ciputra Group senantiasa memperhatikan lokasi yang strategis serta lingkungan yang nyaman untuk penghuni. Kita lihat salah satunya di Tangerang dengan CitraRaya sebagai masterpiece-nya. Satu-satunya perumahan di Tangerang yang berkonsep kota mandiri ini memiliki luas pengembangan sebesar 2.760 ha. Karena pertumbuhannya yang pesat membuat CitraRaya sebagai satu regional and business center kuat di Cikupa, Tangerang. Ditambah lagi dengan multiakses terutama ke tol Jakarta-Tangerang.
Dalam pembangunannya yang luar biasa itu, Ciputra Group tetap memperhatikan aspek green living. Namun, embel-embel properti hijau itu tak sekadar klaim. Mereka benar-benar ingin mewujudkannya di perumahan CitraRaya Tangerang.

Kota Mandiri

Kota Mandiri

Pengembangan tersebut meliputi aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Ketiganya itu yang menjadi inti pengembangan di CitraRaya Tangerang dan kemudian dikemas secara utuh dalam konsep eco culture.
Eco culture ini menjadi basis utama bagi pengembang untuk mengajak warganya mengubah gaya hidup sehari-hari, didukung oleh ketersediaan berbagai fasilitas.

Membangun Jalur Sepeda
Kualitas udara di perkotaan, seperti Tangerang, sangat dipengaruhi oleh emisi gas pencemar dari kendaraan bermotor. Salah satu solusinya adalah dengan bersepeda. Sebagai bentuk dukungan bagi para cyclist, dibangun jalur sepeda.

Bersepeda dengan aman

Bersepeda dengan aman

Pengelolaan Sampah yang Tepat
Jika tidak pintar mengelolanya, sampah bisa jadi beban bagi sebuah hunian. Dampaknya, penghuni merasa tak nyaman, demikian juga masyarakat sekitar bisa terdampak. Namun, CitraRaya Tangerang mengelola sampah dengan tepat. Mereka melakukan pemilahan sampai organik dan anorganik hingga pengolahan sampah kembali dengan dijadikan kompos dan biogas.
Citra Raya memiliki fasilitas instalasi daur ulang untuk mengelola sampah. Kompos untuk pemupukan jalur hijau dan sebagian dijual. Sementara biogas menjadi keperluan sumber energi mesin kompos.
Sesuai dengan semangat untuk menularkan gaya hidup yang ramah lingkungan, pengembang juga mengedukasi siswa dari sekolah sekitar kawasan hunian untuk melakukan daur ulang. Hal itu bisa membiasakan siswa memiliki wawasan ramah lingkungan sejak dini.

Ajarkan Wawasan Lingkungan Sejak Dini

Ajarkan Wawasan Lingkungan Sejak Dini

Implementasi pada Desain Rumah
Dari sisi desain rumah, dilihat berdasarkan analisis ekologis untuk mengoptimalkan rumah ramah lingkungan. Wujudnya antara lain, mendesain rumah sesuai dengan orientasinya, serta menentukan ukuran jendela yang tepat agar dapat mengoptimalkan ventilasi udara dan menghemat energi.
Pendekatan desain selalu memberi ventilasi alam di seluruh ruangan. Orientasi rumah diperhatikan agartidak boros AC, tidak ada exposure berlebihan dari matahari. CitraRaya menyesuaikan desain hunian berdasarkan kebutuhan, bukan dengan satu desain saja. Tak hanya itu, material yang digunakan untuk membangun hunian dibuat ramah lingkungan.

Lagoon Ville, salah satu tipe rumah di CitraRaya

Lagoon Ville, salah satu tipe rumah di CitraRaya

Didukung Teknologi untuk Hemat Energi
CitraRaya juga sangat concern dalam menata lingkungan. Misalnya, lampu jalan menggunakan lampu LED yang lebih hemat energi. Untuk mendukung pengelolaan lingkungan, digunakan teknologi khusus. Misalnya, untuk penghematan air, memakai sanitary ware tipe eco-friendly serta bio treated septic tank supaya air yang keluar dari septic tank tidak mencemari lingkungan.
Untuk konservasi air, CitraRaya memiliki water treatment plant. Jadi, kawasan ini memiliki persediaan air mandiri, tidak mengandalkan PAM. Air dimanfaatkan dari lingkungan yang didukung oleh lima danau buatan besar sebagai sumber air, sekaligus pengendalian banjir.

Lampu LED lebih hemat

Lampu LED lebih hemat

Fasilitas Lengkap
Konsep properti hijau pun bisa dirasakan secara menyeluruh pada proyek-proyek fasilitas yang dibangun oleh CitraRaya. Mulai rumah sakit sampai theme park ada.

Ciputra Hospital adalah rumah sakit umum swasta pertama dari Grup Ciputra. Rumah sakit dengan konsep modern, bersih dan hijau ini hadir untuk semua kebutuhan kesehatan.

Didukung dengan tenaga profesional dan teknologi terbaru

Didukung dengan tenaga profesional dan teknologi terbaru

World of Wonders merupakan Theme Park pertama di Tangerang yang didirikan pada 2012, penggabungan antara aktivitas edukasi dan rekreasi ini pastinya merupakan tempat bermain dan belajar yang sempurna bagi anak dan keluarga Anda.

Theme Park

Theme Park

Water World CitraRaya menjadi tujuan wisata air yang sempurna untuk dikunjungi oleh Anda dan keluarga. Dengan banyak wahana air seru yang menyenangkan.
Water-Worldv2

Armada bus Trans CitraRaya hadir untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan transportasi bagi penghuni dengan banyak rute, mulai Jakarta, Tangerang, Bandung, dan masih banyak lagi.

Transportasi Mudah dan Hemat

Transportasi Mudah dan Hemat

Kini, di CitraRaya Tangerang telah berdiri lebih dari 42 cluster perumahan dan 1.800 unit komersial, dengan jumlah penduduk yang melebihi 60.000 kepala keluarga. Bagaimana dengan Anda? Jadilah bagian dari CitraRaya Tangerang sekarang juga.

Foto-foto: CitraRaya

Badge Writing Competition CitraRaya

Meski Non Muslim, Lebih Nyaman Ikut Tabungan Syariah

Saya baru mengenal produk tabungan syariah sekitar satu tahun lalu. Waktu itu, saya mencari tabungan yang tidak ada biaya administrasinya. Jujur saja, saya suka kesel kalau ngelihat di buku tabungan bank konvensional, setiap bulan biaya administrasinya bisa sampai 15 ribu rupiah. Lha coba kalau dikali satu tahun.
Sampai suatu ketika saya buka tabungan untuk di sulung, sekalian deh saya konsultasi dengan customer service di bank yang bersangkutan itu. Saya disarankan untuk membuka tabungan syariah. Kenapa? Karena tidak ada biaya administrasi. Nah, tabungan inilah yang saya cari. *simpel banget ya*

Pada prinsipnya, saya memang cuma mau menyisihkan uang untuk tabungan. Tanpa bunga pun nggak masalah. Toh, duit itu nantinya hanya untuk memenuhi kebutuhan yang mendadak atau mendesak.

Eh, tapi kan saya non Muslim. Apa bisa saya buka Tabungan Syariah?
Selama ini, saya pikir, menabung di Bank Syariah hanya untuk umat Muslim. Ternyata dugaan saya keliru. Ya, tabungan syariah terbuka untuk semua kalangan.
Akhirnya, saya buka tabungan syariah di CIMB Niaga. Prosedurnya mudah. Selain itu, fitur-fiturnya sama kok dengan tabungan konvensional lain, seperti, pemakaian ATM, transfer antar bank maupun lain bank, bahkan. Setelah hampir setengah tahun menabung di bank syariah, saya mulai merasakan manfaatnya. Saya merasa lebih aman menabung tanpa dikenakan biaya administrasi.

Ini nih tabungan syariahku

Ini nih tabungan syariahku

Karena jumlahnya sudah lebih dari 10 juta, saya ditawarkan untuk membuka deposito berjangka. Tentunya juga berprinsip syariah.

Melalui Deposito Syariah yang saya ikuti di CIMB Clicks, berdasarkan prinsip Mudharabah Muthlaqah. Jadi, kita mempercayakan CIMB Niaga Syariah (mudharib) untuk mengelola dana tersebut. Keuntungan untuk nasabah? Kita bisa menikmati nisbah atau bagi hasil dengan jumlah yang menarik. Minimal pembukaan mulai Rp 8 juta. Lumayan ringan kan.
Kita juga bisa memilih jangka waktu yang fleksibel, 1, 3, 6, dan 12 bulan.

Puji Tuhan, setelah menabung lebih dari satu tahun di tabungan syariah, saldo terus meningkat. Nah, saya aja yang non Muslim, lebih nyaman ikut Tabungan Syariah. Bagaimana dengan kamu?

Horeee...saldonya hmmm...

Horeee…saldonya hmmm…

Saya juga makin paham mengenai keuangan syariah setelah November 2014 lalu, meliput acara Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF). (dimuat di Jawa Pos 7 November 2014)

Tambah Ilmu

Tambah Ilmu

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo yang hadir di acara tersebut sangat mengapresiasi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. ”Pertumbuhannya sangat bagus meskipun memang hingga kini share di dalam negeri baru 5 persen. Itu adalah tantangan bagi kami semua bagaimana caranya agar bisa meningkat,” katanya.
Agus menambahkan, kerja sama dengan lembaga pendidikan, seperti, pesantren diharapkan dapat meningkatkan pengembangan ekonomi syariah. Namun, selama ini belum banyak yang berfokus pada pembentukan institusi yang mandiri secara ekonomi untuk mampu mengembangkan keuangan syariah. ’’Karena itu, kami akan mulai memberikan edukasi tentang pengembangan ekonomi syariah,’’ tuturnya.

Masih dalam rangkaian ISEF, diadakan juga seminar nasional bertema Indonesia: Kiblat Baru Keuangan Syariah Dunia. Salah seorang narasumbernya yaitu pakar ekonomi syariah Dr M Syafii Antonio MEc mengungkapkan bahwa krisis ekonomi dunia yang terjadi beberapa kali selama abad 21, memperlihatkan pada seluruh umat manusia bahwa ada kekeliruan pada sistem ekonomi konvensional. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan prinsip syariah.

Beliau juga menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi syariah di Indonesia cukup pesat. Untuk lebih meningkatkan lagi, perkembangan industri keuangan syariah harus dibarengi dengan adanya sosialisasi yang berkesinambungan. ’’Bagaimana dari pemerintah dan lembaga keuangan bisa melakukan promosi yang efektif dan tidak terlalu mahal untuk menyampaikan edukasi pada masyarakat mengenai ekonomi syariah ini,” kata Ketua STEI Tazkia ini.

Dengan segala keunggulan dari perekonomian syariah, mari kita ikut mendukungnya.

<a href=”http://

iB Blogger Competition

“>Aku

Ada Cinta dalam Sekotak Cokelat Jamu

Rasa pahit jadi salah satu alasan banyak orang, terutama anak-anak dan orang muda kurang suka minum jamu. Sayang ya. Padahal, jamu punya banyak khasiat. Ada yang bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh sampai membantu menyembuhkan penyakit. Info lengkapnya bisa diintip di mari.

Belum lagi stigma jamu yang nggak gaul, bikin banyak remaja mundur teratur kalau disuruh minum jamu. Kurang nge-hits (katanya) kalau dibandingkan dengan makanan dan minuman kemasan.

Melihat jamu yang kurang akrab di kalangan anak muda, Fajria Darell Sofiana tak tinggal diam. Dia mulai mencari cara supaya jamu bisa akrab di lidah masyarakat, terutama kaum muda. ”Jamu adalah warisan budaya bangsa. Kalau bukan kita-kita anak muda yang meneruskan, siapa lagi?” kata perempuan berusia 20 tahun ini.

Karena kesukaannya minum jamu dan memasak kue, dia mencoba memadukan bahan-bahan jamu dengan cokelat. Loh, kenapa memilih cokelat?

Menurut cewek Semarang ini, cokelat adalah salah satu makanan favorit mulai anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan, banyak yang addict sama makanan berbahan cokelat. Setelah melalui sekitar dua kali proses utak atik resep, akhirnya, terciptalah ChocoHerbs, cokelat citarasa jamu tradisional.

Di luar ekspektasinya, ChocoHerbs mampu merebut hati teman-temannya. Banyak teman yang memesan. Harganya lumayan terjangkau sih. Sekotaknya cuma Rp 15 ribu. Itu sudah berisi 16 cokelat. Ditambah dengan kemasannya yang cantik, membuat cokelat jamu buatan Fajria ini cocok juga untuk oleh-oleh atau kado buat someone special.

Kemasan Unik

Kemasan Unik

Berkat inovasinya ini, Fajria pernah menang dalam kompetisi bussiness plan mengenai diversifikasi pangan berbahan baku lokal. Sejak menang lomba, Fajria mulai serius menekuni bisnis cokelat jamu itu. Dari pemilihan bahan baku, pembuatan, sampai pemasarannya, dilakukan sendiri. Karena masih kuliah, untuk sementara ini penjualan hanya made by order dan saat ada event seperti Festival Jamu Internasional, pameran, dan bazar.

Oia, varian dari produk ChocoHerbs ada beberapa rasa kunyit, kencur, jahe, dan temulawak. Supaya konsumen paham khasiat dari jamu yang terdapat dalam cokelat itu, di kemasan, Fajria juga menuliskan manfaatnya apa saja bagi tubuh. ”Biar jamu tetap eksis dan lebih banyak peminatnya,” kata perempuan berjilbab ini.

Rasa Jamu Tradisional

Rasa Jamu Tradisional

Jamu-Jamu Favorit

Kalau saya paling demen sama ChocoHerbs rasa temulawak. Bisa jadi karena rasa temulawak yang sudah akrab di lidah saya. Ya, saya sekeluarga memang rutin mengonsumsi ramuan temulawak. Bikin sendiri, lho. Caranya, temulawak diiris tipis, direbus, dan dicampur dengan gula aren. Segaaar…

Manfaatnya terasa. Nafsu makan anak-anak saya terdongkrak semenjak rutin minum sari temulawak itu. Daya tahan tubuh pun lebih bagus. Bagi saya yang baru melahirkan, sari temulawak ini membantu mengembalikan kekejangan otot setelah persalinan. Orang tua saya juga merasakan khasiat sari temulawak ini untuk mengatasi gangguan ginjal dan hati serta mengobati maag.

Selain temulawak, saya suka yang rasa kunyit. Ya, saya sudah lama ”bersahabat” dengan kunyit, terutama saat haid. Setelah punya anak, kunyit pernah jadi ”penyelamat” saat anak saya demam. Kunyit diparut kemudian diperas untuk diambil airnya. Supaya rasanya lebih enak, perasan kunyit itu saya tambah sedikit madu. Sekarang, sebagai ibu menyusui, untuk memperlancar ASI, saya rajin minum air perasan kunyit. Hasilnya, tokcer. ASI saya lancar dan bisa kasih ASI full untuk si dedek.

ChocoHerbs adalah salah satu wujud cinta pada warisan negeri sendiri. Ayo, dukung jamu Indonesia supaya makin maju dan berkembang.

Sumber:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

Foto-foto: ChocoHerbs

Interview Fajria Darell Sofiana