Permintaan Sederhana si Sulung

Sekitar dua minggu lalu terjadi percakapan antara saya dan si abang

’’Abang, sebentar lagi ulang tahun loh. Pengen dirayain?” tanya saya pada Edo.
’’Nggak. Nggak usah dirayain. NGGAK MAU,” tolaknya tegas.
’’Nggak mau dirayain di panti asuhan kayak dulu tuh?” ujar saya.
’’NGGAK,” tegasnya lagi.
’’Loh, itu kan namanya berbagi kebahagiaan, bang,” cerocos saya.
’’Ya kan kita bisa kunjungan ke sana sambil kasih sumbangan, bu. Nggak usah pake acara rame-rame, gitu,” katanya.
’’Kalau gitu, mau dirayakan di sekolah?” kejarku lagi.
’’NGGAK. Nggak usah lah bu. Abang tuh malu kalau ulang tahun pake acara-acara gitu. Abang tuh lebih suka dirayakan bareng keluarga aja. Bapak pulang pas abang ulang tahun aja, abang udah seneng, kok,” jelasnya panjang lebar.
Owh…(saya langsung mingkem dan me-retweet ucapan abang ke bapaknya yang dinas di luar kota).
Dan, si bapak langsung terbang dari Jakarta ke Surabaya. Demi memenuhi permintaan si sulung yang sangat sederhana itu.

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang...

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang…

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo

Iklan

Sujud Syukur, Suami Tak Seperti Rob Hall

’’Bu, aku dapat tugas liputan ekspedisi ke Kilimanjaro dan Elbrus. Berangkat bulan depan dengan waktu pendakian sekitar satu bulan,” cetus suami sepulang kerja.
’’Hah? Gimana?” tanyaku nggak percaya. Suamiku mengulang ucapannnya lagi.
Ya Tuhan… naik gunung lagi. Aku mbatin. Itu hal yang paling membuatku khawatir pada suami. Apalagi, ini pendakian di gunung es.
’’Nggak ada orang lain?” tanyaku.
’’Bukannya nggak ada, tapi kantor menugaskan aku yang liputan,” ujar suami.
Saya tahu, suami memang hobi mendaki gunung. Tapi, sejak menikah, dia sudah nggak pernah lagi naik gunung karena memang aku nggak ngebolehin. Saat itu, saya nggak bisa mencegahnya karena sudah urusan pekerjaan.
Saya juga tahu, suami masih terobsesi dengan 7 summits (mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia). Ya, paling nggak, bisa mendaki beberapa puncak di antaranya. Dan ini kesempatannya.
Hari yang dinantikan tiba. Tim ekspedisi berangkat dengan tujuan pertama ke Kilimanjaro (5.892 mdpl) di Tanzania. Persiapan pendakian menuju puncak Kilimanjaro memakan waktu sekitar lima hari, mulai aklimatasisasi sampai pendakian yang sebenarnya. Kemudian, untuk turunnya, sekitar dua hari.
Saya terus memantau kondisi tim itu melalui internet. Untuk komunikasi kami jarang menggunakan telepon. Selain mahal, juga sulit. Paling, ketika sampai basecamp, dia menelepon sebentar untuk mengabarkan kondisinya.
’’Halo ibu, kami sudah turun dari Kilimanjaro. Puji Tuhan berhasil. Gimana kabar abang dan dedek di perut?
’’Baik. Kemarin USG ternyata cewek,” ujarku. Terdengar ucapan syukur terlontar dari suami.
’’Pendakian ini aku persembahkan buat abang dan dedek di perut, bu,” kata suami.
’’Ya pak. Semoga lancar,” ucapku menahan haru.
Setelah itu, suami dan tim ekspedisi bertolak menuju ke Rusia untuk persiapan pendakian ke Elbrus (5.642 mdpl). Elbrus barat diusahakan dicapai tepat saat peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010, untuk pengibaran Sang Merah Putih.
Saat persiapan pendakian, mereka melalui aklimatisasi yang berlangsung tanpa masalah. Sayang, rencana mencapai puncak pada 17 Agustus 2010 gagal karena terkena badai salju. Beritanya ada di sini.

Membaca berita online itu, saya coba kontak dengan suami tapi tak bisa. Lewat email juga tak terjawab. Ya sudah, saya cuma bisa pasrah dan berdoa tak henti-henti.
Kemudian, dapat kabar bahwa tim utama ekspedisi berhasil mencapai puncak. Lalu, gimana dengan tim media peliput? Rasanya sudah seperti di awang-awang menunggu kabar itu.

Ya Tuhan. Suamiku cedera. Saya pun mencari tahu dengan kontak ke kantor suami. Menurut berita yang disampaikan oleh ketua tim ekspedisi, suamiku terserang hipotermia (penyakit dingin). Rasa cemas terus menghantui. Apalagi tidak ada yang bisa dihubungi.
Akhirnya, sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Dari suami. Dia bilang kalau gagal mencapai puncak Elbrus karena terserang hipotermia dan bla bla… saya nggak meneruskan membaca SMS itu tapi langsung sujud syukur karena suami masih selamat.

Gegara peristiwa itu, begitu film Everest muncul di bioskop, saya langsung nonton. Film besutan Baltasar Kormakur itu mengingatkan saya pada peristiwa yang menimpa suami sekitar lima tahun yang lalu.
Film itu mengangkat kisah nyata tentang tewasnya para pendaki gunung pada 1996. Pendakian itu menelan korban yang cukup banyak karena adanya bencana terhebat dalam sejarah Everest tahun 1996.
Sepanjang film, penonton disuguhi panorama pegunungan Everest yang diselimuti salju. Bahkan setelah para pendaki mencapai sisi dan puncak gunung, saya seakan terbawa oleh suasana filmnya dan ikut merasakan dinginnya badai gunung Everest kala itu. Selama nonton, pikiran saya pun menerawang ke pendakian yang dilakukan oleh suami saya dan timnya dengan medan serupa di Elbrus.
Perjalanan ekspedisi Everest yang dipimpin oleh Rob Hall (Jason Clarke) selaku pemilik Adventure Consultants Guided Expedition betul-betul menegangkan. Bersama dengan rekan satu timnya, Mike Groom (Thomas M. Wright) dan Andy Harris (Martin Henderson) yang membawa klien mereka, Beck Weathers (Josh Brolin), Lou Kasischke (Mark Derwin), Frank Fischbeck (Todd Boyce), Jon Krakauer (Michael Kelly), Yasuko Namba (Naoko Mori), John Taske (Tim Dantay), dan Stuart Hutchison (Demetri Goritsas) mendaki gunung Everest pada 1996.

Menegangkan

Menegangkan


Beberapa pendaki yang ikut dalam timnya berasal dari berbagai kalangan di berbagai negara yang terobsesi untuk menjejakkan kaki di titik tertinggi di dunia itu. Bahkan, mereka tak segan-segan merogoh kantong dan mengeluarkan uang sebesar USD 65.000 (setara dengan Rp 910 juta saat ini) demi memenuhi obsesi mereka. Ada pendaki profesional yang ikut serta, seperti, Yasuko Namba (Naoko Mori), tapi ada juga yang bukan, seperti, Doug Hansen (John Hawkes), Beck Weathers (Josh Brolin), dan Jon Krakauer (Michael Kelly) sebagai freelancer writer.
Ambisi mereka untuk bisa mencapai puncak The Most Dangerous Place in the World itu sangatlah besar meski beberapa terkendala masalah kesehatan atau dimakan usia. Ini terlihat salah satunya pada Doug Hansen. Ketika para pendaki sudah mencapai puncak dan akan turun, Dough masih tertinggal di belakang.
Sesuai jadwal, para pendaki harus segera turun karena diperkirakan akan terjadi badai. Namun, Dough bersikeras. Dengan berat hati, Rob kembali mengantarkan Dough demi memenuhi keinginannya mencapai puncak.
Benar saja, badai menerjang para pendaki tersebut. Bahkan, Dough yang mengalami hiportemia akhirnya tewas. Demikian juga dengan Rob, Yasuko Namba, John Taske, dan Stuart Hutchison.
Beberapa sisi human touch ditonjolkan. Salah satu adegan yang sangat menyentuh adalah ketika Rob Hall berbicara dengan istrinya di telepon di detik-detik akhir sebelum meninggal. Melihat adegan itu, tak terasa air mata saya menetes. Sangat menyedihkan, apalagi, sang istri saat itu tengah hamil. Saya kembali membayangkan ketika suami di Elbrus, saya pun sedang hamil.
Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Ditambah lagi, adegan saat Dr.Seaborn Beck Weathers berjuang untuk bangkit dari ketidaksadaran karena ’’melihat’’ anak dan istrinya memanggil-manggil.
Ya, Everest memang sangat menarik bagi siapapun yang pernah dan masih berkutat di dunia pendakian gunung. Namun, banyak faktor yang berperan untuk menggapainya, faktor alam, fisik, skill, dan tentunya keberuntungan.

Setelah nonton Everest

’’Bu, aku boleh ajak anak-anak naik gunung?” tanya suami.
’’Nggaaaakkkkk…” teriakku.

Tulisan ini diikutkan dalam:
Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?

Cara Ampuh Selamatkan LDR

’’Abang mau ikut bapak…” tangis Edo, anak sulungku saat melepas bapaknya kembali kerja ke Jakarta. ’’Bapak nggak boleh kerja…’’ giliran sang adik yang tersedu. Waduh. Si bapak harus buru-buru check in pesawat, tapi Edo dan Mita terus nggelendotin bapaknya.
Dengan berat hati, setelah memeluk anak-anak, si bapak bergegas menuju pintu masuk bandara, diiringi derai air mata Edo-Mita.
’’Abang…adek…” aku pun memeluk mereka dan tak kuasa menahan haru melihat drama yang kerap terjadi saat Senin pagi di akhir bulan. Itu waktunya si bapak berangkat kerja ke Jakarta setelah ambil jatah libur tiga hari. Sedangkan saya dan anak-anak menetap di Surabaya.
Karena pekerjaan, saya dan suami hampir 9 tahun ini menjalani hubungan jarak jauh. Ketemunya sebulan sekali. Gara-gara itu, anak-anak nggak dekat sama bapaknya. Bahkan, meski jarang ketemu, mereka jarang kangen tuh. Jadinya, pak suami pun sedih.
Makanya, suami berkomitmen mengajak pergi bareng anak-anak setiap pulang ke Surabaya. Ternyata, piknik itu memang sangat ampuh untuk mendekatkan suami dengan anak-anak. Malah, mereka sering tanya kalau sehari nggak ’’ketemu’’ si bapak meski lewat telepon atau video call. ’’Bapak kapan pulangnya?’’Tapi yang repot, ketika ditinggal bapaknya, langsung deh mewek bareng.
Untuk destinasi wisata yang kami kunjungi, biasanya diprioritaskan ke tempat yang ramah anak, fun, bisa learning something, dan yang paling penting bisa jadi ajang pedekate si bapak dengan anak-anak.

Tambah Kompak
Meskipun cuma sebulan sekali ketemu, tapi, kami pengen tetep kompak dong. Yah, keluarga kan ibaratnya adalah satu tim. Salah satu aktivitas yang menurut kami manjur untuk menjaga kekompakan adalah rafting. Saat rafting, kami dituntut untuk solid menjaga agar jangan sampai perahu jatuh diombang ambing arus liar sungai Pekalen yang terkenal deresnya. Di sini, kami belajar untuk kompak. Nggak cuma itu, waktu rafting, kita spontan bebas teriak-teriak. Rasanya, semua beban di hati lenyap seketika.

Kudu kompak

Kudu kompak

Ayo, kamu bisa

Ayo, kamu bisa

Masih pengen seru-seruan lagi, kami mengajak Edo-Mita outing ke Tretes Treetop. Di sana, kami harus bisa melewati berbagai tantangan yang berbeda dari pohon ke pohon, kemudian meluncur dengan flying fox. Hauwoooo…
Edo-Mita agak ketakutan sewaktu mulai menapaki tali yang menyerupai tangga. Saya dan suami pun melontarkan berbagai rayuan untuk meyakinkan Edo-Mita bahwa mereka baik-baik saja karena menggunakan tali pengamanan dan ada kami yang menjaganya. Ternyata sulit ya mendapatkan kepercayaan dari anak sendiri. Tapi, untunglah, berhasil. Kami sukses melintasi rintangan demi rintangan.

Belajar Sabar dan Berproses

Tepi Kawah Ijen

Tepi Kawah Ijen

Dalam piknik, kami juga diajarkan untuk bersabar. Misalnya, saat naik gunung Ijen. Saya dan suami tidak memaksa Edo supaya sampai puncak. Tapi ternyata, dia sangat semangat. Kami mendaki setapak demi setapak dengan rasa senang dan tanpa mengeluh, sambil sesekali istirahat. Hingga akhirnya, bisa mencapai puncak dan mendapatkan pemandangan yang luar biasa. Dari situ, kami bilang pada Edo bahwa untuk menggapai cita cita, ya harus sabar dengan semua prosesnya, seperti orang naik gunung.

Disiplin dan Tertib pada Jadwal

Saat bepergian, pastinya kita bikin jadwal perjalanan, dong. Nah, kami ingin agar anak-anak tertib mengikuti rencana perjalanan itu. Ketika mengajak Edo dan Mita nonton Jazz Gunung di Bromo, kami juga menjadwalkan pukul 3 dini hari naik ke Penanjakan agar bisa tiba di puncak sebelum matahari terbit. Kami memberikan pengertian pada Edo-Mita, jika terlambat, ya akibatnya, bakal melewatkan pemandangan sunrise yang indah. Beruntung, jadwal yang kami bikin berjalan dengan lancar.

Udah ngantuk

Udah ngantuk

Ungkapan Syukur

Sebagian rombongan

Sebagian rombongan


Oia, di akhir tahun, biasanya, kami merencanakan untuk piknik yang lebih spesial. Kami pergi bareng saudara-saudara dan orang tua. Tujuannya, selain refreshing, juga sebagai ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan setelah satu tahun kami diberi kesehatan, rejeki, dan kebahagiaan dalam keluarga. Poin ini yang menurut kami sangat penting. Anugerah-Nya yang sangat melimpah selama ini, masa nggak kita nikmati dengan memuja keindahan alamnya? Akhir tahun lalu, Bali kami pilih sebagai destinasinya.

Mendadak Kangen Bogor

Eh, ngomongin liburan, kok tiba-tiba kangen Bogor. Ya, saya dan anak-anak kerap liburan di Bogor. Lha wong, kakek-neneknya tinggal di Bogor. Biasanya, saya dan anak-anak nyamperin si bapak di Jakarta sekaligus ke Bogor. Beberapa tempat wisata di Bogor sudah kami pernah kunjungi, seperti, Kebun Raya Bogor, Taman Buah Mekarsari, Jungle Land, Jungle Fest. Plus, wisata kulinernya, toge goreng, laksa, sop duren, lapis bogor, pie apel, dll…Tuh kan… mendadak kangen suami Bogor….
Untuk destinasi berikutnya di Bogor, suami sudah siap-siap ajak anak-anak ke Taman Nasional Halimun-Salak (TNHS), di lereng Gunung Salak. Di kawasan yang biasa disebut Salak Endah itu terdapat sejumlah air terjun. Bahkan, beberapa air terjun dapat dijangkau dengan jalan kaki dari area parkir, seperti, Curug Ngumpet 1, Curug Ngumpet 2, dan Curug Cihurang. Jadi, sangat cocok membawa anak-anak. Apalagi, pemandangan di sana sungguh indah.
Satu lagi, kalau liburan di Bogor, saya request sama suami, nginepnya sekali-kali jangan di rumah mertua dong, tapi ke hotel aja. Hehe…

Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog Piknik Itu Penting
banner-lomba-blog-piknik