Sudah dua pekan lebih sekolah diliburkan. Saya pun lebih sering bekerja di rumah. Wah, bisa liburan dong? Eits, bukan…libur kali ini kami tidak bisa ke mana-mana. Tetap di rumah.

Ya, di tengah pandemi Covid-19, kami diharuskan di rumah. Hal itu sesuai dengan anjuran dari pemerintah untuk mencegah penyebaran virus korona lebih luas lagi.

Alhasil, banyak aktivitas kami lakukan secara online. Misalnya proses belajar Edo-Mita. Mereka mendapatkan tugas dari guru-guru melalui Whatsapp dan dikerjakan menggunakan aplikasi tertentu. Selain itu, para guru memberikan penjelasan melalui video.

Demikian juga untuk les piano dilakukan secara online. Untuk Edo-Mita masih memungkinkan. Tapi, jujur saja sangat sulit bagi Gita yang masih berusia 4 tahun. Masih butuh pendampingan secara offline. Hehe…

Akhirnya, les piano untuk Gita cuti dulu. Biar dia belajar piano bersama abang dan kakaknya sementara ini.

Saya agak berpikir, bagaimana dengan kondisi keluarga yang tidak memiliki akses internet serta gadget? Apakah mereka bisa belajar dengan kondisi seperti itu? Bukankah akses internet dan gadget masih terbilang mahal dijangkau oleh beberapa kalangan.

Saya pun demikian. Mengerjakan tugas kantor dari rumah. Hanya dua kali seminggu saya mesti ke kantor bergantian dengan teman lain.

Kondisi kantor sepi sekali. Sebagian besar teman-teman mengerjakan tugas kantor dari rumah.

Nggak cuma itu, beribadah di gereja digantikan dengan live streaming yang bisa kami ikuti dari rumah. Jadi, hari Minggu pun kami mengikuti misa dengan nonton siaran dari YouTube.

Sebelumnya tak terbayang hal itu. Seperti Minggu palma hari ini (5 April). Kami mengikuti misa Minggu Palma di rumah. Tidak ada perarakan sambil bawa daun palma, tidak ada percikan air suci, tidak ada bau dupa dari turibulum, tidak mencecap komuni, dan tidak ada nyanyian dengan musik megah yang mengalun. Padahal, sebentar lagi kami memasuki masa Tri Hari Suci. Biasanya kami merayakannya dengan meriah dan gegap gempita.

Kondisi pandemi ini benar-benar mendobrak semua tatanan. Kami pun disadarkan akan kehadiran Tuhan di rumah masing-masing keluarga. Bukankah itu sangatlah istimewa. Ya, saya baru menyadari bahwa gereja yang sesungguhnya itu adalah dalam keluarga yang hangat dan kepedulian kita pada orang lain.

 

Ini benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

Awalnya, saya menganggap kok orang-orang ini pada berlebihan menyikapi wabah penyakit itu. Bukankah penyakit lain seperti demam berdarah, pasiennya sangat banyak di Indonesia. Bahkan, ratusan orang meninggal karena DBD dalam waktu beberapa bulan saja.

Tapi, makin hari, jumlah pasien yang terpapar virus korona ternyata bertambah terus. Bahkan ada yang meninggal. Memang, mereka yang meninggal karena virus korona itu kebanyakan memiliki bawaan penyakit lain sehingga memperparah kondisi pasien Covid-19 tersebut. Cuma ya kita harus waspada juga.

Sejak adanya penyebaran virus itu, saya merasa banyak yang berubah dari lingkungan sekitar. Kami jadi makin aware dengan kebersihan dan satu lagi, sangat menjaga jarak dengan orang lain.

Kami makin aware dengan kesehatan ini nampak dari anjuran untuk rajin cuci tangan. Karena, tangan itu sumber kuman. Jadi, tiap kali habis pegang sesuatu atau dari luar, harus cuci tangan. Tak cuma itu, hand sanitizer juga kerap dipakai dan jadi barang langka dan barang mewah selama hampir satu bulan ini.

Belum lagi, semua orang menjadi ”dokter” dan ahli kesehatan bagi orang lain. Di media sosial santer beredar bahwa harus begini harus begitu supaya daya tahan tubuh kuat dan aman dari virus. Tak jarang juga yang kontradiktif antara satu sumber dengan lainnya. Saya sendiri sebenarnya geli sendiri membaca postingan kawan-kawan di WAG soal kesehatan itu.

Ada anjuran juga untuk mengenakan masker supaya aman dari droplet. Tapi ada juga yang menganjurkan untuk memakai masker jika sakit. Ada lagi anjuran untuk tidak berjabat tangan apalagi cipika cipiki dengan orang lain. Lalu, ada anjuran untuk berjemur di bawah matahari. Ada yang bilang bagus jam 10, ada juga yang menganjurkan jam 12 siang. Tapi, ada yang kontra dengan mengatakan lebih baik pagi sekitar pukul 7. Haha…jadi geli sendiri.

Di kasir toko, restoran, dan perbankan diberi pembatas antara orang satu dengan yang lainnya kalau mau antre. Oia, di lift juga ada pembatasnya diberi kotak-kotak. Ini ditujukan untuk memberikan jarak antar individu atau istilahnya social distancing.

Ya, intinya jangan deket-deket sama orang lain deh. Bahkan dianjurkan tidak bertemu dengan orang lain kalau tidak mendesak. Jadinya, kami bertukar kabar serta menyapa kawan dan saudara hanya melalui WA dan telepon.

Perubahan lainnya adalah banyak orang yang berduyun-duyun memborong empon-empon yang dinilai bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh. Benar saja, ketika persediaan kunyit, temulawak, dan kencur hampir habis, saya ke supermarket untuk membelinya. Ternyata habiisssss…Padahal, sebelumnya, selalu tersedia kalau saya cari di supermarket. Ya, saya dan keluarga memang sudah rutin membuat jamu-jamuan dari bahan temulawak, kencur, dan kunyit.

Apalagi ya perubahan dari lingkungan sekitar?

Oh iya, jalanan jadi sepi, nggak macet. Tapi kasihan orang-orang yang bekerja informal. Mereka juga ikutan sepi pendapatannya. Dari sana, saya memberikan sedikit pelajaran untuk anak-anak terutama si abang yang sudah beranjak ABG. Saya bilang ke dia agar kita selalu siap dalam kondisi apapun, terutama soal finansial. Jika kita memiliki uang, tak perlu kita foya-foya, beli ini itu. Sisihkan untuk ditabung karena kita tidak selamanya cukup. Seperti adanya wabah ini, siapa yang tahu kan?

Ada lagi yang saya ingat. Kini banyak orang yang cari muka. Lihat saja orang-orang yang akan melaju ke pilkada, berbondong-bondong menyemprotkan disinfektan secara gratis ke daerah-daerah tertentu. Mereka juga bagi-bagi masker, hand sanitizer, dan sembako di jalanan. Beberapa komunitas juga menebar pesona dengan acara baksos di jalanan. Sedih ya, kasus wabah begini dijadikan ajang untuk mendapatkan panggung. Tapi, ada sisi positifnya, yakni mereka masih punya jiwa sosial membantu masyarakat di sekitar. Daripada saya yang cuma curhat lewat blog. hehe…

Saya juga prihatin sama teman-teman yang mem-bully mereka yang masih berkeliaran di jalan. Ada yang bilang nggak tahu aturan lah, nggak tahu kesehatan lah, orang yang sakti lah. Astagaaa…padahal, kita juga nggak tahu kan mereka di jalan itu ngapain? Kalau cari duit gimana? Kalau dia lagi antar anak atau istrinya ke dokter gimana?

Ah, ya seperti ini sekarang kondisi di kota Surabaya. Saya tidak bisa berbuat banyak juga selain menjaga diri dan keluarga. Semoga kami sehat-sehat dan aktivitas berjalan normal seperti semula.