Gagal Jadi Juara

”Ibu, ayo beli mainan,” kata Edo setelah pengumuman lomba piano Harmony Music School.

”Loh, kan nggak menang, do,” sahutku penuh kekecewaan.

Yah, aku sangat kecewa ternyata Edo nggak berhasil memenangi lomba piano yang dia ikuti untuk kali kedua itu.

”Tapi kan Edo dapat piala,” tukas Edo sambil menenteng piala bertuliskan kategori silver.

Lha Edo, itu kan cuma pemenang hiburan. Bukan pemenang utama 1,2, dan 3.

Tapi, rupanya, menurut Edo bahwa dapat piala tuh sudah jadi pemenang. Di perlombaan piano kali pertama beberapa bulan lalu, Edo memang berhasil jadi pemenang ketiga. Semenjak itu, aku pun punya ekspektasi lebih padanya, bahwa di perlombaan kali ini Edo harus bisa lebih bagus lagi.

Aku membenamkan padanya bahwa harus juara, harus juara. Bahkan, aku iming-imingi hadiah, salah satunya sepeda kalau bisa menang.

Entah menjadi beban baginya, sebelum tampil, Edo sempat bilang kalau rasanya kok deg deg an. Aku aja kaget, kok tumben Edo di usia yang saat itu tujuh tahun lebih sebulan punya rasa deg deg an. Padahal, di lomba sebelumnya dan di beberapa konser, mau tampil ya tampil aja.

Dan pas pengumuman, rasanya, kaki ini lemas ketika tahu Edo nggak berhasil jadi juara utama. Setelah lomba kami pun jalan-jalan. Tapi, aku sangat nggak antusias. Masih terngiang-ngiang Edo bermain komposisi Blues Scales dengan grogi, sampai-sampai nggak memperhatikan keras lembutnya nada. Semua diterjangnya,

Aku sempat nanya, Edo suka cuma dapat kategori silver? Edo bilang, ya agak suka (Edo sering mengatakan nggak suka dengan kalimat agak suka). ”Tapi nggak apa-apa lah bu. Edo loh nggak apa-apa nggak juara utama,” katanya.

Iya tapi, ibu sangat kecewa, nak. batinku.

Melihatku yang seperti orang linglung, bapaknya edo agak sebel. ”Perjalanan Edo masih panjang. Edo sendiri juga kecewa. JAdi, jangan malah ditambah lagi kekecewaannya dengan kekecewaan kita,” ujar bapaknya Edo.

Ya, mungkin ini juga salahku, membebani dia dengan segudang harapan-harapan yang justru malah memberatkan langkahnya. Dia jadi nggak bisa lepas saat bermain karena menanggung berat beban ibuknya.

Bapaknya Edo bilang lagi, “Sekarang tugas kita untuk memotivasi dia untuk lebih giat berlatih lagi. Buat aku, selama ini Edo sudah bisa mainin lagu-lagu di luar buku pianonya, ngarang-ngarang lagu pake pianonya sendiri, itu sudah sangat hebat. Percaya deh, kemampuan musiknya nggak kalah kok dengan anak-anak yang lain dan masih bisa berkembang lebih maju lagi,” ujar bapaknya Edo panjang lebar.

Hiks, maapkeun ibuk ya Edo…kita belajar bareng ya, nak…atau malah ibuk yang minta diajarin Edo main piano di tingkat lanjut. hehe…

Nggak Kecewa Lagi

Nggak Kecewa Lagi