Menata Sepatu

Entah gender itu memengaruhi pada sifat, saya juga nggak tahu. Tapi, Mita termasuk anak yang tertata atau apa ya istilahnya? Orang Jawa sih bilangnya primpen. Beda dengan Edo yang grusa grusu. Katanya sih karena Mita cewek dan Edo cowok.
Mita selalu tahu letak barangnya. Bahkan, kalau disuruh membantu mencarikan barang, dia lebih cepat menemukan dibandingkan yang lain, termasuk ibuknya. Hehehe….
Kadang sampai malu sendiri dengan keprimpenan Mita. Saya buru-buru mengambil dompet yang tertinggal di dalam rumah. Sandal saya lepas gitu aja di depan pintu. Nggak sampai dua menit saya keluar rumah, lha kok sandal saya sudah hilang? Dalam kondisi jam udah mepet untuk jemput Edo, paniklah saya mencari sandal. Tiba-tiba,”Ibuuu, ini loh di rak.” Astaga Mitaaaa…ternyata dia meletakkan sandal ibuknya di rak sepatu yang memang tersedia di depan pintu rumah.
Itu memang kebiasaan Mita. Semua sandal atau sepatu yang tergeletak begitu saja di lantai teras, langsung diambilnya dan diletakkan di rak sepatu itu.
Bahkan, sandal opa yang memang sengaja dijemur di teras karena habis dicuci, tak luput dari perburuan Mita. Dalam kondisi basah-basah gitu, sandal punya opa diambilnya dan diletakkan di rak sepatu. Alhasil, opa pun kalang kabut nyari itu sandal. Hehehe….
Nggak cuma meletakkan sandal/sepatu di rak, dia pun mengaturnya jangan sampai saling bertumpuk. Rapi banget.

Semester 1

Desember lalu, Edo sudah terima rapot. Hasilnya? Bikin geli. Dari 40 siswa, Edo masuk urutan nomor 14. Haha…Duh, tepok jidat. Masa sih, SD cuma di urutan ke-14. Paling nggak, kalau SD kan masuk 5 besar lah.
Itu pikiranku sebagai ibunya. Lha Edo? Boro-boro tahu urutan peringkat. Rapotan aja dia masih nggak ngeh. Raport itu untuk apa, dia nggak peduli tuh.
Boro-boro raport, hasil ulangan aja dia cuek tuh. Entah dapat 80 atau 100, respons nya biasa aja. Haha…
Yah, biarpun di urutan ke 14,
Biarpun nggak ada ulangan, Edo belajar setiap hari sama oma. Dan serunya, Edo belajar tanpa paksaan loh.
Pernah nih, ketika besoknya tanggal merah, Edo nanya ke oma, Oma, Edo hari ini belajar apa? Hehe…
Tapi, kalau hari Sabtu tiba, jangan dipaksa Edo untuk belajar. Nggak bakal mau deh.

Ijen Bener-Bener Keren

pakai kupluk, long john (dalaman lengan panjang dan celana panjang), jaket tebal berbahan antiair

pakai kupluk, long john (dalaman lengan panjang dan celana panjang), jaket tebal berbahan antiair


Alam Jawa Timur emang nggak ada duanya. November 2013 lalu Edo dan Mita main-main ke Jember, lanjut ke Banyuwangi, dan ke Kawah Ijen. Dengan naik kereta Mutiara Selatan pagi dari Surabaya Edo, Mita, saya, suami, plus opa-oma menuju ke Jember.

Kami transit dulu di rumah sodara di Jember. Dengan mobil sewaan dari Jember, perjalanan berlanjut ke Banyuwangi. Tujuan kami adalah ke Pantai Pulau Merah. Tapi sayang banget, tiba di pantai itu sudah sore. Jadi, kami nggak bisa menikmati keindahannya lebih lama. Padahal, pantai Pulau Merah sangat terkenal dengan pasir putihnya yang lembut dan alamnya yang masih alami.
Setelah itu, Ijen jadi jujukan selanjutnya.

Setiba di Ijen sekitar pukul 21.00. Penginapan penuh. Untungnya, kami dapat satu rumah penduduk di PTPN XII yang menyediakan tempat menginap.Meski sederhana, tapi cukup nyaman untuk jadi tempat istirahat.

Sekitar pukul 03.00 dini hari, kami berangkat menuju ke pos Paltuding. Untuk Edo, sudah dilengkapi dengan kupluk, long john, kaus lengan panjang, jaket tebal, celana panjang waterproof, dan sandal gunung.

Kami berempat berangkat kecuali Adek Mita dan oma yang tinggal di penginapan. Adek Mita masih bobok, sih. Sedangkan oma udah nggak kuat untuk naik gunung.

Sekitar pukul 03.30 kami tiba di pos Paltuding. Langit masih gelap dengan bintang yang tampak berkelip. Udara dingin juga begitu menyengat kulit. Ternyata, suhu udara mencapai 10 derajat celsius.
Ditemani seorang porter, kami mulai mendaki. Sebagai penerang jalan, kami membawa lampu senter.
Jalan menunju ke kawah Ijen sekitar 3 km dengan kondisi jalan menanjak, berpasir, dan berbatu. Bukan hal yang mudah dilakukan untuk pendaki pemula seperti aku, Edo, dan opa (kalau suami sih sudah pernah mendaki sampai ke Elbrus dan Kilimanjaro. huehuehue…)
Menjalani satu kilometer pertama, napas udah ngos-ngosan. Haduh, kayaknya berrrhenti sampai sini aja deh. Pikiranku udah pesimistis bisa mencapai puncaknya. Beda dengan Edo yang begitu semangat mendaki. Bahkan, nggak mau digendong oleh porter yang juga berprofesi sebagai penambang belerang di Kawah Ijen.
Tapi, nanggung banget udah sampai di Ijen, masa sih nggak muncak? Akhirnya aku memaksa diri untuk teruuuus….

Di tengah perjalanan, ketemu dengan para penambang belerang yang mengangkut belerang hampir 100 kg. Mereka itu bisa bolak balik sampai dua atau tiga kali dalam sehari dan kalau jalan nggak pake lama. set set wet wet pokoknya.
Dari porter itu juga kami tahu bahwa ketika mendaki sebaiknya dilakukan dengan langkah zigzag.Dan benar saja, berjalan dengan langkah zigzag terbukti lebih mudah dan mengurangi risiko terpeleset.

Sekitar pukul 04.30 langit mulai terang. Wah, pemandangan yang disuguhkan sepanjang pendakian sangat mempesona. Terlihat Gunung Meranti yang disapu kabut tipis. Juga, hamparan hutan luas yang hijau, menandakan betapa suburnya alam negeri ini.

Beberapa kali kami berhenti untuk mengabadikan keindahan alam sekaligus istirahat. Di setengah perjalanan kami juga sempat ngopi di sebuah warung yang ada di Pos Timbang. Tempat itu memang biasa dipakai tempat melepas penat para pendaki. Bahkan, warung tersebut menyediakan mie instan dan makanan kecil.

Sekitar 10 menit istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Kami sudah nggak sabar untuk membuktikan sendiri keindahan kawah Ijen yang sudah sangat terkenal sampai dunia itu.

Pukul 06.10 kami tiba di puncak. Wow…pemandangannya…keindahannya tak bisa hanya dilukiskan dengan goresan kuas atau untaian kata-kata. Anda harus datang sendiri untuk membuktikannya.
Rasa letih selama perjalanan, terbayar dengan keelokan alamnya.

Dinding kaldera menganga luas berwarna kecokelatan tampak seperti pahatan batu. Ini terjadi karena sisa erupsi gunung Ijen. Dari kawah terlihat kepulan asap putih dipadu dengan warna hijau dari dasar kawah. Langit biru cerah dengan sinar matahari memantul di tebing kalderanya. Perfect.

Dikelilingi dinding kaldera berwarna coklat dan abu-abu membingkai indah Kawah Ijen. Sisa erupsi kegunungapian Ijen menjadikan dinding kaldera seperti pahatan batu yang terlihat indah dari kejauhan.
Berjalan menyusuri tebingnya, terlihat beberapa gunung berapi, seperti, Meranti dan Raung. Kepulan asap terlihat dari kedua gunung itu.

Puas menikmati keindahan Sang Pencipta yang tiada duanya itu, kami pun turun. Saya pikir, untuk turun lebih mudah ketimbang mendakinya. Ternyata nggak. Jalanan berpasir dan berbatu membuat langkah sering terpeleset. Karena itu, butuh konsentrasi ekstra dengan langkah hati-hati dan tetap diingat, harus dengan langkah zigzag.

Lelah pasti. Tapi, kami masih ingin mengulangi pendakian ke Ijen lagi. Kami ingin menyaksikan blue fire yang konon hanya ada dua di dunia ini. Di Ijen dan satu lagi di sebuah gunung di Islandia.
Blue Fire muncul di sela-sela bebatuan di lokasi penambang belerang di mulut Kawah Ijen. Biasanya sekitar pukul 02.00-03.00 dini hari.

background kawah Ijen

background kawah Ijen