Ketika Kesayangan Ngeyel, Bikin Keseeeel…

Edo, anakku yang sulung hampir berumur 9 tahun. Kadang, suka kezzzzeel (sengaja pake z) sama tingkahnya. Malah, kalau udah senewen, saya sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi ke dia. Ada aja jawabannya kalau dimarahin. Suka ngeyel. Eh, tau ngeyel kan? Nggak mau kalah kalo ngomong itu loh.
Pernah nih, saya negur dia. Karena apa ya waktu itu…lupa. Dan, terjadilah adu argumen antara saya dengan Edo.
Yang bikin saya makin geram, Edo nggak nurut dengan kata-kata saya.
Tahu nggak dia bilang apa?
”Kenapa sih kalau orang tua marah ke anak, dibilang menasehati. Tapi, kalau anak ngasih tahu orang tua, dibilang marah-marah?”
Kata-kata itu spontan terucap dari bibir Edo. Sesaat saya pun merenungi ”tamparan” itu. Ah, masa sih saya seegois itu? #barunyadar.

Ada lagi sebuah kejadian yang bikin saya marah ke Edo. Dia berebut mainan dengan sang adik. Saking kesalnya, saya spontan bilang ke Edo, ”Sudah, sini barangnya ibu ambil. Ibu kembalikan aja ke tokonya. Daripada bikin ribut.”
Komentar Edo? Dia bilang, ”Nggak mungkin, wong tadi Edo lihat di tokonya ada tulisan, barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi, kok.”
Dengar jawaban itu, saya langsung balik badan, ngeloyor ke kamar mandi. Pura-pura pipis sambil mikir ngebales jawab apa ya ke Edo?

Dari situ saya jadi mikir dua kali kalau mau marah ke Edo. Ya, dalam kondisi marah, ucapan yang keluar jadi nggak terkontrol, nggak bijak. Buang energi, buang waktu. Wooow…banyak juga energi negatif yang kita lepaskan tatkala kehilangan kesabaran. Tapiii…Susyaaaah…
Pernah nih kepala sudah ngepulin asap dan mungkin gigi taring sudah nyembul…Tapi dalam hati berusaha sabaaar…
Ambil napas panjaaaang….lepaskan. Trus, beres-beres rumah, nyapu, ngepel. Lha kok Edo malah ikut bantu-bantu. Asyiiikk…rumah jadi kinclong, aman terkendali, dan Edo juga belajar bersih-bersih rumah.

Jalan-Jalan ke Jogja tiga tahun lalu

Jalan-Jalan ke Jogja tiga tahun lalu

Iklan