Sujud Syukur, Suami Tak Seperti Rob Hall

’’Bu, aku dapat tugas liputan ekspedisi ke Kilimanjaro dan Elbrus. Berangkat bulan depan dengan waktu pendakian sekitar satu bulan,” cetus suami sepulang kerja.
’’Hah? Gimana?” tanyaku nggak percaya. Suamiku mengulang ucapannnya lagi.
Ya Tuhan… naik gunung lagi. Aku mbatin. Itu hal yang paling membuatku khawatir pada suami. Apalagi, ini pendakian di gunung es.
’’Nggak ada orang lain?” tanyaku.
’’Bukannya nggak ada, tapi kantor menugaskan aku yang liputan,” ujar suami.
Saya tahu, suami memang hobi mendaki gunung. Tapi, sejak menikah, dia sudah nggak pernah lagi naik gunung karena memang aku nggak ngebolehin. Saat itu, saya nggak bisa mencegahnya karena sudah urusan pekerjaan.
Saya juga tahu, suami masih terobsesi dengan 7 summits (mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia). Ya, paling nggak, bisa mendaki beberapa puncak di antaranya. Dan ini kesempatannya.
Hari yang dinantikan tiba. Tim ekspedisi berangkat dengan tujuan pertama ke Kilimanjaro (5.892 mdpl) di Tanzania. Persiapan pendakian menuju puncak Kilimanjaro memakan waktu sekitar lima hari, mulai aklimatasisasi sampai pendakian yang sebenarnya. Kemudian, untuk turunnya, sekitar dua hari.
Saya terus memantau kondisi tim itu melalui internet. Untuk komunikasi kami jarang menggunakan telepon. Selain mahal, juga sulit. Paling, ketika sampai basecamp, dia menelepon sebentar untuk mengabarkan kondisinya.
’’Halo ibu, kami sudah turun dari Kilimanjaro. Puji Tuhan berhasil. Gimana kabar abang dan dedek di perut?
’’Baik. Kemarin USG ternyata cewek,” ujarku. Terdengar ucapan syukur terlontar dari suami.
’’Pendakian ini aku persembahkan buat abang dan dedek di perut, bu,” kata suami.
’’Ya pak. Semoga lancar,” ucapku menahan haru.
Setelah itu, suami dan tim ekspedisi bertolak menuju ke Rusia untuk persiapan pendakian ke Elbrus (5.642 mdpl). Elbrus barat diusahakan dicapai tepat saat peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010, untuk pengibaran Sang Merah Putih.
Saat persiapan pendakian, mereka melalui aklimatisasi yang berlangsung tanpa masalah. Sayang, rencana mencapai puncak pada 17 Agustus 2010 gagal karena terkena badai salju. Beritanya ada di sini.

Membaca berita online itu, saya coba kontak dengan suami tapi tak bisa. Lewat email juga tak terjawab. Ya sudah, saya cuma bisa pasrah dan berdoa tak henti-henti.
Kemudian, dapat kabar bahwa tim utama ekspedisi berhasil mencapai puncak. Lalu, gimana dengan tim media peliput? Rasanya sudah seperti di awang-awang menunggu kabar itu.

Ya Tuhan. Suamiku cedera. Saya pun mencari tahu dengan kontak ke kantor suami. Menurut berita yang disampaikan oleh ketua tim ekspedisi, suamiku terserang hipotermia (penyakit dingin). Rasa cemas terus menghantui. Apalagi tidak ada yang bisa dihubungi.
Akhirnya, sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Dari suami. Dia bilang kalau gagal mencapai puncak Elbrus karena terserang hipotermia dan bla bla… saya nggak meneruskan membaca SMS itu tapi langsung sujud syukur karena suami masih selamat.

Gegara peristiwa itu, begitu film Everest muncul di bioskop, saya langsung nonton. Film besutan Baltasar Kormakur itu mengingatkan saya pada peristiwa yang menimpa suami sekitar lima tahun yang lalu.
Film itu mengangkat kisah nyata tentang tewasnya para pendaki gunung pada 1996. Pendakian itu menelan korban yang cukup banyak karena adanya bencana terhebat dalam sejarah Everest tahun 1996.
Sepanjang film, penonton disuguhi panorama pegunungan Everest yang diselimuti salju. Bahkan setelah para pendaki mencapai sisi dan puncak gunung, saya seakan terbawa oleh suasana filmnya dan ikut merasakan dinginnya badai gunung Everest kala itu. Selama nonton, pikiran saya pun menerawang ke pendakian yang dilakukan oleh suami saya dan timnya dengan medan serupa di Elbrus.
Perjalanan ekspedisi Everest yang dipimpin oleh Rob Hall (Jason Clarke) selaku pemilik Adventure Consultants Guided Expedition betul-betul menegangkan. Bersama dengan rekan satu timnya, Mike Groom (Thomas M. Wright) dan Andy Harris (Martin Henderson) yang membawa klien mereka, Beck Weathers (Josh Brolin), Lou Kasischke (Mark Derwin), Frank Fischbeck (Todd Boyce), Jon Krakauer (Michael Kelly), Yasuko Namba (Naoko Mori), John Taske (Tim Dantay), dan Stuart Hutchison (Demetri Goritsas) mendaki gunung Everest pada 1996.

Menegangkan

Menegangkan


Beberapa pendaki yang ikut dalam timnya berasal dari berbagai kalangan di berbagai negara yang terobsesi untuk menjejakkan kaki di titik tertinggi di dunia itu. Bahkan, mereka tak segan-segan merogoh kantong dan mengeluarkan uang sebesar USD 65.000 (setara dengan Rp 910 juta saat ini) demi memenuhi obsesi mereka. Ada pendaki profesional yang ikut serta, seperti, Yasuko Namba (Naoko Mori), tapi ada juga yang bukan, seperti, Doug Hansen (John Hawkes), Beck Weathers (Josh Brolin), dan Jon Krakauer (Michael Kelly) sebagai freelancer writer.
Ambisi mereka untuk bisa mencapai puncak The Most Dangerous Place in the World itu sangatlah besar meski beberapa terkendala masalah kesehatan atau dimakan usia. Ini terlihat salah satunya pada Doug Hansen. Ketika para pendaki sudah mencapai puncak dan akan turun, Dough masih tertinggal di belakang.
Sesuai jadwal, para pendaki harus segera turun karena diperkirakan akan terjadi badai. Namun, Dough bersikeras. Dengan berat hati, Rob kembali mengantarkan Dough demi memenuhi keinginannya mencapai puncak.
Benar saja, badai menerjang para pendaki tersebut. Bahkan, Dough yang mengalami hiportemia akhirnya tewas. Demikian juga dengan Rob, Yasuko Namba, John Taske, dan Stuart Hutchison.
Beberapa sisi human touch ditonjolkan. Salah satu adegan yang sangat menyentuh adalah ketika Rob Hall berbicara dengan istrinya di telepon di detik-detik akhir sebelum meninggal. Melihat adegan itu, tak terasa air mata saya menetes. Sangat menyedihkan, apalagi, sang istri saat itu tengah hamil. Saya kembali membayangkan ketika suami di Elbrus, saya pun sedang hamil.
Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Istri Rob sedang nelepon Rob saat detik detik kematian Rob. Saya juga ikut nangis.

Ditambah lagi, adegan saat Dr.Seaborn Beck Weathers berjuang untuk bangkit dari ketidaksadaran karena ’’melihat’’ anak dan istrinya memanggil-manggil.
Ya, Everest memang sangat menarik bagi siapapun yang pernah dan masih berkutat di dunia pendakian gunung. Namun, banyak faktor yang berperan untuk menggapainya, faktor alam, fisik, skill, dan tentunya keberuntungan.

Setelah nonton Everest

’’Bu, aku boleh ajak anak-anak naik gunung?” tanya suami.
’’Nggaaaakkkkk…” teriakku.

Tulisan ini diikutkan dalam:
Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?