Edo Masuk SD

Sebelum memutuskan untuk masuk SD, ada banyak kebimbangan yang menggelayuti pikiranku dan suami. Kami sempat bingung memilih sekolah. Apakah Edo akan disekolahkan secara formal atau homescholing mandiri.
Selama ini kami sering melihat keburukan kurikulum sekolah formal. Misalnya nih, anak SD kelas 1 udah dituntut untuk membaca dan menulis. Jangankan anak SD, TK aja udah diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. (Astaga.tepok jidat).
Jadwal yang padat, sampai-sampai bikin anak stres. Anak jadi kehilangan masa bermainnya. Anak jadi nggak kreatif karena hari-harinya diisi cuma belajar belajar belajar mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Belum lagi, pelajarannya cuma menghapal menghapal tanpa ada pemahaman secara menyeluruh.
Trus, sistem nilai serta ranking yang bikin anak fokus pada hasil, bukan pada proses. Masa sih, nilai dan peringkat kelas dilihat dari hasil ulangan selama beberapa hari aja. Menurut kami itu nggak fair dong.
Nggak cuma itu keburukannya. Kami mempertimbangkan pengaruh teman-teman di sekolah yang nggak semuanya baik.

Semua itu jadi pertimbangan kami.
Tapi, akhirnya, kami memasukkan Edo ke sekolah formal juga. Kami merasa nggak pede menjadi pendamping Edo selama melakukan kegiatan homeschooling.
Kami juga takut gagal dalam mendidik Edo kelak. Ya, kami masih percaya sekolah formal.
Namun, kami nggak memaksakan Edo. Kalau memang di sekolahnya yang baru itu membuat Edo nggak nyaman atau sistem pendidikannya sudah melenceng, ya kami harus menerapkan homescholing mandiri untuk anak kami.
Kami juga nggak memaksa untuk belajar. Supaya seimbang, Edo tetap membaca majalah, buku-buku kesukaannya. Nggak harus buku pelajaran. Juga, Edo ikut les piano sesuai dengan minatnya. Satu lagi, karena Edo suka banget ngoceh-ngoceh dalam bahasa inggris, kami ikutkan dia ke kelompok bhs inggris di deket rumah.

Ah Edo, bapak dan ibu juga ikut belajar nih. Belajar banyak dari anak-anaknya. Hehehe

Iklan

Bromo, So Beautiful…

Keindahan alam Bromo memang tak perlu diragukan lagi. Kami sekeluarga pun sudah membuktikannya. Setelah nonton Jazz Gunung, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Penanjakan. Gunung Penanjakan 1 adalah salah satu tempat view point untuk melihat dan menikmati matahari terbit di Bromo. Tingginya sekitar 2.770 MDPL.
Sekitar pukul 03.00 dini hari, kami sudah dijemput dengan jeep. Dinginnya brrr…..Udara dingin yang menyengat bikin Edo dan Mita tidur nyenyak. Tapi, supaya nggak terlambat sampai di puncak, ibu dan bapak dengan sangat tega membangunkan keduanya. Untuk Edo sih langsung semangat begitu dikasih tahu mau naik gunung. Tapi, Mita, masih aja bobok di gendongan ibu.
Karena saat itu weekend dan bersamaan dengan adanya event Jazz Gunung, jadi, lalu lintas menuju puncak sangat padat. Padahal, jalannya sempit dan
Kami serasa ikut rally mobil saat melewati lautan pasir yang luas. hehe…Sayangnya, subuh itu, lautan pasir diselimuti kabut tebal. Akhirnya, sekitar 2 jam perjalanan, sampailah kami di penanjakan 1. Langit masih gelap. Tapi, sudah banyak para pemburu sunrise berada di sana. Termasuk kami.

Sekitar pukul 04.30, mulai terlihat langit kemerahan di ufuk Timur. Perlahan, langit pun bertambah terang dan keindahan Pegunungan Bromo Tengger terpampang nyata.

Ini pengalaman Edo dan Mita yang pertama naik ke Penanjakan. Sayangnya, Mita tetep bobok. Hehe…

Sekitar 1 jam kami menikmati karya kebesaran Tuhan yang keindahannya tak bisa didiskripsikan dengan kata-kata. Tampak juga para wisatawan luar negeri yang terpukau akan alam Bromo Tengger pagi itu.

Rasanya masih pengen berlama-lama di sana. Bromo Tenggerkereeeen

Lihat aja nih foto-fotonya.

Nonton Jazz Gunung

Karena anak-anak demennya nonton acara-acara musik gitu, akhirnya, kuajaklah mereka ke perhelatan Jazz Gunung. Event yang rutin diadakan tiap tahun ini lumayan unik. Kalau biasanya kita nonton musik jazz di indoor, kali ini kita nonton jazz di outdoor dengan latar belakang Pegunungan Bromo yang aduhai.

Pergelarannya sudah berlangsung pada 21-22 Juni 2013 sih. Udah agak basi. Hehe…
Bbbrrr…adeeem…Ya itulah sensasi nonton Jazz Gunung. Ini pengalaman kami yang pertama nonton Jazz Gunung.
Supaya nggak ribet, kami ikut paket tour and travel ke Bromo-Taman Safari.
Dari Surabaya kami berangkat Sabtu 22 Juni pukul 09.00 pagi. Kami memang ambil pertunjukan yang hari kedua saja. Sedangkan hari pertama, Jumat 21 Juni, kami nggak bisa nonton karena masih ngantor.

Sampai kawasan Bromo udah siang. Setelah beberes di penginapan, kami pun langsung ke lokasi pertunjukan, tepatnya di Java Banana Bromo

Dari tribun Jazz Gunung

Dari tribun Jazz Gunung

Panggung terbuka Java Banana Bromo ini dibuat di tengah-tengah bukit yang kanan dan kirinya jurang. Jadi, view Pegunungan Tengger yang indah itu ibarat backdrop panggung.

Pertunjukan dimulai sekitar pukul 15.00.

Edo yang memang doyan musik jazz, cukup menikmati suasana pertunjukan. Padahal, udara saat itu sampai 15 derajat celsius. Sebagai antisipasi, Edo dan Mita sudah kami lengkapi dengan long john, mantel, topi, kaus kaki, sarung tangan.

Oia, performers di hari Sabtu itu dahsyat banget. Ada Ring of Fire Project yang mengusung Djaduk Ferianto, Idang Rasjidi, dan Jen Shyu musisi jazz keturunan Taiwan-Timor Leste. Kolaborasi mereka yahud poool. Apalagi, pas bawain lagu Tanah Airku. Lebih seru lagi, pas mereka bawain lagu Cublek Cublek Suweng. Gita Wirjawan, yang hadir saat itu didapuk untuk ngejam bareng. Penonton pun antusias menyambutnya.

Kolaborasi Gita Wirjawan dan Idang Rasjidi

Kolaborasi Gita Wirjawan dan Idang Rasjidi

Tambah adeeem…iyalah. Lha wong udah makin malam. Mita, sempat bobok di gendongan ibu. Dia bangun pas perform Rieka Roslan. Hehe…gimana Mita nggak bangun, kalau yang nge-gendong juga asik joget-joget di lagu Dahulu.
Ternyata, Mita ikutan joget juga. Hahaha….

Penonton rela nyanyi jejingkrakan bareng Rieka Roslan

Penonton rela nyanyi jejingkrakan bareng Rieka Roslan

Rieka Roslan sukses bikin hangat panggung Jazz Gunung malam itu. Penonton lain juga kegatelan ikut nyanyi dan bergoyang ngikutin irama lagu-lagu Rieka yang berirama rancak.

Trus, penampilan puncak dan yang paling ditunggu, sekaligus favoritku, Barry Likumahuwa Project (BLP) nampilin beberapa hitsnya, Aku Hadirmu dan Mati Saja Dia dinyanyiin juga. Wuuuhuuu…Dia juga sempat mendaulat sang ayahanda Benny Likumahuwa untuk tampil ber-jamming season di komposisi Like Father Like Son. BLP toooop.

BLP kereeeen....

BLP kereeeen….

Acara baru kelar sekitar pukul 21.00.

puas banget nonton Jazz Gunung

puas banget nonton Jazz Gunung

Edo ternyata merekam pertunjukan jazz itu. Setelah acara itu, dia mainin lagu-lagunya Idang bahkan BLP dengan pianonya. Tapi, lumayan ngawur sih. hahaha…Katanya, kayak Idang Rasyidi pas tampil di Jazz gunung. Sejak itu, Edo juga tambah getol dengerin lagu-lagu jazz. Tapi yang penting, Edo tambah rajin latihan piano.