Hindari Tempat Indoor, Pilih Main-Main di Alam

Anak-anak memang makhluk paling kreatif. Sebagai orang tua, seringkali kita dibikin  kewalahan menghadapi mereka. Termasuk juga saya dengan tiga anak yang sangat aktif.

Untuk menyalurkan keaktifan anak-anak, saya memilih mengajak mereka bermain. Mengapa bermain? Menurut para ilmuwan, bermain adalah bagian integral untuk mengembangkan otak dan tubuh yang sehat.

Satu studi pada 2011 dari sepasang psikolog Norwegia menyimpulkan bahwa mengambil risiko (dan mengatasinya) saat bermain merupakan bagian penting dari perkembangan anak. Dengan demikian, taman bermain di mana anak-anak bisa memanjat tinggi, berputar cepat, dan berpotensi si anak terluka karena jatuh, membuat perkembangan masa kanak-kanak mereka lebih baik. Beragam aktivitas bermain juga penting untuk menjaga anak tetap aktif, yang meningkatkan keterampilan motorik dan memerangi obesitas masa kecil.

Karena itu, saya sangat detail dalam memilih mainan maupun tempat bemain untuk anak-anak.

Untuk mainan, saya lebih memilih yang tanpa baterai. Kenapa? Lebih hemat. Haha… Selain itu, mainan dengan baterai tuh manjain anak-anak. Effort-nya minim banget. Jadilah, saya pilih mainan seperti puzzle, board games, main tali, boneka, masak-masak, dakon, drum-drum-an, pokoknya yang serbamanual gitu deh. Malah, kalau perlu, bikin mainan sendiri.

Yup, kadang, saya dan anak-anak bikin mainan sendiri, sih. Misalnya, pesawat dari kardus bekas, sudoku dari karton, gitar dari kardus sepatu. (tutorialnya diceritain kapan-kapan ya).

Agak ribet sih. Tapi dengan gitu, energi mereka sedikit tersalurkan.

Kalau untuk tempat bermain, saya lebih suka yang outdoor dibandingkan indoor, apa lagi mal. Sebisa mungkin saya menghindarkan anak-anak bermain di mal. Kenapa? Mmm…wahana permainan di mal kesannya kok cemen banget ya? Kurang greget, kurang menstimulasi anak jadi lebih kreatif, gitu. Belum lagi, lingkungan di mal yang menurut saya kurang sehat. Bayangin, di dalam ruangan dengan berjuta orang yang bisa jadi membawa virus entah apa namanya itu. (Ya…mungkin saya aja yang sih lebhay).

Karena itu, kalau di Surabaya, saya suka bingung dengan arena permainan buat anak. Mau nggak mau saya ajak mereka ke taman kota. Oia, Surabaya punya banyak taman kota. Proud of Wali Kota Surabaya…

Ada beberapa taman kota di Surabaya yang sudah pernah kami jelajahi. Yaitu, Taman Jangkar di Jambangan, Taman Bungkul di Raya Darmo, dan Taman Persahabatan di daerah Gubeng. Murah meriah. Mareka pun merasakan keseruan tersendiri dalam bermain.

Taman Persahabatan, Gubeng Surabaya

Oia, ada lagi, saya pernah juga ajak mereka main di Kebun Binatang. Sejumlah permainan ada di KBS. Enak nih di KBS. Suasananya lumayan adem dengan pepohonan yang cukup rimbun untuk ukuran Surabaya.

Kebun Binatang Surabaya, salah satu spot yang adem di tengah Kota Surabaya

Satu lagi, mereka paling suka berenang. Cuma, sayangnya di Surabaya belum nemu kolam renang yang airnya seger dan bebas kaporit. Alhasil, setelah berenang, anak-anak pada bersin-bersin dan mata pedih. Duh.

Kalau udah bosen dan nggak ada pilihan tempat bermain di Surabaya, saya pun mengajak mereka main ke luar kota. Favorit anak-anak ya ke Batu. Hihi…

Di Batu, bisa puas deh mereka bermain di alam terbuka. Paling sering ya ke Selecta. Permainannya komplet banget di sana. Ada flying fox, taman bunga, waterpark, becak air, kora-kora, ayunan, sepeda udara, berkuda. Asik kan.

Puas mainan di Selecta, anak-anak langsung minta istirahat di hotel. Pilihannya kali itu ke DeView Hotel. Lokasinya di Jl Raya Selecta No 157. Kalau dari tempat wisata Selecta ke arah Kota Batu, sekitar lima menit di sisi kanan jalan.

Kami sudah pernah dua kali bermalam di sana. View nya cakep. Cuma kolam renangnya kecil, sih. Tapi ya namanya anak-anak, tetap aja heboh kalau nemu hotel yang ada kolam renangnya. Hehe…

Waktu itu, kami pernah booking tipe family room yang terdiri atas 1 kamar single dan 1 kamar twin lengkap dengan dua kamar mandi. Ada juga fasilitas mini kitchen dan living room yang luas. Pas buat saya-suami dengan tiga anak dan satu keponakan plus opa-oma.

Untuk master room, kamar mandinya dilengkapi juga dengan bathtub. Jadi, bisa melepas penat sambil berendam air hangat di situ. Nyeess…

Pagi-pagi dari kamar, langsung disuguhi view pegunungan yang cantik, siapa yang nolak, coba? Ditambah lagi dengan menikmati secangkir kopi hitam di balkon. Itu tuh, kayak opa dan Gita. Santaaiii…

bangun pagi disuguhi view macam gini, siapa yang nolak?

Balkon

Cuma sayang, menu breakfast-nya kurang nendang. Tapi, paling suka sama atraksi bikin omelet-nya yang pakai semburan api gitu. (Udah diubek-ubek file-nya, tapi fotonya nggak nemu. Hiks). Asiknya lagi, lokasi resto yang bersebelahan dengan playground yang asri, lengkap dengan ayunan serta kolam ikan. Kita bisa loh ngasih makan ke ikan-ikan itu. Ini nih yang termasuk salah satu favorit anak-anak kalau ke DeView. Yang pasti, untuk istirahat bareng keluarga, DeView Hotel, sangat recommended.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Hobi Bangun Pagi

’’Bu, obatnya batuk tuh jahe sama mengkudu,” ujar Edo tiba-tiba padaku yang sudah beberapa hari mengalami batuk.
’’Tahu dari mana, bang?” tanyaku.
’’Ya dari majalah,” ujar Edo.
Hmmm…Edo suka sekali baca buku-buku berbau pengetahuan. Tak heran kalau celetukannya kadang bikin saya sebagai ibunya cuma bengong karena nggak ngeh.
Itu artinya, sebagai orang tua kita dituntut untuk terus up date pengetahuan, ya.

Kadang, saya juga merasa harus berlomba dengan kesenangan Edo melahap majalah-majalah science seperti Kuark. Ditambah, keinginannya untuk melakukan eksperimen-eksperimen. #emaknya sudah lelah.
Ada satu hal lagi yang bikin saya malu sama Edo adalah kebiasaan bangun pagi. Saya orangnya susah bangun pagi. Jam ngantor siang-malam jadi alasan kenapa saya nggak bisa bangun pagi. Untunglah, Edo nggak meniru kebiasaan buruk itu.
Maksimal pukul 05.00 pagi, Edo sudah bangun, jalan-jalan, mandi, sarapan roti-susu, dan kalau sudah siap berangkat, baru deh bangunin emaknya untuk minta anter ke sekolah. ’’Ibu…ibuuuk…ayo banguuun….,” teriak Edo sambil gelitikin kaki emaknya yang masih ngorok. Mmm…maapin ibuk ya nak. Huehue…

 

dsc00126

 

Eksplorasi Empat Negara Sekaligus Bareng Dancow

Loh loh, jangan naik-naik tangga. Jatuuuh..
Udah dek, disuapin ibu aja ah, bajunya belepotan nanti.
Eh eh, no no, nggak usah pegang pegang ituuu. Tangannya kotor ntar haduuuh…

Gita, bungsuku, mulai hobi melakukan yang dilarang. Pokoknya, perilaku si 14 bulan itu jadi lebih kompleks dan menantang. Makanya, nggak salah kan kalau sebagai ibu saya kerap melontarkan segudang larangan buat dia.

”Anak itu boleh salah, boleh jatuh. Di usia satu tahun, si kecil memang lagi aktif-aktifnya. Orang tua mesti bersyukur dong karena itu pertanda anak tumbuh sehat,” ujar Psikolog Ratih Ibrahim yang jadi narasumber di event Nestle Dancow Excelnutri+ Explore The World.
Nah loh, ucapan bu Ratih ini ibarat tamparan buat saya yang suka kelewat lebay mem-proteksi si dedek.

Usia satu hingga tiga tahun ini memasuki periode pembentukan kepercayaan diri dan pengasahan kemampuan psikomotorik. Pada periode itu, orang tua justru harus memberikan ruang dan kepercayaan kepada si kecil agar mereka berani bereksplorasi guna mencapai tumbuh kembang optimal.”Dengan bereksplorasi, si kecil akan mengenal dan berinteraksi dengan hal-hal baru. Itu akan membantu dia mengasah ketrampilan sensorik motorik, keterampilan dalam berkomunikasi, sosio-emosional, kemandirian, kognitif, serta kreativitasnya,” kata psikolog gaul ini.

Sebagai bekal tumbuh kembang anak, yang utama adalah cinta dari bunda dan ayah, kecukupan nutrisi, dan stimulasi. ”Cinta tulus orang tua memberikan rasa aman dan emosi positif. Pemberian nutrisi yang tepat untuk si kecil akan meningkatkan daya tahannya. Kalau tubuh sehat, si kecil bisa bebas beraktvitas. Berikan juga stimulasi dengan menyediakan ruang untuk eksplorasi,” jelas ibunda Renald dan Rafael ini.

Beruntunglah saya bisa bergabung di acara besutan Dancow yang berlangsung pada 6-7 Agustus 2016 di Royal Plaza, Surabaya itu. ada segudang informasi buat para orang tua mengenai tumbuh kembang anak. Ibu dan ayah yang hadir pun jadi lebih update ilmu cara mendidik anak bareng banyak narasumber yang berkompeten. Ya, salah satunya Ratih Ibrahim ini.

psikolog gaul

psikolog gaul

Selain psikolog, hadir juga pakar nutrisi Sari Sunda Bulan AMG. Menurut Sari, selain membebaskan anak bereksplorasi, orang tua harus aware pada kesehatan anak. Salah satu bagian tubuh yang perlu dijaga adalah saluran cerna. ”Ini terkait fungsinya untuk mengolah gizi dan berperan sebagai organ imunitas terbesar,” kata Sari.

Macam asupan yang diperlukan antara lain Lactobacillus rhamnosus yang terbukti dapat membantu menurunkan risiko infeksi tertentu pada anak. Selain itu, vitamin A, C, dan E serta mineral selenium dan zink dapat membantu mendukung daya tahan tubuh anak. Untuk perkembangan otak dan fisik, diperlukan minyak ikan, protein, dan kalsium.

Menjawab semua itu, Nestle Dancow 1+ meluncurkan Nestle Dancow Excelnutri+. ”Nutrisinya lengkap dan penting untuk pertumbuhan si kecil. Kami ingin memastikan anak Indonesia dapat bereksplorasi tanpa perlu khawatir karena telah mendapatkan asupan nutrisi seimbang dan saluran cernanya sehat,” kata Senior Brand Manager Dancow Excelnutri+ Nestle Indonesia Riza Nopalas.

Selain talk show, di Nestle Dancow Excelnutri+ Explore The World ortu bisa ajak anak-anaknya bermain dan belajar. Atrium Royal Plaza disulap menjadi wahana bermain bernuansa alam Indonesia, Belanda, Brazil, dan Jepang. Seruuu…Nggak heran kalau pengunjungnya bejibun.

crowd
Memasuki ”wilayah Indonesia” misalnya, suasana pantai ala ala langsung terasa. Dilengkapi pasir yang lembut, anak-anak pun langsung nyebur ke area berpasir. Eits, tapi ayah bunda nggak perlu khawatir, karena pasirnya sintetis. Ada lagi area ”pemancingan” ikan. Meski cuma ikan mainan, tapi anak-anak betah banget mancing di situ. Mereka bisa belajar berhitung dari hasil ”ikan” yang didapat.

Pasirnya lembuuuttt

Pasirnya lembuuuttt

Masuk ke ”Netherland”, disediakan area bercocok tanam. Kotor-kotor lagiii. Tapi justru dengan begitu mereka belajar.

Asiiik...kotor-kotor lagiii

Asiiik…kotor-kotor lagiii

Lanjut ke Brazil. Di negeri samba itu kita bisa menjelajah hutan. Serunya, bisa foto dengan background hutan. Eh, tapi, lihat tuh hasilnya, ada harimau lewat di depan kita. Hauuummm…

Hauuumm...ada harimau lewaaat

Hauuumm…ada harimau lewaaat

Ke mana lagi? Ke Jepang dong. Banyak aktivitas di ”negeri matahari terbit” ini. Kita bisa foto pakai baju kimono, bisa juga bikin origami, dan main balok. Oia, semua permainan selalu ada tim dari Dancow yang memandu.

sekeluarga seru-seruan pakai kimono

sekeluarga seru-seruan pakai kimono


main origami bareng tim Dancow

main origami bareng tim Dancow

Banyaknya aktivitas selama event bikin anak jadi mengenal istilah-istilah baru yang bisa juga mengembangkan bahasa anak. Misalnya,nama-nama flora maupun fauna dan kebudayaan dari negara yang dikunjungi. Puas deh jelajah empat negera bareng Nestle Dancow Excelnutri+ Explore The World. Semoga kelak kamu bisa jelajah dunia beneran ya nak.

Ketika Kesayangan Ngeyel, Bikin Keseeeel…

Edo, anakku yang sulung hampir berumur 9 tahun. Kadang, suka kezzzzeel (sengaja pake z) sama tingkahnya. Malah, kalau udah senewen, saya sampai nggak bisa berkata apa-apa lagi ke dia. Ada aja jawabannya kalau dimarahin. Suka ngeyel. Eh, tau ngeyel kan? Nggak mau kalah kalo ngomong itu loh.
Pernah nih, saya negur dia. Karena apa ya waktu itu…lupa. Dan, terjadilah adu argumen antara saya dengan Edo.
Yang bikin saya makin geram, Edo nggak nurut dengan kata-kata saya.
Tahu nggak dia bilang apa?
”Kenapa sih kalau orang tua marah ke anak, dibilang menasehati. Tapi, kalau anak ngasih tahu orang tua, dibilang marah-marah?”
Kata-kata itu spontan terucap dari bibir Edo. Sesaat saya pun merenungi ”tamparan” itu. Ah, masa sih saya seegois itu? #barunyadar.

Ada lagi sebuah kejadian yang bikin saya marah ke Edo. Dia berebut mainan dengan sang adik. Saking kesalnya, saya spontan bilang ke Edo, ”Sudah, sini barangnya ibu ambil. Ibu kembalikan aja ke tokonya. Daripada bikin ribut.”
Komentar Edo? Dia bilang, ”Nggak mungkin, wong tadi Edo lihat di tokonya ada tulisan, barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi, kok.”
Dengar jawaban itu, saya langsung balik badan, ngeloyor ke kamar mandi. Pura-pura pipis sambil mikir ngebales jawab apa ya ke Edo?

Dari situ saya jadi mikir dua kali kalau mau marah ke Edo. Ya, dalam kondisi marah, ucapan yang keluar jadi nggak terkontrol, nggak bijak. Buang energi, buang waktu. Wooow…banyak juga energi negatif yang kita lepaskan tatkala kehilangan kesabaran. Tapiii…Susyaaaah…
Pernah nih kepala sudah ngepulin asap dan mungkin gigi taring sudah nyembul…Tapi dalam hati berusaha sabaaar…
Ambil napas panjaaaang….lepaskan. Trus, beres-beres rumah, nyapu, ngepel. Lha kok Edo malah ikut bantu-bantu. Asyiiikk…rumah jadi kinclong, aman terkendali, dan Edo juga belajar bersih-bersih rumah.

Jalan-Jalan ke Jogja tiga tahun lalu

Jalan-Jalan ke Jogja tiga tahun lalu

Belajar-Bermain di Kampoeng Kidz, Batu

Main yuk main…ke mana? Kali ini, EdoMitaGita pengen cerita serunya main di Kampoeng Kidz, Batu Malang di awal Januari lalu.

Apa sih Kampoeng Kidz itu? Kalau warga Surabaya dan sekitarnya pasti udah tahu kan ya. Intip di SINI aja tentang Kampoeng Kidz.
Sebelumnya, pada 2014, Edo udah pernah ke Kampoeng Kidz untuk ikutan Jambore Kids. Dia menginap di sana semalam. Ceritanya sila tengok di SINI

edo revisi

Balik lagi ke aktivitasEdoMita di Kampoeng Kidz, ya.

Kami sudah tiba di Kampoeng Kidz sekitar pukul 09.00. Kami disambut oleh tim Kampoeng Kidz yang semuanya adalah pelajar SMA Selamat Pagi Indonesia. Oia, udah tahu kan sekolah itu? Yap. SMA Selamat Pagi Indonesia, sekolah gratis untuk siswa tak mampu dari seluruh Indonesia yang digagas oleh Yulianto Eka Putra.
Selain mendampingi anak-anak yang beraktivitas di Kampoeng Kidz, para siswa itu juga diserahi tanggung jawab untuk mengelola lini bisnis yang ada, seperti kantin dan suvenir. Kemampuan para siswa itu tak perlu diragukan lagi. Mereka sangat luwes dalam berinteraksi dengan pengunjung. Apalagi, ketika mendampingi anak-anak yang beraktivitas di Kampoeng Kidz, bener-bener mirip mentor, deh. Bahkan, mereka kerap melakukan beberapa atraksi hiburan untuk para pengunjung.

photoAksi siswa SMA Selamat Pagi Indonesia saat Jambore Kids di Kampoeng Kidz, Batu, Malang pada 2014 silam.

DSC00065

DSC00067

Ada beberapa paket aktivitas yang bisa dilakukan oleh anak-anak usia 5-12 tahun. Sebenarnya, anak-anak pengen nyoba yang paket adventure, tapi mulainya pukul 13.00. Sedangkan untuk paket entrepreneurship dimulai pukul 10.00. Ya sudah, akhirnya anak-anak ambil paket entrepreneurship. Di paket itu, anak-anak diberi gambaran gimana sih menjadi seorang pengusaha cilik.

DSC00059

Ternyata, paketnya nggak seserius namanya. Aktivitasnya fun banget.
Sebelum mulai ’’perjalanan’’, anak-anak dikumpulkan di lapangan lebih dulu. Mereka diajak menyanyi dan menari sambil berkenalan dengan teman sekelompok dan kakak pendamping.

DSC00070

Tujuan pertama, anak-anak yang ikut paket entrepreneurship diajak ke wahana pengusaha peternakan. Mereka memberikan makan kambing dan kelinci di kandangnya. Juga, ngasih makan ke kolam ikan. Anak-anak dijelaskan mengenai produk-produk apa saja yang bisa diperoleh dari hewan itu dan gimana cara memeliharanya.

 

DSC00080

DSC00085

 

Lanjut ke wahana pengusaha pertanian dengan mengunjungi kebun jagung. Waaah…metik jagung segala. Masing-masing anak dapat enam jagung. Haha… buat bakar-bakar ya, nak. Apa lagi, jagung di ladang Kampoeng Kidz itu ditanam secara organik. Jadi, lebih fresh and healthy.

DSC00167

DSC00152

Setelah jadi ’’petani’’ anak-anak diajak makan siang di resto Kampoeng Kidz. Oia, paketnya itu udah termasuk makan siang. Resto di Kampoeng Kidz dikelola juga oleh siswa SMA Selamat Pagi. Tuh kan, mereka bener-bener learning by doing.

DSC00140

Kelar makan siang, langsung cuuus ke kolam ikan. Waktunya mancing. Aktivitas di kolam ikan nggak cuma mancing, tapi juga ngasih makan ikan pakai dot.

DSC00091

DSC00120

Lanjut, mereka masuk ke wahana pertambangan, seperti di dalam gua. Ngapain aja di sana? Mereka diberi ”bongkahan batu”. Pura-puranya nih, bongkahan batu itu dibelah dan dipotong-potong. Kemudian, dipoles dan dihaluskan. Jadi seperti akik gitu deh. Hehe..

DSC00130

Terakhir, anak-anak diajak menjadi pengusaha kuliner. Mereka diajak bikin pancake. Walah, pada berebut ngasih topping kesukaan dan langsung nyaaammm…Makan lagi.

DSC00173

DSC00192

Udah ah, capek. Tapi, para bocil masih seger buger. Nggak ada raut wajah kelelahan. Padahal, sudah pukul 14.00. Mereka malah pengin ikut yang paket adventure. Jiyaaah…lain kali aja ya kids.

Memang sih, saya aja yang orang tua betah banget di Kampoeng Kidz, apalagi anak-anak. Eh, mereka bawa banyak buah tangan, ada history book dan foto-foto selama beraktivitas. Seruuuu….

 

Gita Enam Bulan

Enam bulan lalu, seorang malaikat kecil hadir di keluarga kami. Kami menamainya Athanasia Paragita Candrakamala. Gita, kami memanggilnya, menambah keceriaan dalam keluarga. Kami menyambutnya dengan sukacita. Dia tumbuh sehat, tingkahnya pun menggemaskan. Nggak heran, kalau Gita jadi sasaran cubitan kecil dan ciuman gemas dari seluruh anggota keluarga. Malah, pipinya yang kayak bakpao, sering kugigit gemas. Hihihi…*yang boleh cuma emaknya loh*
Setelah dua bulan saya cuti, agak berat meninggalkan Gita untuk kembali ngantor. Tapi, saya harus menjalaninya. *Semua terasa berat di awal*
Meskipun meninggalkan Gita untuk kerja, saya tetap memberikan ASI eksklusif hingga sekarang di usia 6 bulan. Saya sempat nggak pede bisa sukses ASI eksklusif. Yah, usia udah kepala tiga lebih (nggak ngaku tepatnya), katanya sih produktivitas ASI berkurang. Selain itu, ngurus anak tiga, pasti lebih ribet. Beda kan ya kalau pas anak pertama dan kedua dulu. Belum lagi porsi kerjaan yang lumayan bikin stres. (kerja mana coba yang nggak bikin pusing)?
Tapi, karena niat, ya harus bisa.
Berawal ketika lahiran RSIA Kendangsari Surabaya yang sangat pro ASI, melalui persalinan normal, adek Gita dapat IMD. Meski ASI belum keluar, para suster dan dokternya tetap kasih support. Saya bisa dapat fasilitas room in dengan Adek. Jadi, dia bisa menyusu saya kapan aja dia mau. Otomatis, itu merangsang ASI untuk cepat keluar juga. Puji Tuhan, di usia Gita tiga hari, ASI sudah keluar lancar.
Ketidakpedean kembali melanda ketika harus kembali kerja dari cuti dua bulan. Awalnya, saya masih lancar menyiapkan ASI perahan. Tapi, ketika dedek masuk usia empat bulan, entah kenapa, ASI jadi irit banget keluarnya. Huaaah…sampai stres saya. Bayangin, sejam merah ASI, cuma dapat 100 ml. Biasanya, 30 menit aja sudah 150-200 ml. Cerita soal merah ASI di tempat kerja bisa diintip di sini
Untunglah, ada mama saya yang melihat kondisi itu dengan tenang. (biasanya orang tua malah nyuruh nyuruh kita untuk ngasih tambahan susu formula). Beliau malah menggelontor saya dengan sayur-sayuran, kacang-kacangan, bahkan membuatkan jamu-jamuan alami. *makasih mamaku sayang*
Ya, bisa jadi karena stres pekerjaan kantor, ASI jadi kurang lancar. Setelah mencoba rileksasi, ASI pun kembali lancar. Puji Tuhan. Gita jadi anak sehat dan daya tahan tubuhnya cukup bagus.

Gita lucuuu…masuk usia tiga bulan, dia sudah bisa diajak main, sudah tengkurap-tengkurap, dan nggelundung nggelundung. Hehe…Kedua kakaknya sering berebutan untuk bisa mencuri atensinya. Haha…Mereka berlomba bisa membuat Gita tertawa. Soalnya, kalau ketawa makin gemesiiin…
Oia, kalau kebanyakan ibu yang baru melahirkan, bakal kurang tidur lantaran si baby suka bangun di malam hari. Saya malah suka bangunin Gita kalau malam untuk nenen. Lha kalau malam, Gita boboknya nyenyak banget. Biasanya mulai pukul 21.00-04.00 pagi. Hihi…
Pernah nih, saya ikutan kebablasan tidur juga. Bangun-bangun sekitar pukul 04.00 pagi. Duh, rasanya payudara keras plus cenut-cenut.
Masuk usia enam bulan ini, Gita udah makin pintar. Sudah ngerti, kalau ditinggal sendirian, nangis. Kalau pegang mainan dan diambil, marah. Kalau diajak cilukba, ketawa ngakak. Wkwkwkwk…

Gita sayang, Gita pandai, mmmuuuahhh…

DSC00231

Permintaan Sederhana si Sulung

Sekitar dua minggu lalu terjadi percakapan antara saya dan si abang

’’Abang, sebentar lagi ulang tahun loh. Pengen dirayain?” tanya saya pada Edo.
’’Nggak. Nggak usah dirayain. NGGAK MAU,” tolaknya tegas.
’’Nggak mau dirayain di panti asuhan kayak dulu tuh?” ujar saya.
’’NGGAK,” tegasnya lagi.
’’Loh, itu kan namanya berbagi kebahagiaan, bang,” cerocos saya.
’’Ya kan kita bisa kunjungan ke sana sambil kasih sumbangan, bu. Nggak usah pake acara rame-rame, gitu,” katanya.
’’Kalau gitu, mau dirayakan di sekolah?” kejarku lagi.
’’NGGAK. Nggak usah lah bu. Abang tuh malu kalau ulang tahun pake acara-acara gitu. Abang tuh lebih suka dirayakan bareng keluarga aja. Bapak pulang pas abang ulang tahun aja, abang udah seneng, kok,” jelasnya panjang lebar.
Owh…(saya langsung mingkem dan me-retweet ucapan abang ke bapaknya yang dinas di luar kota).
Dan, si bapak langsung terbang dari Jakarta ke Surabaya. Demi memenuhi permintaan si sulung yang sangat sederhana itu.

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang...

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang…

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo