Ada Cinta dalam Sekotak Cokelat Jamu

Rasa pahit jadi salah satu alasan banyak orang, terutama anak-anak dan orang muda kurang suka minum jamu. Sayang ya. Padahal, jamu punya banyak khasiat. Ada yang bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh sampai membantu menyembuhkan penyakit. Info lengkapnya bisa diintip di mari.

Belum lagi stigma jamu yang nggak gaul, bikin banyak remaja mundur teratur kalau disuruh minum jamu. Kurang nge-hits (katanya) kalau dibandingkan dengan makanan dan minuman kemasan.

Melihat jamu yang kurang akrab di kalangan anak muda, Fajria Darell Sofiana tak tinggal diam. Dia mulai mencari cara supaya jamu bisa akrab di lidah masyarakat, terutama kaum muda. ”Jamu adalah warisan budaya bangsa. Kalau bukan kita-kita anak muda yang meneruskan, siapa lagi?” kata perempuan berusia 20 tahun ini.

Karena kesukaannya minum jamu dan memasak kue, dia mencoba memadukan bahan-bahan jamu dengan cokelat. Loh, kenapa memilih cokelat?

Menurut cewek Semarang ini, cokelat adalah salah satu makanan favorit mulai anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan, banyak yang addict sama makanan berbahan cokelat. Setelah melalui sekitar dua kali proses utak atik resep, akhirnya, terciptalah ChocoHerbs, cokelat citarasa jamu tradisional.

Di luar ekspektasinya, ChocoHerbs mampu merebut hati teman-temannya. Banyak teman yang memesan. Harganya lumayan terjangkau sih. Sekotaknya cuma Rp 15 ribu. Itu sudah berisi 16 cokelat. Ditambah dengan kemasannya yang cantik, membuat cokelat jamu buatan Fajria ini cocok juga untuk oleh-oleh atau kado buat someone special.

Kemasan Unik

Kemasan Unik

Berkat inovasinya ini, Fajria pernah menang dalam kompetisi bussiness plan mengenai diversifikasi pangan berbahan baku lokal. Sejak menang lomba, Fajria mulai serius menekuni bisnis cokelat jamu itu. Dari pemilihan bahan baku, pembuatan, sampai pemasarannya, dilakukan sendiri. Karena masih kuliah, untuk sementara ini penjualan hanya made by order dan saat ada event seperti Festival Jamu Internasional, pameran, dan bazar.

Oia, varian dari produk ChocoHerbs ada beberapa rasa kunyit, kencur, jahe, dan temulawak. Supaya konsumen paham khasiat dari jamu yang terdapat dalam cokelat itu, di kemasan, Fajria juga menuliskan manfaatnya apa saja bagi tubuh. ”Biar jamu tetap eksis dan lebih banyak peminatnya,” kata perempuan berjilbab ini.

Rasa Jamu Tradisional

Rasa Jamu Tradisional

Jamu-Jamu Favorit

Kalau saya paling demen sama ChocoHerbs rasa temulawak. Bisa jadi karena rasa temulawak yang sudah akrab di lidah saya. Ya, saya sekeluarga memang rutin mengonsumsi ramuan temulawak. Bikin sendiri, lho. Caranya, temulawak diiris tipis, direbus, dan dicampur dengan gula aren. Segaaar…

Manfaatnya terasa. Nafsu makan anak-anak saya terdongkrak semenjak rutin minum sari temulawak itu. Daya tahan tubuh pun lebih bagus. Bagi saya yang baru melahirkan, sari temulawak ini membantu mengembalikan kekejangan otot setelah persalinan. Orang tua saya juga merasakan khasiat sari temulawak ini untuk mengatasi gangguan ginjal dan hati serta mengobati maag.

Selain temulawak, saya suka yang rasa kunyit. Ya, saya sudah lama ”bersahabat” dengan kunyit, terutama saat haid. Setelah punya anak, kunyit pernah jadi ”penyelamat” saat anak saya demam. Kunyit diparut kemudian diperas untuk diambil airnya. Supaya rasanya lebih enak, perasan kunyit itu saya tambah sedikit madu. Sekarang, sebagai ibu menyusui, untuk memperlancar ASI, saya rajin minum air perasan kunyit. Hasilnya, tokcer. ASI saya lancar dan bisa kasih ASI full untuk si dedek.

ChocoHerbs adalah salah satu wujud cinta pada warisan negeri sendiri. Ayo, dukung jamu Indonesia supaya makin maju dan berkembang.

Sumber:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection
http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

Foto-foto: ChocoHerbs

Interview Fajria Darell Sofiana

Catatan Buat Ortu, Agar Anak Suka Jamu

Anak sakit tentu bikin panik. Sehari setelah kami pergi berlibur, Mita, anak keduaku sakit. Dia mengeluh perutnya sakit. Aku pikir cuma kebelet pup. Namun, sorenya badannya malah panas. Haduuuh…Berbagai usaha saya lakukan, antara lain, mengolesi perutnya dengan minyak dan mengompres pakai air hangat. Tapi, masih saja dia melilit kesakitan.

Akhirnya, mama mengambil sedikit kunyit dan diparut. Kemudian diperas dan dicampur madu. Mita menenggak perasan kunyit dan madu itu sekitar lima sendok makan. Berangsur-angsur, panasnya turun dan sudah nggak mengeluh sakit perut lagi. Sekitar 10 jam kemudian, mama memberinya perasan kunyit dan madu lagi. Puji Tuhan, keesokan harinya Mita sudah baikan dan nggak perlu dibawa ke dokter.

Beberapa hari kemudian, gantian Edo, anak pertamaku yang panas tinggi. Dikasih obat penurun panas nggak mempan. Ramuan dari kunyit dan madu pun diberikan. Ditambah lagi dengan menggosok badan Edo pakai minyak kayu putih, bawang merah, dan jeruk nipis. Hasilnya, cespleng. Suhu tubuh Edo pun turun dan kembali normal.

Saya sekeluarga memang lebih sreg mengonsumsi ramuan alami untuk membantu meredakan sakit atau menjaga imun tubuh. Ada juga satu minuman jamu yang rutin kami konsumsi, yaitu, temulawak. Ayah saya yang mengajarkan cara meraciknya. Simpel banget, kok.

Ambil beberapa rimpang temulawak

Temulawak

Temulawak

Iris tipis-tipis kemudian direbus sampai mendidih.

Diiris tipis

Diiris tipis

Direbus sampai mendidih

Direbus sampai mendidih

Air rebusan itu biasanya ditambah dengan gula aren. Diminum hangat-hangat, segeeeer…
Edo dan Mita pun ketagihan minum temulawak. Coba deh. Sejak rutin mengonsumsi temulawak, napsu makan mereka jadi lebih bagus. Selain itu, daya tahan tubuhnya meningkat.

Makannya banyaaak

Makannya banyaaak

Banyak Anak Tidak Suka Jamu

Sayangnya, banyak anak tidak suka atau tidak terbiasa minum jamu. Kenapa?
Pertama, banyak produk makanan dan minuman instan di pasaran dengan rasa yang yummy.
Kedua, bombardir iklan produk-produk makanan dan minuman yang bikin ngiler. Plus, didukung artis-artis yang ehm, cute sebagai bintang iklannya.
Ketiga, jamu alami bikinnya penuh perjuangan. Repot dan kadang bahannya susah didapat. Kalau makanan dan minuman instan di supermarket kan tinggal lheeep…langsung konsumsi.

Jadi, harus gimana?
’’Sebenarnya, untuk memulai kebiasaan minum jamu tak harus yang pahit-pahit dulu. Beras kencur, wedang jahe, atau sari temulawak, juga bisa diminum terutama untuk anak-anak,” kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani (April, 2015, kompas.com).
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itu, diharapkan kelak saat beranjak dewasa, mereka tak canggung lagi menenggak jamu-jamu alami. Naaaah… catatan buat orang tua nih (nunjuk diri sendiri juga) supaya nggak males bikinin jamu alami untuk anak-anak di rumah. Eits, jangan alasan susah cari bahannya loh. Kan, bahan-bahan jamu bisa ditanam sendiri di pekarangan rumah, sekalipun lahannya sempit.

Di halaman depan rumah bisa ditanami TOGA

Di halaman depan rumah bisa ditanami TOGA

Oia, cara penyajiannya juga penting. Biar anak-anak suka, harus menarik wadahnya, misalnya, pakai gelas bergambar kartun kesukaannya.

Wadah lucu bikin anak tambah suka

Wadah lucu bikin anak tambah suka

Trus, satu lagi, colek artis-artis cantik dan ganteng supaya mau jadi brand ambassador jamu alami. Siapa ya? Hmmm…

Jamu sebagai Aset Bangsa

Kenapa sih jamu harus dilestarikan?

Pertama, minum jamu sebagai warisan budaya Indonesia perlu dilestarikan karena merupakan aset bangsa. Jamu yang berasal dari ramuan herbal dan tradisional terbukti secara empiris berkhasiat bagi kesehatan tubuh manusia. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy A Sparringa pada acara Minum Jamu Bersama Badan POM di Jakarta, Jumat (27/2). (Kompas siang 27 Februari 2015).

Indonesia sendiri memiliki varietas tanaman berkhasiat nomor dua terbanyak di dunia. (21 Desember 2014, liputan6.com). Dengan banyaknya jenis tanaman yang bisa dijadikan bahan baku jamu, Indonesia sangat berpotensi mengembangkan obat-obatan tradisional hingga menjadi identitas bangsa.

Jadi teringat waktu ke China setahun yang lalu. Saya dan rombongan diajak ke sebuah toko obat-obatan herbal. Para sinse di toko itu juga mengecek kondisi kesehatan kami untuk kemudian diberikan ramuan-ramuan herbal untuk mengobati penyakit si pengunjung.
Saya pun membayangkan Indonesia bisa seperti China, sebagai destinasi wisata traditional medicine dengan mengolah tanaman obat-obatan menjadi ramuan jamu khas Indonesia. JAMU INDONESIA GO INTERNATIONAL

Kedua, menjadikan minum jamu sebagai kebiasaan akan membantu usaha kecil menengah dan industri rumahan jamu. Dengan demikian, jamu bisa menjadi solusi untuk membantu perekonomian keluarga dengan pemberdayaan perempuan. Hal itu dikatakan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani (kompas.com 3 April 2015).

Ada beberapa ibu rumah tangga yang mendapatkan penghasilan tambahan dari berjualan jamu racikannya. Salah satunya kawan saya, Vivi Aprilia. Awalnya, dia kerap menyuguhkan jamu kunyit asam, sinom, atau beras kencur kepada para tamu yang bertandang ke rumahnya. Ternyata banyak yang suka. Akhirnya, Vivi mencoba menjual jamu itu dalam kemasan botol 400 ml dan 1.500 ml. Eh, kok laris manis. Karena itu, dia mulai serius menekuni bisnis minuman jamu ini sejak tiga tahun lalu.Konsumen pun tak hanya dari dalam Kota Surabaya tapi sampai luar kota bahkan luar pulau.

Sumber: Vivi Aprilia

Sumber: Vivi Aprilia

Tak mau berhenti di situ saja, Vivi mengembangkan beberapa varian jamu, yaitu, pahitan, cabe puyang, dan suruh kunci. Omsetnya sekarang sudah mencapai Rp 6 juta per bulan, loh.
Hayooo…siapa yang mau mengikuti jejaknya? Melestarikan jamu sekaligus jadi wirausaha. So, mu jamuu…yuk biasakan minum jamu.

Daftar pustaka:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection

http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

http://biofarmaka.ipb.ac.id

Catatan Buat Ortu, Agar Anak Suka Jamu

aktivitas edomita

Anak sakit tentu bikin panik. Sehari setelah kami pergi berlibur, Mita, anak keduaku sakit. Dia mengeluh perutnya sakit. Aku pikir cuma kebelet pup. Namun, sorenya badannya malah panas. Haduuuh…Berbagai usaha saya lakukan, antara lain, mengolesi perutnya dengan minyak dan mengompres pakai air hangat. Tapi, masih saja dia melilit kesakitan. Akhirnya, mama mengambil sedikit kunyit dan diparut. Kemudian diperas dan dicampur madu. Mita menenggak perasan kunyit dan madu itu sekitar lima sendok makan. Berangsur-angsur, panasnya turun dan sudah nggak mengeluh sakit perut lagi. Sekitar 10 jam kemudian, mama memberinya perasan kunyit dan madu lagi. Puji Tuhan, keesokan harinya Mita sudah baikan dan nggak perlu dibawa ke dokter.

Beberapa hari kemudian, gantian Edo, anak pertamaku yang panas tinggi. Dikasih obat penurun panas nggak mempan. Ramuan dari kunyit dan madu pun diberikan. Ditambah lagi dengan menggosok badan Edo pakai minyak kayu putih, bawang merah, dan jeruk nipis. Hasilnya, cespleng. Suhu tubuh Edo pun…

Lihat pos aslinya 644 kata lagi