Ngadem Semalam di Purnama Hotel, Batu

aktivitas edomita

Surabaya lagi gerah-gerahnya. EdoMitaGita jalan-jalan ke Batu. Ke Batu lagiii??? Hahaha…Iya, hampir seminggu sekali, main ke sana. Asiknya, dua minggu lalu (7 November), kami nginep di Purnama Hotel.

Waah…EdoMita langsung sumringah begitu tahu kalau diajak nginep di Purnama Hotel. Itu artinya, mereka bisa berenang di kolam dengan air yang bersih dan seger, main di playground yang luas, makan di resto dengan view yang cantik. Pokoknya, nginep di hotel ini jadi favorit mereka.

Memang sih, hotel yang terletak di Jl Raya Selecta 1-15, Batu ini udah rada jadul, tapi tetap terawat. Cocok banget untuk istirahat bersama keluarga.

Room-nya nyaman meski tanpa AC. (iyalah, udara di Batu udah uadeeeem). Beberapa kali nginep di kamar tipe superior dan deluxe, tapi sayang, view-nya kurang oke karena langsung berhadapan dengan room lain. Mungkin, lain kali harus nyoba tipe room Gardenia yang langsung menghadap taman cantik. Biar kalo anak-anak main, emaknya bisa ngawasin…

Lihat pos aslinya 385 kata lagi

Pacu Adrenalin di Tretes Treetop

Tau Ninja Warrior? Itu loh, kompetisi ketangkasan dari Jepang yang pake acara panjat-panjat dinding, ngelompat lompatin kolam, merangkak di jaring. Nah, Edo nih lagi keranjingan acara itu. Dia sampai ngebayangin jadi salah seorang peserta Ninja Warrior. Di antara ruang tamu dan ruang keluarga kan ada lorong pendek. Nah, Edo suka banget lari dari kejauhan dan haaap…Kedua kakinya terbuka dan menapak di sisi dinding. Dengan bantuan kedua tangan yang juga menempel di dinding, dia merangkak naik sampai hampir mencapai atap. Katanya, lagi latihan spider wall, sebuah tantangan di Ninja Warrior. Hadeeeehhh…
ninja

Lha ketimbang naik turun tembok, ngelompatin kasur, kursi, meja nggak jelas, aku pun mengajak Edo main ke Tretes Treetop pada Oktober lalu. Di Tretes Treetop kita bisa nyobain rintangan-rintangan yang dipasang dari satu pohon ke pohon lain. Macem-macem rintangannya. Ada yang harus naik jaring-jaring sampai ke atas pohon, ada yang menyeberang pohon dengan pijakan bambu dan pegangan seutas tali, ada juga yang harus masuk di terowongan kayu. Semua aktivitas itu dilakukan di ketinggian, loh. Seru ya. Trus, ujung-ujungnya, meluncur dengan flying fox. Hauwoooo….

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo

Hidup itu bagai melewati sebuah terowongan. Selalu ada cahaya di ujung sana. Salut buat Abang Edo


Ada tujuh sirkuit yang bisa dicoba oleh pengunjung. Sirkuit ini sebutan untuk satu putaran rintangan yang harus dilalui. Jadi, dalam satu sirkuit, ada beberapa rintangan yang harus dilalui.
Tapi, buat Edo (8 tahun) dan Desca (9 tahun)-sepupu Edo-cuma boleh mencoba di sirkuit berwarna Yellow dan Green. Kalau Mita (5 tahun) baru boleh di sirkuit Yellow. Jadi, sebelum mencoba sirkuit, lihat dulu di papan petunjuknya, gambaran sirkuit yang akan dilalui seperti apa. Trus, harus disesuaikan juga dengan usia dan tinggi badan. Ada kok ketentuannya di papan. (kemaren sempet motret, tapi keselip entah di mana).

Sirkuit Yellow

Sirkuit Yellow

Sebelum memulai tantangan, peserta di-briefing dulu oleh pemandunya atau patrol guide. Karena tahun lalu pernah ke Tretes Treetop juga, Edo dan Desca sudah paham ketika si om menjelaskan. Mereka juga dilengkapi dengan peralatan, kayak carabiner dan tali temali entah apa namanya, yang melekat pada tubuh.

menyimak

menyimak

Yak, perjalanan pun dimulai.
Berbeda dengan yang dulu, kali ini, Edo keliatan lebih pede saat menjelajah rintangan demi rintangan. Dulu, Edo sempat menangis ketika harus melewati rintangan sebaris bambu dan hanya berpegangan pada seutas tali. Haha…
Lha kalau kemarin, dia berhasil melewatinya. Nggak pake nangis atau teriak-teriak. Gaya bener deh si abang.

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang...

Semangat melalui rintangan demi rintangan ya bang…

Dulu, aku dan suami juga pernah mencoba main di Tretes Treetop bareng anak-anak. Tapi, sekarang, kami cuma jadi penonton. Lha wong aku mesti ngegendong si baby G. Sedangkan si bapak, ikut ngawasi Mita yang seharusnya belum boleh main lantaran tinggi badannya masih kurang.Lho?
Iya, Mita mupeng banget ngeliat si abang Edo dan Mbak Desca bergelantungan di pohon. Mita merengek minta ikutan. Ya sudahlah, sama om om patrol guiede diperbolehkan tapi cuma beberapa rintangan untuk anak-anak. Woow…Mita hebat. Dia berani melewati tantangan demi tantangan meski dengan usaha ekstra dengan badannya yang mungil itu.

Aku berani, loh

Aku berani, loh

Main di Tretes Treetop bisa untuk alternatif liburan keluarga. Mulai usia 8 tahun sampai dewasa, bisa nyoba tantangannya. Serunya, semua aktivitasnya ada di ketinggian 2-20 meter. wedeeww…
Eits. tapi nggak usah takut. Kita udah dilengkapi dengan alat pengaman yang berstandar internasional. Patrol guide nya juga udah berpengalaman. Belum lagi, setiap hari, sebelum dibuka, tim dari Tretes Treetop selalu melakukan pengecekan pada semua media yang dipakai untuk main. Misalnya, tali dan kayunya.

Puas deh main panjat-panjatan dan gelantungan di pohon. Kalau nggak dipanggil oleh operatornya, anak-anak terus aja main sampai malam. Jadi, kita dikasih waktu sekitar 2 jam 30 menit untuk nyobain semua sirkuitnya. Setelah itu, kita di-halo halo pake mikrofon gitu kalau waktu kita sudah hampir habis. Biasanya sih, diingetin 15 menit sebelumnya. Lumayan lama loh dua jam lebih. Tapi, namanya anak-anak, mana pernah cukup. Hehe….

Sebenernya, aku masih penasaran dengan flying fox yang panjangnya 1 kilo. Ada tuh di Tretes Treetop. Kita dianter ke sebuah bukit. Trus, dari bukit itu, meluncurlah dengan flying fox hingga finish di area Tretes Treetop itu. Tapi, mesti mengumpulkan nyali dulu. Soalnya, flying fox yang diklaim terpanjang di Asia Tenggara itu melintasi sungai, jurang, sawah. Huaaah…

Penasaran kaaaannn…? Beneran asyik main di Tretes Treetop. Lokasinya gampang dijangkau, di Jl Raya Trawas. Paling cuma satu jam dari Surabaya. Sekalian ngadem lah. Surabaya panasnya minta ampyuuun. Kalau di Tretes kan sejuuuuk…Apalagi di bawah pepohonan rindang kayak di Tretes Treetop ini.
Oia, untuk biayanya:
Anak-anak: Rp 110.000
Dewasa: Rp 150.000
Paket family (2 dewasa, 2 anak) Rp 410.000
Parkir mobil: Rp 5.000
Tiket masuk: Rp 10.000 per orang

Gita Enam Bulan

Enam bulan lalu, seorang malaikat kecil hadir di keluarga kami. Kami menamainya Athanasia Paragita Candrakamala. Gita, kami memanggilnya, menambah keceriaan dalam keluarga. Kami menyambutnya dengan sukacita. Dia tumbuh sehat, tingkahnya pun menggemaskan. Nggak heran, kalau Gita jadi sasaran cubitan kecil dan ciuman gemas dari seluruh anggota keluarga. Malah, pipinya yang kayak bakpao, sering kugigit gemas. Hihihi…*yang boleh cuma emaknya loh*
Setelah dua bulan saya cuti, agak berat meninggalkan Gita untuk kembali ngantor. Tapi, saya harus menjalaninya. *Semua terasa berat di awal*
Meskipun meninggalkan Gita untuk kerja, saya tetap memberikan ASI eksklusif hingga sekarang di usia 6 bulan. Saya sempat nggak pede bisa sukses ASI eksklusif. Yah, usia udah kepala tiga lebih (nggak ngaku tepatnya), katanya sih produktivitas ASI berkurang. Selain itu, ngurus anak tiga, pasti lebih ribet. Beda kan ya kalau pas anak pertama dan kedua dulu. Belum lagi porsi kerjaan yang lumayan bikin stres. (kerja mana coba yang nggak bikin pusing)?
Tapi, karena niat, ya harus bisa.
Berawal ketika lahiran RSIA Kendangsari Surabaya yang sangat pro ASI, melalui persalinan normal, adek Gita dapat IMD. Meski ASI belum keluar, para suster dan dokternya tetap kasih support. Saya bisa dapat fasilitas room in dengan Adek. Jadi, dia bisa menyusu saya kapan aja dia mau. Otomatis, itu merangsang ASI untuk cepat keluar juga. Puji Tuhan, di usia Gita tiga hari, ASI sudah keluar lancar.
Ketidakpedean kembali melanda ketika harus kembali kerja dari cuti dua bulan. Awalnya, saya masih lancar menyiapkan ASI perahan. Tapi, ketika dedek masuk usia empat bulan, entah kenapa, ASI jadi irit banget keluarnya. Huaaah…sampai stres saya. Bayangin, sejam merah ASI, cuma dapat 100 ml. Biasanya, 30 menit aja sudah 150-200 ml. Cerita soal merah ASI di tempat kerja bisa diintip di sini
Untunglah, ada mama saya yang melihat kondisi itu dengan tenang. (biasanya orang tua malah nyuruh nyuruh kita untuk ngasih tambahan susu formula). Beliau malah menggelontor saya dengan sayur-sayuran, kacang-kacangan, bahkan membuatkan jamu-jamuan alami. *makasih mamaku sayang*
Ya, bisa jadi karena stres pekerjaan kantor, ASI jadi kurang lancar. Setelah mencoba rileksasi, ASI pun kembali lancar. Puji Tuhan. Gita jadi anak sehat dan daya tahan tubuhnya cukup bagus.

Gita lucuuu…masuk usia tiga bulan, dia sudah bisa diajak main, sudah tengkurap-tengkurap, dan nggelundung nggelundung. Hehe…Kedua kakaknya sering berebutan untuk bisa mencuri atensinya. Haha…Mereka berlomba bisa membuat Gita tertawa. Soalnya, kalau ketawa makin gemesiiin…
Oia, kalau kebanyakan ibu yang baru melahirkan, bakal kurang tidur lantaran si baby suka bangun di malam hari. Saya malah suka bangunin Gita kalau malam untuk nenen. Lha kalau malam, Gita boboknya nyenyak banget. Biasanya mulai pukul 21.00-04.00 pagi. Hihi…
Pernah nih, saya ikutan kebablasan tidur juga. Bangun-bangun sekitar pukul 04.00 pagi. Duh, rasanya payudara keras plus cenut-cenut.
Masuk usia enam bulan ini, Gita udah makin pintar. Sudah ngerti, kalau ditinggal sendirian, nangis. Kalau pegang mainan dan diambil, marah. Kalau diajak cilukba, ketawa ngakak. Wkwkwkwk…

Gita sayang, Gita pandai, mmmuuuahhh…

DSC00231