Lagi-Lagi Harus Minum Susu Kedelai

Waduh, apa lagi nih, bintil-bintil merah muncul di sekujur tubuh Edo. ’’Gatal bu…” keluh Edo sambil menggaruk-garuk badannya. Belum lagi, dia batuk dan bersin berkali-kali. Dia bener-bener tersiksa. Kejadian itu dialami Edo setelah aku kasih susu formula sapi.

Sejak usia 1 tahun, Edo sudah lepas ASI. Untuk pendamping, kuberikan sufor sapi. Ternyata…tubuhnya nggak tahan dengan kandungan protein di dalam susu sapi. Akhirnya, Edo dianjurkan untuk minum susu kedelai oleh DSA-nya.

Pernah memasuki usia tiga tahun Edo kucoba dengan sufor sapi lagi. Setelah beberapa hari mengonsumsi, Edo mengalami batuk pilek hebat. Akhirnya, balik lagi ke sufor soya.

Demikian juga pada sang adik. Selepas ASI di usia 2 tahun, Mita kucoba dengan minum sufor sapi. Ternyata si dedek nggak doyan. Bahkan, dimuntahkan. Ow, mungkin nggak cocok rasanya. Akhirnya, kucoba susu sapi UHT. Beberapa kali minum, si dedek mencret-mencret. Lagi-lagi, sama DSA-nya dianjurkan minum susu soya.

Sekarang Edo sudah menginjak usia 7 tahun dan Mita usia 4 tahun. Kalau terus-terusan minum sufor soya, saya mikir-mikir lagi nih. Tahu sendiri kan, sufor soya harganya lebih mahal dibandingkan dengan sufor sapi. Akhirnya, saya coba berlangganan susu kedelai. Eh, ternyata jatuhnya lebih mahal juga. Belum lagi, higienitasnya masih diragukan pula.

Coba deh bikin sendiri susu kedelai. Dua tiga kali saya masih sanggup. Setelah itu, give up deh. Ribetnya itu loh.
#Dasar saya emak nggak sabaran, langsung mutung deh bikin susu kedelai dengan cara manual gitu#

Ya sudahlah, saya putuskan untuk beli sufor soya diselingi susu kedelai cair. Apalagi, sekarang saya lagi hamil, tentu butuh nutrisi tambahan dari kedelai yang kaya kandungan asam folat, vitamin, protein dan lemak nabati.

Sampai suatu hari pas ke rumah teman, dia lagi bikin susu kedelai pakai soy milk maker keluaran Philips. Dengan alat itu, bikin soy milk jadi lebih gampang. Tinggal cemplang-cemplung semua bahan, pencet tombol start, tunggu sekitar 30 menit, dan jadi deh susu kedelai hangat. Yummy…

Tapi, harganya? Hmm…mesti nabung-nabung dulu deh. Syukur-syukur kalau ada yang mau kasih kado soy milk maker itu. *colek bapaknya krucil* yang masih dinas di Jakarta.

Pengen kado ini nih. Sumber foto Philips.com

Pengen kado ini nih. Sumber foto Philips.com

Mupeng banget tahu-tahu besok dapat pengiriman barang dari Jakarta, isinya Philips Soy Maker. Eh, tapi, kirimnya harus pakai JNE lho ya. Barang pasti aman dan sampai dengan selamat.

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Kado yang Aku Mau-nya Mami Ubii

JNE

Baca Buku itu Fun

Books are fun
Books are great
Let’s sit down
with a book today….

Secuplik lagu yang dinyanyikan Barney and Friends itu sangat inspiratif. Di tengah bombardir acara-acara TV dan game di gadget yang seru, masih ada ajakan untuk baca buku bagi anak-anak melalui film animasi Barney and Friends.

Jujur aja, saya pribadi sangat khawatir dengan perilaku anak-anak sekarang yang lebih demen (atau bangga, ya) nenteng gadget ketimbang bawa buku. Belum lagi, di beberapa rumah tangga, mematikan TV ibarat haram hukumnya. Lha wong nyala terus 24 jam.

Dibesarkan di tengah keluarga pendidik, membuat saya lebih akrab dengan buku. Kebiasaan baca buku sudah diterapkan sejak kecil. Bahkan, kalau setiap ulang tahun, hadiah dari papa selalu sama, yaitu buku. Simpel banget ya. Haha…
Bukunya macam-macam, mulai buku cerita anak hingga remaja sesuai usia sih. Hingga buku-buku kepribadian, seperti karangannya Dale Carnegie ketika menginjak SMA.

Saat duduk di SD pun saya sering bertukar buku cerita sama teman-teman. Jadi, lebih hemat. Hihihi…
Entah mengapa, dulu, teman-teman SD sangat addict sama buku. Cuma, teman-teman lebih suka buku cerita, seperti, Lima Sekawan, Malory Towers, St Clare, Detektif Cilik, Trio Detektif. Berasa keren gitu deh kalau baca buku-buku Enid Blyton dan Alfred Hitchcock.

Bahkan, dulu, saya dan teman-teman SD terinspirasi bikin geng lima sekawan. Satu lagi yang nggak terlupakan, kami bikin piknik tengah malam ketika sedang ada acara sekolah dan ke-gap sama guru-guru. Pinginnya kayak siswa siswa Malory Towers gitu deh. *tepok jidat*

Oia, buku yang saya baca kebanyakan dari perpus sekolahnya papa yang memang superlengkap dan update. Benar-benar ngirit ya. (Eh, jangan-jangan itu trik dari papa supaya nggak keluar jatah untuk beliin buku baru, ya).

Masuk SMP, saya tergila-gila sama buku Lupus. Sosok yang ditulis oleh Hilman itu di mataku asyik bangeeet. Makanya, pas masuk SMA, saya gabung di klub reporter pelajar dan punya cita-cita jadi wartawan kelak (dan ternyata bener jadi wartawan). Wkwkwk…

Zaman memang sudah berubah. Kecanggihan teknologi seakan makin memanjakan penggunanya. Demikian juga dengan acara-acara di TV yang kerap meninabobokan pemirsanya.

Mau cari sebuah informasi, tinggal klik mbah Google. Baca buku pun bisa melalui media apa saja. Makin gampang dan praktis. Saya sendiri pernah dapat protes dari Edo, ’’Ibu, kenapa sih kok Edo nggak dibolehin sering-sering mainan iPad? Di iPad kan Edo juga belajar. Trus, kenapa kok nonton TV cuma dua jam sehari?” Haha…*ibuknya sadis, ya…* Mungkin saja saya yang lebay.

Tapi, itu memang komitmen saya untuk tidak membuat anak bergantung pada gadget dan TV. Sebagai gantinya, kegiatan baca buku harus menjadi sebuah habit untuk mereka.

Kenapa? Menurut saya, menurut saya loh ya, cerita dalam buku terangkai dengan kata-kata yang memiliki alur dan mengandung makna. Jadi, paling nggak, anak-anak terbiasa dengan pola pikir yang runtut. Selain itu, dengan membaca, pikiran kita dibiarkan berimajinasi lepas dan tak terbatas.

Nggak cuma itu, alasan saya mengajak anak-anak mencari informasi melalui buku adalah memberikan pelajaran bahwa dalam mengerjakan sesuatu tidak ada yang instan. Butuh sebuah proses. Kita harus mencari bukunya terlebih dulu, membacanya, dan menemukan inti sari dari bacaan tersebut, kemudian baru menuliskan informasi yang telah kita dapatkan. Bukan tinggal klik copy paste seperti yang kerap dijumpai pada anak-anak sekolah sekarang kalau mengerjakan tugas melalui internet. Hihihi…

Oia, ada satu hal lagi yang bikin saya getol menggaungkan baca, baca, dan baca pada anak saya adalah nggak pengen matanya kena radiasi cahaya kalau kebanyakan utak atik gadget dan nonton TV. Menurut sebuah tulisan dari majalah, radiasi sinar yang dipancarkan dari gadget dan TV nggak baik untuk kesehatan mata. Katanya sih, bisa bikin mata cepat rusak sehingga harus pakai kacamata. Oh super big NOOOO…

Eh, si kutu buku bukannya banyak yang berkacamata? Haha…iya lupa. Tapi, kalau bacanya di tempat yang terang bukannya aman ya untuk mata? Entah lah, yang pasti, sampai sekarang, mata kedua anakku masih sehat, demikian juga saya yang memang sangat jarang mantengin TV dan gadget dalam waktu lama.

Trus, gimana supaya habit baca buku itu tertanam pada anak?

Kalau saya sih, lebih suka memberikan contoh langsung ketimbang menyuruh. Misalnya, kebiasaan baca koran di pagi ditiru oleh Edo yang waktu itu belum satu tahun.
Ceritanya di Sini

Di rumah, saya nggak nonton TV atau mainan iPad, tapi baca. Nunggu anak les atau sekolah sambil baca, bukan sambil bbm-an.
Saya juga menyempatkan untuk baca cerita dan mendongeng sebelum ngantor. Pengalaman ini ada
di mari
Oia, selain ke toko buku, saya sering ajak anak-anak ke perpustakaan. Mereka bisa baca sepuasnya. Gretong. Asyik kaaan…

Edo (7 tahun) di Perpus Daerah

Edo (7 tahun) di Perpus Daerah

Mita (2 tahun) ngomel-ngomel sendiri baca buku cerita meskipun belum bisa baca

Mita (2 tahun) ngomel-ngomel sendiri baca buku cerita meskipun belum bisa baca

Edo (1 tahun) baca berita dulu ya...

Edo (1 tahun) baca berita dulu ya…

Opa dan Edo

Opa dan Edo

Tulisan ini diikutkan dalam lomba

Sudah Sewindu Temaniku

Sudah sewindu, kudidekatmu…*copas lagunya Tulus*. Wiks, waktu terasa cepat berlalu. Tak terasa sudah sewindu aku mengarungi bahtera hidup bersama si bapaknya krucil. Usia segitu masih belia banget ya kalau dibandingkan dengan pasutri yang sukses melangsungkan silver wedding anniversary atau bahkan gold. *Semoga kami pun bisa* Amiiin. Tapi, kami tetap sujud syukur atas penyertaan Sang Pemberi Hidup pada pernikahan kami hingga kini sudah menghasilkan dua bocil bonus satu masih di perut. Hehe…

Duo bocil di depan Gereja Pohsarang, Kediri

Duo bocil di depan Gereja Pohsarang, Kediri

Kami sekeluarga masih dilimpahi kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan. Itu sudah lebih dari cukup. Perayaan ultah pernikahan pun kami lakukan secara sederhana. Kami berziarah ke Pohsarang, sebuah desa kecil di Kediri.
Malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul di dalam gua Maria kecil yang sunyi. Ditemani beberapa nyala lilin, doa syukur pun kami panjatkan.

Dalam keheningan di Gua Maria Pohsarang, Kediri

Dalam keheningan di Gua Maria Pohsarang, Kediri

Ada satu permintaan yang kami hunjukkan di malam ulang tahun pernikahan kami, yaitu, ingin segera bisa tinggal bersama. Ya, selama delapan tahun menikah, kami tidak pernah tinggal bersama. Setelah menikah, suami yang bekerja sebagai jurnalis, ditempatkan di Kalimantan Timur. Saya memutuskan untuk menetap di Surabaya saja sambil bekerja.

Lima tahun kemudian, suami dipindahtugas ke Jakarta. Tetap saja saya dan anak-anak tinggal di Surabaya. Udah pewe (posisi wenak) sih di Surabaya. *repot bawa krucil kalau boyongan*

Meski long distance relationship (LDR), komunikasi kami tetap bagus dan intens. Anak-anak pun tetap mengenal dengan baik si bapak yang sebulan sekali pulang ke Surabaya.

Ternyata, LDR tuh seru juga loh. Jarang berantem. Bawaannya kalau di telepon kangen-kangenan mlulu. wkwkwk… Cuma ya gitu, kalau mau curhat or ngegosip tapi masing-masing lagi sibuk, jadi ketunda deh cerita serunya. Hiks..

Balik lagi ke perayaan ultah nikah kami. Setelah ziarah dan menidurkan para bolodewo cilik di penginapan, saya dan suami pun begadang ngobrol ngalor ngidul sampai subuh di depan kamar penginapan. Kami flash back lagi tahun-tahun pertama pernikahan sembari buka-buka album foto berisi perjalanan cinta kami. *suiiit suiiit*

Album foto pemberian sahabat kami, pasutri Jojo-Celi itu sangat memorable. Saat kami melangsungkan pernikahan, mereka berdua tidak bisa menghadirinya karena berada di luar kota. Hari itu juga, ada sebuah paket dari JNE untuk kami. Dikemas dalam kotak rapi, pengiriman yang menggunakan jasa satu hari sampai itu datang tepat waktu.

Ternyata, isinya album foto dengan cover foto pertunangan kami yang diambil secara candid. Aiiih…surprise deh. Entah bagaimana caranya mereka bisa mendapatkannya.

Album fotonya sendiri sangat simpel namun sangat eksklusif. Semenjak itu, album foto tersebut mengawal sekaligus saksi setiap momen spesial yang kami abadikan. Karena ber-background hitam, kami pun bisa bebas menghias foto-foto kenangan itu seindah mungkin.

*Balik ke ’’perayaan’’ hari jadi kami yang remeh temeh, ya.* Eh, ternyata, obrolan santai sambil membuka kenangan indah itu sangat mujarab membangkitkan bara cinta di antara saya dan suami. Jadi tambah cayaaaaank….:)

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway kado terindah-nya Mak Pungky
banner_pungky

Baru Join, Langsung Cinta

Tahun baru, jadi rajin ngeblog. Itulah hebatnya gabung di KEB. Kepancing buat getol nulis, nulis, dan nulis. Gimana nggak, lha wong saban hari mantengin postingan emak-emak KEB yang top markotop semangat ngeblog-nya.

Saya termasuk newbie bingit gabung di KEB. Baru di-approved sama Emak Sary Melati aja tanggal 8 Januari lalu. Hehehe…
Kali pertama ngebaca blog-blog para emak yang super duper asoy ini bikin ngedrop ati. Mau share tulisan di grup KEB jadi maju mundur. Malu maaaak….Ide tulisan masih acak kadul.

Tapi, ya sudahlah, saya beranikan diri. Apalagi, dapet bombardir Emak Nurul Rahmasama komen-komen dari Emak Maureen serta emak-emak lain yang bikin tambah semangat. Para emaknya sangat welcome. Biarpun baru kenal di dunia maya, tapi berasa udah lama deket. Sekarang, jadi makin enjoy pamer tulisan ke blog dan share ke grup KEB. Hehe…

Intip-intip blog para emak di KEB, makin membuka mata, hati, dan pikiran *ciyeeeh* pada sesuatu yang baru. Ternyata banyak ibu rumah tangga maupun wanita karier yang sangat kreatif. Bahkan, prestasi demi prestasi membanggakan berhasil diraih melalui tulisan di blog. Betapa mereka juga mampu mengharmoniskan antara kesibukan pribadi dengan aktivitas ngeblog-nya. Ciamik banget. Itu semua saya dapatkan setelah join di KEB.

Kalau ada event-event di Surabaya, harus gabung nih. Semoga dalam waktu dekat ada ya mak…*ting ting ting kedip kedip*.

Selamat ulang tahun ketiga KEB. Salut buat para board KEB (makpon, makmin, makpuh). Sukses untuk event Arisan Ilmu ke-3 di Bandung. Maju terus KEB. Mmmuaaah…

Ditulis untuk postingan serentak Ultah ke-3 KEB

keb-3-tahun

Ke Bali, Wajib Nonton Barong Batubulan

Antara ngidam *kedip-kedip* dan memenuhi hobi Mita yang suka banget nonton pertunjukan tari, aku memilih Bali sebagai destinasi liburan Natal dan tahun baru kemarin. Apalagi, saya dan suami sudah dapat ACC cuti dari perusahaan.
Tiket pesawat, sewa kendaraan, dan hotel di Bali sudah fix, kami ber-9 pun berangkat pada 25 Desember pagi. Setiba di Bandara Ngurah Rai, kami melanjutkan perjalanan ke Batubulan untuk nonton pertunjukan tari Barong.
Untuk kali pertama kami nonton tari Barong di Batubulan. Pertunjukan dimulai pukul 09.30 WITA. Saya kira tempatnya di hall luas, ternyata seperti rumah biasa yang terasnya dipakai untuk show. Tapi, tempat duduk yang dibuat bertingkat dapat menampung sekitar 500-750 orang.
Sebelum memasuki tempat show yang semi-terbuka di bagian sampingnya, kami sudah disambut ramah oleh petugas penerima tamu. Mereka mengenakan baju khas Bali. Para tamu juga bisa foto bareng para gadis Bali yang nantinya akan diabadikan dalam bentuk suvenir kaus dan piring. Tentunya harus beli dong suvenirnya.
Oia, di pintu masuk, para tamu disodori dengan selembar kertas berisi sinopsis cerita tari barong dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris. Jadi, kita nggak celingak celinguk bengong pas nonton tarian yang dikemas dalam bentuk cerita berbahasa Bali pastinya.
Wih, ternyata penontonnya full. Padahal, kami masuk ke venue sekitar 15 menit sebelum mulai. Orang-orang bule pun terlihat interest. Bahkan, banyak yang memilih lesehan ketimbang duduk di tribun, termasuk Mita ditemani opanya.
Gamelan khas Bali mengalun mengawali pertunjukan. ’’Jenggreng…ceng ceng ceng…gung gung gung…’’ gitu kata Mita kalau disuruh menirukan gamelan Bali. Hehe…
Sosok Barong pun keluar dari backstage yang dikonsep semi-terbuka. Dibarengi munculnya tokoh kera. Ketika Barong sedang menari, si kera malah asik nongkrongdi pojokan dekat pemain gamelan. Karena tahu sedang difoto oleh penonton, si kera action sembari mengacungkan dua jarinya piiiss…hehe…
Kemudian, muncul para penari dengan gerakan khas, mata melotot, lirik kanan kiri sambil menjentikkan jari jemari lentik diiringi gamelan Bali. Makin bikin Mita terpesona.

Si kera lagi asik menggigiti rambut Barong

Si kera lagi asik menggigiti rambut Barong

Pertunjukan yang berlangsung satu jam itu terasa singkat. Selain mengusung unsur-unsur mitologis, terselip juga guyonan-guyonan segar. Seperti ketika beberapa penari laki-laki sedang berdialog. Salah seorang mengaku tidak takut pada setan. Padahal, ketika di belakangnya muncul sosok rangda (setan), dia pun terbirit-birit. Sekilas, banyolannya mirip dari Asmuni dkk di Srimulat. Hehe…
Dari alur ceritanya, banyak pesan yang tersirat dalam tarian Barong itu. Salah satunya, saat pertarungan antara Barong dan Rangda tidak ada yang menang atau kalah. Sama seperti kebajikan dan kebatilan (kejahatan) yang selalu abadi di bumi ini.

sebelah kiri tempat penabuh gamelan. Penonton meluber sampai lesehan

sebelah kiri tempat penabuh gamelan. Penonton meluber sampai lesehan


Garis besar ceritanya seperti ini (dari berbagai sumber)
Babak I
Dua orang penari muncul. Mereka adalah pengikut Rangda dan mencari pengikut Dewi Kunti yang sedang dalam perjalanan menemui patihnya.
Babak II
Para pengikut Dewi Kunti tiba. Saat itu pula, salah seorang pengikut Rangda berubah menjadi setan lalu memasukan roh jahat kepada pengikut Dewi Kunti sehingga menyebabkan mereka menjadi marah.
Babak III
Muncul Dewi Kunti dan anaknya Sahadewa. Ia pun berjanji pada Rangda untuk menyerahkan Sahadewa sebagai korban. Sebenarnya Dewi Kunti tidak sampai hati mengorbankan anaknya pada Rangda. Tetapi setan yang menyebabkan Dewi Kunti menjadi marah dan berniat mengorbankan anaknya serta memerintahkan Patihnya untuk membuang Sahadewa ke dalam hutan. Patihnya juga tak luput dari kerasukan roh jahat, sehingga Sahadewa diikat di muka istana Rangda.
Babak IV
Turunlah Dewa Siwa, lalu memberikan keabadian kepada Sahadewa dan keabadian itu tidak diketahui oleh Rangda. Kemudian datanglah Rangda, lalu dia membunuh Sahadewa, tapi Sahadewa tidak mati karena kekebalan yang dianugerahkan oleh Dewa Siwa. Rangda pun menyerah lalu memohon untuk diselamatkan supaya dapat masuk surga. Perintah itu pun dipenuhi oleh Sahadewa
Babak V
Kalika adalah pengikut Rangda. Dia sedang menghadap Sahadewa. Penolakan ini menimbulkan perkelahian, dan kalika berubah menjadi Babi Hutan Sahadewa pun memenangkan perkelahian tersebut, kemudian Kalika berubah menjadi Burung tetapi tetap bisa dikalahkan. Akhirnya, Kalika berubah lagi menjadi Rangda. Oleh karena saktinya Rangda ini maka Sahadewa tidak dapat membunuhnya dan akhirnya Sahadewa berubah menjadi Barong.

Kalau ke Bali, kurang lengkap tanpa nonton pertunjukan Barong ini. Unik dan cuma ada di Bali. Oia, berbagi info aja, supaya nggak kehabisan, mending booking dulu melalui travel agent. Saya sih kemarin pakai Athana tour and travel dapat harga 65 rebu. Kalau dateng langsung bisa sampai 80 ribu.

Catatan Buat Ortu, Agar Anak Suka Jamu

Anak sakit tentu bikin panik. Sehari setelah kami pergi berlibur, Mita, anak keduaku sakit. Dia mengeluh perutnya sakit. Aku pikir cuma kebelet pup. Namun, sorenya badannya malah panas. Haduuuh…Berbagai usaha saya lakukan, antara lain, mengolesi perutnya dengan minyak dan mengompres pakai air hangat. Tapi, masih saja dia melilit kesakitan. Akhirnya, mama mengambil sedikit kunyit dan diparut. Kemudian diperas dan dicampur madu. Mita menenggak perasan kunyit dan madu itu sekitar lima sendok makan. Berangsur-angsur, panasnya turun dan sudah nggak mengeluh sakit perut lagi. Sekitar 10 jam kemudian, mama memberinya perasan kunyit dan madu lagi. Puji Tuhan, keesokan harinya Mita sudah baikan dan nggak perlu dibawa ke dokter.

Beberapa hari kemudian, gantian Edo, anak pertamaku yang panas tinggi. Dikasih obat penurun panas nggak mempan. Ramuan dari kunyit dan madu pun diberikan. Ditambah lagi dengan menggosok badan Edo pakai minyak kayu putih, bawang merah, dan jeruk nipis. Hasilnya, cespleng. Suhu tubuh Edo pun turun dan kembali normal.

Saya sekeluarga memang lebih sreg mengonsumsi ramuan alami untuk membantu meredakan sakit atau menjaga imun tubuh. Ada juga satu minuman jamu yang rutin kami konsumsi, yaitu, temulawak. Ayah saya yang dari dulu meraciknya. Simpel banget, kok. Ambil beberapa siung temulawak, iris tipis-tipis kemudian direbus sampai mendidih. Air rebusan itu biasanya dicampur dengan gula aren. Diminum hangat-hangat, segeeeer…
Edo dan Mita pun ketagihan minum temulawak. Sejak rutin mengonsumsi temulawak, napsu makan mereka jadi lebih bagus. Selain itu, daya tahan tubuhnya meningkat.

Makannya banyaaak

Makannya banyaaak

Banyak Anak Tidak Suka Jamu

Sayangnya, banyak anak tidak suka atau tidak terbiasa minum jamu. Kenapa?
Pertama, banyak produk makanan dan minuman instan di pasaran dengan rasa yang yummy.
Kedua, bombardir iklan produk-produk makanan dan minuman yang bikin ngiler. Plus, didukung artis-artis yang ehm, cute sebagai bintang iklannya.
Ketiga, jamu alami bikinnya penuh perjuangan. Repot dan kadang bahannya susah didapat. Kalau makanan dan minuman instan di supermarket kan tinggal lheeep…langsung konsumsi.

Jadi, harus gimana?
’’Sebenarnya, untuk memulai kebiasaan minum jamu tak harus yang pahit-pahit dulu. Beras kencur, wedang jahe, atau sari temulawak, juga bisa diminum terutama untuk anak-anak,” kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani (April, 2015, kompas.com).
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itu, diharapkan kelak saat beranjak dewasa, mereka tak canggung lagi menenggak jamu-jamu alami. Naaaah… catatan buat orang tua nih (nunjuk diri sendiri juga) supaya nggak males bikinin jamu alami untuk anak-anak di rumah. Eits, jangan alasan susah cari bahannya loh. Kan, bahan-bahan jamu bisa ditanam sendiri di pekarangan rumah, sekalipun lahannya sempit.

Di halaman depan rumah bisa ditanami TOGA

Di halaman depan rumah bisa ditanami TOGA

Oia, cara penyajiannya juga penting. Biar anak-anak suka, harus menarik wadahnya, misalnya, pakai gelas bergambar kartun kesukaannya.

Wadah lucu bikin anak tambah suka

Wadah lucu bikin anak tambah suka

Trus, satu lagi, colek artis-artis cantik dan ganteng supaya mau jadi brand ambassador jamu alami. Siapa ya? Hmmm…
Kenapa sih kok Harus Dilestarikan?
Pertama, minum jamu sebagai warisan budaya Indonesia perlu dilestarikan karena merupakan aset bangsa. Jamu yang berasal dari ramuan herbal dan tradisional terbukti secara empiris berkhasiat bagi kesehatan tubuh manusia. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy A Sparringa pada acara Minum Jamu Bersama Badan POM di Jakarta, Jumat (27/2). (Kompas siang 27 Februari 2015).

Indonesia sendiri memiliki varietas tanaman berkhasiat nomor dua terbanyak di dunia. (21 Desember 2014, liputan6.com). Dengan banyaknya jenis tanaman yang bisa dijadikan bahan baku jamu, Indonesia sangat berpotensi mengembangkan obat-obatan tradisional hingga menjadi identitas bangsa.

Jadi teringat waktu ke China setahun yang lalu. Saya dan rombongan diajak ke sebuah toko obat-obatan herbal. Para sinse di toko itu juga mengecek kondisi kesehatan kami untuk kemudian diberikan ramuan-ramuan herbal untuk mengobati penyakit si pengunjung.
Saya pun membayangkan Indonesia bisa seperti China. Jadi destinasi wisata medis dengan mengolah tanaman obat-obatan menjadi ramuan jamu khas Indonesia. JAMU INDONESIA GO INTERNATIONAL

Kedua, menjadikan minum jamu sebagai kebiasaan akan membantu usaha kecil menengah dan industri rumahan jamu. Dengan demikian, jamu bisa menjadi solusi untuk membantu perekonomian keluarga dengan pemberdayaan perempuan. Hal itu dikatakan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani (kompas.com 3 April 2015).

Ada beberapa ibu rumah tangga yang mendapatkan penghasilan tambahan dari berjualan jamu racikannya. Salah satunya kawan saya, Vivi Aprilia. Awalnya, dia kerap menyuguhkan jamu kunyit asam, sinom, atau beras kencur kepada para tamu yang bertandang ke rumahnya. Ternyata banyak yang suka. Akhirnya, Vivi mencoba menjual jamu itu dalam kemasan botol 400 ml dan 1.500 ml. Eh, kok laris manis. Karena itu, dia mulai serius menekuni bisnis minuman jamu ini sejak tiga tahun lalu.Konsumen pun tak hanya dari dalam Kota Surabaya tapi sampai luar kota bahkan luar pulau.

Sumber: Vivi Aprilia

Sumber: Vivi Aprilia

Tak mau berhenti di situ saja, Vivi mengembangkan beberapa varian jamu, yaitu, pahitan, cabe puyang, dan suruh kunci. Omsetnya sekarang sudah mencapai Rp 6 juta per bulan, loh.
Hayooo…siapa yang mau mengikuti jejaknya? Melestarikan jamu sekaligus jadi wirausaha. So, mu jamuu…yuk biasakan minum jamu.

Daftar pustaka:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection

http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal