Cinta Keluarga Bermula di CitraRaya Tangerang

Bagi sebagian orang yang berduit, beli sebuah hunian tak perlu mempertimbangkan banyak hal. Tapi, bagi saya yang punya gaji pas pas-an, mengeluarkan uang buat sebuah rumah harus berpikir ribuan kali. Hal utama yang jadi pertimbangan bagi saya sebelum membeli hunian yaitu harga. Memang, kita bisa utang ke bank dengan KPR/KPA, tapi harus disesuaikan dengan pendapatan juga, kan.
Faktor lainnya? Lokasi. Betapa banyak waktu yang terbuang, semangat yang tergerus, dan tenaga yang terkuras saat kita harus berlama-lama di perjalanan dari rumah ke lokasi beraktivitas. Selain itu, waktu bersama keluarga pun akan berkurang. Padahal, Cinta bermula dari rumah (Bunda Teresa).
Pertimbangan berikutnya, adalah fasilitas yang dibangun di dalam kawasan hunian. Maklum, BBM mahal. Kalau di kompleks perumahan sudah tersedia pasar, supermarket, sekolah, tempat hiburan buat keluarga, tak perlu ke luar kompleks. Hemat ongkos bensin.
Selain itu, track record pengembangnya harus dicek secara detail. Pengembang memegang peran utama dalam mengelola hunian yang bakal kita tempati. Dengan track record baik, akan tercipta kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya.
Salah satu pengembang yang sangat saya kagumi adalah Ciputra Group. Bersama Dr Ir Ciputra sebagai presiden komisaris Ciputra Group, semua proyek hunian yang dibangun menuai kesuksesan. Ada wisdom, integrity, dan innovation yang merupakan rahasia di balik majunya properti di bawah bendera Ciputra Group.
ciputra-01
Hunian yang ditawarkan oleh Ciputra Group senantiasa memperhatikan lokasi yang strategis serta lingkungan yang nyaman untuk penghuni. Kita lihat salah satunya di Tangerang dengan CitraRaya sebagai masterpiece-nya. Satu-satunya perumahan di Tangerang yang berkonsep kota mandiri ini memiliki luas pengembangan sebesar 2.760 ha. Karena pertumbuhannya yang pesat membuat CitraRaya sebagai satu regional and business center kuat di Cikupa, Tangerang. Ditambah lagi dengan multiakses terutama ke tol Jakarta-Tangerang.
Dalam pembangunannya yang luar biasa itu, Ciputra Group tetap memperhatikan aspek green living. Namun, embel-embel properti hijau itu tak sekadar klaim. Mereka benar-benar ingin mewujudkannya di perumahan CitraRaya Tangerang.

Kota Mandiri

Kota Mandiri

Pengembangan tersebut meliputi aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Ketiganya itu yang menjadi inti pengembangan di CitraRaya Tangerang dan kemudian dikemas secara utuh dalam konsep eco culture.
Eco culture ini menjadi basis utama bagi pengembang untuk mengajak warganya mengubah gaya hidup sehari-hari, didukung oleh ketersediaan berbagai fasilitas.

Membangun Jalur Sepeda
Kualitas udara di perkotaan, seperti Tangerang, sangat dipengaruhi oleh emisi gas pencemar dari kendaraan bermotor. Salah satu solusinya adalah dengan bersepeda. Sebagai bentuk dukungan bagi para cyclist, dibangun jalur sepeda.

Bersepeda dengan aman

Bersepeda dengan aman

Pengelolaan Sampah yang Tepat
Jika tidak pintar mengelolanya, sampah bisa jadi beban bagi sebuah hunian. Dampaknya, penghuni merasa tak nyaman, demikian juga masyarakat sekitar bisa terdampak. Namun, CitraRaya Tangerang mengelola sampah dengan tepat. Mereka melakukan pemilahan sampai organik dan anorganik hingga pengolahan sampah kembali dengan dijadikan kompos dan biogas.
Citra Raya memiliki fasilitas instalasi daur ulang untuk mengelola sampah. Kompos untuk pemupukan jalur hijau dan sebagian dijual. Sementara biogas menjadi keperluan sumber energi mesin kompos.
Sesuai dengan semangat untuk menularkan gaya hidup yang ramah lingkungan, pengembang juga mengedukasi siswa dari sekolah sekitar kawasan hunian untuk melakukan daur ulang. Hal itu bisa membiasakan siswa memiliki wawasan ramah lingkungan sejak dini.

Ajarkan Wawasan Lingkungan Sejak Dini

Ajarkan Wawasan Lingkungan Sejak Dini

Implementasi pada Desain Rumah
Dari sisi desain rumah, dilihat berdasarkan analisis ekologis untuk mengoptimalkan rumah ramah lingkungan. Wujudnya antara lain, mendesain rumah sesuai dengan orientasinya, serta menentukan ukuran jendela yang tepat agar dapat mengoptimalkan ventilasi udara dan menghemat energi.
Pendekatan desain selalu memberi ventilasi alam di seluruh ruangan. Orientasi rumah diperhatikan agartidak boros AC, tidak ada exposure berlebihan dari matahari. CitraRaya menyesuaikan desain hunian berdasarkan kebutuhan, bukan dengan satu desain saja. Tak hanya itu, material yang digunakan untuk membangun hunian dibuat ramah lingkungan.

Lagoon Ville, salah satu tipe rumah di CitraRaya

Lagoon Ville, salah satu tipe rumah di CitraRaya

Didukung Teknologi untuk Hemat Energi
CitraRaya juga sangat concern dalam menata lingkungan. Misalnya, lampu jalan menggunakan lampu LED yang lebih hemat energi. Untuk mendukung pengelolaan lingkungan, digunakan teknologi khusus. Misalnya, untuk penghematan air, memakai sanitary ware tipe eco-friendly serta bio treated septic tank supaya air yang keluar dari septic tank tidak mencemari lingkungan.
Untuk konservasi air, CitraRaya memiliki water treatment plant. Jadi, kawasan ini memiliki persediaan air mandiri, tidak mengandalkan PAM. Air dimanfaatkan dari lingkungan yang didukung oleh lima danau buatan besar sebagai sumber air, sekaligus pengendalian banjir.

Lampu LED lebih hemat

Lampu LED lebih hemat

Fasilitas Lengkap
Konsep properti hijau pun bisa dirasakan secara menyeluruh pada proyek-proyek fasilitas yang dibangun oleh CitraRaya. Mulai rumah sakit sampai theme park ada.

Ciputra Hospital adalah rumah sakit umum swasta pertama dari Grup Ciputra. Rumah sakit dengan konsep modern, bersih dan hijau ini hadir untuk semua kebutuhan kesehatan.

Didukung dengan tenaga profesional dan teknologi terbaru

Didukung dengan tenaga profesional dan teknologi terbaru

World of Wonders merupakan Theme Park pertama di Tangerang yang didirikan pada 2012, penggabungan antara aktivitas edukasi dan rekreasi ini pastinya merupakan tempat bermain dan belajar yang sempurna bagi anak dan keluarga Anda.

Theme Park

Theme Park

Water World CitraRaya menjadi tujuan wisata air yang sempurna untuk dikunjungi oleh Anda dan keluarga. Dengan banyak wahana air seru yang menyenangkan.
Water-Worldv2

Armada bus Trans CitraRaya hadir untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan transportasi bagi penghuni dengan banyak rute, mulai Jakarta, Tangerang, Bandung, dan masih banyak lagi.

Transportasi Mudah dan Hemat

Transportasi Mudah dan Hemat

Kini, di CitraRaya Tangerang telah berdiri lebih dari 42 cluster perumahan dan 1.800 unit komersial, dengan jumlah penduduk yang melebihi 60.000 kepala keluarga. Bagaimana dengan Anda? Jadilah bagian dari CitraRaya Tangerang sekarang juga.

Foto-foto: CitraRaya

Badge Writing Competition CitraRaya

Ini Pompa ASI, Bukan Hairdryer

gemeeesss

gemeeesss

Setelah dua bulan masa cuti melahirkan terlewati, saya pun mulai masuk kerja. Ayo kerja, kerja, kerja. Tapi kalau saya, slogannya, kerja, merah asi, kerja lagi. Hehe…

Segudang manfaat ASI yang membuat saya bertekad untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi saya meski bekerja. Ya, selain sehat, juga hemat.

Jadinya, saat bekerja, saya harus membawa banyak perintilan. Ada tas kerja, bekal makanan, dan cooler bag lengkap dengan pemompa ASI, botol penyimpan ASIP, plus ice gel.

Sebagai awak media cetak, jam kerja saya mulai siang hingga malam dengan jadwal istirahat fleksibel. Saya pun leluasa mengatur waktu memompa ASI. Yang penting, kerjaan kelar nggak melewati deadline.

Cuma sayang, di kantor saya nggak ada tempat khusus untuk laktasi. Jadinya, saya mesti rela berdiri sekitar 20-30 menit untuk memeras ASI di toilet. Betul, di toilet. Nggak ada pilihan lagi. Pernah nih saya mencoba di sebuah lorong yang menghubungkan dua ruangan. Memang tertutup, tapi, kok jadi serem ya karena jauh dari ’’peradaban’’. Akhirnya, saya memutuskan untuk memompa di toilet saja.

Beruntung, toilet di kantor saya cukup bersih dengan bathroom yang terpisah dengan WC dan ruang washtable. Saya biasanya memompa di bathroom. Diawali dengan mandi di bawah pancuran air hangat biar rileks (kalau sore). Kemudian baru memompa ASI sambil berdiri. Karena pakai alat pompa manual, kadang kerasa juga pegelnya di tangan. Hehe… Eh, tapi langsung puas dengan hasil perahan.

Teman-teman kantor sudah paham sih, kalau salah satu bathroom terkunci dalam waktu agak lama, udah pasti saya ’’penghuninya’’. Tapi, ada juga yang masih belum tahu dan malah mengira ada hantu di dalam bathroom itu. Biasanya kan di dalam bathroom, orang mandi, bunyi kucuran air. Lha, kalau saya yang masuk untuk memerah ASI, yang terdengar bunyi shhh…shhh…

Saya juga menggunakan pompa electric. Kalau pas pakai pompa electric, saya biasanya memerah di ruang washtable karena ada colokan listrik. Suatu saat, seorang teman yang masih bujang kaget melihatku menyelipkan alat pompa di balik baju. Dia menatapku heran. ’’Mbak lagi ngapain?” tanyanya.
’’Aku lagi mompa ASI,” kataku agak kesel. Masa gitu kok nggak tahu?
’’Oh, saya kira itu hairdryer, kok diselipin ke baju?” Huaaah… Iya juga sih, pompa electric saya suaranya memang mirip hairdryer.

Eh, tapi, saya pernah loh mengalami stres lantaran kerjaan menumpuk. ASI pun seperti mampet, nggak lancar. Makanya, selama bekerja, saya harus pinter mengelola emosi.

Setelah memompa, saya simpan ASIP (ASI perahan) dalam lemari es yang tersedia di ruang kantor. Sebelumnya, lemari es di kantor saya cuma satu pintu dan butut. Bahkan, kadang, ASIP tersimpan di kulkas bercampur makanan dan minuman milik teman lain. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa semoga ASIP saya masih bagus. Lha kok, selang dua bulan, kulkas lama diganti dengan kulkas baru dua pintu. ASIP ku pun bisa tersimpan dengan baik di freezer, begitu juga ice gel-ku.

Saya pun bisa membawa pulang ASIP dalam cooler bag dengan terjaga sampai rumah masih beku. Saat ditinggal, mama lah yang menjaga anak saya. Beruntung mama telaten memberikan ASIP pada cucunya dengan baik dan benar. Doakan saya sukses memberikan ASI eksklusif pada anak ketiga ini.

Ole-oleh buat dedek bayi

Ole-oleh buat dedek bayi

Oia, tulisan ini diikutkan dalam lomba. Linknya di:
http://pas2015.ucontest.info/detail/image/21901#_=_

Bantu vote ya…makasih.

Meski Non Muslim, Lebih Nyaman Ikut Tabungan Syariah

Saya baru mengenal produk tabungan syariah sekitar satu tahun lalu. Waktu itu, saya mencari tabungan yang tidak ada biaya administrasinya. Jujur saja, saya suka kesel kalau ngelihat di buku tabungan bank konvensional, setiap bulan biaya administrasinya bisa sampai 15 ribu rupiah. Lha coba kalau dikali satu tahun.
Sampai suatu ketika saya buka tabungan untuk di sulung, sekalian deh saya konsultasi dengan customer service di bank yang bersangkutan itu. Saya disarankan untuk membuka tabungan syariah. Kenapa? Karena tidak ada biaya administrasi. Nah, tabungan inilah yang saya cari. *simpel banget ya*

Pada prinsipnya, saya memang cuma mau menyisihkan uang untuk tabungan. Tanpa bunga pun nggak masalah. Toh, duit itu nantinya hanya untuk memenuhi kebutuhan yang mendadak atau mendesak.

Eh, tapi kan saya non Muslim. Apa bisa saya buka Tabungan Syariah?
Selama ini, saya pikir, menabung di Bank Syariah hanya untuk umat Muslim. Ternyata dugaan saya keliru. Ya, tabungan syariah terbuka untuk semua kalangan.
Akhirnya, saya buka tabungan syariah di CIMB Niaga. Prosedurnya mudah. Selain itu, fitur-fiturnya sama kok dengan tabungan konvensional lain, seperti, pemakaian ATM, transfer antar bank maupun lain bank, bahkan. Setelah hampir setengah tahun menabung di bank syariah, saya mulai merasakan manfaatnya. Saya merasa lebih aman menabung tanpa dikenakan biaya administrasi.

Ini nih tabungan syariahku

Ini nih tabungan syariahku

Karena jumlahnya sudah lebih dari 10 juta, saya ditawarkan untuk membuka deposito berjangka. Tentunya juga berprinsip syariah.

Melalui Deposito Syariah yang saya ikuti di CIMB Clicks, berdasarkan prinsip Mudharabah Muthlaqah. Jadi, kita mempercayakan CIMB Niaga Syariah (mudharib) untuk mengelola dana tersebut. Keuntungan untuk nasabah? Kita bisa menikmati nisbah atau bagi hasil dengan jumlah yang menarik. Minimal pembukaan mulai Rp 8 juta. Lumayan ringan kan.
Kita juga bisa memilih jangka waktu yang fleksibel, 1, 3, 6, dan 12 bulan.

Puji Tuhan, setelah menabung lebih dari satu tahun di tabungan syariah, saldo terus meningkat. Nah, saya aja yang non Muslim, lebih nyaman ikut Tabungan Syariah. Bagaimana dengan kamu?

Horeee...saldonya hmmm...

Horeee…saldonya hmmm…

Saya juga makin paham mengenai keuangan syariah setelah November 2014 lalu, meliput acara Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF). (dimuat di Jawa Pos 7 November 2014)

Tambah Ilmu

Tambah Ilmu

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo yang hadir di acara tersebut sangat mengapresiasi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. ”Pertumbuhannya sangat bagus meskipun memang hingga kini share di dalam negeri baru 5 persen. Itu adalah tantangan bagi kami semua bagaimana caranya agar bisa meningkat,” katanya.
Agus menambahkan, kerja sama dengan lembaga pendidikan, seperti, pesantren diharapkan dapat meningkatkan pengembangan ekonomi syariah. Namun, selama ini belum banyak yang berfokus pada pembentukan institusi yang mandiri secara ekonomi untuk mampu mengembangkan keuangan syariah. ’’Karena itu, kami akan mulai memberikan edukasi tentang pengembangan ekonomi syariah,’’ tuturnya.

Masih dalam rangkaian ISEF, diadakan juga seminar nasional bertema Indonesia: Kiblat Baru Keuangan Syariah Dunia. Salah seorang narasumbernya yaitu pakar ekonomi syariah Dr M Syafii Antonio MEc mengungkapkan bahwa krisis ekonomi dunia yang terjadi beberapa kali selama abad 21, memperlihatkan pada seluruh umat manusia bahwa ada kekeliruan pada sistem ekonomi konvensional. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan prinsip syariah.

Beliau juga menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi syariah di Indonesia cukup pesat. Untuk lebih meningkatkan lagi, perkembangan industri keuangan syariah harus dibarengi dengan adanya sosialisasi yang berkesinambungan. ’’Bagaimana dari pemerintah dan lembaga keuangan bisa melakukan promosi yang efektif dan tidak terlalu mahal untuk menyampaikan edukasi pada masyarakat mengenai ekonomi syariah ini,” kata Ketua STEI Tazkia ini.

Dengan segala keunggulan dari perekonomian syariah, mari kita ikut mendukungnya.

<a href=”http://

iB Blogger Competition

“>Aku

Lahiran Anak Ketiga yang Aduhai

Nggak terasa, Adek Gita sudah gedeee…horeee…
Teringat empat bulan lalu. Gini ceritanya:

Berbeda dengan persalinan anak pertama dan kedua, jelang persalinan untuk anak ketiga ini, saya lebih tenang. Padahal, mendekati hari H, kerjaan di kantor justru makin menumpuk. Pulang sampai tengah malam itu mah udah biasa. Malah, hari H lahiran itu, saya juga rencana mau masuk kantor. *eh kok malah curcol…hihihi*
Jadi, ceritanya, lahiran anak ketigaku maju seminggu dari HPL.
Minggu itu, suami udah mau balik ke Jakarta (kami kan LDR-an, saya di Surabaya, suami di Jakarta). Taksi udah siap mengantarkannya ke bandara. Tapi, perut saya udah mules mules dan muncul tanda-tanda mau lahiran. Ya sudah, dia pun batalin pesawatnya dan langsung anter saya ke rumah sakit.

Tapi, sebelumnya, mama nyiapin telur rebus, roti, madu, dan susu. Aku dipaksa untuk menelan itu semua. Kata mama, orang bersalin harus kuat. *mamaku is the best pokoknya*.

Masuk ke kamar bersalin pukul 06.15 pagi. Rasa mulas makin terasa. Aku masih bisa neleponin teman-teman kantor, ngasih tahu kalau hari itu nggak bisa ngantor. *maapin saya*. Eh, masih bisa juga ber haha hihi di sosmed ditemenin suami. Beberapa menit kemudian, suster penjaga ngasih kabar kalau dokter yang harusnya menangani saya bersalin lha kok lagi dinas luar negeri. Hiyaaah…apa-apaan iniiii…saya langsung ngedrop. Pasalnya, dua anak saya sebelumnya pakai dokter itu dan sukses melahirkan secara normal. Pas hamil ketiga ini juga ditangani sama beliau.

Duh, gimana dong? Tiap 15 menit si dedek di perut sudah makin mendesak pengen keluar. Mulesnya udah nggak tahan. Masih ditambah kebingungan harus menentukan alternatif dokter SPOG. Melalui SMS, dokter SPOG saya menyarankan untuk memilih dokter SPOG yang praktik hari itu. Karena, selain senior, pak dokternya telaten. Ya sudah, saya pun pasrah dengan dokter SPOG yang disarankan itu.

Rasa mules bertambah kerap. Tapi, para suster yang membantu persalinan, benar-benar membuat saya rileks. Duh, saya jadi teringat lagi pada wajah dan ucapan mereka yang menyejukkan hati. Tarik napas, buang, tarik napas, buang. Dan saya pun rileks.

Saya ikut melantunkan doa-doa bersama suami yang terus menemani di sampingku.
Pukul 07.00. Kenapa pak dokternya belum muncul, yak. Rasanya sudah adem panas menahan si dedek supaya jangan keluar dulu. 10 menit kemudian, pak dokter pun muncul. Mulesnya udah mulai ubun-ubun sampai ujung kaki rasanya.
’’Satu, dua, tiga, ayo mengejan,” para suster dan pak dokter member semangat pada saya. Tapi, saya memang ibu yang oon banget. *buka aib diri sendiri* Udah pernah melahirkan dua anak, lha kok lupa cara mengejan. Ini juga gegara kurangnya persiapan bersalin. Dan, gagal lah saya di babak pertama itu.
Sekali lagi ya dicoba. Lupakan teori. Satu, dua, tiga. Saya pun mengejan dengan semua kekuatan yang tersisa. Dan, pluk (kayaknya gitu deh rasanya atau bunyinya yah) si dedek pun menyapa dunia. Hallo duniaaa….Saya melihat jam di dinding pukul 07.40.

Gita langsung dapat IMD. Terima kasih ya Tuhan. Beribu ribu ucapan syukur saya panjatkan. Suami pun tak tertahankan meluapkan kegembiraannya dengan memanjatkan doa-doa di telinga Gita dan update status neleponin papa-mama di rumah.
Papa-mama yang masih bersiap-siap berangkat ke rumah sakit kaget juga. Kok cepet? Mereka memperkirakan masih sekitar pukul 09.00 lahirannya, lha kok udah keduluan keluar si dedek. Hehe…

Puji Tuhan, persalinan anak ketiga saya berlangsung normal dan lancar. EdoMita punya adek. Horeee…
Terima kasih suster dan para dokter RSIA Kendangsari