Merekam

Memori anak kecil dalam merekam sesuatu di sekelilingnya memang patut diacungi jempol. Karena itu, hati-hati ya dalam bertingkah laku kalau batita atau balita Anda ada di dekat Anda.
Ceritanya, Mita lagi main kartu baca. Sampailah pada tulisan: SEDIH. Dia mencoba meniru raut muka sedih. Tapi, Edo meledeknya, ”Itu bukan sedih, adek, tapi marah.” Bisa jadi nggak terima dengan ledekan abangnya, Mita bilang, ”Kalau marah tuh ini.” sambil menunjukkan kartu bertuliskan: MARAH. ”Gini loh kalau marah,” katanya sambil berkacak pinggang. ”Kayak abang,” lanjutnya. Whuahaha….aku yang dengar kata-kata spontan yang keluar dari bibir mungil bocah kriwul itu ngakak nggak brenti-brenti.
Si abang nih kalau marah memang gitu. Berkacak pinggang. Abang yang diledek langsung tersenyum kecut. Hahaha…
”Abang kalau marah gitu ya dek?” tanyaku.
”Iya, gini. wei wei wei,” jawab Mita seraya berkacak pinggang dan jari telunjuknya diayun-ayukan sambil teriak-teriak.
Hahaha….
”Kalau ibu marah, gimana dek?” tanya abang.
”Hayo Edo, mulutnya dijaga ya,” jawab Mita sambil menuding bibir abangnya. Wiks…langsung nyadar. Haha…
”Kalau oma marah?” tanyaku.
”Edo, yang bener kalau main,” jawab Mita.
”Kalau opa marah?” tanyaku lagi.
”Edo, tak slentik loh kamu,” ujar Mita lugas. (slentik artinya menjentikkan jari di telinga). Bwahahaha…

Seketika itu, aku, oma, dan opa langsung berubah haluan. Sekarang lebih menahan amarah, nahan emosi. Itung-itung belajar jadi orang sabar.
Pfffh….

Iklan