BeraniLebih Menomorduakan Pekerjaan, Keluarga Bahagia

#BeraniLebih Menomorduakan Pekerjaan

Slogan kerja, kerja, kerja, tak berlaku buatku. Kalau aku, mengurus anak, mengurus anak, baru kerja. Pekerjaan di bidang media terlalu menyita waktuku bersama keluarga. Sehari, untuk pekerjaan, waktu tersita 10-15 jam.
Saat belum menikah, bekerja selama itu masih betah. Lebih lama pun dilakoni. Tapi, saat sudah berkeluarga dan punya dua anak, terasa sekali beban berat pekerjaan tak kenal tenggat waktu itu.

Apalagi, aku susah membagi waktu. Kalau sudah kerja, urusan rumah terlupakan. Menurutku, hal itu adalah risiko pekerjaan yang harus diterima. Tak jarang juga, aku mencibir beberapa teman yang kerap meninggalkan pekerjaan gegara anak atau keluarga.

Bagaimana dengan aku? Saat ada tugas kantor sedangkan anak sakit atau harus antar jemput mereka di sekolah, biasanya tetap menomorsatukan tugas kantor. Untunglah, aku tinggal dengan orangtua yang bisa dititipin dua anak.

Namun, akhirnya aku berpikir dan sadar. Orangtua menua. Tentu mereka tak sekuat dulu. Mereka pasti akan kian capek mengurus dua anak yang bertambah besar disertai tingkah polah yang amat aktif.
Selain itu, aku pun cemas dengan sikap si sulung yang mudah marah. Kemarahan anak membuatku berkaca. Aku juga kerap memarahi anak meskipun masalah sepele. Itu akibat terlalu capek dengan pekerjaan kantor tetapi masih harus dilanjutkan di rumah.

Pun dua anakku mulai kerap melontarkan ucapan menohok. Misalnya, ketika libur dan sedang bersantai bareng anak, si sulung bilang, ’’Abang paling suka kalau ibu libur gini. Bisa cerita-cerita, jalan-jalan.”
Keesokan harinya, ketika kembali kerja, giliran si bungsu yang bilang, ’’Ibu hari ini nggak libur lagi? Adek pengen bobok sama ibu lagi.’’

Duh Tuhan, betapa kehadiranku sangat dirindukan oleh mereka. Aku pun akhirnya menyerah. Aku mencoba #BeraniLebih menomorduakan pekerjaan.
Aku hadir untuk anak-anakku pada pagi sampai siang hari. Kehadiran pun harus total secara raga dan pikiran. Meskipun ada telepon dari kantor atau klien, aku abaikan dulu. Sebisa mungkin aku menjauhkan diri dari gadget selama bersama anak-anak.

Ketika hal itu berlangsung sekitar satu tahun, banyak perubahan besar. Kini, emosi si sulung lebih stabil. Perhatianku dan motivasi-motivasi yang kuberikan membuatnya lebih semangat. Si sulung mampu bangun pagi, mandi, sarapan, dan siap sekolah tanpa rewel dan marah. Dia bertanggung jawab memenuhi tugas dari sekolah dan les piano.
Si bungsu pun demikian. Misalnya jadi terbiasa makan sendiri. Kini, dia tak lagi merengek-rengek ditinggal kerja.
Kemandirian anak-anakku sangat membantu orangtua dalam menjaga mereka ketika saya sedang bekerja. Bahkan, orang tuaku mengaku lebih ringan karena anak-anakku sekarang sangat kooperatif.
Syukurlah. Kerja lebih tenang, anak-anak senang, rezeki pun terus datang.

Facebook: Xaveria Manumoyoso
Twitter: @xaveria81

Tulisan ini diikutkan dalam https://www.facebook.com/lightofwomen

beranilebih-pic

Iklan

Malu sama Edo

’’Bu, obatnya batuk tuh jahe sama mengkudu,” ujar Edo tiba-tiba padaku yang sudah dua hari mengalami batuk.
’’Tahu dari mana, bang?” tanyaku.
’’Ya dari majalah,” ujar Edo.
Hmmm…Edo suka sekali baca buku-buku berbau pengetahuan. Tak heran kalau celetukannya kadang bikin saya sebagai ibunya cuma bengong karena nggak ngeh.
Itu artinya, sebagai orang tua kita dituntut untuk terus up date pengetahuan, ya. Hehe…Kadang, saya juga merasa harus berlomba dengan kesenangan Edo melahap majalah-majalah science seperti Kuark dan keinginannya untuk melakukan eksperimen-eksperimen. Wkwkwk…
Satu hal lagi yang bikin saya malu sama Edo adalah kebiasaan bangun pagi. Saya orangnya susah bangun pagi. Jam ngantor siang-malam jadi alasan kenapa saya nggak bisa bangun pagi. Untunglah, Edo nggak niru kebiasaan buruk saya.
Maksimal pukul 05.00 pagi, Edo sudah bangun, jalan-jalan, mandi, sarapan roti-susu, dan kalau sudah siap berangkat, baru deh bangunin emaknya untuk minta anter ke sekolah. Haduh, maapin ibuk ya nak. Huehue…

Menyapa Borobudur

Keberadaan kompleks candi Buddha dan Hindu terluas di dunia di jantung Pulau Jawa menahbiskan Jawa Tengah sebagai pusat pariwisata kebudayaan.

Salah satu bukti ialah keberadaan Borobudur, kompleks candi Buddha aliran Mahayana terluas di bumi dan ditahbiskan sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (Unesco) pada 1991. Inilah monumen berluas dasar 15.129 meter persegi, berhias 2.672 panel relief dan 504 stupa perlambang ajaran Buddha, dan bertingkat sepuluh sesuai tingkatan kehidupan Bodhisattva untuk mencapai kesempurnaan atau Sang Buddha.

Mendatangi Borobudur pada musim libur di akhir 2013 menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Inilah saat yang tepat untuk mengenalkan, mewujudkan mimpi, dan menjawab segala tanya dari Edo (6 tahun) anak sulungku, tentang candi mahamegah di ‘kutub yavadvipa’.

Nah, 27 Desember 2013, adalah tanggal sentuhan dan sapaan pertama Edo kepada Borobudur. Sayang anak keduaku, Mita (3 tahun) terlalu letih sehingga tertidur pulas di mobil.

Dari area parkir ke Borobudur yang setinggi 35 meter itu, aku dan rombongan memilih naik kereta kelinci daripada berjalan. Toh, nanti selama menikmati kompleks candi, kami pasti menyiksa kaki.

Dalam ‘peziarahan’ mencari sensasi liburan itu, kami ditemani oleh pemandu wisata, seorang pemuda yang ramah, menarik, dengan tutur kata yang renyah dan enak. Sebelum memasuki pelataran Borobudur, pemandu yang Edo panggil sebagai mas gaet (guide) menyarankan kami untuk mengabadikan diri dengan kamera berlatar monumen yang dibangun kurun 750-850 itu. Pakai kamera dan teknik foto apa adanya pun, hasil foto sudah sangat keren. Kenapa? Ya, apalagi kalau bukan karena keelokan kompleks candi dari masa emas Wangsa Syailendra, penguasa mataram kuno beraliran Buddha.

Please fokus ke candi Borobudurnya aja. Pada belum siap dijepret

Please fokus ke candi Borobudurnya aja. Pada belum siap dijepret

Setelah jeprat jepret dengan kamera, aku dan keluarga ‘berjuang’ menguras energi demi melihat dari dekat hasil karya Gunadharma, sang arsitek jenius. Uh, menaiki entah berapa banyak anak tangga jelas mengikis kekuatan. Jika stamina tak kuat, pasti tubuh menggas-menggos, terutama bagiku yang jarang olahraga. Namun, aku yakin bisa. Ganbatte! Selamat berjuang.

Sambil menikmati suasana dan mengatur energi serta napas, kami diberi penjelasan tentang Borobudur. Menurut mas gaet, struktur piramida berundak ini dibangun di era pemerintahan Samaratungga dan paripurna di era pemerintahan Pramudawardani.

Deretan panel relief yang kami lewati di dinding pelataran berlorong tanpa nauangan itu mewakili gambaran dari kehidupan Sang Buddha (Siddharta Gautama). Laksana buku cerita, pembacaan panel relief dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkat pelataran. Cerita dimulai dari sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang.

Tingkat terbawah disebut Kamadhatu. Di sini, panel relief menggambarkan perilaku penuh angkara murka dan hawa nafsu. Cuma, bagian itu tertutup yang dengar-dengar sih untuk memperkuat struktur monumen. Tapi, mas gaet bilang, salah satu kemungkinan mengapa bagian itu ditutup karena konten panel relief yang cabul.
Bagian tengah yang memiliki empat tingkat dinamakan Rupadhatu. Deretan panel relief itu menceritakan tempat manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi. Di sini ada sekitar 1.300 panel relief antara lain Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha. Inti cerita ialah perjalanan hidup, kisah reinkarnasi, dan ajaran Sang Buddha dalam sosok manusia bernama Siddharta Gautama.
Selama mendengarkan penjelasan panjang lebar oleh mas gaet, aku sesekali melihat Edo tampak manggut-manggut. Entah putra kesayanganku itu paham atau malah bingung. Biarlah dia mencerna Borobudur dengan pemikiran anak seusianya.

Edo di depan relief

Edo di depan relief

Melihat deretan panel relief dan stupa, aku menjadi sangat takjub. Bayangin, batu-batu yang ditatah dan diperkirakan sebanyak 55.000 meter kubik itu tersusun tanpa semen dan lem. Terus, pakai apa ya untuk menyatukan jutaan batu itu? Tentu sangat dahsyat kemampuan orang-orang zaman dulu dalam membangunnya. Menurut mas gaet, ibarat Lego, mainan susun bentuk, seperti itu pula Borobudur dibangun yakni mengaitkan batu-batu menutupi suatu bukit pada hamparan yang diduga di masa purba adalah danau.

Nah, penjelajahan ‘menaklukkan’ struktur mahahebat masih berlangsung. Tapi, tak semua rombongan keluarga kuat untuk naik, termasuk mamaku. Akhirnya, mama memilih untuk menunggu di bawah. Bagaimana dengan Edo? Dia semangat sekali. Padahal, aku sudah merasa amat letih dan selalu sibuk mengelap keringat.

Edo: Ayo bu..semangaat

Edo: Ayo bu..semangaat

Namun, akhirnya, tiba juga kami di tingkatan teratas Borobudur yang dinamakan Arupadhatu (tidak berwujud). Di sini adalah perlambang manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa namun belum mencapai nirwana. Di pelataran lingkaran ini sudah tidak ada panel relief, tetapi stupa-stupa terawang yang di dalamnya terdapat patung Sang Buddha.

Wuih, pemandangan dari sini benar-benar memesona. Nyaris di batas cakrawala yang berawan tersembul puncak Sundoro-Sumbing di barat laut Merapi-Merbabu di timur laut. Di hadapan terbentang deretan perbukitan Menoreh dan Tidar yang rimbun dan hijau. Tubuh dibelai angin sepoi-sepoi. Lunas sudah utang lelah dan siksa letih menaiki 10 tingkatan Borobudur. Sambil beristirahat demi mengisi daya baterai tubuh, memotret diri berlatar pemandangan aduhai, haram jika tidak dilaksanakan.

Edo dan bapak, samar-samar tampak Merapi-Merbabu

Edo dan bapak, samar-samar tampak Merapi-Merbabu

Kembalikan energi dulu sebelum turun

Kembalikan energi dulu sebelum turun

Menjelang surya terbenam agar tidak disergap kegelapan, kami pun turun dan berjalan kembali menuju area parkir. Di ujung perjalanan, sebelum pulang, kurang pas jika tidak membeli beberapa cendera mata. Harga buah tangan yang unik dan imut bisa ditawar kok.
Dan, saat mobil bergerak keluar dari area parkir, berakhirlah perjalananku menikmati Borobudur. Suatu pengalaman yang tak terkira dan amat membahagiakan. Aku yakin, suasana yang sama juga dirasakan oleh Edo dan rombongan keluarga. Sampai jumpa lagi Borobudur.

Lomba Blog “Visit Jawa Tengah”
2 Banner Mar - Apr 2015