Hai Ibu-Ibu Hamil, Ayo Traveling

Positif. Saya hamil anak ketiga. Harusnya, disambut dengan suka cita, ya. Tapi, saya malah uring-uringan nggak jelas. Masih shock karena di luar perkiraan. Yah, kebablasan ceritanya.
”Kasihan si dedek loh, kalau ibunya galau bin mellow terus,” kata pak suami.
Hmmm…iya juga.
Ibu hamil yang bahagia akan melahirkan bayi yang sehat. Bahkan, dapat mengurangi rasa sakit ketika proses melahirkan, dan menurunkan risiko terjadinya tindakan medis lanjutan, seperti operasi caesar atau induksi. (kompas.com).

Dan, bahagia itu adalah traveling. Yipiii…

Beruntung, kondisi kandungan saya yang ketiga ini sehat dan kuat, baik janin maupun emaknya. So, mau pergi ke mana aja, ayo.

Surabaya-Jakarta-Bogor

Belum genap tiga bulan usia kehamilan, si dedek dalam perut udah digembol dari Surabaya ke Jakarta plus Bogor. Pergi rame-rame bareng keluarga, seruuu…
Di Jakarta, tujuannya ke Kidzania. Si abang Edo dan kakak Mita asyik mencoba banyak permainan peran yang ada di Kidzania.

Edo kerja dulu ya. Jadi pilot di Kidzania

Edo jadi pilot di Kidzania

Mita bikin pizza

Mita bikin pizza di Kidzania

Utak atik mobil dapet duit ya Edo

Utak atik mobil dapet duit ya Edo

Dari Kidzania, anak-anak digiring ke Jungleland Adventure Theme Park JungleLand, Sentul City, Bogor. Wedeeew, view-nya keren dengan latar Gunung Pancar.
Puluhan permainan seru siap dieksplor sampai pukul 10 malam, mulai wahana anak-anak yang fun hingga wahana yang menantang nyali. Sayang, nggak semua permainan bisa saya coba. Kapan-kapan ke sana lagi, ah.

Nekad nyobain naik roller coaster

Nekad nyobain naik roller coaster

Viewnya keren

Viewnya keren

Dari atas bianglala, terlihat kerlip lampu Kota Bogor

Dari atas bianglala, terlihat kerlip lampu Kota Bogor

Terbang ke Bali

Menginjak usia kehamilan bulan keempat, saya tergoda untuk liburan ke Bali. Mumpung saya dan suami dapat cuti dari kantor, bisa rombongan bareng keluarga besar, pula.
Destinasi yang kami tuju antara lain Uluwatu untuk nonton tari kecak, ke Batubulan untuk nonton tari barong, ke Pantai Lovina untuk hunting lumba-lumba, Bali Zoo, Tanjung Benoa, dan Pantai Pandawa.
Bali memang tujuan wisata yang komplet. Kita bisa menikmati alamnya yang penuh pesona dipadu dengan keindahan budayanya.

Hunting lumba-lumba di Lovina

Hunting lumba-lumba di Lovina

Full. Saat nonton tari kecak di Uluwatu

Full. Saat nonton tari kecak di Uluwatu

Bedugul

Bedugul

Tahun Baru Plus Ziarah ke Kediri

Sepulang dari Bali, saya masih mupeng untuk merayakan pergantian tahun 2014 di gereja Puhsarang, Kediri. Gereja yang dibangun pada 1936 ini sangat unik. Atapnya berbentuk seperti kubah dengan salib di atasnya. Altar yang ada dalam gereja dibuat dari batu massif, kemudian dipahat. Di atas altar terdapat relief dari batu bata merah yang disusun tanpa semen, tapi menggunakan campuran air, kapur dan gula. Relief tersebut menggambarkan ajaran kitab suci.
Bangunan gereja pun secara unik dikelilingi oleh benteng yang terbuat dari batu-batu. Tampak sangat kokoh. Sampai sekarang, misa di gereja tersebut diadakan dalam bahasa Jawa diiring gending serta gamelan. Umat pun mengikutinya dengan lesehan (duduk di lantai). Sangat syahdu.

Pada kompleks gereja tersebut terdapat miniatur gua Maria yang juga dari batu. Namun, karena bentuknya terlalu kecil, pada 1998 mulai pembangunan gua Maria Lourdes yang merupakan replika Gua Maria Lourdes di Perancis. Lokasinya hanya beberapa meter dari kompleks gereja. Di kawasan gua Maria Lourdes tersebut kerap diadakan misa besar yang diikuti oleh umat Katolik dari daerah lain.

Para pemuda gereja Pusahsarang sedang latihan koor di dalam gereja

Para pemuda gereja Pusahsarang sedang latihan koor di dalam gereja

Tampak kubah gereja

Tampak kubah gereja

Batu Jadi Favorit

Tapi, selama hamil, saya paling suka ke Kota Batu. Udaranya seger dan kulinernya yahud. Hehe…Selain itu, banyak tempat wisata asyik di Batu. Antara lain, Jatim Park 1,2, Eco Green Park, Batu Night Spektakuler, Museum Satwa, Museum Angkut, Songgoriti, dan Selecta.

Anak-anak saya demen banget kalau diajak ke Selecta. Ada playground, kolam renang, waterpark, taman bunga, becak air, flying fox, dan berkuda.  Belum lagi, ada pasar buah dan sayur segar di kompleks Selecta.

menikmati udara segar Kota Batu

Taman Bunga Selecta

Syuuut...adek meluncur di atas taman bunga

Syuuut…adek meluncur di atas taman bunga

Jalan-Jalan di Dalam Kota Surabaya

Nggak cuma ke luar kota, anak-anak sering nodong saya untuk jalan-jalan di dalam Kota Surabaya. Salah satunya mengunjungi Pantai Kenjeran. Selain menawarkan pantai, di kawasan itu terdapat patung Buddha empat wajah yang diresmikan pada 2004. Bangunan utama dari patung ini berukuran 9 × 9 meter dan termasuk kubah yang mencapai 36 meter.

Maaf, foto patung Budha-nya kurang jelas.

Tampak megah

Meski perut sudah terlihat membuncit, saya tak ketinggalan nonton pertunjukan musik jazz. Sekalian ajak si sulung yang juga demen ngejazz.

Si sulung juga demen jazz

Si sulung juga demen jazz

Efek traveling yang membawa kebahagiaan itu rupanya benar-benar mujarab membantu kelancaran persalinan saya yang berlangsung secara alami. Setelah melalui kontraksi sekitar 1 jam, akhirnya lahir anak ketiga saya. Puji Tuhan.

Sebelum Traveling, Pastikan Tubuh Fit

Sebelum traveling, saya memastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit. Tak hanya itu, kendaraan yang akan membawa saya ke tempat-tempat wisata itu pun harus nyaman dan aman. Salah satu mobil yang masuk dalam daftar itu adalah Toyota Agya.

Tampil elegan

Tampil elegan

Beberapa fitur keamanan dibenamkan dalam mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) ini. Di antaranya, kantung udara ganda di depan, sabuk pengaman pre tensioner & force limiter, dan body reinforcement serta SRS airbag. Dilengkapi juga dengan ISOFIX untuk mengikat baby car seat.

Utamakan kenyaman dan keamanan

Utamakan kenyaman dan keamanan

Jenis City Car, Tenaga Besar, Interior Longgar

Toyota Agya juga sangat memperhatikan kenyamanan penumpang dengan menghadirkan air freshener lever. Fitur ini untuk mengganti udara kabin yang diputar AC dengan udara luar yang lebih segar. Mobil berkapasitas empat penumpang ini mengusung desain dinamis, efisien, sekaligus modern. Ada tiga tipe Agya yang bisa dipilih, varian Medium Grade (E), High Grade (G), dan TRD Sport. Semua tipe menawarkan transmisi manual dan matik.

Mesin 1 KR DOHC 998 cc pada Agya dilengkapi dengan 3 cylinder in line 12 valves. Daya maksimal mencapai 65,3 ps/6.000 RPM. Sangat handal melahap rute tanjakan maupun menempuh perjalanan jauh. Sedangkan torsi maksimal adalah 8,8 Kgm pada 6.000 RPM. Saat diujicoba di laboratorium, Agya hanya memerlukan 1 liter bensin per 21 km. Sangat irit.

Speedometer

Speedometer yang dilengkapi dengan fitur MID

Untuk tipe High Grade dan TRD Sport, dashboard-nya tampil mewah dengan fitur Chrome A/C Register, Chrome list combination meter, dan 2 Din Integrated Audio dengan CD, MP3, radio, USB, dan aux serta chrome parking brake knob. Ditambah fitur multi information display (MID) yang menampilkan indikator bensin digital, jam, dan lampu eco. Kedua varian itu juga dilengkapi dengan electric outer mirror, 6 spoke alloy wheel 175/65 R14, headlamp, serta foglamp dengan aksesori krom.

mewah

dok: toyotaastra.co.id

Kesan sporty nan dinamis ditampilkan pada tipe TRD Sport dengan adanya aerokit di bagian depan, samping, dan belakang. Sementara itu, di tipe medium grade, Agya dilengkapi fitur speedometer dan 1 Din Audio CD/MP3/USB/Aux.

Meski bertipe city car hatchback mobil dengan panjang sekitar 3,6 meter ini terasa lega dan lapang, begitu pun untuk bagasinya. Bahkan, penumpang di bagian belakang banyak mendapat ruang longgar seperti pada mobil jenis MPV. Mobil ini pun sudah dilengkapi power window, power lock, hingga pengatur spion otomatis kecuali pada tipe medium grade. Asyiknya lagi, nuansa Indonesia tercermin dari logo Garuda pada bagian depan mobil Toyota Agya. Jadi, mengendarai Toyota Agya sama dengan cinta Indonesia.

Lapang

Lapang

Nah, ayo ibu-ibu yang lagi hamil, tak perlu ragu beraktivitas bareng Toyota Agya. Lebih aman, nyaman, dan keren.

My Agya, My Style!

Sumber foto Toyota Agya: Toyota Astra

Sumber foto traveling: Pribadi

Iklan

Keluarga Sehat Berawal dari Masakan Rumah

  
  Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, stroke, dan diabetes melitus meningkat. Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Ekowati Rahajeng, mengatakan, penyakit tidak menular sangat berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat. (Kompas, 26 Mei 2015). Salah satu syarat utama untuk hidup sehat adalah mengonsumsi makanan yang cukup, bermutu, dan aman.
  Prinsip makan sehat sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana kita mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan, menjaga komposisi zat gizi, mengolahnya secara sehat, dan mematuhi waktu makan. Mudah? Ya. Tapi, ternyata sulit diaplikasikan. Salah satu faktornya adalah gaya hidup yang menuntut semua serba terburu-buru dan instan.
  Apalagi, fasilitas delivery order. Ketika lapar melanda, tinggal angkat telepon, pesan makanan, dan menu pilihan pun segera tiba di depan mata. Praktis. Tapi, bagaimana dengan kualitas makanannya?
  Saya sendiri suka jajan di warung atau restoran. Apalagi kalau ada yang mentraktir. Hehe…Selain itu, kalau makan di restoran yang tergolong wah dan sedang ngetren, rasanya ada kebanggaan tersendiri. Bisa pamer fotonya ke teman-teman melalui sosial media.
  Namun, seiring dengan pemberitaan di media mengenai pemakaian bahan-bahan pangan yang tidak aman, membuat saya ngeri dan berpikir dua kali untuk jajan di luar. Mau beli nasi pecel, misalnya. Memang bergizi karena terdiri atas sayuran. Namun, apakah penjualnya sudah mencuci bersih sayurannya sehingga bebas dari pestisida dan bakteri. Belum lagi rempeyeknya, apakah digoreng menggunakan minyak baru, bukan yang sudah berkali-kali dipakai? Bagaimana dengan higienitas piring dan sendok-garpunya?
 Daripada terus dihantui ketakutan-ketakutan itu, saya lebih memilih makan di rumah dan membawa bekal untuk ke kantor. Memang sedikit repot dan butuh waktu karena harus belanja dan mengolahnya. Tapi, kita bisa memilih sendiri bahan makanan yang tentu baik. Misalnya, pakai sayuran dan buah organik, ikan segar, bumbu alami tanpa penyedap (MSG), atau gula rendah kalori.
  Menanamkan budaya makan masakan dari rumah juga saya terapkan pada anak-anak. Saat sekolah, mereka saya beri bekal.

Makan di rumah, jangan lupa susu Hi-Lo School nya yaaa...

Makan di rumah, jangan lupa susu Hi-Lo School nya yaaa…


Ternyata, selain sehat, memasak makanan sendiri lebih hemat daripada beli di warung atau restoran. Kita bisa jadi #HealthAgent bagi keluarga.

Konsisten tanpa Daging
  Oia, saya juga memilih untuk tidak makan daging sejak tiga tahun lalu. Awalnya memang sulit. Apalagi, sebelumnya, saya termasuk ”pemakan” segalanya. Tapi, saya tahu diri. Usia sudah kepala tiga, kerap merasa capek, tulang punggung sering sakit, kulit kusam, dan naik turun tangga ngos-ngosan. Pertanda harus waspada. Selain rutin olahraga, saya pun berkomitmen untuk mengucapkan selamat tinggal pada makanan berdaging.
  Anak-anak pun sudah mulai mengerti untuk lebih memilih makan sayur ketimbang daging. Mereka sedikit demi sedikit menolak makan daging.
  Banyak teman bertanya, bagaimana rasanya tidak makan daging? Apa tidak lemas? Ternyata, setelah tidak makan daging, badan terasa lebih ringan dalam bergerak. Tidak gampang capek. Bahkan, saat hamil anak ketiga, saya tetap menerapkan pola makan tanpa daging dan hasilnya, tubuh bugar hingga melahirkan.

bugar

bugar

  Pola makan ini ternyata menguntungkan untuk saya yang sedang menyusui. ASI jadi melimpah. Tak hanya itu, pengeluaran untuk makan jadi makin hemat. Belanja sayur kan lebih murah ketimbang daging.
  Tapi, apa enaknya makan dengan menu hanya sayuran? Beberapa menu favorit saya, nasi pecel dengan lauk tempe mendoan, sayur bayam plus lauk bakwan jagung, cah brokoli jamur, terong krispi, pepes tahu, gado-gado. Silakan dicoba.
  

Diikutkan dalam
HealthAgent Sharing Inspiration blog contest

blog.nutrifood.co.id

blog.nutrifood.co.id