Eksplorasi Empat Negara Sekaligus Bareng Dancow

Loh loh, jangan naik-naik tangga. Jatuuuh..
Udah dek, disuapin ibu aja ah, bajunya belepotan nanti.
Eh eh, no no, nggak usah pegang pegang ituuu. Tangannya kotor ntar haduuuh…

Gita, bungsuku, mulai hobi melakukan yang dilarang. Pokoknya, perilaku si 14 bulan itu jadi lebih kompleks dan menantang. Makanya, nggak salah kan kalau sebagai ibu saya kerap melontarkan segudang larangan buat dia.

”Anak itu boleh salah, boleh jatuh. Di usia satu tahun, si kecil memang lagi aktif-aktifnya. Orang tua mesti bersyukur dong karena itu pertanda anak tumbuh sehat,” ujar Psikolog Ratih Ibrahim yang jadi narasumber di event Nestle Dancow Excelnutri+ Explore The World.
Nah loh, ucapan bu Ratih ini ibarat tamparan buat saya yang suka kelewat lebay mem-proteksi si dedek.

Usia satu hingga tiga tahun ini memasuki periode pembentukan kepercayaan diri dan pengasahan kemampuan psikomotorik. Pada periode itu, orang tua justru harus memberikan ruang dan kepercayaan kepada si kecil agar mereka berani bereksplorasi guna mencapai tumbuh kembang optimal.”Dengan bereksplorasi, si kecil akan mengenal dan berinteraksi dengan hal-hal baru. Itu akan membantu dia mengasah ketrampilan sensorik motorik, keterampilan dalam berkomunikasi, sosio-emosional, kemandirian, kognitif, serta kreativitasnya,” kata psikolog gaul ini.

Sebagai bekal tumbuh kembang anak, yang utama adalah cinta dari bunda dan ayah, kecukupan nutrisi, dan stimulasi. ”Cinta tulus orang tua memberikan rasa aman dan emosi positif. Pemberian nutrisi yang tepat untuk si kecil akan meningkatkan daya tahannya. Kalau tubuh sehat, si kecil bisa bebas beraktvitas. Berikan juga stimulasi dengan menyediakan ruang untuk eksplorasi,” jelas ibunda Renald dan Rafael ini.

Beruntunglah saya bisa bergabung di acara besutan Dancow yang berlangsung pada 6-7 Agustus 2016 di Royal Plaza, Surabaya itu. ada segudang informasi buat para orang tua mengenai tumbuh kembang anak. Ibu dan ayah yang hadir pun jadi lebih update ilmu cara mendidik anak bareng banyak narasumber yang berkompeten. Ya, salah satunya Ratih Ibrahim ini.

psikolog gaul

psikolog gaul

Selain psikolog, hadir juga pakar nutrisi Sari Sunda Bulan AMG. Menurut Sari, selain membebaskan anak bereksplorasi, orang tua harus aware pada kesehatan anak. Salah satu bagian tubuh yang perlu dijaga adalah saluran cerna. ”Ini terkait fungsinya untuk mengolah gizi dan berperan sebagai organ imunitas terbesar,” kata Sari.

Macam asupan yang diperlukan antara lain Lactobacillus rhamnosus yang terbukti dapat membantu menurunkan risiko infeksi tertentu pada anak. Selain itu, vitamin A, C, dan E serta mineral selenium dan zink dapat membantu mendukung daya tahan tubuh anak. Untuk perkembangan otak dan fisik, diperlukan minyak ikan, protein, dan kalsium.

Menjawab semua itu, Nestle Dancow 1+ meluncurkan Nestle Dancow Excelnutri+. ”Nutrisinya lengkap dan penting untuk pertumbuhan si kecil. Kami ingin memastikan anak Indonesia dapat bereksplorasi tanpa perlu khawatir karena telah mendapatkan asupan nutrisi seimbang dan saluran cernanya sehat,” kata Senior Brand Manager Dancow Excelnutri+ Nestle Indonesia Riza Nopalas.

Selain talk show, di Nestle Dancow Excelnutri+ Explore The World ortu bisa ajak anak-anaknya bermain dan belajar. Atrium Royal Plaza disulap menjadi wahana bermain bernuansa alam Indonesia, Belanda, Brazil, dan Jepang. Seruuu…Nggak heran kalau pengunjungnya bejibun.

crowd
Memasuki ”wilayah Indonesia” misalnya, suasana pantai ala ala langsung terasa. Dilengkapi pasir yang lembut, anak-anak pun langsung nyebur ke area berpasir. Eits, tapi ayah bunda nggak perlu khawatir, karena pasirnya sintetis. Ada lagi area ”pemancingan” ikan. Meski cuma ikan mainan, tapi anak-anak betah banget mancing di situ. Mereka bisa belajar berhitung dari hasil ”ikan” yang didapat.

Pasirnya lembuuuttt

Pasirnya lembuuuttt

Masuk ke ”Netherland”, disediakan area bercocok tanam. Kotor-kotor lagiii. Tapi justru dengan begitu mereka belajar.

Asiiik...kotor-kotor lagiii

Asiiik…kotor-kotor lagiii

Lanjut ke Brazil. Di negeri samba itu kita bisa menjelajah hutan. Serunya, bisa foto dengan background hutan. Eh, tapi, lihat tuh hasilnya, ada harimau lewat di depan kita. Hauuummm…

Hauuumm...ada harimau lewaaat

Hauuumm…ada harimau lewaaat

Ke mana lagi? Ke Jepang dong. Banyak aktivitas di ”negeri matahari terbit” ini. Kita bisa foto pakai baju kimono, bisa juga bikin origami, dan main balok. Oia, semua permainan selalu ada tim dari Dancow yang memandu.

sekeluarga seru-seruan pakai kimono

sekeluarga seru-seruan pakai kimono


main origami bareng tim Dancow

main origami bareng tim Dancow

Banyaknya aktivitas selama event bikin anak jadi mengenal istilah-istilah baru yang bisa juga mengembangkan bahasa anak. Misalnya,nama-nama flora maupun fauna dan kebudayaan dari negara yang dikunjungi. Puas deh jelajah empat negera bareng Nestle Dancow Excelnutri+ Explore The World. Semoga kelak kamu bisa jelajah dunia beneran ya nak.

Iklan

Selamat Natal dan Tahun Baru

EdoMitaGita mengawali tahun 2016 dengan berziarah ke Pohsarang, Kediri. Bukan cuma ziarah, kami juga mengunjungi saudara di sana sekaligus nyekar ke makam beberapa eyang dan eyang buyut yang lokasinya berada di satu kawasan dengan tempat ziarah itu.

Saya pikir, merayakan tutup tahun di sebuah desa di Kediri itu akan terasa sunyi dan sepi. Tapi, ternyata tidak. Rameee…Apalagi, misa tutup tahun yang diadakan di Gua Maria Lourdes Pohsarang dipimpin langsung oleh Bapa Uskup Vincetius Sutikno Wisaksono. Jadilah, misa tutup tahun yang dimulai tepat pukul 00.00 dihadiri oleh ribuan umat Katolik.

Sebelum misa, pada 31 Desember pukul 23.00 umat yang sudah berkumpul di area gua Maria mulai melantunkan doa doa. Hingga beberapa menit sebelum tengah malam, seorang pastor yang ikut memimpin misa, mengajak kami untuk kembali merenungkan pergantian tahun yang sarat akan makna.

Tepat tengah malam, kami pun serentak membunyikan terompet sambil memberikan salam selamat tahun baru kepada orang-orang yang ada di sekitar. Tak lupa, menikmati kembang api. Cantiiik…

Misa pun baru dimulai sekitar 00.15 dengan dipimpin oleh uskup dan empat romo. Sayangnya, EdoMitaGita nggak ikutan misa. Mereka nggak kuat menahan kantuk. Bobok lah mereka di penginapan.

Padahal, sorenya, mereka udah bersikukuh pengen ikutan misa tutup tahun, lha kok pas diajak, malah bobok nggak mau bangun. Hadeeeh…

DSC002741 Januari pagi: Mita, Descha, ibu dan Gita, Edo di depan gua Maria Lourdes, Pohsarang.

 

 

 

Gita Enam Bulan

Enam bulan lalu, seorang malaikat kecil hadir di keluarga kami. Kami menamainya Athanasia Paragita Candrakamala. Gita, kami memanggilnya, menambah keceriaan dalam keluarga. Kami menyambutnya dengan sukacita. Dia tumbuh sehat, tingkahnya pun menggemaskan. Nggak heran, kalau Gita jadi sasaran cubitan kecil dan ciuman gemas dari seluruh anggota keluarga. Malah, pipinya yang kayak bakpao, sering kugigit gemas. Hihihi…*yang boleh cuma emaknya loh*
Setelah dua bulan saya cuti, agak berat meninggalkan Gita untuk kembali ngantor. Tapi, saya harus menjalaninya. *Semua terasa berat di awal*
Meskipun meninggalkan Gita untuk kerja, saya tetap memberikan ASI eksklusif hingga sekarang di usia 6 bulan. Saya sempat nggak pede bisa sukses ASI eksklusif. Yah, usia udah kepala tiga lebih (nggak ngaku tepatnya), katanya sih produktivitas ASI berkurang. Selain itu, ngurus anak tiga, pasti lebih ribet. Beda kan ya kalau pas anak pertama dan kedua dulu. Belum lagi porsi kerjaan yang lumayan bikin stres. (kerja mana coba yang nggak bikin pusing)?
Tapi, karena niat, ya harus bisa.
Berawal ketika lahiran RSIA Kendangsari Surabaya yang sangat pro ASI, melalui persalinan normal, adek Gita dapat IMD. Meski ASI belum keluar, para suster dan dokternya tetap kasih support. Saya bisa dapat fasilitas room in dengan Adek. Jadi, dia bisa menyusu saya kapan aja dia mau. Otomatis, itu merangsang ASI untuk cepat keluar juga. Puji Tuhan, di usia Gita tiga hari, ASI sudah keluar lancar.
Ketidakpedean kembali melanda ketika harus kembali kerja dari cuti dua bulan. Awalnya, saya masih lancar menyiapkan ASI perahan. Tapi, ketika dedek masuk usia empat bulan, entah kenapa, ASI jadi irit banget keluarnya. Huaaah…sampai stres saya. Bayangin, sejam merah ASI, cuma dapat 100 ml. Biasanya, 30 menit aja sudah 150-200 ml. Cerita soal merah ASI di tempat kerja bisa diintip di sini
Untunglah, ada mama saya yang melihat kondisi itu dengan tenang. (biasanya orang tua malah nyuruh nyuruh kita untuk ngasih tambahan susu formula). Beliau malah menggelontor saya dengan sayur-sayuran, kacang-kacangan, bahkan membuatkan jamu-jamuan alami. *makasih mamaku sayang*
Ya, bisa jadi karena stres pekerjaan kantor, ASI jadi kurang lancar. Setelah mencoba rileksasi, ASI pun kembali lancar. Puji Tuhan. Gita jadi anak sehat dan daya tahan tubuhnya cukup bagus.

Gita lucuuu…masuk usia tiga bulan, dia sudah bisa diajak main, sudah tengkurap-tengkurap, dan nggelundung nggelundung. Hehe…Kedua kakaknya sering berebutan untuk bisa mencuri atensinya. Haha…Mereka berlomba bisa membuat Gita tertawa. Soalnya, kalau ketawa makin gemesiiin…
Oia, kalau kebanyakan ibu yang baru melahirkan, bakal kurang tidur lantaran si baby suka bangun di malam hari. Saya malah suka bangunin Gita kalau malam untuk nenen. Lha kalau malam, Gita boboknya nyenyak banget. Biasanya mulai pukul 21.00-04.00 pagi. Hihi…
Pernah nih, saya ikutan kebablasan tidur juga. Bangun-bangun sekitar pukul 04.00 pagi. Duh, rasanya payudara keras plus cenut-cenut.
Masuk usia enam bulan ini, Gita udah makin pintar. Sudah ngerti, kalau ditinggal sendirian, nangis. Kalau pegang mainan dan diambil, marah. Kalau diajak cilukba, ketawa ngakak. Wkwkwkwk…

Gita sayang, Gita pandai, mmmuuuahhh…

DSC00231

Ini Pompa ASI, Bukan Hairdryer

gemeeesss

gemeeesss

Setelah dua bulan masa cuti melahirkan terlewati, saya pun mulai masuk kerja. Ayo kerja, kerja, kerja. Tapi kalau saya, slogannya, kerja, merah asi, kerja lagi. Hehe…

Segudang manfaat ASI yang membuat saya bertekad untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi saya meski bekerja. Ya, selain sehat, juga hemat.

Jadinya, saat bekerja, saya harus membawa banyak perintilan. Ada tas kerja, bekal makanan, dan cooler bag lengkap dengan pemompa ASI, botol penyimpan ASIP, plus ice gel.

Sebagai awak media cetak, jam kerja saya mulai siang hingga malam dengan jadwal istirahat fleksibel. Saya pun leluasa mengatur waktu memompa ASI. Yang penting, kerjaan kelar nggak melewati deadline.

Cuma sayang, di kantor saya nggak ada tempat khusus untuk laktasi. Jadinya, saya mesti rela berdiri sekitar 20-30 menit untuk memeras ASI di toilet. Betul, di toilet. Nggak ada pilihan lagi. Pernah nih saya mencoba di sebuah lorong yang menghubungkan dua ruangan. Memang tertutup, tapi, kok jadi serem ya karena jauh dari ’’peradaban’’. Akhirnya, saya memutuskan untuk memompa di toilet saja.

Beruntung, toilet di kantor saya cukup bersih dengan bathroom yang terpisah dengan WC dan ruang washtable. Saya biasanya memompa di bathroom. Diawali dengan mandi di bawah pancuran air hangat biar rileks (kalau sore). Kemudian baru memompa ASI sambil berdiri. Karena pakai alat pompa manual, kadang kerasa juga pegelnya di tangan. Hehe… Eh, tapi langsung puas dengan hasil perahan.

Teman-teman kantor sudah paham sih, kalau salah satu bathroom terkunci dalam waktu agak lama, udah pasti saya ’’penghuninya’’. Tapi, ada juga yang masih belum tahu dan malah mengira ada hantu di dalam bathroom itu. Biasanya kan di dalam bathroom, orang mandi, bunyi kucuran air. Lha, kalau saya yang masuk untuk memerah ASI, yang terdengar bunyi shhh…shhh…

Saya juga menggunakan pompa electric. Kalau pas pakai pompa electric, saya biasanya memerah di ruang washtable karena ada colokan listrik. Suatu saat, seorang teman yang masih bujang kaget melihatku menyelipkan alat pompa di balik baju. Dia menatapku heran. ’’Mbak lagi ngapain?” tanyanya.
’’Aku lagi mompa ASI,” kataku agak kesel. Masa gitu kok nggak tahu?
’’Oh, saya kira itu hairdryer, kok diselipin ke baju?” Huaaah… Iya juga sih, pompa electric saya suaranya memang mirip hairdryer.

Eh, tapi, saya pernah loh mengalami stres lantaran kerjaan menumpuk. ASI pun seperti mampet, nggak lancar. Makanya, selama bekerja, saya harus pinter mengelola emosi.

Setelah memompa, saya simpan ASIP (ASI perahan) dalam lemari es yang tersedia di ruang kantor. Sebelumnya, lemari es di kantor saya cuma satu pintu dan butut. Bahkan, kadang, ASIP tersimpan di kulkas bercampur makanan dan minuman milik teman lain. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa semoga ASIP saya masih bagus. Lha kok, selang dua bulan, kulkas lama diganti dengan kulkas baru dua pintu. ASIP ku pun bisa tersimpan dengan baik di freezer, begitu juga ice gel-ku.

Saya pun bisa membawa pulang ASIP dalam cooler bag dengan terjaga sampai rumah masih beku. Saat ditinggal, mama lah yang menjaga anak saya. Beruntung mama telaten memberikan ASIP pada cucunya dengan baik dan benar. Doakan saya sukses memberikan ASI eksklusif pada anak ketiga ini.

Ole-oleh buat dedek bayi

Ole-oleh buat dedek bayi

Oia, tulisan ini diikutkan dalam lomba. Linknya di:
http://pas2015.ucontest.info/detail/image/21901#_=_

Bantu vote ya…makasih.

Lahiran Anak Ketiga yang Aduhai

Nggak terasa, Adek Gita sudah gedeee…horeee…
Teringat empat bulan lalu. Gini ceritanya:

Berbeda dengan persalinan anak pertama dan kedua, jelang persalinan untuk anak ketiga ini, saya lebih tenang. Padahal, mendekati hari H, kerjaan di kantor justru makin menumpuk. Pulang sampai tengah malam itu mah udah biasa. Malah, hari H lahiran itu, saya juga rencana mau masuk kantor. *eh kok malah curcol…hihihi*
Jadi, ceritanya, lahiran anak ketigaku maju seminggu dari HPL.
Minggu itu, suami udah mau balik ke Jakarta (kami kan LDR-an, saya di Surabaya, suami di Jakarta). Taksi udah siap mengantarkannya ke bandara. Tapi, perut saya udah mules mules dan muncul tanda-tanda mau lahiran. Ya sudah, dia pun batalin pesawatnya dan langsung anter saya ke rumah sakit.

Tapi, sebelumnya, mama nyiapin telur rebus, roti, madu, dan susu. Aku dipaksa untuk menelan itu semua. Kata mama, orang bersalin harus kuat. *mamaku is the best pokoknya*.

Masuk ke kamar bersalin pukul 06.15 pagi. Rasa mulas makin terasa. Aku masih bisa neleponin teman-teman kantor, ngasih tahu kalau hari itu nggak bisa ngantor. *maapin saya*. Eh, masih bisa juga ber haha hihi di sosmed ditemenin suami. Beberapa menit kemudian, suster penjaga ngasih kabar kalau dokter yang harusnya menangani saya bersalin lha kok lagi dinas luar negeri. Hiyaaah…apa-apaan iniiii…saya langsung ngedrop. Pasalnya, dua anak saya sebelumnya pakai dokter itu dan sukses melahirkan secara normal. Pas hamil ketiga ini juga ditangani sama beliau.

Duh, gimana dong? Tiap 15 menit si dedek di perut sudah makin mendesak pengen keluar. Mulesnya udah nggak tahan. Masih ditambah kebingungan harus menentukan alternatif dokter SPOG. Melalui SMS, dokter SPOG saya menyarankan untuk memilih dokter SPOG yang praktik hari itu. Karena, selain senior, pak dokternya telaten. Ya sudah, saya pun pasrah dengan dokter SPOG yang disarankan itu.

Rasa mules bertambah kerap. Tapi, para suster yang membantu persalinan, benar-benar membuat saya rileks. Duh, saya jadi teringat lagi pada wajah dan ucapan mereka yang menyejukkan hati. Tarik napas, buang, tarik napas, buang. Dan saya pun rileks.

Saya ikut melantunkan doa-doa bersama suami yang terus menemani di sampingku.
Pukul 07.00. Kenapa pak dokternya belum muncul, yak. Rasanya sudah adem panas menahan si dedek supaya jangan keluar dulu. 10 menit kemudian, pak dokter pun muncul. Mulesnya udah mulai ubun-ubun sampai ujung kaki rasanya.
’’Satu, dua, tiga, ayo mengejan,” para suster dan pak dokter member semangat pada saya. Tapi, saya memang ibu yang oon banget. *buka aib diri sendiri* Udah pernah melahirkan dua anak, lha kok lupa cara mengejan. Ini juga gegara kurangnya persiapan bersalin. Dan, gagal lah saya di babak pertama itu.
Sekali lagi ya dicoba. Lupakan teori. Satu, dua, tiga. Saya pun mengejan dengan semua kekuatan yang tersisa. Dan, pluk (kayaknya gitu deh rasanya atau bunyinya yah) si dedek pun menyapa dunia. Hallo duniaaa….Saya melihat jam di dinding pukul 07.40.

Gita langsung dapat IMD. Terima kasih ya Tuhan. Beribu ribu ucapan syukur saya panjatkan. Suami pun tak tertahankan meluapkan kegembiraannya dengan memanjatkan doa-doa di telinga Gita dan update status neleponin papa-mama di rumah.
Papa-mama yang masih bersiap-siap berangkat ke rumah sakit kaget juga. Kok cepet? Mereka memperkirakan masih sekitar pukul 09.00 lahirannya, lha kok udah keduluan keluar si dedek. Hehe…

Puji Tuhan, persalinan anak ketiga saya berlangsung normal dan lancar. EdoMita punya adek. Horeee…
Terima kasih suster dan para dokter RSIA Kendangsari