Flashpacker Bareng Anak? Kenapa Nggak?

Postingan ini intinya curhatan hati seorang ibu yang suka iri ketika long weekend tiba. Ketika teman-teman lain heboh nyari hotel atau tiket kereta untuk liburan, saya cuma bisa galau. Pengen ikutan, tapi, iya kalau bisa libur. Lha kalau tetiba ada tugas mendadak dari kantor? Anak-anak bisa ter-PHP dong.

Makanya, nggak jarang saya memutuskan liburan di injury time atau biasa disebut flashpacker. Padahal, saya bawa kru yang lumayan bikin mmm…pusing, tiga anak dan biasanya tambah satu ponakan yang ikutan. Eh tapi justru di situlah keseruan dimulai.

Horeee bisa libur. Yuk kid’s kita cussss…Wah, krucils pun langsung sibuk cari tas, nyiapin baju, en de brey en de breey…Kecuali si bungsu yang baru dua tahun.

Awal-awal sih mungkin ribet, tapi, setelah dijalani beberapa kali, ternyata tetap aman terkendali. Biasanya sih:

  1. Tujuannya nggak jauh dari kota tempat kita tinggal. Paling nggak, 2-3 jam perjalanan sudah nyampe. Dengan gitu, waktu nggak terbuang untuk perjalanan.
  2. Cari hotel yang ramah anak. Karena waktu yang singkat, pasti nggak sempat jalan-jalan ke obyek-obyek wisata lain. Jadi, mendingan menikmati fasilitas hotel. Kalau saya biasanya cari yang ada kolam renangnya dan taman luas.
  3. Selalu menyediakan satu tas buat bepergian yang berisi satu stel baju anak-anak.  Jadi, kalau sewaktu-waktu pergi, nggak kelamaan nyiapin. Karena paling nggak sudah ada satu stel di tas.
  4. Siapkan bujet lebih. Flashpacker biasanya nggak siap bekal makanan dan karena persiapan dadakan, sering ada yang ketinggalan. Paling gampang ya beli kekurangannya di perjalanan. Untuk bujet ini, saya sudah punya tabungan khusus untuk bepergian yang sifatnya tak terduga. Jadi, ya bisa langsung bobol tabungan kalau butuh.
  5. Naik kendaraan sendiri. Atau kalau memang terpaksa naik kendaraan umum, pilih bus yang bisa sewaktu-waktu berangkat. Kalau pesawat atau kereta, hmmm…kalau saya sih ogah ya. Pasti mahal.

Terakhir ber-flashpacker bareng krucil, sekitar April 2017. Pilihan destinasinya ke Trawas, Mojokerto. Perjalanannya cuma memakan waktu 2 jam atau paling lama kalau kena macet, ya 2,5 jam lah. Pilih-pilih hotel, banding-bandingin harga dan lokasi serta fasilitas, akhirnya, kami memutuskan bermalam di Vanda Hotel.

Hotel didesain klasik ala ala Eropa

Tiba di hotel sudah sore, sekitar pukul 5 sore. Biarpun sudah jelang malam, anak-anak masih nekat buat nyebur di kolam renang yang  ademnya amit amit…Kolamnya cukup luas cuma agak kotor. Mungkin karena hotel itu sedang renovasi, jadi serpihan bahan-bahan bangunannya masuk ke kolam. Ya sudahlah, toh setelah berenang, anak-anak langsung sekalian mandi sore di kamar mandi yang dilengkapi dengan bathup.

Kami memesan room untuk empat orang terdiri atas dua bed tipe kingsize. Lumayan luas sih. Cukup untuk empat krucil dan dua dewasa. Hehe…Cuma, kita nggak dapat view bagus karena berhadap-hadapan dengan kamar lain. #Salahsendiripesandadakan.

Malamnya, kami makan di Vanda foodcourt yang letaknya di depan gate hotel. Menunya standar sih, masakan Indonesia, seperti nasi goreng, gado-gado, siomay, soto ayam, rawon, bakso. Dan yang bikin anak-anak happy, ada ayunan dan perosotannya. Mainan teruuusss…

Beda dengan Batu, kalau malam masih banyak hiburan. Di Trawas beda. Pukul 8 malam, udah sepiiiii…nyari jagung bakar pun udah nggak ada yang buka. Kawasan ini memang sangat pas untuk istirahat karena tenang banget.

Malamnya pada bobok pules, pagi-pagi buta udah pada ngeributin mau renang lagi. Astagaaaah…Padahal, emaknya udah pengin segera sarapan. Maklum, udara adem bikin perut cepet laper.

Dari kamar menuju ke resto buat sarapan, lumayan juga sih jalannya. Nggak jauh, tapi kan jalannya naik turun gituuu…bikin gempor kaki. Haha…Lumayan sih buat olahraga pagi hari.

jalan naik turun, anggap aja olahraga

 

Menunya nggak banyak, kurang dari 10 menu, tapi rasanya pas di lidah. Anak-anak juga doyan sama makanannya. Apalagi bubur sumsum kesukaan Edo. Dia habis 3 mangkok, sodara. Nasi goreng, kakap asam manis, tumis kacang panjang, telur dadar, roti selai, enak kok. Apalagi, dari resto, view nya cakep, terlihat Gunung Penanggungan dan Welirang.

Kelar makan, kita udah ditungguin para joki kuda. Haha…bukan bukan buat balap kuda, kok. Cuma nunggangin kuda keliling kompleks hotel yang luas dengan jalan berbukit. Mita dan Descha udah nggak sabar buat naik kuda. Lha saya terpaksa ngikut naik bareng si bungsu. Haduuh…maluunyaa…

Hotel yang didesain klasik ala bangunan Eropa ini juga menyediakan tipe kamar cottage dan villa. Jadi, buat keluarga besar, lebih hemat menyewa cottage atau villa-nya. Oia, waktu saya ke sana, waterpark-nya sedang on progress, dalam proses pembangunan. Semoga dalam waktu dekat segera kelar, biar lebih seru kalau nginep di sana. Overall, puas dengan pelayanan stafnya dan fasilitasnya.

Oia,Vanda Hotel dekat beberapa tempat wisata, kayak Air Terjun Dlundung dan Tretes Treetop. Jangan lupa juga, kalau pulang bawa oleh-oleh pisang ambon tretes yang terkenal manis dan dagingnya tebal.

 

Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda

Kids Activity

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “Flashpacker Bareng Anak? Kenapa Nggak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s