Sedih tak terkira begitu mendengar kabar duka itu. Guru piano Edo-Mita meninggal dunia.

Kabarnya begitu mendadak. Ketika mendengarnya, saya tak kuasa menahan tangis. Gimana nggak sedih, Selasa masih mengajar edo-mita, Rabu beliau meninggal.

Pak Elias, guru piano Edo sejak Edo masih TK hingga mau masuk SMP. Selama itu Edo banyak menorehkan prestasi di bidang piano.

Dia sangat perhatian pada Edo, bahkan sangat akrab dengan Edo. Teringat di awal les piano, Edo sempat mogok. Nggak mau masuk kelas tanpa ditemani ibu. Pak Elias cuma tersenyum, tidak ada paksaan dari beliau.

Entah sihir apa yang diberikan pak Elias pada Edo sampai bisa meluluhkan hati Edo. Edo makin memperlihatkan bakatnya di piano. Bahkan Edo sekarang dipercaya untuk menjadi organis gereja dan sekolahnya di SD.

Melihat si abang asyik makin piano, si adik, mita, jadi kepincut main piano. Dia minta sendiri untuk les dengan Pak Elias ketika duduk di kelas 1 SD.

Perkembangan mita di musik tak kalah menggembirakan. Prestasinya di piano bagus. Bahkan mita punya skill vokal yang lumayan. Itu yang didorong terus oleh Pak Elias. Karena selain guru piano, beliau jg mengajarkan olah vokal.

Edo dan mita tengah mempersiapkan konser duet. Ketika sedang dalam proses latihan itulah, Pak Elias meninggalkan mereka selama lamanya. Tapi, the show must go on.

Sedih? Sangat. Edo bahkan masih belum bisa percaya kalau Pak Elias diambil Tuhan. Ketika les dengan guru piano pengganti, Edo masih terbayang yang duduk di sampingnya itu Pak Elias.

Kami begitu kehilangan sosok guru piano yang begitu perhatian, suka bercanda, tegas, dan mengerti bagaimana mengatasi anak-anak.

Ya, Tuhan pasti punya rencana yang indah. Semoga edomita makin termotivasi untuk giat berlatih piano, meski sang guru sudah tiada.

Selamat jalan Pak Elias, Edo Mita janji lebih giat latihan…