Bukit Daun Kediri, Kembali ke Alam

Kediri ibaratnya second hometown buat kami. Paling nggak satu tahun dua kali kami ke sana untuk nyekar ke makam kakek nenek di Kediri, tepatnya di Pohsarang. Karena banyak saudara di sana, kami jarang bermalam di hotel. Lha wong bisa nginap di rumah saudara. Hemat, dikit lah. Hehe…

Tapi, beberapa waktu lalu, karena penasaran sama sebuah hotel di Kediri, saya ajak EdoMitaGita bermalam di sana. Namanya Bukit Daun Hotel and Resort di Jl Argo Wilis No. 777, Puhsarang, Semen, Kediri.

Memasuki gerbangnya, kita sudah disuguhi dengan jalan yang berbukit menuju lobi. Suasana pedesaan makin kental dengan alunan gamelan Jawa kala berada di lobi. Ditambah sambutan hangat dari staf hotel yang mengenakan seragam jarit modern. Tjakep.

Kami memesan kamar tipe Mezzanine. Kamar satu setengah lantai ini dilengkapi dengan tangga di dalamnya. Cukup banget buat tiga dewasa dan dua anak. Ini karena di lantai atas terdapat tempat tidur juga.

Didominasi dengan unsur kayu, pas dengan lokasinya yang bernuansa pedesaan. Kamarnya bersih, termasuk untuk kamar mandinya.

Lahannya luas banget. Kamar yang saya tempati, dekat dengan taman yang lapang berlatar pemandangan sawah dan pegunungan Wilis. Pagi itu, banyak yang jogging di taman itu. Saya sih cuma jalan-jalan bareng krucil. Kondisi tanah yang naik turun, lumayan bikin keringatan juga sih. Hehe…

Tapi, yang bikin anak-anak ketagihan nginep di Bukit Daun, apa lagi kalau bukan ada kolam renangnya. Airnya segar karena langsung dari pegunungan.

Soal menu buat breakfast yang jadi andalan ya nasi pecel tumpang. Itu makanan khas Kediri. Tapi, ada juga soto ayam dan makanan lain yang nggak kalah enaknya.

5

Restonya punya view sungai dan pematang sawah. Wih, bener-bener mengusung suasana desa.

7

8

Kalau lagi main ke Kediri atau ziarah rohani ke Pohsarang, Kediri, bisa nih bermalam di Bukit Daun.

 

Iklan

Selamat Natal dan Tahun Baru

EdoMitaGita mengawali tahun 2016 dengan berziarah ke Pohsarang, Kediri. Bukan cuma ziarah, kami juga mengunjungi saudara di sana sekaligus nyekar ke makam beberapa eyang dan eyang buyut yang lokasinya berada di satu kawasan dengan tempat ziarah itu.

Saya pikir, merayakan tutup tahun di sebuah desa di Kediri itu akan terasa sunyi dan sepi. Tapi, ternyata tidak. Rameee…Apalagi, misa tutup tahun yang diadakan di Gua Maria Lourdes Pohsarang dipimpin langsung oleh Bapa Uskup Vincetius Sutikno Wisaksono. Jadilah, misa tutup tahun yang dimulai tepat pukul 00.00 dihadiri oleh ribuan umat Katolik.

Sebelum misa, pada 31 Desember pukul 23.00 umat yang sudah berkumpul di area gua Maria mulai melantunkan doa doa. Hingga beberapa menit sebelum tengah malam, seorang pastor yang ikut memimpin misa, mengajak kami untuk kembali merenungkan pergantian tahun yang sarat akan makna.

Tepat tengah malam, kami pun serentak membunyikan terompet sambil memberikan salam selamat tahun baru kepada orang-orang yang ada di sekitar. Tak lupa, menikmati kembang api. Cantiiik…

Misa pun baru dimulai sekitar 00.15 dengan dipimpin oleh uskup dan empat romo. Sayangnya, EdoMitaGita nggak ikutan misa. Mereka nggak kuat menahan kantuk. Bobok lah mereka di penginapan.

Padahal, sorenya, mereka udah bersikukuh pengen ikutan misa tutup tahun, lha kok pas diajak, malah bobok nggak mau bangun. Hadeeeh…

DSC002741 Januari pagi: Mita, Descha, ibu dan Gita, Edo di depan gua Maria Lourdes, Pohsarang.