Hobi Bangun Pagi

’’Bu, obatnya batuk tuh jahe sama mengkudu,” ujar Edo tiba-tiba padaku yang sudah beberapa hari mengalami batuk.
’’Tahu dari mana, bang?” tanyaku.
’’Ya dari majalah,” ujar Edo.
Hmmm…Edo suka sekali baca buku-buku berbau pengetahuan. Tak heran kalau celetukannya kadang bikin saya sebagai ibunya cuma bengong karena nggak ngeh.
Itu artinya, sebagai orang tua kita dituntut untuk terus up date pengetahuan, ya.

Kadang, saya juga merasa harus berlomba dengan kesenangan Edo melahap majalah-majalah science seperti Kuark. Ditambah, keinginannya untuk melakukan eksperimen-eksperimen. #emaknya sudah lelah.
Ada satu hal lagi yang bikin saya malu sama Edo adalah kebiasaan bangun pagi. Saya orangnya susah bangun pagi. Jam ngantor siang-malam jadi alasan kenapa saya nggak bisa bangun pagi. Untunglah, Edo nggak meniru kebiasaan buruk itu.
Maksimal pukul 05.00 pagi, Edo sudah bangun, jalan-jalan, mandi, sarapan roti-susu, dan kalau sudah siap berangkat, baru deh bangunin emaknya untuk minta anter ke sekolah. ’’Ibu…ibuuuk…ayo banguuun….,” teriak Edo sambil gelitikin kaki emaknya yang masih ngorok. Mmm…maapin ibuk ya nak. Huehue…

 

dsc00126

 

Iklan

Belajar-Bermain di Kampoeng Kidz, Batu

Main yuk main…ke mana? Kali ini, EdoMitaGita pengen cerita serunya main di Kampoeng Kidz, Batu Malang di awal Januari lalu.

Apa sih Kampoeng Kidz itu? Kalau warga Surabaya dan sekitarnya pasti udah tahu kan ya. Intip di SINI aja tentang Kampoeng Kidz.
Sebelumnya, pada 2014, Edo udah pernah ke Kampoeng Kidz untuk ikutan Jambore Kids. Dia menginap di sana semalam. Ceritanya sila tengok di SINI

edo revisi

Balik lagi ke aktivitasEdoMita di Kampoeng Kidz, ya.

Kami sudah tiba di Kampoeng Kidz sekitar pukul 09.00. Kami disambut oleh tim Kampoeng Kidz yang semuanya adalah pelajar SMA Selamat Pagi Indonesia. Oia, udah tahu kan sekolah itu? Yap. SMA Selamat Pagi Indonesia, sekolah gratis untuk siswa tak mampu dari seluruh Indonesia yang digagas oleh Yulianto Eka Putra.
Selain mendampingi anak-anak yang beraktivitas di Kampoeng Kidz, para siswa itu juga diserahi tanggung jawab untuk mengelola lini bisnis yang ada, seperti kantin dan suvenir. Kemampuan para siswa itu tak perlu diragukan lagi. Mereka sangat luwes dalam berinteraksi dengan pengunjung. Apalagi, ketika mendampingi anak-anak yang beraktivitas di Kampoeng Kidz, bener-bener mirip mentor, deh. Bahkan, mereka kerap melakukan beberapa atraksi hiburan untuk para pengunjung.

photoAksi siswa SMA Selamat Pagi Indonesia saat Jambore Kids di Kampoeng Kidz, Batu, Malang pada 2014 silam.

DSC00065

DSC00067

Ada beberapa paket aktivitas yang bisa dilakukan oleh anak-anak usia 5-12 tahun. Sebenarnya, anak-anak pengen nyoba yang paket adventure, tapi mulainya pukul 13.00. Sedangkan untuk paket entrepreneurship dimulai pukul 10.00. Ya sudah, akhirnya anak-anak ambil paket entrepreneurship. Di paket itu, anak-anak diberi gambaran gimana sih menjadi seorang pengusaha cilik.

DSC00059

Ternyata, paketnya nggak seserius namanya. Aktivitasnya fun banget.
Sebelum mulai ’’perjalanan’’, anak-anak dikumpulkan di lapangan lebih dulu. Mereka diajak menyanyi dan menari sambil berkenalan dengan teman sekelompok dan kakak pendamping.

DSC00070

Tujuan pertama, anak-anak yang ikut paket entrepreneurship diajak ke wahana pengusaha peternakan. Mereka memberikan makan kambing dan kelinci di kandangnya. Juga, ngasih makan ke kolam ikan. Anak-anak dijelaskan mengenai produk-produk apa saja yang bisa diperoleh dari hewan itu dan gimana cara memeliharanya.

 

DSC00080

DSC00085

 

Lanjut ke wahana pengusaha pertanian dengan mengunjungi kebun jagung. Waaah…metik jagung segala. Masing-masing anak dapat enam jagung. Haha… buat bakar-bakar ya, nak. Apa lagi, jagung di ladang Kampoeng Kidz itu ditanam secara organik. Jadi, lebih fresh and healthy.

DSC00167

DSC00152

Setelah jadi ’’petani’’ anak-anak diajak makan siang di resto Kampoeng Kidz. Oia, paketnya itu udah termasuk makan siang. Resto di Kampoeng Kidz dikelola juga oleh siswa SMA Selamat Pagi. Tuh kan, mereka bener-bener learning by doing.

DSC00140

Kelar makan siang, langsung cuuus ke kolam ikan. Waktunya mancing. Aktivitas di kolam ikan nggak cuma mancing, tapi juga ngasih makan ikan pakai dot.

DSC00091

DSC00120

Lanjut, mereka masuk ke wahana pertambangan, seperti di dalam gua. Ngapain aja di sana? Mereka diberi ”bongkahan batu”. Pura-puranya nih, bongkahan batu itu dibelah dan dipotong-potong. Kemudian, dipoles dan dihaluskan. Jadi seperti akik gitu deh. Hehe..

DSC00130

Terakhir, anak-anak diajak menjadi pengusaha kuliner. Mereka diajak bikin pancake. Walah, pada berebut ngasih topping kesukaan dan langsung nyaaammm…Makan lagi.

DSC00173

DSC00192

Udah ah, capek. Tapi, para bocil masih seger buger. Nggak ada raut wajah kelelahan. Padahal, sudah pukul 14.00. Mereka malah pengin ikut yang paket adventure. Jiyaaah…lain kali aja ya kids.

Memang sih, saya aja yang orang tua betah banget di Kampoeng Kidz, apalagi anak-anak. Eh, mereka bawa banyak buah tangan, ada history book dan foto-foto selama beraktivitas. Seruuuu….

 

Gagal Jadi Juara

”Ibu, ayo beli mainan,” kata Edo setelah pengumuman lomba piano Harmony Music School.

”Loh, kan nggak menang, do,” sahutku penuh kekecewaan.

Yah, aku sangat kecewa ternyata Edo nggak berhasil memenangi lomba piano yang dia ikuti untuk kali kedua itu.

”Tapi kan Edo dapat piala,” tukas Edo sambil menenteng piala bertuliskan kategori silver.

Lha Edo, itu kan cuma pemenang hiburan. Bukan pemenang utama 1,2, dan 3.

Tapi, rupanya, menurut Edo bahwa dapat piala tuh sudah jadi pemenang. Di perlombaan piano kali pertama beberapa bulan lalu, Edo memang berhasil jadi pemenang ketiga. Semenjak itu, aku pun punya ekspektasi lebih padanya, bahwa di perlombaan kali ini Edo harus bisa lebih bagus lagi.

Aku membenamkan padanya bahwa harus juara, harus juara. Bahkan, aku iming-imingi hadiah, salah satunya sepeda kalau bisa menang.

Entah menjadi beban baginya, sebelum tampil, Edo sempat bilang kalau rasanya kok deg deg an. Aku aja kaget, kok tumben Edo di usia yang saat itu tujuh tahun lebih sebulan punya rasa deg deg an. Padahal, di lomba sebelumnya dan di beberapa konser, mau tampil ya tampil aja.

Dan pas pengumuman, rasanya, kaki ini lemas ketika tahu Edo nggak berhasil jadi juara utama. Setelah lomba kami pun jalan-jalan. Tapi, aku sangat nggak antusias. Masih terngiang-ngiang Edo bermain komposisi Blues Scales dengan grogi, sampai-sampai nggak memperhatikan keras lembutnya nada. Semua diterjangnya,

Aku sempat nanya, Edo suka cuma dapat kategori silver? Edo bilang, ya agak suka (Edo sering mengatakan nggak suka dengan kalimat agak suka). ”Tapi nggak apa-apa lah bu. Edo loh nggak apa-apa nggak juara utama,” katanya.

Iya tapi, ibu sangat kecewa, nak. batinku.

Melihatku yang seperti orang linglung, bapaknya edo agak sebel. ”Perjalanan Edo masih panjang. Edo sendiri juga kecewa. JAdi, jangan malah ditambah lagi kekecewaannya dengan kekecewaan kita,” ujar bapaknya Edo.

Ya, mungkin ini juga salahku, membebani dia dengan segudang harapan-harapan yang justru malah memberatkan langkahnya. Dia jadi nggak bisa lepas saat bermain karena menanggung berat beban ibuknya.

Bapaknya Edo bilang lagi, “Sekarang tugas kita untuk memotivasi dia untuk lebih giat berlatih lagi. Buat aku, selama ini Edo sudah bisa mainin lagu-lagu di luar buku pianonya, ngarang-ngarang lagu pake pianonya sendiri, itu sudah sangat hebat. Percaya deh, kemampuan musiknya nggak kalah kok dengan anak-anak yang lain dan masih bisa berkembang lebih maju lagi,” ujar bapaknya Edo panjang lebar.

Hiks, maapkeun ibuk ya Edo…kita belajar bareng ya, nak…atau malah ibuk yang minta diajarin Edo main piano di tingkat lanjut. hehe…

Nggak Kecewa Lagi

Nggak Kecewa Lagi

Merekam

Memori anak kecil dalam merekam sesuatu di sekelilingnya memang patut diacungi jempol. Karena itu, hati-hati ya dalam bertingkah laku kalau batita atau balita Anda ada di dekat Anda.
Ceritanya, Mita lagi main kartu baca. Sampailah pada tulisan: SEDIH. Dia mencoba meniru raut muka sedih. Tapi, Edo meledeknya, ”Itu bukan sedih, adek, tapi marah.” Bisa jadi nggak terima dengan ledekan abangnya, Mita bilang, ”Kalau marah tuh ini.” sambil menunjukkan kartu bertuliskan: MARAH. ”Gini loh kalau marah,” katanya sambil berkacak pinggang. ”Kayak abang,” lanjutnya. Whuahaha….aku yang dengar kata-kata spontan yang keluar dari bibir mungil bocah kriwul itu ngakak nggak brenti-brenti.
Si abang nih kalau marah memang gitu. Berkacak pinggang. Abang yang diledek langsung tersenyum kecut. Hahaha…
”Abang kalau marah gitu ya dek?” tanyaku.
”Iya, gini. wei wei wei,” jawab Mita seraya berkacak pinggang dan jari telunjuknya diayun-ayukan sambil teriak-teriak.
Hahaha….
”Kalau ibu marah, gimana dek?” tanya abang.
”Hayo Edo, mulutnya dijaga ya,” jawab Mita sambil menuding bibir abangnya. Wiks…langsung nyadar. Haha…
”Kalau oma marah?” tanyaku.
”Edo, yang bener kalau main,” jawab Mita.
”Kalau opa marah?” tanyaku lagi.
”Edo, tak slentik loh kamu,” ujar Mita lugas. (slentik artinya menjentikkan jari di telinga). Bwahahaha…

Seketika itu, aku, oma, dan opa langsung berubah haluan. Sekarang lebih menahan amarah, nahan emosi. Itung-itung belajar jadi orang sabar.
Pfffh….

Menata Sepatu

Entah gender itu memengaruhi pada sifat, saya juga nggak tahu. Tapi, Mita termasuk anak yang tertata atau apa ya istilahnya? Orang Jawa sih bilangnya primpen. Beda dengan Edo yang grusa grusu. Katanya sih karena Mita cewek dan Edo cowok.
Mita selalu tahu letak barangnya. Bahkan, kalau disuruh membantu mencarikan barang, dia lebih cepat menemukan dibandingkan yang lain, termasuk ibuknya. Hehehe….
Kadang sampai malu sendiri dengan keprimpenan Mita. Saya buru-buru mengambil dompet yang tertinggal di dalam rumah. Sandal saya lepas gitu aja di depan pintu. Nggak sampai dua menit saya keluar rumah, lha kok sandal saya sudah hilang? Dalam kondisi jam udah mepet untuk jemput Edo, paniklah saya mencari sandal. Tiba-tiba,”Ibuuu, ini loh di rak.” Astaga Mitaaaa…ternyata dia meletakkan sandal ibuknya di rak sepatu yang memang tersedia di depan pintu rumah.
Itu memang kebiasaan Mita. Semua sandal atau sepatu yang tergeletak begitu saja di lantai teras, langsung diambilnya dan diletakkan di rak sepatu itu.
Bahkan, sandal opa yang memang sengaja dijemur di teras karena habis dicuci, tak luput dari perburuan Mita. Dalam kondisi basah-basah gitu, sandal punya opa diambilnya dan diletakkan di rak sepatu. Alhasil, opa pun kalang kabut nyari itu sandal. Hehehe….
Nggak cuma meletakkan sandal/sepatu di rak, dia pun mengaturnya jangan sampai saling bertumpuk. Rapi banget.