Sebelumnya niat nulis blog buat cerita-cerita pengalaman jalan-jalan bareng keluarga. Tapi sekarang? Selama pandemi, saya dan keluarga ngempet mau jalan-jalan. Jangankan ke luar kota, ke luar rumah aja juaaaarang. Rumah pun sekarang jadi pusat segala aktivitas. Ya kerja, sekolah, tempat makan-makan, main, berantem, haha…kalau yang terakhir itu jangan ditanya lagi. Ada tiga anak di rumah yang lumayan ehm sempit. Ketemunya lu lagi lu lagi.

Mereka sebenarnya udah kangen ketemu teman-teman. Tapi apa daya. Lagi-lagi kekhawatiran paparan virus Korona itu yang bikin semuanya kembali di rumah saja.

Gita saat ini sudah masuk SD. Karena baru masuk sekolah formal, dia harus beradaptasi dengan beberapa aturan. Misalnya, pukul 7 pagi sudah buka laptop untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebelumnya, Gita belum pernah sekolah formal. Jadwalnya kami sesuaikan dengan kondisinya. Lebih fleksibel tapi sesuai target.

Alhasil, beberapa kali dia sempat ketiduran di depan laptop. Belum lagi, sekarang harus berseragam. Padahal, sebelumnya, kalau belajar, dia lebih suka pakai baju cantik dengan segala kedombrengan-nya (Kedombrengan a.k.a full aksesori di kepala, di tangan, leher). Malah, kadang dia pakai make-up dong.

Setelah satu bulan berlangsung PJJ Gita, dia sudah mulai bisa mengikuti ritme sekolah formal. Eh, tapi kemarin ketika Zoom meeting sempat ditinggal main sama anjingnya ke luar rumah. Waktu saya tanya, dia bilang sudah kelar kelas zoom nya. Tapi saya kok ngerasa nggak enak, ya. Akhirnya, saya buka kelas zoom meeting nya. Lhadalah, PJJ-nya masih berlangsung.

Waduh, saya langsung lari ke luar rumah nyari Gita yang masih kejar-kejaran sama anjingnya. Sudah keringetan, seragam berantakan, rambut acak-acakan. Pas juga sama ibunya yang ngos-ngosan.

Untungnya, Gita masih mau duduk manis lagi di depan laptop untuk melanjutkan PJJ nya. Untungnya lagi, nggak kena tegur bu guru pas Gita ”kabur”.

Biarpun terlihat kurang konsen saat PJJ, tugas-tugas dari bu guru nya nggak pernah meleset loh. Semua pengumuman yang disampaikan bu guru dia paham. Jadi, sangat membantu untuk ibunya yang kalau pagi jadi asisten rumah tangga, siangnya jadi asisten redaktur. 🙂

Kadang, saya dibuatnya gemes. Apalagi kalau dia cerita, kayak cerbung, panjaaaang susah berhentinya. Belum lagi, kalau menyanyi, suaranya menggelegar, kadang bikin saya tutup kuping. Meskipun begitu, saya nggak pernah melarangnya. Loooosdoooll pokoknya.

Eh, tapi, ternyata ada berkahnya loh. Waktu lomba menyanyi 17-an di sekolah, Gita menyabet juara 1. Keren ya. Haha… Tapi coba aja kalau ditanyain soal hobi, dia pasti bilang menari. Bukan menyanyi.

Satu pelajaran buat saya: Jangan meremehkan anak-anak. Mereka punya ”wow” di dalam diri mereka. Yang pasti bikin kita juga makin ter-wow wow. (*)