”Ranjangnya ini racun. Bawaanya pengen tidur terus.

Tapi, kalau dimanjakan gitu, badan jadi kaku.

Ya harus dipaksa untuk beraktivitas.

pak bro

Seperti dihujani mantera bombarda maxima Harry Potter waktu dikabarin suami harus isolasi di rumah sakit. Tapi, life must go on. Sempat saya bergidik ngeri membayangkannya waktu itu. Beruntung, suami tetap tenang. Dia bilang, ”Kita ikuti saja protokolnya.”

Awalnya, suami akan dirawat di RSUD Soewandhi, ternyata dibawa ke RS Lapangan Indrapura. Waduh, bayangan kengerian berkelebat lagi. Itu kan rumah sakit darurat. Lalu, bagaimana dengan penanganannya? Apakah kondisi pasien mendapatkan perawatan yang bagus? Saya juga sempat ngeyel, kenapa nggak di rumah sakit swasta saja? Tapi suami diam aja, nggak ngerespons. Haha…dicuekin.

https://aktivitasedomita.wordpress.com/2021/01/25/ketika-suami-harus-staycation-di-rs/

Ya sudah lah. Saya pasrah.

Pada Selasa (19/1) siang suami resmi ”menghuni” RS Lapangan. Dia memvideokan kondisi ruangan yang ditempati bersama enam pasien lain. Itu kan bangunan lama ya. Jadi ruangan luas dengan jendela-jendela lebar. Sekitarnya masih banyak pepohonan.

”Enak kok tempatnya, nggak berasa di RS,” katanya lewat sambungan telepon.

Lega lah saya mendengarnya. Makin plong lagi ketika makan malam, suami bilang kalau menunya enak dan komplet. Nasi, sayur, lauk, buah, snack, dan susu. Saking kompletnya, kalau saban saya selalu nanya, mau dikirimin apa? Jawabannya selalu, ”Nggak usah. Makan tiga kali sehari dan dua kali snack, ini udah cukup banget.”

Kelebat kengerian di rumah sakit yang pernah saya bayangkan lambat laun berkurang setelah suami cerita aktivitasnya di sana.

Eh, ngapain aja di rumah sakit?

Pagi, sudah dibangunkan untuk senam pagi dan berjemur. Trus, sarapan, makan siang, makan malam. Saya mbatin, acaranya kok makan aja? Ternyata ada acara lain: apa itu? Acara bebas. Hehe…

Di RS Lapangan, pasien memang harus mandiri. Termasuk kedisiplinan minum vitamin dan obat yang sudah diberi dokter ketika masuk rumah sakit. Ya karena nggak ada perawat yang mengingatkan. Kalau pasien ada keluhan, bisa langsung ke tenda perawatan yang terletak di depan gedung.

Di sela-sela istirahat, suami lebih suka jalan-jalan di halaman rumah sakit atau baca buku. ”Ranjangnya ini racun. Bawaannya pengen tidur terus. Tapi, kalau dimanjakan gitu, badan jadi kaku. Ya harus dipaksa untuk beraktivitas,” katanya semangat. Yup, semangatnya untuk sembuh begitu tinggi.

Yang membuat saya terharu, dia ikhlas menerima sakitnya. Motivasinya untuk sembuh begitu nyata. Perjuangannya pun sangat besar untuk melawan virus yang ngendon di tubuhnya. Katanya, Biar nggak ngerepotin orang banyak.

permenungan xav-bro

Duh, masih mikir orang lain repot. Haha. Eh tapi bener juga. Nggak cuma suami yang repot bergulat dengan rasa tidak nyaman di tubuh. Negara pun dibuat repot. Berapa coba biaya buat tes swab? Berapa biaya untuk perawatan selama isolasi di rumah sakit dengan menu yang enak-enak plus obat-obatan? Tapi, semua itu gratis.

Nggak cuma itu, kantor tempat dia bekerja juga ikutan repot. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan, harus dilempar ke teman lain. Saya sebagai istrinya juga repot, repot jawab pertanyaan anak-anak soal bapaknya ada di mana, sakit apa, kenapa nggak boleh jenguk padahal sedang sakit, kenapa kok mereka masih belum boleh pulang ke rumah. hadeeeh….

Tak disangka, di hari keempat isolasi, datang kabar baik. Suami sudah boleh pulang. Eits tapi tak semudah itu ferguso. Hasil swab yang dilakukan pada hari kedua masuk rumah sakit, masih positif. Jadi, harus lanjut isolasi mandiri di rumah. Menurut observasi dokter di rumah sakit, kondisi suami sudah baik dengan nilai CT 37. Itu artinya, risiko menularkan virus ke orang lain sangat kecil. Apalagi, gejalanya sudah sembuh. Termasuk selera makannya sudah balik lagi normal.

Horeeee….Sudah Wisuda

Oia, sebelum pulang, para ”wisudawan” diberi briefing terlebih dulu. Termasuk kapan harus swab lagi, apa yang wajib dilakukan selama isolasi mandiri di rumah, dan mereka juga mendapatkan berkas-berkas yang salah satunya harus diserahkan ke puskesmas untuk pemantauan. Kabar baik itu juga disampaikan suami ke Ketua RT rumah kami sekaligus menerangkan bahwa selama lima hari ke depan masih harus isolasi mandiri di rumah. Dari beliau juga kami mendapatkan kabar bahwa rumah sudah disemprot disinfektan dua kali.

Dibarengi hujan gerimis sore, suami meninggalkan rumah sakit yang sudah memberikan banyak pelajaran tak ternilai. Tapi sayangnya, saya masih belum bisa menyambutnya. Suami malah belum ngebolehin saya dan anak-anak pulang dulu. Tunggu sampai sekitar dua minggu ke depan. Hiks.

Kata teman saya, ”Itu salah satu bukti cintanya sama keluarga.” ow sweet yaaa…

Itu salah satu bukti cintanya sama keluarga

teman saya

Kalau mau baca cerita kompletnya, mari ke mari:

https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/01/28/sakit-covid-sedikit-tetapi-nyelekit/