”Bu, aku positif, ” kata suami melalui telepon. Mak deg. Bengong sesaat. Trus cuma bilang, ”Ow”. Mau nangis, tapi takut suami malah ikut cemas. Nahan nangis, dada makin nyesek.
Denial. Rasanya nggak terima. Karena sehari-hari saya dan keluarga sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Apalagi saya sudah full WFH dan jarang keluar rumah atau ke tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan kerumunan.
Kalaupun keluar rumah, selalu pakai masker. Begitu pulang, baju langsung diletakkan di keranjang cucian tertutup, menyemprot barang dari luar dengan cairan disinfektan, mandi, dan keramas.
Ketika suami dinas dua pekan di Jakarta, saya juga tak kurang-kurang mengingatkannya soal protokol kesehatan.

Lalu kira-kira terpapar di mana ya suami?
Bisa jadi ketika masker dilepas saat makan di kereta. Tapi itu hanya dugaan, ya. Mungkin juga ketika beberapa hari sebelum pulang ke Surabaya atau bahkan ketika sudah sampai di Surabaya. Entah.

Yang pasti, ketika suami tiba di Surabaya, dia langsung isolasi mandiri di rumah. Sedangkan saya dan anak-anak selama ditinggal suami dinas di jakarta, sudah mengungsi di rumah mama.

Kenapa suami tes swab?

Pertama, karena dia baru balik dari Jakarta. Kedua, kondisinya flu. Ketiga, selera makannya berkurang. Masa ditawarin rendang jengkol ditolak, dong. Ngeliat makanan juga mual. Hmm…ada yang nggak beres nih. Dan ketika swab antigen, hasilnya positif. Dia diminta untuk swab PCR di puskesmas dekat rumah. Hasilnya, masih menunggu 1 minggu.
Senyampang menunggu hasil PCR, saya mencari informasi ke beberapa teman mengenai penanganan pasien Covid-19. Beruntung, mereka semua memberikan semangat.

”Intinya, kena Covid-19 ini pasti bisa sembuh,” kata Sinung, temen SMA saya yang juga dinas di pemkot.
“Dibuat rileks aja, jangan sampai ikut drop, ” pesan mbak Eta, rekan kantor suami yang paling repot kirim-kirim makanan dan vitamin selama suami isolasi
mandiri.
”Wis tah, nggak apa-apa, pokoknya makan banyak, istirahat,” kata kakakku yang jadi orang pertama dan satu-satunya anggota keluarga yang kukabari kalau suami terpapar waktu itu. Saya memang sengaja menyembunyikan berita ini dari papa mama. Takutnya mereka malah khawatir.
Shock itu wajar ve. Yang penting sekarang jaga mentalnya aja,” kata Rissa, rekan kantor, yang juga jadi tempat curhat.

Komunikasi saya dan suami pun hanya berlangsung melalui ponsel dan video call. Beberapa kali juga saya ke rumah untuk kirim makanan buat suami. Cuma ketemu di depan pagar, walakin, saya sudah lega melihat suami masih bisa beraktivtas. Ya ngepel, nyapu, dan nyiram tanaman. Kalau sehat, malah rajin masakin saya dan anak-anak tuh. Hehe…

Kondisinya di hari keempat setelah tes swab PCR juga makin membaik. Dia benar-benar berjuang untuk melawan rasa mual tiap kali makan. Salut sama ketangguhannya. Tuhan sudah beri dia kekuatan ekstra. Selera makannya berangsur pulih. Kami pun optimistis kalau hasil PCR negatif karena pihak puskesmas belum juga mengabari.
Tapi, ternyata, bukan kabar baik yang kami terima di hari kelima setelah PCR. Hasilnya, positif. Suami sempat kecewa. Saya, apalagi. Dia juga bilang kalau akan dijemput oleh petugas puskesmas untuk dirawat di rumah sakit. Jeng jeng jeng…
Mendengar kata rumah sakit sudah bikin kaki lemes. Pikiran sudah nggak fokus.

Kenapa harus di rumah sakit? Kenapa nggak isolasi di rumah aja?

Pertama, berdasarkan hasil tes swab, CT value-nya 21. Itu artinya, suami sangat berpotensi menularkan virus ke orang lain. Kedua, suami punya riwayat sesak napas, meski sudah jarang kambuh. Ketiga, asupan makan dan obat-obatan selama di RS pasti terjaga. Keempat, kondisi suami akan mudah terpantau.
Ya, selama isolasi di rumah, suami merawat dirinya sendiri. Saya cuma bisa memantau dari telepon atau video call. Hiks.

Akhirnya, dukungan beberapa teman dan sharing dari penyintas Covid-19, meyakinkan saya kalau suami akan membaik dengan melakukan isolasi di rumah sakit yang ditunjuk oleh petugas.
Suami kemudian berkabar dengan ketua RT dan warga melalui grup WA kalau dirinya terpapar Covid-19 plus wanti-wanti agar warga lain supaya lebih waspada. Beruntung, para tetangga sangat support.

Ketika Selasa (19/1) suami dijemput mobil travel (baca: ambulans) ke hotel (baca: rumah sakit) buat staycation (baca: isolasi). Ya saya pesan ke suami, ”Anggap aja staycation, pak. Disuruh istirahat untuk pemulihan. Yang penting happy.”