nagasari oke

Di tengah pandemi, aku kehilangan mbah putri. Nggak nyangka, karena beliau memang tak punya riwayat sakit apa pun. Di usia yang hampir 95 tahun, fisik beliau termasuk bagus. Tapi, sekitar 10 hari sebelum beliau tiada, kondisinya agak lemah sampai harus diinfus.

Sedihnya, aku hanya dua kali menjenguk beliau lantaran harus jaga jarak. Demikian juga ketika beliau meninggal, aku dan mama tidak mengantarkan ke pemakaman. Hanya beberapa orang yang diizinkan ikut. Tujuannya untuk menghindari kerumunan sebagai salah satu bentuk dari pelaksaan protokol kesehatan.

Sebagai obat rindu pada mbah putri, mama membuat jajanan nagasari. Ini lantaran mbah putri dulu sering bikin kue nagasari. Rasanya, jangan ditanya lagi. Legit dan lembut. Pokoknya, nggak tertandingi.

Mama mencoba mengadopsi resep nagasari sekaligus cara bikinnya dari almarhumah mbah putri. Langkah demi langkah, eh ternyata jadi juga. Rasanya mirip banget dengan buatan mbah putri.

Bahan-bahannya sederhana. Cuma tepung beras, pisang raja, santan, tepung tapioka, daun pisang, gula, daun pandan (opsional). Caranya pun nggak terlalu ribet. Pertama, campur 1/2 gelas santan dengan 1/2 gelas tepung tapioka dan sisihkan.

Kedua, campurkan satu gelas santan dengan satu gelas tepung beras, gula secukupnya, dan garam sejumput. Masak hingga mendidih.

Ketiga, masukkan larutan tepung tapioka ke dalam larutan tepung beras perlahan sambil diaduk sampai mengental.

Keempat, adonan diisikan ke daun pisang satu per satu dan letakkan potongan pisang raja. Kukus 30 menit.

Kelima, makan yuuuuk….