Musim liburan adalah waktunya main-main di rumah saja. Jalanan dan tempat wisata pasti padat. Selain itu, harga penginapan maupun transportasi dijamin mahaaal…

Makanya, kami biasa nyuri waktu liburan sebelum musim liburan tiba. Waktu Lebaran kemarin, misalnya, saya ajak anak-anak liburan lebih dulu. Mumpung EdoMita sudah selesai ujian dan ulangan akhir semester. Saya dan suami juga bisa cuti.

Pilihannya? Ke Pulau Tabuhan, Banyuwangi. Alasannya? Pengen snorkeling-an di laut. Suami sempat galau, apa iya sih bawa balita snorkeling? Tapi, kami nekat untuk bawa mereka pergi.

Kami berangkat malam pukul 21.00 dari Surabaya naik mobil sendiri. Karena jalan santai dan beberapa kali berhenti untuk istirahat, tiba di Pantai Bangsring pukul 04.00 pagi. Langit masih gelap. Kami langsung menuju tempat parkir. Dari Bangsring itu, kami akan melanjutkan ke Pulau Tabuhan dengan menyewa perahu cepat pukul 07.00. Sebelumnya, kami sudah booking operator untuk penyeberangan ke Pulau Tabuhan.

61189886_2361985723862593_7576333880785895424_n

Akhirnya, kami menunggu sembari sarapan. Dari Surabaya, kami sudah menyiapkan nasi dan lauk pauk untuk sarapan. Ini mengingat saat kami pergi itu adalah bulan puasa. Untuk mencari warung yang buka di sekitar, kemungkinan besar sulit. Apalagi, saya membawa anak-anak dan keponakan yang berusia balita.

Perut sudah terisi cukup, perahu sudah tiba, jadilah kami memulai avontur sekitar pukul 08.00. Pemandangan terlihat elok. Sepanjang perjalanan menuju ke pulau itu, kita disuguhi pemandangan eksotis pegunungan Raung, Baluran, dan Ijen. Awan di pagi itu juga cerah. Biru. Senada dengan air lautnya.

Sekitar 20 menit perjalanan, kita disambut dengan air laut yang jernih. Pulau Tabuhan sudah terlihat jelas. Ibarat pantai tiga warna, kita bisa melihat perpaduan warna air hijau, biru, dan putih. Tampak jelas juga terumbu karang dan ikan-ikan warna warni. Duh, membuat nggak sabar pengen segera menceburkan diri. Benar saja, begitu perahu bersauh, kami segera memasang perlengkapan snorkeling dan byuuurr…

Memang sih masih pagi. Tapi yang namanya pantai tetap saja panasnya minta ampun. Trus? Ya kami tak peduli, tetap saja nyemplung di laut dan berlama-lama di sana.

Karena bukan musim liburan, yang ada Pulau Tabuhan seperti milik kami sendiri. Nggak ada orang sama sekali selain kami. Sepiiii…

biru2

Kami eksplor pantainya sampai ke tengah laut dengan snorkeling. Pengalaman snorkeling ini untuk kali pertama buat Mita. Dia kemarin ternyata berani, lho. Apalagi setelah mengetahui ikan warna warni di bawah air. Wah, dianya jadi ketagihan. Padahal, sebelumnya dia paling takut membenamkan kepala ke air.

Kalau Edo sih udah biasa berenang. Jadi, tak ada masalah dengan snorkeling meski di tempat dalam. Dia malah minta ditemenin guide kami untuk lebih jauh ke tengah laut.

Untuk Gita yang berusia empat tahun masih agak takut kalau diajak berenang lebih jauh dari pantai. Gita paling suka cari kulit kerang di pinggir pantainya. Cantik-cantik bentuknya. Tapi, menurut guide kami, kulit-kulit kerang itu nggak boleh dibawa pulang. Tujuannya, supaya tidak merusak ekosistem alam.

biru6

Pasir yang putih, airnya yang jernih, dan pemandangan bawah laut yang cantik, bikin kami betah berlama-lama di laut meski kulit sudah mulai gosong. Di pulau tak berpenghuni itu, kita memang benar-benar dimanjakan dengan kealamiannya. Sayangnya, kami nggak sempat berkeliling di pulau itu. Lain kali deh, kami pasti ke sana lagi.

Di perjalanan pulang dari Pulau Tabuhan, kami mampir ke Rumah Apung, Bangsring. Bisa apa aja di sana? Snorkeling-an lagi. Haha…

Snorkeling Bareng Ikan Hiu, Ngeri Tapi Menantang

Rumah Apung yang dibangun pada 2014 silam memang ditujukan untuk wisatawan yang ingin menikmati panorama bawah air di Bangsring yang aduhai. Benar saja. Ketika menceburkan diri ke laut, ribuan ikan warna warni menghampiri kita. Ditambah dengan terumbu karang yang sudah lebih dari 10 tahun dibudidayakan oleh nelayan setempat, menambah pesona bawah air di sekitar Rumah Apung tersebut.

Oia, saya pun sempat merasakan snorkeling ditemani oleh hiu muda di sebuah kolam penangkaran hiu. Ngeri tapi cukup menantang. Tentu saja didampingi oleh guide kami.

under1

under2

Puas menikmati Bangsring Underwater, kami lanjut makan siang yang sudah disediakan di Rumah Apung. Sesekali menikmati makan di tengah laut, ditemani deburan ombak.

Dari Rumah Apung, kami kembali menuju Pantai Bangsring. Setelah main di pantai seharian, badan terasa lengket, pasir nempel semua di badan. Tapi, nggak usah khawatir, tersedia fasilitas kamar mandi dengan air bersih di sana.

Oya, mungkin bisa jadi pertimbangan kalau pergi ke sana ketika pertengahan tahun. Kenapa? Ombaknya gedeeee…

Pengalaman kemarin, ketika perjalanan pulang dari Pulau Tabuhan, ombak sedang tinggi. Rasanya seperti naik roller coaster. Air laut masuk ke perahu. Barang-barang kami seperti tas basah kuyup terkena cipratan air laut. Tapi, menurut guide kami, itu sudah biasa. Dan benar saja, semua berjalan amaaan…