Mengajak anak untuk aktif berkegiatan di luar sekolah menurut saya sangat bagus. Anak bisa mengembangkan potensinya sekaligus membantu dia lebih percaya diri. Tapi, ada yang perlu diperhatikan juga. Yaitu soal waktu.

Seperti EdoMita. Beberapa bulan lalu, Edo sempat bergabung di klub renang Suryanaga. Sekitar enam bulan dia bergabung di klub itu. Dan dia sangat enjoy dengan latihan renangnya. Bahkan, dia sampai bercita-cita jadi perenang. Trus, sering mantengin perlombaan renang di youtube. Pokoknya semangat deh.

Kegiatan Edo di luar sekolah selama ini cuma les piano klasik satu minggu sekali. Ditambah les privat piano jazz. Maka itu, saya seimbangkan dengan mengikutkan dia klub renang supaya tubuhnya lebih bugar.

Mungkin saya juga yang keliru ya. Kalau klub renang sudah pasti dididik untuk menjadi atlet. Sehingga latihannya pun bisa setiap hari. Edo sendiri latihannya satu minggu dua sampai tiga kali.

Belum lagi jika di sekolah dan gereja ada latihan paduan suara, Edo dilibatkan sebagai organisnya. Belum juga ngerjakan tugas-tugas sekolah. Saya sampai kadang merasa kasian juga sama dia. Edo sih merasa happy aja. Karena memang kegiatan-kegiatan itu sesuai dengan hobinya.

Tapi, Edo sudah kelas enam. Memasuki semester dua baru terasa tuh aktivitas di sekolah kian padat. Sekolah menggembleng siswa kelas VI dengan bimbingan belajar setiap hari dan tryout.

Akhirnya saya putuskan untuk mencoret beberapa kegiatan Edo di luar sekolah. Kursus piano jazz dan renangnya berhenti. Jadi, hanya piano klasik yang masih berjalan. Kelompok padus sekolah pun sudah menyetop kegiatan untuk siswa kelas VI. Tujuannya, supaya mereka lebih fokus mempersiapkan ujian nasional.

Ya, kemauan Edo memang banyak. Tapi, lagi-lagi kita harus tahu diri. Kita harus paham mana yang harus lebih diprioritaskan. Jalannya juga masih panjang. Seusai pelaksanaan ujian nasional, bolehlah Edo mengambil kegiatan di luar sekolah selain piano klasik.

Untuk Mita sama juga. Sudah hampir tiga tahun dia berlatih piano klasik. Selain itu, dia ikut sanggar tari tradisional dan les bahasa Inggris. Di sekolah dan gereja pun dia tergabung di kelompok paduan suara. Gitu itu, dia masih pengen ikutan gymnastic. Katanya supaya badannya bisa tambah tinggi. Hahaha…

Aktivitasnya yang padat itu sempat membuat dia lelah. Akhirnya, saya kasih dia pilihan. Mau tari tradisional atau gymnastic. Dia pun pilih gym. Selain itu, saya juga minta ke dia untuk berhenti les bahasa Inggris kalau ikut gym. Pertimbangannya, bahasa Inggris bisa dipelajari sendiri bersama orang tuanya.

Maka, jadilah saat ini Mita cuma mengikuti kursus piano klasik dan gymnastic. Sedangkan latihan padusnya hanya kalau mau ada lomba atau tampil.

Dengan menyeleksi kegiatan-kegiatan mereka, EdoMita terlihat lebih fokus. Dan lagi, nggak bikin badan lelah.

Oia, satu lagi alasan mengapa harus pilih pilih untuk kegiatan anak. Biaya. Tahu sendiri kan biaya kursus piano berapa? Biaya les bahasa Inggris berapa? Biaya kursus ini itu berapa? Dan mereka masih membutuhkan biaya juga di kemudian hari untuk pendidikannya.