Liburan akhir tahun kemarin, ceritanya adalah family time. Yup, agendanya kumpul sama keluarga terus, termasuk sama keluarga besar dari kakeknya EdoMitaGita.

Anak-anak pun happy banget bisa ketemu sama saudara-saudaranya yang tinggal jauh-jauh. Ada yang dari Manado, Bandung, Jogja, Malang, semua pada ngumpul di Caruban sehari setelah Natal. Kebayang deh riuhnya. Sempat jetlag juga lantaran lama nggak ketemu. Ya pangling juga lah sama wajah-wajah yang dulunya masih imut, sekarang meremaja. Belum lagi tambahan anggota keluarga dari yang dulu single, sekarang sudah berbuntut. Jadi PR lagi nih buat inget-inget nama satu per satu.

Nah, itu tujuan dari reuni keluarga kami. Supaya nggak putus hubungan antara saudara. Biar tambah seru dan makin kenal satu sama lain, kami bikin games dan mini live music juga dong. Mulai yang masih balita sampai yang lansia bisa ikutan.

Acaranya sih cuma sampe sore, tapi kami lanjut jalan-jalan ke Sarangan. Iya, Sarangan. Kalau untuk warga Jawa Timur, tempat wisata ini sudah so old. Tapi pesonanya sampai sekarang masih nggak berkurang. Tempatnya di kaki Gunung Lawu. Kalau dulu ke Sarangan, selalu inget drama kolosal Sahur Sepuh. *ketahuan usianya ya*.

Cerita soal Sarangan ini sudah pernah saya tulis di sini Liburan Keluarga yang Menyenangkan di Sarangan.

Selama perjalanan dari Caruban sampai di Sarangan hujan turun lumayan lebat. Suhunya mencapai sekitar 20 derajat. Karena sudah jam tujuh malam dan di luar hujan, kami pun menghabiskan waktu di penginapan bareng keluarga besar dengan main kartu, makan sate, dan cerita-cerita seru.

Paginya, langit masih belum begitu cerah. Anginnya juga kenceng banget. Lucky me, hujan belum turun. Jadi, kami masih bisa jalan-jalan keliling telaga Sarangan. Masih jam 6 pagi sih, tapi jalanan sekitar telaga sudah mulai padat wisatawan. Yah, maklum liburan akhir tahun ya.

Kelar jalan-jalan, MitaGita minta naik kuda untuk keliling telaga. Waduh, padahal perut sudah kerucukan.

2

 

Alhasil, setelah acara berkuda, langsung lah kami sarapan. Pilihannya ya nasi pecel lah kalau saya. Kalau anak-anak suka sate ayam. Kami memilih salah satu lesehan di depan telaga untuk sarapan. Nyaamm…

Belum kelar sarapan, Edo dan om-om nya malah seru-seruan naik speedboat. Kebayang dong naik perahu motor cepat diterpa angin dengan udara sedingin ituuuu…nampol banget ademnya kata Edo.

Perut kenyang, capek jalan-jalan, pengennya ya tidur lagi. Haha… eh tapi kan belum mandi. Yah, kalau di Sarangan, belum mandi juga nggak masalah. Jarang keringetan. Tapi, masa nggak nyobain sensasi dinginnya air di Sarangan? Saya pun memberanikan diri mandi pakai air dingin. Segeeerr…Di Surabaya mana ada air sedingin es batu itu. Tapi EdoMitaGita tetep bersikeras minta air hangat yang memang sudah termasuk fasilitas hotel.

Dari Sarangan, kami sepakat jalan-jalan lagi ke Geni Langit. Nggak jauh dari Sarangan. Sekitar 30 menit perjalanan. Tapi, jalannya cukup ekstrem. Naik turun dan berkelok-kelok.

1

Taman Wisata Geni Langit merupakan kawasan hutan pinus di Desa Poncol. Saya pikir masih jarang lah orang yang tahu kawasan itu. Lha kok ketika tiba di lokasi, parkiran penuh kendaraan. Tante dari Bandung malah bilang, ’’Astaga, tempatnya di pucuk gunung begini kok ya banyak yang ngunjungi?”

Kami masuk lokasi hutan pinus yang rimbun itu. Tiket masuknya cuma Rp 5 ribu. Di area pintu masuk, kita sudah disambut dengan miniatur bangunan ikonik dunia seperti menara eifel. Makin masuk hutan, pemandangan yang ditawarkan cukup aduhai. Di Timur terlihat perbukitan yang menghijau.

Ada beberapa spot foto yang terbuat dari kayu-kayu. Lalu, ada rumah-rumah ala Hobbit yang diletakkan di tengah-tengah hutan itu. Wah, Mita dan Gita sudah nggak sabar pengin foto-foto di rumah-rumah yang colorful itu.

ok1

Kalau saya, penasaran pengen foto di perahu kayu yang menjorok ke jurang. Tapi yang motret harus bapaknya EdoMitaGita. Dijamin pasti hasilnya lebih dramatis. Si bapak memang paling tahu angle yang pas. Haha…

Spot-nya lucu-lucu deh. Ada juga anak-anak ngeteh sambil santai dengan latar belakang tebing gunung.  Sebenernya yang paling seru ya naik sepeda di atas tali dan ayunan. Tapi, antrenya bok….panjang. Ya sudahlah, kami nggak mau habis waktu di situ. Apalagi, Edo dan om-om nya sudah nggak sabar pengin naik ATV.

Rute untuk ATV masih harus jalan lagi ke arah Barat. Kata Edo sih rutenya cukup menantang. MitaGita juga ikutan naik ATV bareng bapaknya. Saya? Jaga tas. Haha…Kalau untuk ATV ini sekali putaran bayar Rp 20 ribu.

Beralih ke tempat lain, saudara yang lain malah masih ngajak foto-fotoan. Apalagi ngeliat ada spot foto dengan background gunung dan bisa dengan mengenakan kimono. Cukup bayar 10 ribu, bisa mejeng ala di Jepang gitu. Tapi, lagi-lagi antrenya itu loh. Sementara saya dan tante antre, Mita dan Gita masuk ke playground.

               Playground-nya seru juga. Ada perosotan, ayunan, flying fox, dan panjat tebing. Sampai anak-anak bosan di playground, antrean untuk foto ala di Jepang itu tak kunjung selesai. Ya sudah lah, saya dan tante menyerah. Kami balik.

ok4

Kalau mungkin nggak ramai, kami mau makan di kedai-kedai yang ada di dalam hutan pinus. Ya, semacam foodcourt  dengan menu beragam. Sensasinya tentu beda ya, makan siang di tengah hutan. Tapi, karena ramai pengunjung dan tak ada tempat duduk, kami pun langsung memutuskan untuk cari makan sambil perjalanan pulang saja.

ok5

Turun dari Geni Langit, sebenarnya pengin juga ke air terjun. Tapi, waktunya tidak memungkinkan karena kami masih harus mampir makan siang dulu. Kemudian ke Madiun sebelum bertolak ke Surabaya. Yah, semoga lain kali bisa lebih lama eksplorasi Magetan. Belum puas kalau cuma sehari. Mungkin butuh waktu dua hari lagi.  (*)     

 

Iklan