Malang masih jadi jujukan warga Surabaya buat liburan. Termasuk EdoMitaGita waktu liburan akhir tahun kemarin. Tapi, dalam perjalanan ke Malang, kami melipir terlebih dulu ke Lawang. Lawang termasuk dataran tinggi dan bagian dari Kabupaten Malang. Di sana, ada kebun teh Wonosari yang dikelola oleh PTPN XII.

EdoMitaGita sebenernya sudah sering jalan-jalan ke kebun teh itu. Paling suka ya main ke playground-nya. Trus ada kereta kelinci yang cuma beroperasi di hari Sabtu-Minggu.

Jpeg

Tersedia juga kolam renang, tapi kami masih belum pernah nyoba berenang di sana. Selain karena sering penuh, airnya dingiiiin…brrr.

Nah, Desember lalu, kami main-main lagi ke kebun teh itu. Penasaran sama yang namanya Bukit Kuneer. Lokasinya ada di kawasan kebun teh itu juga. Cuma, butuh usaha sedikit untuk mencapainya.

’’Deket kok kalau jalan. Cucu saya ini sering ke sana sendirian sama teman-temannya,” kata Pak Rakub, pensiunan pegawai kebun teh yang juga kenalan keluarga kami.

Cucunya cewek, usia 10 tahunan gitu. Mereka memang tinggal di Desa Ketindan, sekitar 4 kilo dari Kebun Teh Wonosari. Wah, anak kecil aja bisa. Masa sih kita nggak mampu.

Sampai di Kebun Teh Wonosari, langit mendung dan agak gerimis. Kata seorang petugas, jaraknya sekitar 3 kilo. Kami jadi mikir dua kali dong kalau harus trekking. Kalau di tengah jalan hujan deras gimana dong? Nggak ada pos untuk berteduh pula. Yang ada hamparan tanaman teh.

Apalagi, kami membawa Gita yang usianya 3,5 tahun dan keponakan usia 2 tahun. Kalau Mita (8) dan Edo (11) masih bisa lah untuk jalan kaki. Dan lagi, saya mengajak serta papa mama yang berusia di atas 60 tahun.

Dirasa nggak memungkinkan untuk jalan kaki, akhirnya kami memutuskan untuk sewa kendaraan gardan ganda. Nego harga, kena Rp 250 ribu. Kendaraan diisi tujuh dewasa dan enam anak. Alhasil, para cowok termasuk Edo dan Descha (sepupu Edo), duduk di bak mobil belakang. Agak khawatir sih, tapi mereka ternyata hepiiiii…malah nggak mau disuruh duduk di dalam mobil. Kata mereka, biar mirip-mirip di Jejak Petualangan itu loh. Hmmm…

jalan5

Kami melewati jalanan yang naik turun dan berbatu. Terjal. Kanan kiri tampak hamparan tanaman teh. Saya mbatin, apa iya bisa sampe bukitnya kalau tadi jalan kaki. Haha… Paling-paling separo perjalanan, sudah nyeraaaah…

Jalan menuju ke Bukit Kuneer memang nggak bisa dilewati kendaraan biasa. Harus sewa jip dan itu pun jarang tersedia. Alternatifnya bisa pakai motor trail.

Banyak sih yang memilih trekking. Apalagi kalau berduaan sama pasangan. Uhuk…Tapi, saya ngerasa nggak sanggup. Takutnya di tengah jalan Gita minta gendong. Padahal, bobotnya sudah 13 kilo. Kebayang dah gimana capeknya.

jalan1

Kendaraan yang kami naiki melewati hamparan tanaman teh yang hijau. Sesekali kami bertemu dengan pemetik teh dan mobil-mobil pengangkut teh. Perjalanan menuju ke Bukit Kuneer membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit dengan naik mobil.

jalan3

Tak melelahkan (ya iyalah, wong tinggal duduk manis di mobil), tapi cukup terguncang-guncang di dalam mobil lantaran jalan terjal yang harus ditempuh. Setiba di puncak bukit, kami benar-benar terpukau dengan pemandangan yang cantik. Gunung Arjuno tampak sangat dekat dengan pepohonan yang hijau berpadu langit biru dan sedikit kabut putih. Menyuguhkan keelokan misteri alam.

Kalau mau merasakan sensasi berada di antara kebun teh yang sebenarnya, cobalah menaiki jembatan kayu sepanjang kurang lebih 500 meter. Dari sana Kota Lawang terlihat kebiruan. Cantik.

ok-16kecil

Melihat hamparan tanaman teh yang luas itu, Gita dengan antusiasnya minta difoto di antaranya. Nggak puas di situ saja, dia lari sana sini demi berpose. Ya di jembatan kayu, di bebatuan, banyak dah. Hmm…si bapak cuma menghela napas pasrah dan membidiknya dari berbagai sisi sesuka bocah.

Mungkin lantaran di udara segar, tubuh lebih sehat dan berenergi. Karena menurut penelitian, aktivitas yang dilakukan di alam dengan udara segar diketahui meningkatkan energi hingga 90 persen (kompas.com). Tapi, kalo si dedek mah, kelebihan energi.

12

Aktivitas untuk anak-anak di lokasi bukit Kuneer memang tak begitu banyak. Paling ya jalan-jalan dan foto-foto syantiiik gitu deh. Tapi, itu sangat berkesan. Wajah-wajah kita pas difoto jadi lumayan cerah. Karena view-nya keren, mau difoto dari sisi mana aja, pasti kece. Haha…

Si abang tuh yang termasuk banyak gaya. Dengan pakai jaket timnas Indonesia, dia nampang di sebuah batu tinggi. Dia bilang, bu, mirip Indra Sjafri. Tahu kan siapa dia? Yup betul, pelatih timnas U22.

ok-23kecil

Belum lagi dia minta difoto di pos pemantau di atas pohon. Heran, tumben-tumbennya si abang berani manjat pohon. Ya pake tangga sih. Tapi dia termasuk anak yang paling segan (dibaca: agak takut) disuruh naik-naik gitu. Lha kok ngeliat sepupunya cewek berhasil sampai atas, si abang langsung tertantang. Dia minta bapaknya untuk motretin di atas pohon. Alhasil, si bapak yang tubuhnya agak bervolume kewalahan ikut naik. Haha…ngerjainnya kebangetan, bang.

Di depan gerbang Bukit Kuneer ada semacam lapak yang menjual makanan kecil dan minuman hangat seperti kopi dan teh. Cuma, kami nggak sempat mencicipinya karena harus segera meluncur ke Malang. Takut kejebak macet saat di perjalanan Lawang-Malang.

Makin siang, wisatawan yang treking ke Bukit Kuneer kian banyak. Beberapa kali kami berpapasan dengan mereka. Wajahnya menunjukkan kelelahan. Bahkan, ada yang sudah lunglai sembari bertanya pada kami, ’’Mas, Bukit Kuneer masih jauh ya?’’ Kami serentak bilang, ’’Nggaakkk…sudah deket banget kok.” Ya kan biar mereka pantang menyerah dan tetap semangat.

Setiba di titik awal keberangkatan sekitar pukul 11.00. Perut sudah keroncongan. Anak-anak sudah nggak tahan lagi pengen makan. Saya memilih Rolaas Resto yang ada di dalam lokasi kebun teh. Tahu goreng, soto ayam, bakso, trus apalagi ya. Anak-anak pada suka tahu gorengnya. Dimakan hangat-hangat, langsung ludes tuh. Baksonya juga lumayan, pas dengan udara Lawang yang sejuk. Cuma nunggu pesanan keluar itu loh yang mesti sabar. Tapi, yang nggak boleh dilewatkan itu beli teh yang diolah di pabrik teh Wonosari untuk oleh-oleh.

ok-kecil 33

 

Jpeg

Iklan