Tak cuma berwisata alam. Saya sempat mampir ke salah satu peninggalan bersejarah di Ngawi. Namanya Benteng Van Den Bosch. Lokasinya di tengah kota, tak terlalu susah untuk menjangkaunya. Dari alun-alun Ngawi, sekitar 1 kilometer ke arah Timur. Petunjuk arahnya pun cukup jelas.

Setiba di lokasi, saya sempat bertanya-tanya, mana sih bentengnya? Karena, saya cuma melihat gundukan tanah yang ditanami pepohonan hijau. Ternyata, sebuah bangunan megah tampak di baliknya, ketika saya menyeberangi jembatan.

Memasuki gerbang berbentuk lengkung, di dinding dalam pintu masuk, tertempel foto seorang bule. Tertulis di bawah foto, namanya Jendral Van Den Bosch 1830-1833. Dia adalah Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang saat berkuasa di Indonesia menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel).

benteng
dok pribadi

Memasuki lebih dalam lagi, saya mendapati lapangan terbuka yang luas dengan dikelilingi pilar-pilar kokoh layaknya bangunan Belanda. Saya juga sempat memasuki beberapa ruang-ruang di dalam bangunan itu. Sayangnya banyak dinding yang terkelupas catnya, atapnya yang ambruk, dan ruangan yang ditumbuhi ilalang. Tak terawat.

ngawi33
dok pribadi
benteng2
dok pribadi

Menurut sejarah yang berkembang, benteng Pendem ini dahulu adalah markas militer dan juga benteng pertahanan pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada tahun 1839 sampai 1845. Pembangunan ini juga bertujuan untuk mempersempit ruang gerak Pangeran Diponegoro dalam perang gerilya. Konon, pada waktu itu, terdapat ratusan pasukan Belanda yang membawa persenjataan lengkap seperti pistol dan meriam.

Di dalam benteng itu terdapat ,makam Muhammad Nursalim, salah seorang anak buah Pangeran Diponegoro. Juga, ada sumur tua yang konon katanya sebagai tempat pembuangan mayat-mayat rakyat setempat yang bekerja rodi membangun benteng ini.

benteng4
dok pribadi

Di bagian belakang lokasi benteng, saya menaiki tanah berbukit yang merupakan tanggul. Di balik tanah berbukit itu tampak hamparan rumput hijau dengan tanah menyerupai lembah. Terlihat gerombolan kambing merumput. Menurut pemandu setempat, area tersebut sebenarnya adalah parit, tapi sudah mengering.

ngawi12
dok pribadi

Matahari yang terik siang itu tak membuat pengunjung enggan berfoto. Mereka tetap semangat mengabadikan diri di kawasan Benteng. Bahkan, ada beberapa pasangan calon pengantin yang melakukan prewedding.

Aktivitas lain, pengunjung bisa menaiki All Terrain Vehicle (ATV) untuk keliling di area benteng. Jujur saja, saya cukup terganggu dengan keberadaan wahana itu.

ngawi26
dok pribadi

Ada lagi yang menurut saya mengganggu pemandangan, yaitu warung makan di dalam benteng. Mungkin di sisi lain keberadaan warung itu untuk memudahkan pengunjung yang mencari makanan dan minuman serta bisa menjadi sumber pendapatan warga. Namun, penataannya bisa diatur lagi. Bisa diletakkan di luar area benteng.

Untuk mempercantik benteng, sepertinya perlu pemugaran di beberapa bagiannya. Ternyata, hal itu sudah dilakukan oleh Pemkab Ngawi dan pencairan dananya dimulai pada 2018. Semoga pemugaran segera tuntas, supaya bangunan tetap terawat dan menjadi cagar budaya yang bernilai bagi penguatan kepribadian bangsa.

benteng3
dok pribadi