Nggak nyangka Edo bersedia dikhitan pada liburan kenaikan kelas 6. Dengan segudang perjuangan untuk merayunya sampai Edo menyatakan, ’’I do’’ untuk khitan. Pertimbangan kami mengapa sekarang karena kalau tahun depan berbarengan dengan kelulusan SD, bisa lebih ribet lagi. Belum cari sekolah dan mesti mikirin khitan segala.

Setelah mencari-cari beberapa tempat terekomendasi untuk tempat khitan, kami memutuskan untuk mengambil paket khitan dari RKZ Surabaya. Harganya lumayan terjangkau Rp 1,6 juta termasuk obat-obatan, kontrol satu kali, dan ditangani oleh dokter spesialis bedah.

Menjelang hari H, Edo sudah gelisah dan yang jadi topik pembicaraan selalu seputar khitan. Bahkan, dia masih aja protes, kenapa kok pake ada khitan segala. Banyak hal sudah saya sampaikan mengenai khitan. Tapi, entah mungkin dia hanya terfokus pada sakit saat dikhitan. Bahkan, sampai H-1, Edo masih juga ngedumel, kenapa sih mesti ada khitan segala.

Hari istimewa buat Edo pun tiba. Ya istimewa. Hari itu, Eyang putri dari Bogor datang. Bapak yang lagi dinas di Jakarta pun menyempatkan untuk datang pagi hari dan langsung menyusul ke rumah sakit. Semuanya khusus untuk menemani Edo khitan.

Saya memilih pagi hari supaya lebih fresh, tenang, dan nggak nunggu terlalu lama. Saking pengen dapat urutan nomor satu, kami sudah sampai di lokasi satu jam lebih awal. Benar saja, Edo dapat urutan pertama dan itu bikin dia kaget. Tak ayal, tangannya berkeringat dingin dan wajahnya terlihat tegang. Udah kayak mau maju kompetisi piano, gitu dah. Hehe…

Edo di dalam ruangan, saya menunggu di luar. Senyap. Dan tiba-tiba…wadooow….para suster perawat yang lagi jaga di luar ruangan pada ketawa ngakak dengernya. Biyuuuh…

Sampai kira-kira 30 menit kami menunggu, saya sudah boleh masuk ruangan. Waktu itu, kondisinya sudah selesai dijahit dan sedang dibersihkan. Ih, saya kok jadi ngeri sendiri ya ngeliatnya. Tapi gimana pun juga, saya merasa bangga padanya karena sudah berani melalui itu semua meski dengan penuh paksaan. Saya ungkapkan dengan memberinya selamat dan motivasi. Hadiahnya? Haha…belum ada. Maaf ya Edo.

Setelah diberi penjelasan mengenai perawatan di rumah, kami boleh pulang dan kontrol kembali satu minggu kemudian.

Di perjalanan pulang ke rumah, di mobil Edo mengeluh karena terasa nyeri. Lebih tepatnya teriak-teriak sakit, sih. Duh, saya kan jadi bingung, belum pernah ngeliat Edo seperti itu. Saya pun langsung menyodorkan roti kemudian memberikan obat pereda sakit dan antibiotik. Oia, setelah khitan itu, Edo memakai celana dalam khusus yang dilengkapi dengan setengah lingkaran di bagian depan. Jadi, bekas jahitannya aman tidak tergores dan dia bisa mengenakan celana seperti biasa. Eh, tapi celana longgar, ya.

Di rumah, keribetan berikutnya ketika jelang sore dan harus mandi. Setelah mandi, area yang dioperasi harus dibersihkan dengan cairan NaCl. Kemudian dikeringkan dengan kasa lalu di daerah jahitan dioleskan salep.  Waduh, ini yang jadi PR.  Dia berontak dan teriak-teriak, ’’Sakitttt…’’

Untuk merayunya, saya bilang, ’’Nggak Edo…ini nggak akan sakit. Ayo lah. Kalau nggak dioles gini nggak bisa cepet sembuhnya.’’

Lha kok Edo bales bilang, ’’Siapa bilang nggak sakit. Ini sakit banget. Emang ibuk pernah khitan, kok bilang kalo nggak sakit?’’ Hmmm…

Ya sudah lah, akhirnya saya dan opanya (berhubung bapaknya sudah balik dinas Jakarta lagi) melakukan pemaksaan sampai berhasil mengolesi daerah jahitnya dengan salep. Memasuki hari keempat ini, luka jahitnya sudah mulai mengering.

Sebenarnya, di hari ketiga, luka bekas jahit sudah mengering. Menurut beberapa sumber, supaya cepat kering, ruang gerak anak harus dibatasi. Harus banyak istirahat. Nah ini yang susah. Tingkahnya nggak banyak berbeda dengan kondisi normal. Dia tetep aja lari-larian sama adeknya, main piano, main bola, haduuuh…

Semoga berangsur-angsur membaik, ya Edo.