Ceritanya ini nostalgia, sih. Duluuuu banget pas masih kecil, Sarangan sering jadi destinasi buat liburan keluarga saya. Padahal, lokasinya di Magetan, lumayan jauh dari Surabaya. Sekitar 3-4 jam perjalanan dengan mobil. Dan itu dulu ya. Sekitar 15-20 tahun lalu kan kondisi jalan nggak sepadat sekarang. Kalau sekarang, bisa sampai 5 jam sih.

Bisa jadi karena waktu itu banyak saudara di Madiun dan kami pergi rame-rame ke Sarangan. Seru sih. Cuma, sejak kakek-nenek di Madiun meninggal dan om tante di sana banyak yang pindah ke kota lain, jadilah saya sekeluarga jarang ke Madiun apalagi ke Sarangan. Hehe…

Tahun lalu, ketika ada saudara yang menikah di Ngawi, saya sekeluarga memutuskan untuk sekalian ke Sarangan yang cuma dua jam perjalanan dengan mobil. Ya, sekalian ngenalin EdoMitaGita ke tempat wisata di daerah Magetan itu.

Begitu masuk Kota Magetan, udara sejuk langsung terasa. Sarangan letaknya masih di atas Magetan, di kaki Gunung Lawu. Jelas aja kalau dinginnya brrr….

Berkabut di sore hari

Wah, Sarangan ternyata masih cakep. Pemandangan telaganya dengan latar lereng Gunung Lawu, cukup memanjakan mata.

Di sekitar telaga itu, terdapat lapak-lapak untuk pedagang makanan, buah, sayur, dan suvenir-suvenir. Dan ramainya minta ampuuun….mungkin karena saat saya bertandang ke sana, bersamaan dengan long weekend ya?

Berkuda keliling telaga

Ditambah lagi, para ”joki” kuda yang menawarkan kudanya untuk dinaiki berkeliling telaga. Wah, dulu ini salah satu aktivitas favorit saya kalau ke Sarangan. Dan anak-anak saya ternyata sama. Mereka pada minta naik kuda juga. Trus, saya suka juga keliling telaga naik perahu motor atau naik becak air. Embusan angin ketika di telaga begitu segeeerrrr…

Keliling telaga naik perahu motor. Cusss…
Jpeg

Oia, soal penginapan, ada banyak banget pilihannya. Cuma, hotel favorit saya dulu kok udah tutup, ya. Hehe…Untungnya, kami dapat penginapan di depan telaga. Jadi, dapat view yang ciamik dan nggak perlu jauh-jauh untuk jalan-jalan di sekitar telaga. Eh tapi, hotel yang tersedia di sana paling banter bintang satu. Jadi, jangan berharap dapat penginapan yang mewah, ya. Cuma, lumayan bersih kok, seperti Hotel Abadi, tempat saya menginap waktu itu.

Halaman depan Hotel Abadi

Karena terletak di dekat telaga, semalaman masih terdengar lalu lalang kendaraan serta percakapan para wisatawan atau pedagang di sekitar telaga. Untuk santap malam, ada banyak pilihan warung dan depot di lapak-lapak depan telaga. Tapi yang paling legendaris ya sate kelinci. Dari dulu sampai sekarang masih banyak yang berjualan sate kelinci.

Cuma anak-anak saya nggak doyan sate kelinci. Mereka memilih sate ayam yang biasanya juga dijual bebarengan oleh pedagang sate kelinci. Saya? Karena nggak makan daging, saya pun cukup puas dengan bumbu sate dan lontongnya. Haha…

Di pagi harinya, untuk sarapan saya paling demen makan nasi pecel khas Magetan yang dijual sama ibu-ibu pakai gendongan, gitu. Mereka biasanya nyamperin hotel-hotel untuk menjajakan nasi pecel itu. Huaaah…adem-adem, makan nasi pecel yang masih anget-anget. Sensasinya tak terlupakan. Haha…lebhay ya…

Ibu-ibu penjual nasi pecel mampir ke hotel
Ini nih nasi pecel khas Magetan buat sarapan. Wenaaak

Beruntungnya, ketika sore kami datang kemarin cuaca sedang mendung dan berkabut, keesokan paginya, cuaca lebih cerah meski agak mendung. Tapi, agak siang turun hujan dan eh, ada pelangi terlihat dari kamar hotel. Cantiknyaaa…

Pelanginya cantiiikkkk

Oya, kalau ke Sarangan, kita bisa juga jalan-jalan ke air terjun. Lokasinya di kawasan itu. Kita bisa naik ojek disambung dengan treking sekitar 1,5 kilo. Tapi, saya kemarin belum sempat ajak anak-anak ke sana. Next time lah ke mari lagi.