Hari ketiga di Dubai, kami diajak ke Al Fahidi yang merupakan kota tua. Di sana terdapat gold souk (pasar tradisional yang menjual emas). Ada juga textile souk dan spice souk. Katanya sih, emas di Dubai standar kualitasnya tinggi. MIsalnya, kalau di Dubai nilainya 22 karat, di Indonesia bisa dihargai 24 karat. Wow. Tak heran kalau wisatawan menyerbu sekitar 300 toko emas di sepanjang gold souk itu.

souk1

souk2

Di belakang gold souk, ada beberapa toko yang menjual suvenir lucu. Misalnya, magnet kulkas, gantungan kunci, miniatur ikon Dubai, boneka unta, pashmina, dan sandal aladin. Modelnya yang unik-unik dan khas, bikin kalap mata.

Sambil nenteng beberapa kantong belanjaan, kami menyeberangi sungai menggunakan abra (perahu kecil) menuju ke The Sheikh Mohammed Centre for Cultural (SMCCU). Di SMCCU kami disambut oleh warga lokal dan diajak makan siang khas Arab, seperti teh Arab, nasi briani dan sayur seperti gulai. Bersama para turis lain, kami bisa ngobrol bareng warga setempat, Saat itu, kami dipandu oleh Dahlia, seorang staf SMCCU.

river1

Serunya, kami boleh bertanya apa saja mengenai kebudayaan United Arab Emirates, misalnya mengapa orang lokal laki-laki berpakaian putih, sedangkan yang perempuan pakai jubah hitam. Sesuai moto SMCCU yaitu open doors, open mind, Dahlia benar-benar menjelaskan banyak hal bahkan isu-isu yang kerap dianggap sensitif, seperti soal pernikahan sampai poligami. Dia menuturkan dari pengalaman dan sudut pandang sebagai seorang Emirati yang berlatar belakang ajaran Islam.

diskusi

Destinasi berikutnya? Saya melakukan touring di gurun pasir. Inilah pengalaman pertama saya menginjak padang gurun. Setelah kurang lebih 1,5 jam berkendara dari Dubai, sampailah kami di Dubai Desert Conservation Reserve.

dessert1

Di pintu gerbang, kami sudah ditunggu oleh dua jeep 4 wheel drive LandRover keluaran tahun 1950. Satu jeep terbuka itu bisa diisi oleh sekitar enam sampai tujuh penumpang. Eh, tapi sebelum naik jeep, kami dipasangkan sorban di kepala oleh para pemandu. Ternyata cara mengikatnya beda ya untuk cowok dan cewek.

Dan, touring pun dimulai. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya padang pasir yang luas. Sesekali kami melewati tanaman gurun, seperti perdu. Juga, nampak beberapa hewan berkeliaran, seperti gazelle.

dessert3

Sepanjang perjalanan, pemandu kami yang bernama Ibrahim sambil mengemudi juga memberikan berbagai informasi menarik mengenai ekosistem gurun pasir. Salah satunya mengenai unta yang tidak lagi liar, melainkan sudah mempunyai gembala.

Sekitar 20 menit kami berkendara, tibalah kami di area dune drive. Pemandangannya, eksotis. Bukit bukit pasir terbentang di hadapan kami. Kami berhenti untuk berfoto.

Kami pun turun dari kendaraan dan mencari spot menarik untuk narsis. Oia, kalau ke gurun pasir, sebaiknya memakai sandal saja, ya. Pasirnya dingin dan lembut. Jadi, kalau bertelanjang kaki juga oke kok.

dessert2

Menjelang matahari terbenam, kami melanjutkan perjalanan. Meski berada di dalam mobil terbuka, jangan sesekali mencoba berdiri ya. Bahaya, karena kondisi jalan yang dilewati naik turun bukit pasir yang terjal. Pak driver bakal negur penumpangnya kalau sampai ketahuan berdiri.

Beberapa menit kemudian, kami berhenti lagi. Kali ini, kami sudah ditunggu oleh seorang staf dari Dubai Desert Conservation Reserve sambil membawa burung falcon di lengannya. Kami dipersilakan duduk di padang pasir beralaskan karpet merah lengkap dengan bantalan empuk sembari mencicipi minuman jus buah.

Sang staf kemudian menjelaskan detail mengenai kehidupan falcon sekaligus, mempertontonkan atraksi falcon saat memangsa hewan buruannya. Nggak ketinggalan, kami bergantian berfoto bareng si falcon dengan background matahari yang tengah beranjak ke peraduan.

desert4

Kami melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini tujuannya untuk makan malam. Di resto? No…kami makan malam di tenda. Di bawah kerlip bintang, kami menikmati hidangan khas warga setempat yang langsung diolah di tempat. Ada semacam salad sayur yang diguyur kuah kental. Itu baru appetizer. Sedangkan menu utamanya ada beragam bebakaran daging kambing, ayam, dan unta.

Berhubung saya vegetarian, jadi nggak tahu gimana rasanya. Tapi, teman-teman makan dengan lahap, tuh. Katanya sih lezat, terutama daging untanya. Hehe…

dinner1

Saya sendiri sudah khawatir nggak bisa makan, tapi ternyata, mereka sudah menyiapkan menu untuk vegetarian. Beberapa tusuk sate kombinasi buah dan sayur disodorkan pada saya. Ditambah kuah dari bahan dasar sayuran disajikan dalam mangkuk.

dinner2

Setelah mengisi perut, kami disuguhi penampilan penari belly diiringi lagu-lagu Arabic. Eh, kalau pengin menari bareng juga bisa. Sembari menikmati tarian, ada beberapa kawan perempuan yang mencoba melakukan tattoo dengan henna. Disediakan juga shisa aneka rasa buah yang bisa dicoba bagi para tamu.

dinner3

Malam sudah kian larut, kami pun pulang menuju hotel. Dinginnya makin terasa dengan suhu berkisar 20 derajat celcius. Brrr…

Perjalanan saya ke Dubai masih lanjut keesokan harinya. Tunggu postingan berikutnya, ya…