Cara Ampuh Selamatkan LDR

’’Abang mau ikut bapak…” tangis Edo, anak sulungku saat melepas bapaknya kembali kerja ke Jakarta. ’’Bapak nggak boleh kerja…’’ giliran sang adik yang tersedu. Waduh. Si bapak harus buru-buru check in pesawat, tapi Edo dan Mita terus nggelendotin bapaknya.
Dengan berat hati, setelah memeluk anak-anak, si bapak bergegas menuju pintu masuk bandara, diiringi derai air mata Edo-Mita.
’’Abang…adek…” aku pun memeluk mereka dan tak kuasa menahan haru melihat drama yang kerap terjadi saat Senin pagi di akhir bulan. Itu waktunya si bapak berangkat kerja ke Jakarta setelah ambil jatah libur tiga hari. Sedangkan saya dan anak-anak menetap di Surabaya.
Karena pekerjaan, saya dan suami hampir 9 tahun ini menjalani hubungan jarak jauh. Ketemunya sebulan sekali. Gara-gara itu, anak-anak nggak dekat sama bapaknya. Bahkan, meski jarang ketemu, mereka jarang kangen tuh. Jadinya, pak suami pun sedih.
Makanya, suami berkomitmen mengajak pergi bareng anak-anak setiap pulang ke Surabaya. Ternyata, piknik itu memang sangat ampuh untuk mendekatkan suami dengan anak-anak. Malah, mereka sering tanya kalau sehari nggak ’’ketemu’’ si bapak meski lewat telepon atau video call. ’’Bapak kapan pulangnya?’’Tapi yang repot, ketika ditinggal bapaknya, langsung deh mewek bareng.
Untuk destinasi wisata yang kami kunjungi, biasanya diprioritaskan ke tempat yang ramah anak, fun, bisa learning something, dan yang paling penting bisa jadi ajang pedekate si bapak dengan anak-anak.

Tambah Kompak
Meskipun cuma sebulan sekali ketemu, tapi, kami pengen tetep kompak dong. Yah, keluarga kan ibaratnya adalah satu tim. Salah satu aktivitas yang menurut kami manjur untuk menjaga kekompakan adalah rafting. Saat rafting, kami dituntut untuk solid menjaga agar jangan sampai perahu jatuh diombang ambing arus liar sungai Pekalen yang terkenal deresnya. Di sini, kami belajar untuk kompak. Nggak cuma itu, waktu rafting, kita spontan bebas teriak-teriak. Rasanya, semua beban di hati lenyap seketika.

Kudu kompak

Kudu kompak

Ayo, kamu bisa

Ayo, kamu bisa

Masih pengen seru-seruan lagi, kami mengajak Edo-Mita outing ke Tretes Treetop. Di sana, kami harus bisa melewati berbagai tantangan yang berbeda dari pohon ke pohon, kemudian meluncur dengan flying fox. Hauwoooo…
Edo-Mita agak ketakutan sewaktu mulai menapaki tali yang menyerupai tangga. Saya dan suami pun melontarkan berbagai rayuan untuk meyakinkan Edo-Mita bahwa mereka baik-baik saja karena menggunakan tali pengamanan dan ada kami yang menjaganya. Ternyata sulit ya mendapatkan kepercayaan dari anak sendiri. Tapi, untunglah, berhasil. Kami sukses melintasi rintangan demi rintangan.

Belajar Sabar dan Berproses

Tepi Kawah Ijen

Tepi Kawah Ijen

Dalam piknik, kami juga diajarkan untuk bersabar. Misalnya, saat naik gunung Ijen. Saya dan suami tidak memaksa Edo supaya sampai puncak. Tapi ternyata, dia sangat semangat. Kami mendaki setapak demi setapak dengan rasa senang dan tanpa mengeluh, sambil sesekali istirahat. Hingga akhirnya, bisa mencapai puncak dan mendapatkan pemandangan yang luar biasa. Dari situ, kami bilang pada Edo bahwa untuk menggapai cita cita, ya harus sabar dengan semua prosesnya, seperti orang naik gunung.

Disiplin dan Tertib pada Jadwal

Saat bepergian, pastinya kita bikin jadwal perjalanan, dong. Nah, kami ingin agar anak-anak tertib mengikuti rencana perjalanan itu. Ketika mengajak Edo dan Mita nonton Jazz Gunung di Bromo, kami juga menjadwalkan pukul 3 dini hari naik ke Penanjakan agar bisa tiba di puncak sebelum matahari terbit. Kami memberikan pengertian pada Edo-Mita, jika terlambat, ya akibatnya, bakal melewatkan pemandangan sunrise yang indah. Beruntung, jadwal yang kami bikin berjalan dengan lancar.

Udah ngantuk

Udah ngantuk

Ungkapan Syukur

Sebagian rombongan

Sebagian rombongan


Oia, di akhir tahun, biasanya, kami merencanakan untuk piknik yang lebih spesial. Kami pergi bareng saudara-saudara dan orang tua. Tujuannya, selain refreshing, juga sebagai ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan setelah satu tahun kami diberi kesehatan, rejeki, dan kebahagiaan dalam keluarga. Poin ini yang menurut kami sangat penting. Anugerah-Nya yang sangat melimpah selama ini, masa nggak kita nikmati dengan memuja keindahan alamnya? Akhir tahun lalu, Bali kami pilih sebagai destinasinya.

Mendadak Kangen Bogor

Eh, ngomongin liburan, kok tiba-tiba kangen Bogor. Ya, saya dan anak-anak kerap liburan di Bogor. Lha wong, kakek-neneknya tinggal di Bogor. Biasanya, saya dan anak-anak nyamperin si bapak di Jakarta sekaligus ke Bogor. Beberapa tempat wisata di Bogor sudah kami pernah kunjungi, seperti, Kebun Raya Bogor, Taman Buah Mekarsari, Jungle Land, Jungle Fest. Plus, wisata kulinernya, toge goreng, laksa, sop duren, lapis bogor, pie apel, dll…Tuh kan… mendadak kangen suami Bogor….
Untuk destinasi berikutnya di Bogor, suami sudah siap-siap ajak anak-anak ke Taman Nasional Halimun-Salak (TNHS), di lereng Gunung Salak. Di kawasan yang biasa disebut Salak Endah itu terdapat sejumlah air terjun. Bahkan, beberapa air terjun dapat dijangkau dengan jalan kaki dari area parkir, seperti, Curug Ngumpet 1, Curug Ngumpet 2, dan Curug Cihurang. Jadi, sangat cocok membawa anak-anak. Apalagi, pemandangan di sana sungguh indah.
Satu lagi, kalau liburan di Bogor, saya request sama suami, nginepnya sekali-kali jangan di rumah mertua dong, tapi ke hotel aja. Hehe…

Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog Piknik Itu Penting
banner-lomba-blog-piknik

Iklan

6 thoughts on “Cara Ampuh Selamatkan LDR

  1. ambrosius manumoyoso berkata:

    Wah, bakal minta nginap di hotel, hahaha. bolehlah, nanti diajak ke jacuzzi alami di Salak Endah, biar anak-anak puas berendam di bawah siraman air curug yang sejuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s