Ini Pompa ASI, Bukan Hairdryer

gemeeesss

gemeeesss

Setelah dua bulan masa cuti melahirkan terlewati, saya pun mulai masuk kerja. Ayo kerja, kerja, kerja. Tapi kalau saya, slogannya, kerja, merah asi, kerja lagi. Hehe…

Segudang manfaat ASI yang membuat saya bertekad untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi saya meski bekerja. Ya, selain sehat, juga hemat.

Jadinya, saat bekerja, saya harus membawa banyak perintilan. Ada tas kerja, bekal makanan, dan cooler bag lengkap dengan pemompa ASI, botol penyimpan ASIP, plus ice gel.

Sebagai awak media cetak, jam kerja saya mulai siang hingga malam dengan jadwal istirahat fleksibel. Saya pun leluasa mengatur waktu memompa ASI. Yang penting, kerjaan kelar nggak melewati deadline.

Cuma sayang, di kantor saya nggak ada tempat khusus untuk laktasi. Jadinya, saya mesti rela berdiri sekitar 20-30 menit untuk memeras ASI di toilet. Betul, di toilet. Nggak ada pilihan lagi. Pernah nih saya mencoba di sebuah lorong yang menghubungkan dua ruangan. Memang tertutup, tapi, kok jadi serem ya karena jauh dari ’’peradaban’’. Akhirnya, saya memutuskan untuk memompa di toilet saja.

Beruntung, toilet di kantor saya cukup bersih dengan bathroom yang terpisah dengan WC dan ruang washtable. Saya biasanya memompa di bathroom. Diawali dengan mandi di bawah pancuran air hangat biar rileks (kalau sore). Kemudian baru memompa ASI sambil berdiri. Karena pakai alat pompa manual, kadang kerasa juga pegelnya di tangan. Hehe… Eh, tapi langsung puas dengan hasil perahan.

Teman-teman kantor sudah paham sih, kalau salah satu bathroom terkunci dalam waktu agak lama, udah pasti saya ’’penghuninya’’. Tapi, ada juga yang masih belum tahu dan malah mengira ada hantu di dalam bathroom itu. Biasanya kan di dalam bathroom, orang mandi, bunyi kucuran air. Lha, kalau saya yang masuk untuk memerah ASI, yang terdengar bunyi shhh…shhh…

Saya juga menggunakan pompa electric. Kalau pas pakai pompa electric, saya biasanya memerah di ruang washtable karena ada colokan listrik. Suatu saat, seorang teman yang masih bujang kaget melihatku menyelipkan alat pompa di balik baju. Dia menatapku heran. ’’Mbak lagi ngapain?” tanyanya.
’’Aku lagi mompa ASI,” kataku agak kesel. Masa gitu kok nggak tahu?
’’Oh, saya kira itu hairdryer, kok diselipin ke baju?” Huaaah… Iya juga sih, pompa electric saya suaranya memang mirip hairdryer.

Eh, tapi, saya pernah loh mengalami stres lantaran kerjaan menumpuk. ASI pun seperti mampet, nggak lancar. Makanya, selama bekerja, saya harus pinter mengelola emosi.

Setelah memompa, saya simpan ASIP (ASI perahan) dalam lemari es yang tersedia di ruang kantor. Sebelumnya, lemari es di kantor saya cuma satu pintu dan butut. Bahkan, kadang, ASIP tersimpan di kulkas bercampur makanan dan minuman milik teman lain. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa semoga ASIP saya masih bagus. Lha kok, selang dua bulan, kulkas lama diganti dengan kulkas baru dua pintu. ASIP ku pun bisa tersimpan dengan baik di freezer, begitu juga ice gel-ku.

Saya pun bisa membawa pulang ASIP dalam cooler bag dengan terjaga sampai rumah masih beku. Saat ditinggal, mama lah yang menjaga anak saya. Beruntung mama telaten memberikan ASIP pada cucunya dengan baik dan benar. Doakan saya sukses memberikan ASI eksklusif pada anak ketiga ini.

Ole-oleh buat dedek bayi

Ole-oleh buat dedek bayi

Oia, tulisan ini diikutkan dalam lomba. Linknya di:
http://pas2015.ucontest.info/detail/image/21901#_=_

Bantu vote ya…makasih.

Iklan

One thought on “Ini Pompa ASI, Bukan Hairdryer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s