Lahiran Anak Ketiga yang Aduhai

Nggak terasa, Adek Gita sudah gedeee…horeee…
Teringat empat bulan lalu. Gini ceritanya:

Berbeda dengan persalinan anak pertama dan kedua, jelang persalinan untuk anak ketiga ini, saya lebih tenang. Padahal, mendekati hari H, kerjaan di kantor justru makin menumpuk. Pulang sampai tengah malam itu mah udah biasa. Malah, hari H lahiran itu, saya juga rencana mau masuk kantor. *eh kok malah curcol…hihihi*
Jadi, ceritanya, lahiran anak ketigaku maju seminggu dari HPL.
Minggu itu, suami udah mau balik ke Jakarta (kami kan LDR-an, saya di Surabaya, suami di Jakarta). Taksi udah siap mengantarkannya ke bandara. Tapi, perut saya udah mules mules dan muncul tanda-tanda mau lahiran. Ya sudah, dia pun batalin pesawatnya dan langsung anter saya ke rumah sakit.

Tapi, sebelumnya, mama nyiapin telur rebus, roti, madu, dan susu. Aku dipaksa untuk menelan itu semua. Kata mama, orang bersalin harus kuat. *mamaku is the best pokoknya*.

Masuk ke kamar bersalin pukul 06.15 pagi. Rasa mulas makin terasa. Aku masih bisa neleponin teman-teman kantor, ngasih tahu kalau hari itu nggak bisa ngantor. *maapin saya*. Eh, masih bisa juga ber haha hihi di sosmed ditemenin suami. Beberapa menit kemudian, suster penjaga ngasih kabar kalau dokter yang harusnya menangani saya bersalin lha kok lagi dinas luar negeri. Hiyaaah…apa-apaan iniiii…saya langsung ngedrop. Pasalnya, dua anak saya sebelumnya pakai dokter itu dan sukses melahirkan secara normal. Pas hamil ketiga ini juga ditangani sama beliau.

Duh, gimana dong? Tiap 15 menit si dedek di perut sudah makin mendesak pengen keluar. Mulesnya udah nggak tahan. Masih ditambah kebingungan harus menentukan alternatif dokter SPOG. Melalui SMS, dokter SPOG saya menyarankan untuk memilih dokter SPOG yang praktik hari itu. Karena, selain senior, pak dokternya telaten. Ya sudah, saya pun pasrah dengan dokter SPOG yang disarankan itu.

Rasa mules bertambah kerap. Tapi, para suster yang membantu persalinan, benar-benar membuat saya rileks. Duh, saya jadi teringat lagi pada wajah dan ucapan mereka yang menyejukkan hati. Tarik napas, buang, tarik napas, buang. Dan saya pun rileks.

Saya ikut melantunkan doa-doa bersama suami yang terus menemani di sampingku.
Pukul 07.00. Kenapa pak dokternya belum muncul, yak. Rasanya sudah adem panas menahan si dedek supaya jangan keluar dulu. 10 menit kemudian, pak dokter pun muncul. Mulesnya udah mulai ubun-ubun sampai ujung kaki rasanya.
’’Satu, dua, tiga, ayo mengejan,” para suster dan pak dokter member semangat pada saya. Tapi, saya memang ibu yang oon banget. *buka aib diri sendiri* Udah pernah melahirkan dua anak, lha kok lupa cara mengejan. Ini juga gegara kurangnya persiapan bersalin. Dan, gagal lah saya di babak pertama itu.
Sekali lagi ya dicoba. Lupakan teori. Satu, dua, tiga. Saya pun mengejan dengan semua kekuatan yang tersisa. Dan, pluk (kayaknya gitu deh rasanya atau bunyinya yah) si dedek pun menyapa dunia. Hallo duniaaa….Saya melihat jam di dinding pukul 07.40.

Gita langsung dapat IMD. Terima kasih ya Tuhan. Beribu ribu ucapan syukur saya panjatkan. Suami pun tak tertahankan meluapkan kegembiraannya dengan memanjatkan doa-doa di telinga Gita dan update status neleponin papa-mama di rumah.
Papa-mama yang masih bersiap-siap berangkat ke rumah sakit kaget juga. Kok cepet? Mereka memperkirakan masih sekitar pukul 09.00 lahirannya, lha kok udah keduluan keluar si dedek. Hehe…

Puji Tuhan, persalinan anak ketiga saya berlangsung normal dan lancar. EdoMita punya adek. Horeee…
Terima kasih suster dan para dokter RSIA Kendangsari

Iklan

One thought on “Lahiran Anak Ketiga yang Aduhai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s