Wisata kuliner yuk. Masuk restoran disodori daftar menu

Bebek goreng? Yess
Bakso? Ok
Bakmi goreng seafood? Mauuu
Sate kambing? Nggak nolak
Iga panggang? Sukaaaaa
Pangsit mie ayam? Enak juga ya…

Ini laper atau rakus sih? Semua mua mau. Disuguhi makanan apa aja, mulai sayur, ikan, daging, pasti saya lahap. Pokoknya, tergolong manusia omnivora deh. Syereeem kaaan. *glek, malah umbar aib diri sendiri*

Tapi, sekarang, semua itu cuma jadi kenangan. Gimana nggak, lha wong sejak tahun 2012, saya memutuskan untuk berkata ’’Tidak’’ pada semua daging.

consciouslifenews.com

’’Penolakan’’ pada daging itu awalnya cuma mau nemenin Mita, anak keduaku. Mita tuh ya, menu sehari-harinya cuma sayuran, lauk tahu, tempe, dan buah. Dikasih daging, dia langsung ’’Hoeeeek.” Apa mungkin karena emaknya yang nggak bisa masak, yes? Akhirnya, sebagai bentuk kekompakan dengan si kecil, saya ikutan nggak makan daging. Cuma, sekarang si kecil sudah mulai mau makan ayam goreng. Lha saya? Keukeuh nggak mengonsumsi menu berdaging hewan darat hingga sekarang.

Kenapa?
Ya, saya tahu diri. Usia sudah kepala tiga. Alarm tubuh pun mulai berdering. Saya kerap merasa capek, tulang punggung sering sakit, kulit kusam, dan naik turun tangga ngos-ngosan. *Di sini yang kadang bikin saya sedih*.

Waspada
Waspada

Selain merutinkan diri olahraga, saya pun kudu hati-hati dalam memasukkan makanan ke tubuh. Karena, banyak kejadian pola makan yang buruk, malah jadi sumber penyakit. Padahal, kita makan untuk melangsungkan hidup, bukannya jadi ancaman hidup.

Saya sendiri termasuk emak-emak yang susah kontrol diri. Makanya, harus ada filternya. Apa itu? Mengubah pola makan dengan jadi manusia anti-daging hewan darat. Sukses satu tahun tanpa aneka daging, saya mencoba ber-say goodbye dengan seafood. Ceritanya, pengen serius untuk vegetarian. Tapi sayang, cuma bertahan sebentar, tepatnya ketika tahu hamil anak ketiga sekitar 7 bulan lalu.
Dari dokter kandungan, saya dapat vitamin yang mengandung minyak ikan. Akhirnya, sekalian aja saya balik makan makan ikan, tapi tetap nggak makan daging hewan darat.

Gimana rasanya nggak makan daging? Nggak lemas?

Banyak teman nanya seperti itu. Ternyata, setelah nggak makan daging, badan terasa lebih ringan dalam bergerak. Nggak gampang capek. Dan so far, kondisi kehamilan saya tanpa ’’bersentuhan’’ dengan daging hewan darat, tetap bugar. Bahkan, di kala banyak orang flu atau demam lantaran pergantian cuaca, saya tetap fit. *Nggak nyombong, tapi pengen pamer.*
Satu lagi, pengeluaran buat kebutuhan perut jadi makin hemat. Beli sayur lebih murce ketimbang belanja daging, kan, bun?

Mita Bantu Belanja Buah dan Sayur
Mita Bantu Belanja Buah dan Sayur

Nggak tergoda makan daging lagi?
Awalnya duluuuu…sebulan pertama, suka ngeces kalo ngeliat orang jajan bakso. Bahkan, saya dengan rela hati cuma nelen ludah pas ngeliat duo krucil ’’menguliti’’ ayam goreng ukep bikinan sang nenek. Tapi, untung masih bisa saya lawan dengan makan sambelan tahu-tempe dan lalapan.
Kalau sekarang, udah kebal. Udah lupa, apa tuh bebek goreng, iga panggang, ayam rica rica, bakso? Hamil muda beberapa bulan lalu juga nggak sampe ngidam makanan berdaging.


Enak di Mulut Plus Sehat di Perut

Makan cuma sayuran? Apa enaknya? Nasi pecel, cah brokoli jamur, terong krispi, pepes tahu tempe, rujak, gado-gado, nendang banget rasanya. Jadi, enak di mulut sekaligus sehat di perut. Aseeek kaaan…

Saya sendiri sebenarnya nggak begitu paham soal mengatur pola makan yang baik dan benar. Mudah-mudahan segera dapat pencerahan setelah baca bukuFOOD COMBINING: Pola Makan Sehat, Enak, & Mudah.

Tulisan ini diikutkan dalam
Pengumuman Giveaway Syukuran Buku Food Combining

http://www.widyantiyuliandari.com/2015/02/04/pengumuman-giveaway-syukuran-buku-food-combining/
http://www.widyantiyuliandari.com/2015/02/04/pengumuman-giveaway-syukuran-buku-food-combining/
Iklan