Senja hari itu sangat berbeda. Langit jingga menggelayut di ufuk Barat Pantai Uluwatu. Seiring dengan jatuhnya sang mentari ke peraduan, kami disuguhi sebuah pertunjukan yang mengesankan dan tak terlupakan, tari kecak.
    Area pertunjukan dibuat menyerupai koloseum, lengkap dengan tempat duduk setengah lingkaran untuk penonton. Sekitar pukul 18.00 WITA, sejumlah penari kecak memasuki area lapangan yang sudah dilengkapi dengan tungku untuk menyalakan api di akhir pertunjukan.

Masuk Arena
Masuk Arena

    Terdengar lantunan khas tarian Kecak, ’’Cak cak cak…’’ Uniknya, teriakan yang dilantunkan itu tak menggunakan alat musik, namun bisa menjadi sebuah irama yang harmonis mengiringi gerakan para penari. Meskipun tak ada yang mengomando, mereka bergerak secara serempak. Ada kalanya duduk, terkadang juga berdiri sembari menggerakkan tangan ke atas berbarengan.

Full
Full

    Dalam tarian tersebut sebuah cerita pewayangan bergulir. Berawal dari Dewi Sinta yang diculik oleh Raja Rahwana. Hingga akhirnya, Rama berhasil mendapatkan kembali Dewi Sinta.
    Meskipun dipaparkan dalam bahasa Bali, mereka tetap menyusupkan bahasa Indonesia di dalamnya. Tak perlu khawatir bingung dengan ceritanya, karena saat pembelian tiket pertunjukan, kita akan diberi sinopsis cerita pertunjukan. Untuk wisatawan asing, dalam bahasa Inggris.
    Selain penari laki-laki yang membawakan tarian kecak, ada juga penari lain yang melakonkan tokoh Sinta, Rama, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Pertunjukan pun nggak cuma tari-tarian. Ada beberapa adegan yang mengundang tawa. Bahkan, terkadang, para penari mengajak bercanda penonton. Salah satu adegan yang kocak, ketika Hanoman melompat ke tribun penonton dan mengajak penonton foto selfie. Hanoman pun loncat sana loncat sini menggoda penonton. Ada yang nyeletuk kalau Hanomannya mirip dengan ’’kenakalan’’ para monyet Uluwatu. Haha…

Hanoman Godain Penonton
Hanoman Godain Penonton

    Pertunjukan yang memakan waktu satu jam ini dipungkasi dengan permainan api oleh para penari. Atraksinya bikin deg degan namun dapat meninggalkan kesan yang mendalam.
    Kehadiran tari kecak tersebut seakan mampu melengkapi keindahan alam Pantai UIuwatu. Tapi sayang, kalau musim liburan dibanjiri penonton. Bahkan, pengunjung sampai meluber duduk lesehan di arena pertunjukan karena tribun penonton sudah penuh. Alhasil, para penari kurang leluasa dalam bergerak. Selain itu, gambar yang diambil pun jadi kurang cantik hasilnya.
    Namun tak bisa dipungkiri bahwa Bali sangat cantik dalam mengemas kebudayaannya. Bali mampu memadukan keindahan alam dan budaya menjadi satu.
    Pengunjung dapat menyaksikan pergelaran tarian yang memukau itu setiap hari kecuali sehari sebelum Nyepi dan saat Nyepi dengan tiket Rp 100 ribu. Tapi, kalau booking online bisa dapat Rp 85 ribu.
    Pertunjukan tersebut cocok dinikmati untuk keluarga. Bahkan, anak saya yang balita pun hobi menirukan gerakan-gerakan para penari kecak. Susahnya lagi, dia minta nonton tari kecak itu lagi di Bali. *Haissshhh…memangnya Surabaya-Bali deket?* Akhirnya, saya putarkan saja video tari kecak Uluwatu yang saya rekam ketika kami pergi ke Bali pada Desember 2014 lalu.
   
Si bocil gaya sambil nonton tari kecak
Si bocil gaya sambil nonton tari kecak

Iklan