Sudah Sewindu Temaniku

Sudah sewindu, kudidekatmu…*copas lagunya Tulus*. Wiks, waktu terasa cepat berlalu. Tak terasa sudah sewindu aku mengarungi bahtera hidup bersama si bapaknya krucil. Usia segitu masih belia banget ya kalau dibandingkan dengan pasutri yang sukses melangsungkan silver wedding anniversary atau bahkan gold. *Semoga kami pun bisa* Amiiin. Tapi, kami tetap sujud syukur atas penyertaan Sang Pemberi Hidup pada pernikahan kami hingga kini sudah menghasilkan dua bocil bonus satu masih di perut. Hehe…

Duo bocil di depan Gereja Pohsarang, Kediri

Duo bocil di depan Gereja Pohsarang, Kediri

Kami sekeluarga masih dilimpahi kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan. Itu sudah lebih dari cukup. Perayaan ultah pernikahan pun kami lakukan secara sederhana. Kami berziarah ke Pohsarang, sebuah desa kecil di Kediri.
Malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul di dalam gua Maria kecil yang sunyi. Ditemani beberapa nyala lilin, doa syukur pun kami panjatkan.

Dalam keheningan di Gua Maria Pohsarang, Kediri

Dalam keheningan di Gua Maria Pohsarang, Kediri

Ada satu permintaan yang kami hunjukkan di malam ulang tahun pernikahan kami, yaitu, ingin segera bisa tinggal bersama. Ya, selama delapan tahun menikah, kami tidak pernah tinggal bersama. Setelah menikah, suami yang bekerja sebagai jurnalis, ditempatkan di Kalimantan Timur. Saya memutuskan untuk menetap di Surabaya saja sambil bekerja.

Lima tahun kemudian, suami dipindahtugas ke Jakarta. Tetap saja saya dan anak-anak tinggal di Surabaya. Udah pewe (posisi wenak) sih di Surabaya. *repot bawa krucil kalau boyongan*

Meski long distance relationship (LDR), komunikasi kami tetap bagus dan intens. Anak-anak pun tetap mengenal dengan baik si bapak yang sebulan sekali pulang ke Surabaya.

Ternyata, LDR tuh seru juga loh. Jarang berantem. Bawaannya kalau di telepon kangen-kangenan mlulu. wkwkwk… Cuma ya gitu, kalau mau curhat or ngegosip tapi masing-masing lagi sibuk, jadi ketunda deh cerita serunya. Hiks..

Balik lagi ke perayaan ultah nikah kami. Setelah ziarah dan menidurkan para bolodewo cilik di penginapan, saya dan suami pun begadang ngobrol ngalor ngidul sampai subuh di depan kamar penginapan. Kami flash back lagi tahun-tahun pertama pernikahan sembari buka-buka album foto berisi perjalanan cinta kami. *suiiit suiiit*

Album foto pemberian sahabat kami, pasutri Jojo-Celi itu sangat memorable. Saat kami melangsungkan pernikahan, mereka berdua tidak bisa menghadirinya karena berada di luar kota. Hari itu juga, ada sebuah paket dari JNE untuk kami. Dikemas dalam kotak rapi, pengiriman yang menggunakan jasa satu hari sampai itu datang tepat waktu.

Ternyata, isinya album foto dengan cover foto pertunangan kami yang diambil secara candid. Aiiih…surprise deh. Entah bagaimana caranya mereka bisa mendapatkannya.

Album fotonya sendiri sangat simpel namun sangat eksklusif. Semenjak itu, album foto tersebut mengawal sekaligus saksi setiap momen spesial yang kami abadikan. Karena ber-background hitam, kami pun bisa bebas menghias foto-foto kenangan itu seindah mungkin.

*Balik ke ’’perayaan’’ hari jadi kami yang remeh temeh, ya.* Eh, ternyata, obrolan santai sambil membuka kenangan indah itu sangat mujarab membangkitkan bara cinta di antara saya dan suami. Jadi tambah cayaaaaank….:)

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway kado terindah-nya Mak Pungky
banner_pungky

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s