Catatan Buat Ortu, Agar Anak Suka Jamu

Anak sakit tentu bikin panik. Sehari setelah kami pergi berlibur, Mita, anak keduaku sakit. Dia mengeluh perutnya sakit. Aku pikir cuma kebelet pup. Namun, sorenya badannya malah panas. Haduuuh…Berbagai usaha saya lakukan, antara lain, mengolesi perutnya dengan minyak dan mengompres pakai air hangat. Tapi, masih saja dia melilit kesakitan. Akhirnya, mama mengambil sedikit kunyit dan diparut. Kemudian diperas dan dicampur madu. Mita menenggak perasan kunyit dan madu itu sekitar lima sendok makan. Berangsur-angsur, panasnya turun dan sudah nggak mengeluh sakit perut lagi. Sekitar 10 jam kemudian, mama memberinya perasan kunyit dan madu lagi. Puji Tuhan, keesokan harinya Mita sudah baikan dan nggak perlu dibawa ke dokter.

Beberapa hari kemudian, gantian Edo, anak pertamaku yang panas tinggi. Dikasih obat penurun panas nggak mempan. Ramuan dari kunyit dan madu pun diberikan. Ditambah lagi dengan menggosok badan Edo pakai minyak kayu putih, bawang merah, dan jeruk nipis. Hasilnya, cespleng. Suhu tubuh Edo pun turun dan kembali normal.

Saya sekeluarga memang lebih sreg mengonsumsi ramuan alami untuk membantu meredakan sakit atau menjaga imun tubuh. Ada juga satu minuman jamu yang rutin kami konsumsi, yaitu, temulawak. Ayah saya yang dari dulu meraciknya. Simpel banget, kok. Ambil beberapa siung temulawak, iris tipis-tipis kemudian direbus sampai mendidih. Air rebusan itu biasanya dicampur dengan gula aren. Diminum hangat-hangat, segeeeer…
Edo dan Mita pun ketagihan minum temulawak. Sejak rutin mengonsumsi temulawak, napsu makan mereka jadi lebih bagus. Selain itu, daya tahan tubuhnya meningkat.

Makannya banyaaak

Makannya banyaaak

Banyak Anak Tidak Suka Jamu

Sayangnya, banyak anak tidak suka atau tidak terbiasa minum jamu. Kenapa?
Pertama, banyak produk makanan dan minuman instan di pasaran dengan rasa yang yummy.
Kedua, bombardir iklan produk-produk makanan dan minuman yang bikin ngiler. Plus, didukung artis-artis yang ehm, cute sebagai bintang iklannya.
Ketiga, jamu alami bikinnya penuh perjuangan. Repot dan kadang bahannya susah didapat. Kalau makanan dan minuman instan di supermarket kan tinggal lheeep…langsung konsumsi.

Jadi, harus gimana?
’’Sebenarnya, untuk memulai kebiasaan minum jamu tak harus yang pahit-pahit dulu. Beras kencur, wedang jahe, atau sari temulawak, juga bisa diminum terutama untuk anak-anak,” kata Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani (April, 2015, kompas.com).
Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itu, diharapkan kelak saat beranjak dewasa, mereka tak canggung lagi menenggak jamu-jamu alami. Naaaah… catatan buat orang tua nih (nunjuk diri sendiri juga) supaya nggak males bikinin jamu alami untuk anak-anak di rumah. Eits, jangan alasan susah cari bahannya loh. Kan, bahan-bahan jamu bisa ditanam sendiri di pekarangan rumah, sekalipun lahannya sempit.

Di halaman depan rumah bisa ditanami TOGA

Di halaman depan rumah bisa ditanami TOGA

Oia, cara penyajiannya juga penting. Biar anak-anak suka, harus menarik wadahnya, misalnya, pakai gelas bergambar kartun kesukaannya.

Wadah lucu bikin anak tambah suka

Wadah lucu bikin anak tambah suka

Trus, satu lagi, colek artis-artis cantik dan ganteng supaya mau jadi brand ambassador jamu alami. Siapa ya? Hmmm…
Kenapa sih kok Harus Dilestarikan?
Pertama, minum jamu sebagai warisan budaya Indonesia perlu dilestarikan karena merupakan aset bangsa. Jamu yang berasal dari ramuan herbal dan tradisional terbukti secara empiris berkhasiat bagi kesehatan tubuh manusia. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy A Sparringa pada acara Minum Jamu Bersama Badan POM di Jakarta, Jumat (27/2). (Kompas siang 27 Februari 2015).

Indonesia sendiri memiliki varietas tanaman berkhasiat nomor dua terbanyak di dunia. (21 Desember 2014, liputan6.com). Dengan banyaknya jenis tanaman yang bisa dijadikan bahan baku jamu, Indonesia sangat berpotensi mengembangkan obat-obatan tradisional hingga menjadi identitas bangsa.

Jadi teringat waktu ke China setahun yang lalu. Saya dan rombongan diajak ke sebuah toko obat-obatan herbal. Para sinse di toko itu juga mengecek kondisi kesehatan kami untuk kemudian diberikan ramuan-ramuan herbal untuk mengobati penyakit si pengunjung.
Saya pun membayangkan Indonesia bisa seperti China. Jadi destinasi wisata medis dengan mengolah tanaman obat-obatan menjadi ramuan jamu khas Indonesia. JAMU INDONESIA GO INTERNATIONAL

Kedua, menjadikan minum jamu sebagai kebiasaan akan membantu usaha kecil menengah dan industri rumahan jamu. Dengan demikian, jamu bisa menjadi solusi untuk membantu perekonomian keluarga dengan pemberdayaan perempuan. Hal itu dikatakan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani (kompas.com 3 April 2015).

Ada beberapa ibu rumah tangga yang mendapatkan penghasilan tambahan dari berjualan jamu racikannya. Salah satunya kawan saya, Vivi Aprilia. Awalnya, dia kerap menyuguhkan jamu kunyit asam, sinom, atau beras kencur kepada para tamu yang bertandang ke rumahnya. Ternyata banyak yang suka. Akhirnya, Vivi mencoba menjual jamu itu dalam kemasan botol 400 ml dan 1.500 ml. Eh, kok laris manis. Karena itu, dia mulai serius menekuni bisnis minuman jamu ini sejak tiga tahun lalu.Konsumen pun tak hanya dari dalam Kota Surabaya tapi sampai luar kota bahkan luar pulau.

Sumber: Vivi Aprilia

Sumber: Vivi Aprilia

Tak mau berhenti di situ saja, Vivi mengembangkan beberapa varian jamu, yaitu, pahitan, cabe puyang, dan suruh kunci. Omsetnya sekarang sudah mencapai Rp 6 juta per bulan, loh.
Hayooo…siapa yang mau mengikuti jejaknya? Melestarikan jamu sekaligus jadi wirausaha. So, mu jamuu…yuk biasakan minum jamu.

Daftar pustaka:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection

http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal

Iklan

9 thoughts on “Catatan Buat Ortu, Agar Anak Suka Jamu

  1. Wah infonya berguna banget ini mbak. Baru tau loh saya kunyit bisa nolong untuk sakit perut. Kalau khasiat kunyitnya sendiri sudah sering baca tapi baru ngeh soal sakit perut 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s