Ketika tahu bahwa di perutku ada benih anak ketiga, rasanya shock banget. Nangis iya. Rasanya, nggak percaya. Selama empat tahun ini, yang ada di pikiranku, gimana untuk membesarkan dua anakku, Edo dan Mita dengan baik. Anakku ya dua ini, Edo dan Mita. Nggak pernah kebayang untuk punya anak ketiga. Repot. Apa lagi, saya dan suami jarak jauh.

Tapi, Tuhan ternyata punya rencana lain. Edo dan Mita bakal punya adek baru. Sampai aku menuliskan ini pun, rasanya masih nggak percaya.
Cuma, penyesalan itu pasti nggak ada gunanya kan. Sekarang, gimana caranya agar kandunganku ini sehat dan persalinan nantinya bisa lancar dan normal seperti dua anakku sebelumnya.
Pertama mengetahui bahwa aku hamil pada pertengahan September lalu. Saat itu usia kandungan 2 bulan. Padahal, selama ini, aku masih rutin jungkir balik ikut yoga, aerobik, dan anter Edo ke sekolah naik sepeda angin. Belum lagi mobilitas karena kerjaan yang pagi siang malam. Lha, kok ternyata, ketika di USG, janinnya sudah nongol.

Sekarang? What next? Ya sudah saya dan suami menjalaninya dengan hati senang, bahagia, dan penuh syukur. Kata dokter saya, dr Hendra SPOG, ada pasutri yang pengen punya anak, tapi kesulitan. Ini dikasih anak hampir tiga, mestinya bersyukur. Dapet rezeki. Sempet terbesit, iya sih, rezeki buat dokternya. Hehe…
Ah, tapi, saya yakin anak adalah anugerah dari Tuhan.

Memasuki usia kandungan hampir empat bulan ini, aku udah agak tenang menerimanya. Apalagi teringat injil saat misa Minggu 21/9 di gereja, bahwa Rancanganmu bukanlah RancanganKu. Manusia boleh berencana, tapi rencana Tuhan pasti berbeda. Tapi, yakinlah bahwa rancangan Tuhan untuk keluargamu adalah yang terbaik.

Iklan